37 Menghabiskan Waktu Bersama Kenia menusuk-nusuk cucian Kala dengan telunjuknya. “Kamu nyuci atau ngapain sih, Ken?” “Nyuci, lah.” “Mana bisa bersih kalau begitu.” “Coba kasih contoh, bagaimana cara mencuci yang baik!” Kala lalu mencuci satu bajunya sambil memberi instruksi pada Kenia. “Sabunnya jangan kedikitan, tapi juga jangan terlalu banyak ....“ “Ya.” Sementara Kala sibuk mencuci, Kenia sibuk memperhatikan kuku-kukunya. “Nih, nyuci!” “Ih, kamu yang benar dong, masa aku disuruh cuci pakaian dalam kamu. Cuci sendiri tuh.” “Yang ini juga, kegedean kalau aku yang cuci,” tunjuk Kenia pada celana panjang Kala. Tanpa sadar, Kala akhirnya mencuci sendiri. “Kenapa jadi aku yang cuci sendiri?” tanya Kala dalam hati. Perut Kenia berbunyi, tanda bahwa gadis itu sudah lapar. “Lapar nih aku, mana cape.” “Cape apaan, Ken? Kan aku yang nyuci akhirnya.” “Cape lihatin kamu mencuci.” Kala tertawa pelan mendengar celotehan gadis itu, kalu dia mengusap rambut Kenia. “Ya sudah, kita masak dulu.” “Jangan masak, beli saja.” “Bisa gawat kalau aku yang disuruh masak,” sambung Kenia dalam hati. Kala mengangguk, lalu memesan sarapan melalui aplikasi. “Kamu yang jemur baju. Aku enggak mau nanti tetangga-tetangga kamu mengira aku pembantu. Masa cantik-cantik begini disangka pembantu.” “Iya, tapi kamu yang sapu dan mengepel.” Kenia menyapu rumah Kala, sedangkan Kala yang berada di luar, merasa tidak tenang. Saat dirinya masuk, dia melihat Kenia yang duduk selonjoran.
“Katanya mau menyapu?” “Sudah selesai.” “Terus ini apa?” Kala menunjuk kotoran yang masih ada di lantai. “Ketiup angin lagi.” Seharusnya Kala tahu tidak akan mudah menyuruh Kenia melakukan pekerjaan rumah tangga. Akhirnya kembali dia yang menyapu dan mengepel. “Sekarang kamu mandi.” “Aku enggak bawa baju.” “Aku sudah menyiapkan kebutuhan kamu.” Kala memberikan paper bag pada Kenia, yang isinya pakaian perempuan berserta pakaian dalamnya. “Ini punya siapa?” “Punya kamu.” “Jangan-jangan ini dari pacar kamu itu.” “Ya mana mungkin lah, masa perempuan kasih pakaian perempuan buat aku.” Kenia melihat baju-baju itu, yang memang bagus dan sesuai gayanya. Melihat Kenia yang masuk ke kamar mandi, Kala tersenyum. “Aku pasti akan menikahi kamu, Kenken. Tunggu aku, aku akan menjadi seseorang yang bisa kamu banggakan.” Di kamar mandi, Kenia mandi sambil tersenyum. Ada sabun dan sampo dengan aroma yang dia suka. “Jangan-jangan dia berniat menjadikan aku pembantu di sini?” Meskipun Kenia berpikir seperti itu, dia tetap mandi dengan perasaan senang karena Kala membelikannya sabun dan sampo dengan aroma kesukaannya.
“Tapi dari mana dia tahu apa yang aku suka? Dia juga tahu pakaian yang cocok untukku?” Kenia terus saja bertanya dalam hati. Selesai mandi yang membutuhkan waktu lama untuk seorang perempuan, Kenia ke luar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. “Ayo Ken, kita belanja.” “Ke mall?” Wajah Kenia semakin terlihat ceria. “Bukan, tapi ke pasar.” “Pasar? Ah, enggak mau. Nanti aku kotor, mana bau, becek.” “Ayo ikut.” Kala langsung menggandeng tangan Kenia meski gadis itu menolaknya. “Kita jalan kaki saja, pasarnya tidak jauh dari sini.” Sepanjang jalan Kala terus menggandeng tangan Kenia. Ditautkannya jati-jari mereka. Sesampainya di pasar, Kala langsung membeli kebutuhan dapur. Kenia sampai geleng-geleng kepala melihat Kala yang sudah sangat terampil belanja. “Dia pintar belanja, masak, bersih-bersih rumah, mencuci ... apa nanti kalau dia punya istri, dia juga yang akan mengerjakannya?” Tanpa sadar Kenia tertawa sendiri, dan saat membayangkan dirinya yang menikah dengan Kala, dia langsung menggelengkan kepalanya. “Kamu kenapa sih, Ken?” “Ayo buruan, kenapa tidak beli di mall saja, sih?” “Di pasar lebih murah, bisa ditawar dan membantu para pedagang agar dagangannya ada yang beli.” Banyak yang Kala beli untuk stok di rumahnya, yang membuat Kenia kembali cemberut karena dia harus ikut membawanya. “Beli melon sama semangka, dong!” “Ayo.” “Aku mau beli kue itu, bersih enggak?” “Ayo beli.” “Wah, pengantin baru ya? Semoga cepat diberi momongan, ya. Anak saya juga lagi hamil dua bulan, dan sekarang lagi ngidam kue ini,” ucap salah seorang ibu yang juga membeli kue itu.
“Aamiin, makasih ya, Bu,” ucap Kala. “Kamu apa-apaan, sih?” “Kan ucapan yang baik harus diaamiinkan.” “Kan kita enggak menikah.” “Nanti juga kita menikah.” Mendengar perkataan Kala, entah kenapa membuat jantung Kenia berdetak kencang. Sesekali dia melirik Kala. Kala sendiri juga merasakan hal yang sama seperti Kenia. Dia membayangkan saat dirinya menikahi Kenia nanti dan memiliki anak-anak yang lucu. Tanpa terasa mereka tiba di rumah. Kala langsung meminta Kenia untuk menata barang-barang di atas meja dan di kulkas. “Duh, pegal kan aku, makanya kalau mau ke pasar tuh naik motor.” “Motor aku kan besar, nanti susah bawa barang-barangnya.” “Beli lagi yang baru.” “Karena sekarang hari libur, ayo aku ajarkan masak.” “Karena sekarang hari libur, aku mau santai-santai. Tidur, atau jalan-jalan ke mall.” “Masak.” “Enggak mau.” Kala lalu menggelitik Kenia, membuat gadis itu berteriak. “Berhenti bego!” Kala langsung mencium Kenia, dan sedikit menggigit bibir gadis itu. “Jangan bicara kasar lagi. Kalau kamu bicara kasar, aku akan langsung menciummu, tidak peduli itu di tempat umum. Kamu mengerti, Ken?” Kenia melihat keseriusan di wajah Kala. Tapi gadis itu berpikir mana mungkin pria seperti Kala akan mencium seorang di depan umum, jadi dia diam saja. Hari ini mereka habiskan berdua di rumah Kala. Rumah yang tidak besar tapi memberikan kenyamanan. Di rumahnya, Denis merasa bosan. Dia menghubungi Kenia, Dwina dan Kala untuk mengajak mereka ke kafe. [Ayo ke kafe, habis itu kita jalan-jalan ke mall.] Kenia yang memang ingin ke mall, langsung menyetujui ajakan Denis, yang membuat Kala akhirnya mau juga pergi karena ingin selalu berada dekat dengan Kenia. Sore harinya mereka berempat berkumpul di kafe.
“Kenia cantik, mau makan apa?” Kala melirik Denis yang memanggil Kenia cantik. Denis yang tahu itu, hanya menaik turunkan alisnya. “Den, aku enggak ditawari?” tanya Dwina. “Enggak, ah.” Denis tertawa geli melihat Dwina yang kesal. Hubungan mereka berempat memang cukup unik. Dibilang sahabat bukan, karena sering tidak akur dan mencela. Dibilang musuh, tapi terkadang jalan bersama seperti saat ini dan selalu satu kelompok. “Habis ini kita nonton yuk, Dwi!” ajak Kenia yang disambut antusias oleh Dwina. Yang menjadi perdebatan pada akhirnya, Dwina mengajak nonton film romantis, sedangkan Kenia mau menonton film thriller. “Nonton saja dua-duanya, bergantian,” saran Denis yang sudah pusing mendengar perdebatan dua gadis itu. Film yang pertama ditonton adalah film pilihan Dwina. Baru saja lampu dipadamkan, namun mereka berempat disuguhkan dengan film siaran langsung yang ada di hadapan mereka. Meskipun suasana gelap, namun mereka cukup tahu kalau pasangan yang bangkunya ada di depan mereka itu sedang berciuman, membuat Denis geleng-geleng kepala dan Dwina jadi mupeng. “Yang tenang dong Dwi, kamu seperti enggak pernah ciuman saja!” ucap Denis. “Lagian ciuman enggak lihat-lihat tempat.” “Justru karena mereka melihat tempatnya gelap, jadi seperti itu. Coba kalau terang, belum tentu, kan.” Pembicaraan mereka berhenti karena film sudah dimulai. Setelah film itu selesai, mereka melanjutkan menonton film kedua, yang membuat Dwina sering berteriak. Selera Dwina dan Kenia memang berbeda, tapi itulah yang menjadi warna dalam persahabatan mereka. Selesai menonton film, mereka kembali makan. Denis menatap kesal Kala. Jangan dikira dirinya tidak tahu kalau dia mencium Kenia di dua film itu.
“Awas kamu, ya!” begitulah arti tatapan Denis pada Kala. “Bodo amat!” begitulah kira-kira balasan dari Kala. Mereka berbicara hanya dengan tatapan mata, agar kedua gadis itu tidak ada yang tahu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Mantapp
07/09
0good novel
22/02
0sangt bguss
16/11
0Lihat Semua