58 Mulai Kerja “Masuk, jangan, masuk, jangan ....” Kenia terus saja bertanya dalam hati. Dia berjalan mondar-mandir di depan hotel yang ada di pinggiran kota. Kenia masuk ke dalam hotel dengan memakai masker. Dia takut kalau ada yang melihatnya. “Ya ampun, jangan sampai ada yang melihatku masuk ke hotel ini.” Bukan hanya masker, bahkan Kenia memakai topi dan menggulung rambutnya. Dia juga memakai pakaian yang biasa saja, bukan pakaian, tas dan sepatu bermerek yang biasa dia pakai. Saat ingin melangkahkan kembali kakinya di tengah keraguan, tiba-tiba ada yang mencekal lengannya. “Kamu?” “Mau apa kamu ke sini, Kenken? Kenapa berpenampilan seperti ini?” “Enggak apa-apa.” “Jawab yang jujur.” “Hm, enggak ada. Pokoknya kalau aku bilang enggak ada, ya enggak ada.” Kenia berjalan ke luar, meninggalkan Kala yang berwajah kesal. “Gagal deh, gara-gara ada si culun, mana sudah janji lagi, sama orangnya,” batin Kenia. “Kamu bilang Ken, mau apa kamu ke hotel ini sembunyi-sembunyi begitu?” tanya Kala dengan lembut. Kenia itu tidak bisa dikerasi, bicara dengannya harus tenang dan tidak boleh terpancing emosi. “Kamu cerita, ya.” Kala mengusap rambut Kenia, karena gadis itu sudah melepas topinya saat sudah jauh dari hotel. Kini mereka duduk di taman, Kala membelikan gadis itu es krim yang langsung diterima Kenia, karena dia sangat haus. “Kenapa kamu ke hotel?” “Aku ... aku mau cari kerja.” “Kerja? Kerja apa?” Kenia diam saja, membuat Kala jadi berpikir yang tidak-tidak. “Jangan kerja yang aneh-aneh, Kenken.” “Apaan, sih!” bentak Kenia. “Ya sudah, memangnya kamu mau kerja apa?” Kala mencoba tenang, ingat, jangan sampai terbawa emosi. “Cu ... cuci piring.” “Hah, cuci piring?” Kenia mengangguk. “Buat apa kamu bekerja cuci piring.” “Aku kan butuh uang.” “Uang buat apa? Kerja mencuci piring juga gajinya enggak besar. Kenapa harus di hotel?” “Kan hotel ada restorannya.” “Kamu butuh uang buat apa memangnya?” “Ya buat jajan aku, lah. Buat makan di kampus, ke kafe, jalan-jalan ke mall, belanja.” Kala diam, dia tahu pasti Kenia sedang punya masalah saat ini, tapi tidak mau cerita. “Kita makan dulu, yuk. Aku lapar loh, dari tadi ngikutin kamu.” Kala memang mengikuti Kenia sejak tadi, karena merasa khawatir dengan sikap Kenia yang akhir-akhir ini terlihat murung dan jarang makan. “Tapi ....” “Ayo.” Sesampainya di kafe, Kala tidak membahas soal itu, biarkan mereka makan dengan tenang. Kala sedang berpikir, apa yang sebaiknya dia katakan dan lakukan untuk hadis itu. Yang Kenia bahas ini uang, hal yang sangat sensitif untuk orang. Mereka langsung pulang setelah makan, dan akan membahasnya di rumah saja. “Ken, kalau kamu butuh uang, aku bisa kasih uang ke kamu. Kamu mau berapa?” “Kamu pikir aku cewek apaan? Kamu kasih aku barang-barang mahal, kamu pikir aku simpanan kamu? Sekarang kamu mau kasih aku uang, kamu pikir cewek murahan.” “Bukan begitu maksud aku, Ken.” “Pokoknya aku enggak mau lagi tinggal di sini.” Kala langsung memeluk Kenia, sebelum gadis itu kembali memecahkan barang-barang. Bukan karena sayang sama barangnya, tapi agar Kenia tidak terluka lagi. “Maaf, bukan itu maksud aku, tapi kamu itu sangat berharga buat aku. Aku enggak mau kamu capek-capek cuci piring yang bayarannya enggak seberapa.” Kenia diam saja, nafasnya masih tidak beraturan, tanda gadis itu masih merasa kesal. “Kalau kamu mau kerja, kamu kerja di rumah saja.” “Pekerjaan rumah tangga, ya?” “Bukan.” “Kamu jadi penerjemah saja. Aku juga sering nerjemahin dokumen, atau bahan-bahan skripsi mahasiswa. Bayarannya lumayan.” “Kamu jadi penerjemah?” “Iya. Nih, kaya ini contohnya.” Kala membuka laptopnya dan menunjukkan pekerjaannya pada Kenia. “Tapi kamu pasti punya pekerjaan lain, kan?” “Ada, tapi kamu kerjakan terjemahan saja. Kamu kan pintar beberapa bahasa asing.” “Hm, iya deh. Yang penting aku punya uang. Oya, nanti aku mau cari kerja di kantoran saja, terus ambil kuliah malam.” “Jangan, nanti kamu kelelahan. Kamu fokus saja sama kuliah, biar cepat lulus.” “Enggak ah, aku mau cari kerja nanti di kantoran. Kali saja nanti aku dapat bos yang baik, dan ganteng. Terus aku naik jabatan, diajak nikah deh. Nanti aku enggak perlu kerja lagi karena semua kebutuhan aku sudah terpenuhi, seperti novel-novel yang sering Dwina baca.” Mendengar itu Kala malah kesal. Dia langsung mencium bibir gadis itu. Kala menjeda sesaat untuk mengatur nafas, lalu kembali mencium Kenia. “Kamu tidak boleh mencari pria lain, Ken. Cukup aku bagimu. Biarkan aku yang menjagamu dan membahagiakan kamu.” Kenia merasa senang mendengarnya, namun tetap saja merasa ada yang kurang. Malam harinya, Kenia mulai menerjemahkan bahasa Jepang. Cukup sulit, karena ditulisnya bukan dengan huruf romaji, tapi ada huruf Kanji, Hiragana dan Katakana. “Besok aku mau buat rekening baru.” Kala mengangguk, meskipun dalam hati penasaran, untuk apa Kenia membuat rekening baru. “Kamu enggak habis dicopet, kan?” “Enggak, lah.” Tidak lama kemudian Kenia ketiduran, dengan meninggalkan terjemahan yang belum selesai. Kala langsung memindahkan Kenia ke kamarnya, dan menyelesaikan terjemahan itu. Di kampus, Kenia kembali terlihat lebih ceria. Dia juga membuka rekening baru, menyimpan kartu-kartu miliknya yang lama di dalam dompet. “Hai Ken, nanti sore jalan yuk. Aku mau traktir kamu, aku sudah mulai kerja di perusahaan ayahku dan menerima gaji pertama.” “Wah, kamu sudah mulai kerja?” “Iya, kan aku sudah janji sama kamu untuk menunjukkan keseriusan aku.” Kenia mengangguk, meski hatinya galau. Setiap malam Kenia selalu mendapatkan pekerjaan untuk men-translate. Entah itu bahasa Inggris, Jepang, atau bahasa asing lainnya yang Kenia bisa. Tidak ada pekerjaan yang mudah, meski dilakukannya di rumah sambil duduk santai, itulah yang Kenia rasakan lagi. Dulu mengerjakan pekerjaan rumah tangga terasa berat, sekarang melakukan pekerjaan yang harus berpikir juga terasa berat, jangan sampai dia salah menerjemahkan, bisa fatal juga akibatnya. Kenia berpikir untuk lebih bijak lagi nanti menggunakan uangnya. Kalau enggak khilaf belanja, pikirnya. “Ada pekerjaan yang lain enggak, sih?” Kala tersenyum. “Capek, kan? Apalagi nanti kamu kerja di kantoran.” “Ya sudah, kalau begitu aku harus dapat suami kaya dengan gaji minimal ratusan juta sebulan.” Kenia langsung berlari ke kamarnya, sebelum Kala menciumnya hanya karena dia membicarakan pria bayangan Kenia. “Tampan dan kaya, ya?” gumam Kala. “Ken, pekerjaan kamu belum selesai, loh.” Kenia keluar kamar sambil membawa novel thriller kesukaannya. “Kamu saja lah yang kerjakan, aku sudah capek.” “Kalau di perusahaan kamu langsung di pecat, Ken!” “Biarkan, nanti aku pecat lagi yang memecat aku. Aku kan nyonya bos.” Kala tertawa, seperti biasa Kenia selalu saja menjawabnya. “Lagian aku sudah bilang, aku ini terlahir untuk dilayani, bukan melayani.” “Benar, kamu memang terlahir sebagai princess,” ucap Kala dengan sungguh-sungguh.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Mantapp
29d
0good novel
22/02
0sangt bguss
16/11
0Lihat Semua