59 Perempuan Baru “Boleh duduk di sini?” tanya seorang gadis manis. Mereka melihat gadis itu, yang sepertinya mahasiswi baru. “Enggak,” jawab Kenia cepat. Dia memang paling tidak suka dengan orang yang sok akrab padahal tidak kenal. Gadis itu menggaruk tengkuknya, merasa malu ditolak seperti itu, padahal masih ada bagian yang kosong di tempat mereka. “Kenalkan, aku Yolanda. Aku mahasiswa pindahan dari luar negeri.” Yola mengulurkan tangannya, tapi tidak ada yang menyambut, sekali lagi membuat dia merasa malu. Yola melihat Kala, dan tersenyum. Kenia mendengkus melihat itu. “Korban baru,” ucap Kenia dengan jelas, tanpa ditutup-tutupi. Tidak ada yang tahu dengan pasti apa maksud perkataan Kenia, tapi yang lain lebih memilih aman saja. Kenia melihat Yola dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia sedikit berbeda dari Jesi, pikir Kenia. Secara fisik, kalau muka Jesi itu imut, maka Yola manis. Yola juga terlihat sedikit cuek dengan penampilannya, tidak feminin seperti Jesi yang menyukai warna pink. Lalu Kenia melirik Kala, yang dia bayangkan, kalau mereka disandingkan, maka akan terlihat pas. Bukan karena Yola culun, tapi mereka berdua memang terlihat sederhana dan apa adanya. Kenia menghela nafas, moodnya tiba-tiba saja buruk. “Ken, mau ke mana?” “Toilet.” “Jangan lama-lama, makanannya sudah datang.” Bukannya ke toilet, Kenia malah ke luar gerbang kampus. Dia pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Kendrick. Hanya pada Kendrick dan Fernan saja, Kenia dapat mengeluarkan segala kegundahannya dengan bebas. Apa karena mereka berdua tidak ada yang membantahnya? Apa karena mereka berdua hanya bisa diam mendengarkan dan tidak akan membocorkan semuanya pada siapa pun? “Aku datang, Ken,” ucap Kenia pelan di telinga Kendrick. Kenia mengambil baskom kecil dan handuk. Membasuh wajah, tangan dan kaki pria itu dengan telaten, sudah sangat terbiasa melakukannya. “Kamu mimpi apa sih, sampai enggak mau bangun-bangun? Apa ada aku di dalam mimpimu? Bukankah berbicara dan bermain bersamaku di alam nyata lebih menyenangkan? Aku rindu kamu, tapi kamu juga sepertinya tidak peduli padaku, sama seperti mereka. Kalau seperti ini, aku membenci kamu dan Fernan. Fernan juga tidak mau sembuh. Aku benci kalian berdua, tapi aku sayang. Jadi, aku harus bagaimana?” Tiga jam lamanya Kenia menemui Kendrick, setelah itu dia pergi menemui Fernan. Sama seperti pada Kendrick, Kenia juga membasuh wajah, tangan dan kaki Fernan. Kenia memasukkan bunga segar ke dalam vas bunga yang ada di sebelah Fernan.
“Fernan, aku bawa bunga yang bagus. Tadi di jalan aku melihat toko bunga, dan memberinya untuk kamu. Nanti kalau kamu sudah sembuh, kamu harus memberikan aku bunga deposito, ya?” “Fernan, coba pegang mukaku, masih halus, enggak? Tadi aku tanya ke Kendrick, tapi dia diam saja. Kalau kalian berdua sudah sembuh, kalian berdua harus memukul tuh si culun yang sudah menyiksaku seperti ini.” “Oya, aku juga sudah kerja. Tenang saja, nanti aku akan bekerja lebih giat lagi untuk membawa kamu dan Kendrick ke rumah sakit yang lebih bagus.” Orang-orang yang mendengar pembicaraan Kenia dari balik pintu itu merasa sedih. “Dokter yang merawat kalian pasti bodoh semua, masa kalian tidak sembuh-sembuh. Apa harus aku racuni mereka agar mereka lebih pintar?” “Pokoknya aku enggak mau tahu, kamu dan Kendrick harus cepat sembuh. Nanti kalau aku yang mati lebih dulu, siapa yang akan menguburkan aku? Jangan sampai si culun itu membuang mayatku ke laut untuk dijadikan makanan hiu, atau ke hutan untuk makanan harimau, atau ke jurang. Aku mau kalian menguburkan aku di tempat yang pemandangannya bagus, ya.” Brak! Pintu terbuka dengan kencang, dan menunjukkan wajah orang-orang yang terlihat kesal. “Jangan bicara sembarangan, Kenken!” Kenia melebarkan matanya saat melihat Kala dan Denis. “Mau apa kalian ke sini?” Gadis itu lalu mendorong Kala dan Denis ke luar dari kamar Fernan. Dia tidak ingin mereka melihat keadaan Fernan dan akan mengolok-olok Fernan. “Kalian pasti membuntuti aku, kan? Iya, kan?” bentak Kenia. Kala dan Denis diam saja, karena apa yang Kenia katakan memang benar. Bahkan saat Kenia ke tempat Kendrick, mereka juga tahu. “Kalian mau menghina aku? Mau menghina Fernan?” “Enggak, Kenken.” “Kamu tenang dulu, Ken.” “Jangan membuntuti aku dan selalu mau tahu urusan aku!” Denis langsung memukul tengkuk Kenia agar gadis itu pingsan. “Kamu apa-apaan sih, Den?” “Enggak ada jalan lain, kita tidak boleh lama-lama di sini. Bawa Kenia pulang dulu.” Kala menggendong Kenia memasuki mobil Denis. “Kalau nanti memar bagaimana? Kalau sakit, bagaimana?” “Enggak. Paling juga nanti aku dimarahi sama ayahnya yang galak itu.” “Enggak lucu, Den!” Kala membawa Kenia ke apartemen, membaringkan tubuh gadis itu di kasur yang empuk dan menyelimutinya. Kenia terbangun, dia melihat kalau sekarang sudah ada di dalam kamarnya di apartemen. Kenia merenung, dia ingat Kala yang sebelumnya memang mengatakan tahu tentang dirinya, tapi melihat sendiri Kala di rumah sakit tempat Fernan berada, membuat gadis itu menjadi tidak tenang, apalagi sekarang Denis tahu tentang Fernan. Apa Kala sudah atau akan menceritakan semuanya kepada Denis? Kenia duduk dibatas kasur, mau ke luar kamar tapi segan. Pintu terbuka, Kala masuk dan membawa air teh hangat untuk Kenia. “Minum dulu, Ken.” Kenia memalingkan wajahnya, dia masih kesal dengan Kala dan Denis yang mengikutinya. Baginya mereka berdua terlalu ingin tahu urusan orang. “Tenang saja, Kenken. Aku dan Denis tidak akan menceritakan semuanya pada siapa pun, termasuk Dwina.” “Iya, Ken. Jadi kamu tenang saja. Potong saja telinga Kala kalau aku membocorkan semuanya pada orang lain.” Kala melempari Denis dengan bantal. Denis lalu tidur-tiduran di kasur Kenia. “Pesan makanan dong, aku lapar. Ngomong-ngomong, di sini banyak kamar kosong, kan? Aku juga mau tinggal di sini, di rumah aku dimarahi terus.” “Nanti aku dimarahi bos aku.” “Bos kamu tidak akan tahu kalau kamu tidak cerita. Kalau dia tahu, bilang saja aku sepupu kamu.” “Enggak boleh.” “Pokoknya aku mau tinggal di sini, boleh kan, Ken?” “Boleh, tapi nanti kalau si culun nyuruh baku bersih-bersih apartemen, kamu yang membela aku, ya. Jangan sampai aku disiksa dia.” “Oke, Kenia Sayangku.” Mendengar jawaban Kenia, Kala mendengkus. Dia tahu Kenia hanya mencari alasan saja. Kenia itu bukan gadis lemah yang mudah ditindas. Disuruh malah bisa nyuruh balik. Dimarahi malah dia yang lebih galak. Dijahati malah akan membalas dengan lebih kejam. Seandainya saja Kala tidak tahu rahasia terdalam Kenia dan mengancam gadis itu, pasti Kenia tidak akan menurut seperti ini padanya. Tapi Kala tahu, mungkin Kenia membutuhkan suasana yang lebih ramai, kalau bertiga, pasti akan lebih menyenangkan. “Jangan-jangan nanti kalau Dwina tahu, dia juga minta tinggal di sini. Ampun, deh!” Di dapur, mereka sedang masak bertiga. Mereka layaknya saudara yang saling membantu, atau sahabat yang bisa diandalkan satu sama lain. “Nih, dagingnya sudah jadi.” Kala laku menggoreng kentang sedangkan Denis menumis sayur. “Kalian belajar masak dari mana, sih?” “Nenek,” jawab mereka bersamaan. “Nenek? Kok bisa sama begitu? Jangan sampai nenek kalian berdua itu sama, ya.” “Ngomong-ngomong, enak kali ya, kalau punya nenek?” “Kamu juga pasti punya nenek kan, Ken?” “Enggak tahu, enggak ingat.” Kala dan Denis diam saja, karena tidak ingin membuat Kenia tidak nyaman. “Akhirnya jadi juga, ayo makan.” “Pasti besok Dwina sewot kita bertiga hilang lagi.” “Biarin, biar dia tahu hatiku tidak untuknya, tapi untukmu!” ucap Denis asal. Kenia lalu melemlari Denis dengan kentang goreng. “Jangan buang-buang makanan Ken, kata nenek ....” “Iyaaa ....”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Mantapp
07/09
0good novel
22/02
0sangt bguss
16/11
0Lihat Semua