50 Gelisah

50 Gelisah
Kala memeluk erat Kenia saat mereka sudah tiba di rumah, dia sangat merindukan gadis itu, padahal selama tiga hari ini mereka selalu bersama bahkan tidak berpisah selain saat tidur saja. Mungkin berlebihan, tapi itulah yang dia rasakan pada Kenia. Rasa sayang dan cintanya pada gadis itu semakin besar. Perasaan yang selama ini dia pendam karena Kenia sangat membencinya.
“Lepas napa, pengap!”
“Kamu enggak kenapa-kenapa, kan?”
“Memangnya aku kenapa?”
“Kamu enggak patuk ular, kan?” Meskipun tahu Kenia tidak dipatuk ular, tetap saja Kala khawatir.
“Coba lihat, muka kamu bentol-bentol enggak digigit nyamuk.” Kenia menghela nafas, kenapa sekarang jadi Kala yang lebay? Tapi sesaat kemudian dia berteriak dan langsung berkaca. Dia memperhatikan wajahnya dengan teliti.
“Aman, tidak ada jerawat. Tidak ada bentol atau merah-merah. Tapi aku mau cuti dulu!”
“Kamu mau cuti kuliah?” Kala merasa tidak senang, itu tandanya dia akan jarang bertemu dengan Kenia dan gadis itu akan lebih lama lulus.
“Bukan, tapi aku mau cuti dulu melakukan kebaikan di rumah kamu.”
“Kebaikan apa di rumah aku?” Kala berpikir, rumahnya kan bukan yayasan sosial, memangnya Kenia berbuat kebaikan apa di rumahnya?
“Lah, itu yang cuci piring, cuci baju, setrika baju, menyapu, mengepel, mengelap debu, mengerjakan tugas kamu, masak. Hmm, apa lagi ya?” Kala terbahak mendengar perkataan Kenia.
“Apaan, cuci piring juga banyak yang pecah gara-gara kamu melamun.” Kala mulai menghitung semua pekerjaan Kenia yang tidak ada yang benar satu persatu dengan jarinya.
“Cuci baju juga hanya sapu tangan, yang lain malah dilihat saja sama kamu.”
“Menyapu, tapi debunya masih ketinggalan di mana-mana.”
“Mengepel tapi kaya nyiram air, bikin becek.”
“Setrika baju, malah bikin baju aku bolong karena kamu kelamaan.”
“Mengelap debu, baru mulai sudah bersin-bersin terus langsung berhenti.”
“Mengerjakan tugas aku, baru satu nomor atau satu kalimat, kamu malah tidur. Pas bangun alasannya tangan kamu pegal, mata berkhianat, otak terlalu banyak berpikir dan hati tidak bisa konsentrasi dengan dua tugas yang diduakan.”
“Yang penting ada yang aku kerjakan, apalagi aku kan enggak dibayar. Berarti kan aku sudah berbuat kebaikan, sudah beramal sama kamu.”
“Memangnya kamu mengerjakannya dengan ikhlas atau terpaksa?”
“Ya terpaksa, lah! Jangan ditanya.” Kala kembali tertawa, gadis itu memang sangat jujur menjawabnya.
“Pokoknya aku mau cuti tiga bulan.”
“Cuti tiga bulan bukannya buat orang yang melahirkan, ya?”
“Iya kali, mana aku tahu.”
“Enggak boleh.”
“Kalau begitu aku resign.”
“Enak saja!”
“Kalau begitu kamu pecat aku deh, nanti kan aku dapat pesangon, ya? Lumayan buat beli novel untuk Dwina.” Kala mencubit gemas pipi Kenia.
Jika saja orang-orang mau mengenalnya lebih dekat, sebenarnya Kenia itu gadis yang lucu dan bisa ramah, asal jangan membuat gara-gara dengannya. Mungkin karena itu Dwina bisa menjadi sahabat Kenia hingga saat ini, karena Dwina termasuk sabar menghadapi Kenia dan bisa melihat kebaikan Kenia yang sebenarnya.
Kala mengusap rambut Kenia saat melihat gadis itu sudah tidur karena kelelahan. Bagaimana bisa dia membalas gadis itu dengan kejam, sesuai niat awalnya. Nanti bukannya mendekat, malah menjauh. Tapi bukan juga Kala membiarkan Kenia begitu saja, dia tetap menunjukkan bagaimana dulu Kenia bersikap arogan kepadanya. Sekarang Kenia tidak terlalu sering lagi bicara kasar dengannya, entah di dalam hati.
Dia juga tidak pernah lagi menyuruh Kala mengerjakan tugasnya, meski Kala suka membuatnya kesal. Kenia mengerjakan sendiri tugasnya dengan sangat baik, karena idak ingin nilainya dikalahkan oleh Kala, walau kadang dia suka sombong dan berkata, “Susah ya jadi orang pintar, bosan aku dapat nilai bagus terus.” Perkataannya itu membuat seisi kelas kesal, tapi tidak bisa protes karena takut kena semprot.
Hubungan mereka berempat juga semakin dekat, dan Kala semakin melihat Kenia yang lebih baik dari sebelumnya.
Keesokan harinya di kampus.
“Kala, kamu ke mana saja selama tiga hari ini? Kenapa susah dihubungi?” cecar Jesi saat melihat Kala. Dia seperti pacar yang cemas saat kekasihnya sulit untuk dihubungi.
“Aku naik gunung.”
“Sama siapa?”
“Denis.”
“Berdua saja?”
“Ya ampun, bertanya sampai detail begitu. Enggak malu apa? Memangnya kamu siapa, pacarnya? Neneknya? Mamanya?” Lama-lama Dwina jadi kesal melihat sikap Jesi pada Kala yang menurutnya berlebihan. Kenia saja tidak pernah begitu pada pria. Ngomong-ngomong soal Kenia, kalau memang sahabatnya itu menyukai Kala, berarti dia harus ikut mengawasi Kala, jangan sampai pria itu menyakiti hati sahabatnya. Sahutan Dwina membuat Kala tidak perlu menjawab pertanyaan Jesi.
“Masih pagi sudah membuat orang kesal.”
Siang harinya beberapa orang anak pecinta alam mendekati Kala dan Denis, yang kebetulan saat itu juga ada Kenia dan Dwina tentunya.
“Kapan-kapan kita mendaki lagi mau enggak, ke gunung lain.”
“Mau mau mau.” Jawaban heboh itu berasal dari Kenia.
“Kamu mau ikut?” tanya ketua pencinta alam itu.
“Mau lah, kapan? Besok, yuk?”
“Jangan Ken, mendingan kita ke mall.”
“Kita ke mall dulu, sekalian ajak Denis dan culun, siapa tahu nanti kita dibelikan lagi yang baru,” bisik Kenia, sambil memberikan tatapan pada yang lain kalau mereka berani menguping.
“Iya juga, ya.”
“Tapi kamu minta belikan Denis, jangan sama culun, nanti uangnya habis. Awas kalau kamu berani morotin dia.”
“Memangnya dia kerja apaan sih?”
“Hm ... apa, ya?”
“Kamu tidak tahu?”
“Enggak, yang penting dia pulang bawa uang.”
“Ck ck ck. Kamu seperti istri yang hanya mau uang suami tanpa tahu dari mana sumbernya!” Kenia langsung membekap mulut Dwina, karena berani bicara dengan suara keras.
“Kamu sudah menikah, Ken?” tanya Sony.
“Enak saja, siapa yang benaran menikahi aku?”
“Iya juga ya, kamu kan galak.”
“Sialan, maksudku, suamiku nanti harus yang berwajah tampan dan sangat kaya. Kalau perlu kaya tujuh turunan.” Mendengar itu, Kala menunduk, apa mungkin dirinya minder duluan?
Kenia melirik Kala, entah kenapa dia menjadi tidak enak sendiri dengan kata-katanya.
“Jadi, aku juga mau dong, naik gunung.” Kenia langsung mengalihkan pembicaraan, agar Kala tidak memikirkan perkataannya tadi.
“Kamu benaran mau, Ken?”
“Iya, tapi jangan dadakan. Jadi aku bisa beli baju sama sepatu baru, tas baru. Aku juga mau beli tenda. Tendanya Denis mah kecil!”
“Ini mau camping, Ken. Bukannya mau tidur di hotel yang kamarnya besar.”
“Kalian kemarin habis naik gunung bersama?” Jesi dan Marco yang baru saja tiba langsung ikut duduk di sana. Jesi melihat Kala, sedangkan Marco melihat Kenia.
“Kalau kamu mau naik gunung, aku bisa menemani kamu,” ucap Marco.
“Oya Kala, orang tua aku sudah pergi ke luar negeri. Nanti malam kamu tolong datang ke rumahku, ya. Ada tugas yang tidak aku mengerti.”
“Kerjakan sana sendiri, memangnya Kala pembantu kamu!”
“Aku kan minta tolong bantu mengerjakan, bukannya dia yang mengerjakan semuanya.” Kenia melirik Jesi, seakan gadis itu sedang menyindirnya.
“Pokoknya tidak bisa, Kala juga ada tugas dengan kami berempat.” Mereka melihat Dwina, sejak tadi gadis itu terus saja membantah Jesi.
“Tugas? Tugas apaan?” batin Kala, Kenia dan Denis.
“Apa Dwina selama ini suka dengan Kala?” batin orang-orang.
Kala melirik Kenia, dia ingin gadis itu melarangnya. Kalau Kenia melarangnya, maka dia tidak akan bertemu Jesi. Beda lagi dengan yang dipikirkan Kenia, gadis itu berpikir kenapa Kala tidak langsung menolak Jesi, malah sejak tadi Dwina yang menunjukkan rasa tidak sukanya. Kalau dia yang marah dan melarang Kala, bisa-bisa orang-orang berpikir dia cemburu.
“Ken, mau ke mana?”
“Toilet.”
“Hati-hati Ken, nanti ketemu curut lagi seperti dulu.” Kala ingin menyusul, tapi nanti orang-orang akan curiga.
“Dah ah, malas aku di sini,” ucap Denis, yang memberikan angin segar pada Kala agar pria itu juga bisa ikut pergi dari kantin. Kala ikut berdiri, dan berjalan bersama Denis. Kala langsung mengambil jalan lain dan menyusul Kenia ke toilet.
Kenia menghela nafas, dia tidak tahu kenapa dia seperti ini. Dia terus saja berada di dalam toilet tanpa melakukan apa pun.
“Bolos saja, lah.” Kenia keluar dari toilet dan melihat Kala yang sudah menunggunya. Toilet disitu memang jarang dipakai oleh mahasiswa, jadi Kala bisa sedikit tenang tanpa khawatir ada yang melihatnya. Wajah Kenia langsung cemberut saat melihat Kala.

Komentar Buku (83)

  • avatar
    Visitor

    Mantapp

    07/09

      0
  • avatar
    rafazhaamanda

    good novel

    22/02

      0
  • avatar
    RafliMuhammad

    sangt bguss

    16/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru