55 Kerusuhan Di Dapur Ujian semester sedang berlangsung, Kala dan yang lain sudah membuat rencana apa saja yang mau mereka kerjakan selama liburan nanti. Sebenarnya Kala ingin mengajak Kenia ke kampungnya, dan bertemu dengan neneknya, tapi apa gadis itu mau? Oya, ada satu lagi rencana Kala, yaitu mengajarkan Kenia memasak, karena gadis itu hanya bisa masak mie dan air saja. Membayangkan apa yang akan dia dan Kenia lakukan, sudah membuat hatinya senang. “Kala, habis ujian nanti, aku mau menyusul orang tua aku ke luar negeri. Kamu mau ikut, enggak?” Kenia diam-diam menyimak, awas saja kalau pria itu ikut, pikirnya. “Enggak, aku mau pulang kampung.” “Mendingan aku ajak Kenia yang menemui keluargaku, daripada aku yang bertemu dengan keluarga Jesi, bisa-bisa nanti Kenia salah paham lagi.” Liburan tiba, Kala sudah membeli banyak bahan masakan untuk dia mengajari Kenia. “Ayo, mulai hari ini kamu belajar masak yang benar. Karena sekarang sedang libur, jadi kita bisa fokus memasak, tanpa memikirkan tugas kuliah.” Kenia memotong sayur. “Aw.” “Baru mulai motong, Ken, sudah kena pisau.” “Jangan bawel!” Beberapa saat kemudian “Aaa ....” Kenia berlari sambil menutupi wajahnya saat minyak dalam penggorengan terciprat dan meletup-letup. Siang harinya “Aaa ....” Kenia berlari sambil mengibas-ngibaskan tangannya karena air yang direbus meluber ke luar. “Kamu masak airnya kebanyakan, Ken. Tidak perlu sebanyak itu, jadi saat mendidih airnya tidak tumpah.” Kenia menunduk, semua yang dia kerjakan tidak ada yang benar di hadapan Kala, dan itu membuatnya sedih. Tapi kenapa dia harus sedih? Seharusnya kan dia senang, karena Kala yang akan merapikan semuanya agar tidak menjadi lebih kacau lagi, itu artinya dia satu sama dengan Kala. Sore harinya “Aaa ....” Kala menghela nafas saat mendengar lagi suara teriakan Kenia. Apa lagi yang terjadi di dapur dan dilakukan oleh gadis itu? Tadi Kala hanya menyuruhnya mengulek sambal. “Apa, Kenken?” tanya Kala gemas. “Mataku, itu cabe sama bawangnya kurang ajar banget. Masa pas aku ulek airnya nyiprat menodai mataku yang indah ini. Enggak mau tahu, pokoknya kamu cari pembantu, enggak!” Kala antara mau ketawa sama kasihan. Kalau ketawa, pasti Kenia yang akan marah. Mata Kenia merah, tapi tidak sampai menangis. Kala melihat dapur yang sudah ketiga kalinya dalam satu hari ini seperti kapal pecah. Cipratan air cabe ada di mana-mana. “Makanya beli blender!” “Diulek lebih enak Ken, daripada diblender.” “Enggak mau tahu, pokonya besok harus sudah ada blender!” “Nanti aku deh yang ngulek.” “Sekalian kamu yang goreng!” “Sekalian saja aku yang masak semuanya.” “Nah itu tahu.” Kala mencicipi masakan Kenia, yang memang sampai saat ini belum ada yang bisa dinikmati dengan tenang. Kemanisan Keasinan Kepedasan Gosong Belum matang “Ini masih keras ayamnya, Ken. Tuh, masih ada darahnya juga. Kita bisa sakit perut kalau makan ini.” “Ya sudah, enggak usah dimakan. Masakan aku memang tidak ada yang menyehatkan, lebih baik aku sedekahkan saja untuk tikus, siapa tahu saja nanti pada mati tanpa harus membuang uang untuk membeli racun tikus!” Kala terdiam, dan langsung memeluk gadis itu. Tidak seharusnya dia menyinggung perasaan Kenia. Kenia mau memasak saja itu sudah bagus, seharusnya kan Kala menghargai usahanya, jangan hanya melihat hasilnya saja. Untuk masakan memang sesuai selera. Ada yang menyukai makanan dengan banyak sambal agar lebih segar, ada yang menyukai masakan yang gurih, ada juga yang manis. Seperti makan bakso, Kenia akan menambahkan banyak sambal, sedangkan Dwina akan menambahkan garam dan cuka, Denis akan menambahkan kecap, sedangkan Kala lebih menyukai yang bening dengan sedikit sambal. “Bagaimana pun masakan kamu, aku akan menghabiskannya.” “Jangan, nanti kamu sakit perut terus aku yang dituduh. Seorang pria culun mati terbunuh setelah memakan ayam bakar yang dibuat oleh seorang gadis cantik. Diduga, gadis itu sengaja meracuni pria berinisial K itu karena faktor balas dendam. Mayat ditemukan dalam kondisi sudah membusuk, sedangkan tersangka ditemukan sedang menghibur dirinya di salon untuk melakukan perawatan setelah berhari-hari disiksa di dapur ....” Kala dan Denis tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Kenia. “Sejak kapan kamu di sini?” “Sejak Kenia menjerit.” Denis menggelengkan kepalanya melihat dapur yang kecil itu sudah tidak karuan. “Ya ampun, Ken. Kamu baru beberapa hari libur, tapi kamu sudah banyak luka seperti ini.” Denis melihat berapa banyak jari Kenia yang diplester dan menatap sinis Kala karena sudah menganiaya Kenia. “Sudah, kamu istirahat saja. Biar aku dan Kala yang melanjutkan.” Tanpa disuruh dia kali, Kenia langsung pergi, dia memakan rujak yang dibawa oleh Denis, tanpa tahu rujak itu untuk siapa. Dia juga melihat ada salad buah dan sayur, dan memakannya sampai habis. “Kenyang duluan aku sebelum masakannya jadi.” Keesokan paginya, Kenia sudah berada di dapur. Dia tidak semangat untuk memasak, karena sudah tahu hasilnya akan buruk. “Aku ini seorang Kenia. Kenia yang tidak mudah putus asa dan kalah dengan apa pun. Masak begini saja masa tidak bisa.” Kenia membayangkan nanti dia akan memasak untuk anak dan suaminya. Dia berdecak kesal saat nanti anak-anaknya protes dengan masakannya yang tidak enak, lalu tertawa pelan saat membayangkan masakannya enak dan anak serta suaminya makan dengan lahap sambil berkata, "Masakan Bunda enak." Kemudian mereka mengecup kedua pipi Kenia sabagai ucapan terimakasih karena sudah memasak yang enak untuk mereka setiap hari. "Aku pasti sudah gila." Kenia masih tertawa geli membayangkan semua itu. Kenia mulai memotong sayur, mengulek bumbu, semuanya dia kerjakan dengan tenang. Kala sejak tadi memasang telinganya, sesekali dia melirik jam. Biasanya beberapa menit sekali, dia akan mendengar teriakan Kenia, tapi lagi ini suasana masih adem ayem saja. Dia secepat mungkin menyelesaikan mencuci motornya. “Jangan-jangan pingsan di dapur.” Kala langsung ke dapur, jangan sampai gadis itu pingsan dalam keadaan kompor menyala. Dilihatnya Kenia yang sedang memasak sambil menjaga jarak dengan kompor. Dia sedang menggoreng ikan dengan tutup panci sebagai tameng yang menutupi wajahnya. Diam-diam Kala memotret Kenia. Entah sudah berapa banyak foto Kenia yang dia miliki. Kenia meletakkan semua hasil masakannya di atas meja. Dia sudah pasrah saja dengan rasanya, yang penting masak. Kala melihat masakan itu, terlihat menggugah selera, tapi tidak tahu bagaimana rasanya. Kala mulai mencicipi masakan itu, dan melihat Kenia. “Pasti tidak enak.” “Enak, kok. Ini enak banget, Ken!” “Jangan memuji kalau hanya memberikan harapan palsu padaku, kamu hanya pria gombal yang suka membuat perasaan orang terombang-ambing.” Enggak nyambung! “Kita lagi membicarakan masakan, Ken!” Kenia tersadar, ini gara-gara Dwina yang sering mencekokinya dengan cerita patah hati. Kenia memakan masakannya dengan ragu. “Aaa ... ini enak.” Kenia melonjak kegirangan, dia tanpa sadar memeluk bahkan mengecup pipi Kala. Kala terpaku di sana, memegang kedua pipinya yang dicium oleh Kenia. Wajahnya memerah dengan jantung berdebar kencang. Dia langsung ke kamar mandi, di dalam kamar mandi Kala melonjak kegirangan. “Barusan aku ngapain?” tanya Kenia dalam hati. Kenia melihat hasil masakannya, dan memotretnya. Ini adalah hasil masakan pertamanya yang berhasil, tentu saja harus diabadikan. Tidak lama kemudian Kala keluar dari kamar mandi bersamaan dengan Denis yang datang. “Tahu saja kamu kalau Kenken baru selesai masak.” Rasanya Kala tidak rela berbagi makanan Kenia yang enak ini dengan siapa pun, termasuk Denis. “Asyik, makan ah.” Denis lalu makan dengan lahap. “Kok rasanya agak beda, ya?” Raut wajah Kenia sudah berubah. “Kenapa, enggak enak ya?” “Ini enak banget, tapi enggak seperti masakan Kala.” “Ini kan masakan aku.” “Serius? Wah, ini enak banget, Ken.” Denis memuji Kenia dengan tulus. Mereka bertiga makan dengan riang, dan menghabiskan makanan itu. Di lain hari “Ish, Lama-lama aku jadi pembantu profesional, ini. Minta gaji berapa aku? Satu milyar? Dua milyar?” Kenia bersungut-sungut sambil menyetrika. Kala menyuruhnya menyetrika dengan benar, lipatannya harus rapi, tidak ada yang boleh kusut sedikit pun, harus begini, harus begitu. “Daripada aku menjadikan kamu pembantu dan membayar semahal itu, mendingan aku menjadikan kamu istri, Ken,” sahut Kala yang mendengar perkataan Kenia. “Istri? Kenapa begitu?” “Ya kan kalau pembantu, berarti aku tidak bisa mendapatkan anak. Tapi kalau istri kan, aku bisa punya anak dari kamu.” Wajah Jenis memerah mendengarnya. “Dasar mesum!” “Stop Ken, itu yang mau kamu lempar setrikaan panas, loh!” “Makanya kalau bicara itu jangan mesum.” “Mesum apaan, sih? Ini kan tanda kalau aku tuh berniat menjadikan dia istri, bukan pembantu. Dia polos apa bodoh?” batin Kala.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Mantapp
29d
0good novel
22/02
0sangt bguss
16/11
0Lihat Semua