2 Judes

2 Judes
Ada saatnya rasa jenuh itu melanda, namun saat mengingat apa tujuan kita bertahan, semangat akan kembali datang
 
Sore harinya
Kala langsung merebahkan tubuhnya sesampainya dia di rumah kontrakan. Sebelum dia mengontrak di situ, dia mengekost, namun tidak bertahan lama karena tidak betah. Bukan hanya karena ejekan dari teman-teman satu kostan, tapi karena pemilik kost selalu menaikkan uang sewa setiap bulannya.
Malam harinya, Kala mengerjakan tugas kuliahnya dengan cepat. Dia memang pria yang berotak cerdas, namun kecerdasannya tertutupi dengan kekurangannya yang lebih dilihat oleh orang-orang. Mereka hanya memanfaatkan Kala untuk mendapat nilai yang bagus.
Jari-jari Kala dengan lincah mengetik tugas tersebut. Tidak lama kemudian perutnya berbunyi, meminta untuk segera diisi. Kala mengambil beberapa sayuran, lalu memotong-motongnya. Hanya sayuran yang dia makan untuk malam ini. Entah Kala ingin diet atau menanamkan pola hidup sehat, namun dia terlihat biasa dengan makanannya itu.
Ponsel Kala berbunyi, sebuah pesan dari neneknya.
[Kala, nenek kangen. Kapan kamu pulang?]
[Kala juga kangen sama nenek. Nanti Kala pulang kalau sudah sukses.]
[Ya sudah, terserah kamu saja. Nenek selalu mendoakan semoga kamu berhasil. Jangan lupa kalau pulang sekalian bawa calon istri, nenek ingin cepat-cepat punya cicit.]
[Iya, nek.]
 
Tidak ada lagi balasan dari neneknya. Sambil makan, Kala mengerjakan pekerjaan yang dikirimkan lewat email. Hanya mentranslate sepuluh halaman. Kala sudah terbiasa melakukan semua ini, karena bekerja di tempat lain seperti pelayan kafe atau cleaning service selalu ditolak. Apalagi alasannya kalau bukan penampilannya yang bagi orang-orang merusak pemandangan.
Di lain tempat
Keni pulang ke rumahnya setelah tadi jalan-jalan dengan Dwina. Rumah yang sepi sudah biasa baginya. Ayahnya sedang berada di luar negeri untuk mengurus pekerjaannya, sedangkan mamanya juga menemani ayahnya juga sekaligus jalan-jalan ke luar negeri juga. Salah satu keuntungan dari kepergian orang tuanya ke luar negeri, Keni akan mendapat barang-barang mewah dari kedua orang tuanya, yang nantinya akan membuat orang-orang iri karena dia selalu memiliki barang-barang bagus dan mahal.
Tiba-tiba saja Keni teringat akan tugas kuliahnya yang belum dia kerjakan. Dia lalu mengambil laptopnya, namun tidak bisa konsentrasi karena terlalu lelah.
“Lihat tugas si cupu saja,” gumam Keni. Ya seperti itu lah, Keni akan melihat tugas Kala jika dia tidak mengerjakan tugasnya sendiri. Bukan karena Keni bodoh, hanya saja jika penyakit malasnya sedang kambuh, tentu saja mengcopy paste punya orang adalah jalan satu-satunya, daripada tidak mendapat nilai.
Keni mulai memejamkan matanya, besok dia harus pergi pagi-pagi untuk mengambil tugas dari Kala, namun sebelum itu dia mengirim pesan dulu.
Ponsel Kala berbunyi, lagi-lagi sebuah pesan dari seseorang yang sudah dia hapal nomornya, karena sering menghubunginya di saat-saat seperti ini.
[Cupu, besok datang pagi-pagi. Kerjakan tugas aku sekarang, besok pagi mau aku periksa. Kali saja kalau kamu banyak mikir, kamu bisa lebih berguna!]
[Iya, Kenken.]
Kala lalu mengerjakan tugas untuk Keni yang dibedakan sedikit dengan miliknya.
 
Keesokan paginya di kampus.
Keni mengambil tugasnya yang sudah diprint oleh Kala, mata gadis itu bergerak-gerak membaca apa yang ditulis oleh Kala. Merasa puas dengan hasilnya, tanpa mengucapkan terima kasih, Keni pergi begitu saja.
Kala berjalan di belakang Keni, melihat punggung gadis yang selama dua tahun lebih ini selalu menindasnya, sejak kelas dua SMA. Selalu ada saja yang Keni lakukan padanya, namun Kala selalu diam.
“Awww ....”
Suara gedebuk disertai ringisan itu menyadarkan Kala dari lamunannya. Di hadapannya, Keni sudah duduk di lantai sambil memegang jidatnya yang memerah.
“Kenken? Kamu kenapa? Ko duduk di situ?”
“Kamu kenapa, kamu kenapa! Aku tuh habis diseruduk sama curut buta yang kekurangan makan lalu menyosor cewek cantik! Ngerti, enggak? Makanya otak tuh dipakai! Mata sudah empat, masih saja jalan enggak lihat-lihat.”
Kala terdiam, sambil mencerna perkataan Keni yang di luar nalar, baginya. Beberapa detik kemudian dia tertawa.
“Kamu menertawakan aku?!”
“Enggak kok, enggak. Aku lagi menertawakan curut buta yang kekurangan makan lalu menyosor cewek cantik,” jawab Kala cepat, sebelum si ratu cabe kembali mengoceh.
Terdengar suara tawa dari mahasiswa lain, terutama dari Denis, pengamat Kala.
“Apa lihat-lihat?” bentak Keni pada mereka. Meskipun Keni mahasiswi baru, tapi dia tidak takut dengan senior-seniornya, mungkin ini sifat yang diwariskan oleh ayahnya, juga mamanya. Yang lain langsung terdiam, kecuali Denis.
Kala mengulurkan tangannya, bermaksud membantu Keni bangun, namun langsung ditepis oleh gadis itu.
“Keni, kamu enggak apa-apa?” tanya Dwina. Tadi dia melihat Keni yang berjalan di depan Kala, lalu Keni berhenti tiba-tiba. Kala yang melamun, tidak melihat Keni berhenti di depannya dan terus berjalan hingga menabrak gadis itu, membuat Keni terhuyung ke depan lalu jatuh dan membuat keningnya mencium lantai dengan sangat indah.
Dwina meringis melihat kening Keni yang benjol dan berwarna merah, tidak lama lagi pasti akan membiru.
“Keni, ayo ke UKS, obati kening kamu dulu,” ajak Dwina. Keni melirik Kala yang menunduk sambil sesekali melirik padanya, lalu tatapannya beralih pada Denis yang masih menyengir dengan lebar, selebar mulut kuda.
Pluk!
Keni langsung memukul punggung Denis dengan kencang. Membuat Denis yang tadinya nyengir karena lucu, sekarang meringis karena sakit.
Keni melewati Kala, menyenggol pundak pria itu, namun bukannya Kala yang bergerak, malah dia sendiri yang kembali terhuyung. Pemandangan itu kembali membuat Denis tertawa yang dibalas dengan tatapan kesal Keni.
“Awas kamu, ya. Lihat saja nanti pembalasanku,” batin gadis itu.
Keni dan Dwi tiba di UKS. Kening Keni yang benjol diolesi salep oleh Dwi.
“Sakit banget ya, Keni?” tanya Dwi. Keni memutar bola matanya.
“Memangnya ada, terbentur lantai rasanya nikmat?”
Dwi terkikik mendengar pertanyaan Keni. Salahnya juga sih, bertanya yang sudah pasti jawabannya apa.
“Ayo ke kelas, mata kuliah pertama dosennya judes. Mending cakep, jelek begitu aja belagu,” keluh Keni.
Dwi menahan tawanya, dia tidak habis pikir dengan sahabatnya ini. Ngatain orang judes, dirinya sendiri bahkan lebih judes, untung saja cantik.
Mata kuliah pertama dimulai. Kelas langsung hening karena tidak ingin mencari masalah dengan dosen perempuan yang terkenal judes.
Dosen bernama Sri itu, menatap Kala yang terlihat fokus dengan buku yang sedang dibacanya. Diperiksanya tugas-tugas yang ada dimejanya. Dia melihat hasil pekerjaan Kala yang sangat memuaskan, lalu dilihatnya hasil pekerjaan Keni, yang juga memuaskan. Sedangkan yang lain? Jangan diharap!
“Saya akan membagi beberapa kelompok untuk tugas. Kelompok pertama ....”
Mereka harap-harap cemas, jangan sampai satu kelompok dengan Kala, pikir mereka.
“Kelompok empat ... Kenia, Deina, Denis dan ... Kala.”
“Anjirrr, mereka lagi, mereka lagi!” teriak Keni keceplosan. Bu Sri menatap tajam pada Keni, yang menggaruk tengkuknya.
“Siapa yang anjirrr?” tanya bu Sri tajam.
“Kala, Bu.”
Bu Sri mendengkus, lalu memandang para mahasiswanya yang menahan tawa, kecuali Kala.
“Kelompok lima ....”
“Kelompok enam ....”
Sejak tadi bibir Keni terus cemberut, namun seketika tersenyum licik.
“Kala, kamu kerjakan tugas bagian aku!”
“Tapi ....”
“Enggak ada tapi-tapian!”
Mereka langsung menatap Keni, bukan karena kesal, tapi karena iri. Tahu begitu, mereka juga mau satu kelompok dengan Kala, biar pria itu saja yang mengerjakan tugas kelompoknya.
“Ini hukuman buat kamu karena sudah membuat aku jatuh dan kening mulusku menjadi benjol.”
“Nanti kalau ketahuan bu Sri, bagaimana?”
“Ya jangan sampai ketahuan, dong. Awas kalau ada yang mengadu!”

Komentar Buku (83)

  • avatar
    Visitor

    Mantapp

    07/09

      0
  • avatar
    rafazhaamanda

    good novel

    22/02

      0
  • avatar
    RafliMuhammad

    sangt bguss

    16/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru