logo text

3 Akun Palsu

3 Akun Palsu
Di balik kekurangan ada kelebihan, begitu juga sebaliknya, karena tidak ada yang sempurna.
Kala sedang berada di perpustakaan, mencari bahan-bahan untuk tugas kelompok. Di sampingnya, berdiri Denis yang selalu mengganggunya mencari buku yang diinginkan.
“Jangan mengikutiku terus, aku bukan indukmu.”
Denis hanya cengo mendengar perkataan Kala.
Pluk!
“Aw!”
Kala mengusap bokongnya yang ditepuk oleh Denis.
“Dih, pasangan gay, mainnya di perpustakaan.”
Kala dan Denis sama-sama menoleh, lagi-lagi si biang onar, Kenia.
“Mau ngapain kamu di sini?” tanya Denis.
“Mau pura-pura ngerjain tugas kelompok, biar kelihatan seperti mahasiswi rajin,” jawab Keni apa adanya.
Kala, Dwina dan Denis tidak aneh lagi mendengar jawaban Keni. Gadis itu mulutnya selain pedas, juga bisa menjawab pertanyaan orang semaunya.
“Mbel ... ingat, bagian aku harus dikerjakan dengan benar.”
Kenia lalu mencari meja kosong, meletakkan tasnya dan mengambil kaca kecil. Dirinya sibuk memeriksa apakah kulitnya masih putih mulus tanpa komedo apalagi jerawat.
“Kamu memang sempurna, Keni,” ucap Keni di depan kaca mininya.
“Iya Kenken, kamu memang sempurna,” batin Kala.
Mereka berempat berada di meja yang sama, namun dengan aktivitas yang berbeda. Kala sibuk dengan buku-buku, Keni sibuk berkaca sambil senyum-senyum memuji dirinya sendiri, Dwina yang sibuk baca novel, sedangkan Denis dengan ponselnya, mungkin main game.
“Sudah sore, aku mau pulang dulu, ya,” ucap Kala pelan, seperti meminta ijin kepada orang tua saat akan pergi bermain.
“Memangnya sudah selesai?”
“Belum, tapi aku sudah lelah dan lapar. Nanti kalau aku sakit, kan kalian juga yang susah.”
“Iya iya, bawel!”
Kala lalu membereskan buku-bukunya, sedangkan Keni dan Dwina langsung pergi.
Setibanya di rumah kontrakan berukuran kecil bercat biru itu, Kala langsung membuat makanan yang hanya terdiri dari roti gandum ditambah telur rebus, potongan timun dan tomat.
Hari ini adalah hari Minggu, hari di mana Kala terbebas dari bullyan orang-orang kampus.
“Paket.”
Kala langsung membuka pintu, dan mengambil paket dari kurir tersebut.
Ikan asin, kerupuk, ikan teri, dan beberapa jenis makanan lainnya. Tidak perlu melihat siapa yang mengirim, Kala sudah tahu siapa pengirimnya.
Kala langsung memasak, aroma ikan asin dan sambal terasi benar-benar menggugah seleranya.
“Enak banget masakan aku,” pujinya pada diri sendiri. Tanpa terasa dia sudah menghabiskan tiga piring nasi.
Untung saja tidak ada yang melihat pola makan Kala. Di saat-saat tertentu, dia akan makan makanan yang mencerminkan pola hidup sehat, roti dan sayuran saja. Di lain waktu, dia akan makan seperti orang yang tidak makan berhari-hari, tiga piring sekaligus.
Kala kembali mengerjakan tugas kelompok, yang baginya lebih tepat sebagai tugas pribadi.
Di tengah aktivitasnya mengerjakan tugas, Kala kembali teringat saat pertama kali pindah ke sekolah yang sama dengan Keni. Hari pertama sekolah di sana, dia sudah mendapatkan hukuman karena memecahkan jendela ruang kepala sekolah. Sebenarnya bukan salah Kala, bola itu mental saat terpukul oleh tangannya karena hampir mengenai kepala Keni. Keni bukannya berterima kasih, justru marah-marah dan mengatakan kalau tubuh Kala seperti kuburan berjalan, karena aroma melati yang sangat menyengat hidungnya.
“Kenapa kamu selalu bau melati, sih?” tanya Keni saat itu.
“Karena nenekku suka dengan bunga melati.”
“Bisa enggak, kamu ganti parfummu dengan yang lebih maskulin?”
“Bisa enggak, kamu lebih feminin. Jangan galak-galak, karena cewek galak biasanya enggak laku.”
“Apa kamu bilang?”
Sejak saat itulah, Keni selalu membully Kala. Kala yang menjadi murid baru dan tidak memiliki teman, tidak ada yang membelanya. Selain karena takut dengan Keni yang memang terkenal galak, juga karena mereka tidak ingin berteman dengan Kala yang secara fisik tidak memenuhi kriteria sebagai teman ideal, selain otaknya yang bisa dimanfaatkan.
Hari Minggu ini benar-benar Kala habiskan di rumah kontrakannya. Dia membuka akun sosial media miliknya. Akun yang satu, menggunakan foto seorang pria tampan berwajah bule. Jangan ditanya berapa banyak pengikutnya. Akun yang satu lagi, tentu saja pria berpenampilan dekil dengan penampilan yang sangat pantas dikritik. Soal jumlah pertemanan? Jangan ditanya, sangat miris. Itu pun mereka berkomentar di fotonya dengan kata-kata yang tidak enak dibaca.
[Ternyata di atas jelek, masih ada yang lebih jelek lagi.]
[Inilah definisi jelek yang sesungguhnya]
[Ini curut, atau orang?]
Masih banyak lagi kata-kata yang membuat Kala enggan membacanya.
Sedangkan akun si pria tampan, membuat Kala ingin muntah saat membacanya.
[Ganteng banget sih! Sudah punya pacar belum? Enggak perlu menjadi satu-satunya, jadi yang ketiga pun, aku mau.]
[Gila, ini sih gantengnya kebangetan. Sini bang, sama dedek!]
[Membayangkanmu selalu membuatku mimpi indah.]
Ya, selalu kata-kata pujian yang ditulis. Kala menghela nafas panjang. Tidak adakah yang bisa menerimanya dengan tulus?
Iseng, kala menulis kata-kata di akunnya.
I miss you, honey
Puluhan komentar langsung masuk.
[Cewek apes mana yang disukai sama manusia langka ini?]
[Apa perlu aku kirimkan obat ganteng?]
Kala kembali menghela nafas berat. Kenapa orang-orang suka memandang fisik?
Yang tampan dengan yang cantik.
Yang kaya dengan yang kaya.
Jika ada yang jelek dengan yang tampan atau cantik, akan dikira memakai pelet, mata buram, salah jodoh ....
Si miskin dengan si kaya, akan dianggap cerita cinderella.
Kala ingin seseorang bisa menerima dia apa adanya. Tiba-tiba saja wajah Keni terbayang.
“Heh gembel, ngapain kamu ngayalin aku? Mikir mesum, ya?” Kala langsung menggelengkan kepalanya, saat dia merasa Keni pasti akan mengatakan hal seperti itu jika tahu bahwa Kala membayangkannya.
Kala kembali memposting foto dan beberapa kata di akun si pria tampan.
Sayang, kamu sedang apa?
Tidak perlu menunggu lama sejak postingan diunggah, berbagai komentar dan tanda hati langsung membanjiri.
[Aku di sini, sedang menunggumu mengajakku ke KUA, Sayang]
“Kalau aku yang gembel ini mengajaknya ke KUA, pasti dia akan bilang ‘Pergi sana kamu ke kuburan!’ dan langsung memblokir akunku karena trauma,” batin Kala.
[Lagi menyiapkan diri untuk kamu lamar, hehehe.]
Kalimat-kalimat serupa yang dia dapatkan.
Di lain tempat, seorang pria sedang berbicara dengan orang kepercayaannya.
“Bagaimana menurutmu?”
“Dia anak yang keras, tidak akan mudah membujuknya.”
“Sama seperti kamu, kan?”
Mereka tertawa pelan, lalu kembali melanjutkan makan.
“Jadi, apa kamu sudah menemukan rencana baru?”
Pria yang diajak bicara itu mengangguk. Memiliki anak yang keras kepala memang tidak mudah baginya, apalagi anaknya itu seorang perempuan. Meski pun mereka jarang bertemu, namun bukan berarti dia tidak tahu apa-apa. Kedua orang itu tertawa bersama, membayangkan tentang anak perempuan yang masa depannya sudah diatur sedemikian.
“Anakmu itu sangat menggemaskan. Aku jadi ingin cepat-cepat bawa pulang.”
“Sabar, semua ada waktunya. Kita tidak boleh gegabah agar rencana kita tidak berantakan.”
“Tentu saja, jangan khawatir.”
Mereka kembali tertawa, membayangkan wajah emosi seorang gadis yang pasti akan sangat marah saat tahu kenyataan yang ada.
Keesokan harinya
Kala turun dari angkutan umum. Baru berapa langkah dia berjalan mendekati gerbang kampus, sebuah mobil menyipratkan lumpur ke celana panjangnya, bahkan kemejanya ikut kotor. Kala menghela nafas, dia tahu orang-orang akan semakin mengatai dirinya gembel karena penampilannya sekarang.
Denis melihat penampilan Kala yang berantakan. Bukannya menolong, pria itu justru tertawa pelan.
“Sudah gembel, makin gembel saja!” cibir Keni.
Kala tidak menanggapi perkataan Keni, meladeni gadis itu tidak akan ada habisnya.

Komentar Buku (83)

  • avatar
    Visitor

    Mantapp

    07/09

      0
  • avatar
    rafazhaamanda

    good novel

    22/02

      0
  • avatar
    RafliMuhammad

    sangt bguss

    16/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru