Bab 8

Zahra duduk di sofa single. Sedangkan Rivan bersama orangtuanya duduk disofa panjang. Di hadapan mereka duduklah kedua orangtua Zahra.
"Maksud kedatangan saya bersama orangtua saya kemari karena mau mengkhitbah anak Om. Yang tak lain dan tak bukan adalah Zahra," ucap Rivan. Dia sebenarnya gugup. Tapi, dia berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
"Berapa usiamu?" tanya Ardi. Diwajahnya dan Revina terlihat keangkuhan dan rasa sombong. Kening Hermawan sampai berkerut melihat kesombongan dalam diri Ardi dan Revina. Sikap mereka sangat jauh berbeda dengan Zahra yang sopan santun.
"29 tahun, Om," jawab Rivan.
"29 tahun? Zahra, kamu tidak salah mau menikah dengan pria yang usianya jauh di atasmu? Memangnya tak ada pria yang lebih muda apa? Atau memang kamu tidak laku?" tanya Revina langsung. Pertanyaan Revina memancing ketegangan di ruang tamu itu. Zahra merasa malu pada Rivan dan orangtua Rivan. Pada kenyataannya, dia tidak salah.
"Bu, jarak usia yang jauh tidak menjadi masalah bagiku. Dulu, Rasulullah SAW menikah bersama 'Aisyah dan usia mereka terpaut jauh. Tidak menjadi masalah asalkan perempuan yang mau menikah sudah baligh," jawab Zahra. Rivan yang mendengar jawaban Zahra merasa kagum.
"Terserah kau sajalah," balas Revina. Mata Mira memicing tak suka pada Revina. Wanita baya berjilbab hijau muda itu tak percaya jika dua orang di depannya adalah orangtua Zahra. Sikap dan sifat mereka sangat bertolak belakang.
"Apa pekerjaanmu?" tanya Ardi.
"Saya bekerja sebagai pimpinan utama di sebuah perusahaan konveksi pakaian muslim Om," jawab Rivan.
"Kaya juga ternyata," cetus Revina. Mira dan Hermawan dengan spontan menatap Zahra yang terlihat malu dengan wajah merah dan kepala menunduk. Sungguh, yang salah adalah ibunya. Tapi, anaknya yang merasa malu.
"Jadi, apakah pinangan saya diterima?" tanya Rivan langsung. Dia tahu kalau Zahra malu dengan sikap kedua orangtuanya. Dan Rivan tidak mau mengulur waktu lagi. Dia tidak mau membuat Zahra semakin malu.
"Ya, diterima. Kalau bisa, nikahi dia secepatnya. Setelah menikah, kau bawa dia pergi dari sini. Dengan itu, beban kami berkurang," jawab Revina langsung. Ardi hanya diam dan mengangguk seolah menyetujui ucapan Revina.
Hermawan dan Mira merasa geram mendengar ucapan Revina. Apalagi melihat anggukan kepala Ardi. Mereka berdua sungguh tak menyangka jika Zahra dibesarkan oleh dua orang tak bermoral seperti Ardi dan Revina.
Tidak, Hermawan maupun Mira tidak menyalahkan Zahra. Mereka malah bersyukur karena Zahra begitu baik. Mereka berdua jelas tahu kalau Zahra menjadi seperti itu bukan karena didikan Ardi dan Revina.
"Zahra, kau menerimanya?" Ardi bertanya. Dia menumpangkan kaki kanan pada kaki kirinya. Sikapnya sangat jauh dari kata sopan santun.
"Aku menerima pinangan Mas Rivan," jawab Zahra dengan suara lembutnya. Hermawan dan Mira termasuk Rivan tersenyum lega mendengarnya. Menjadi sebuah ibadah juga bagi mereka karena mereka akan membawa Zahra pergi dari rumah penuh kedzoliman itu.
"Jadi, tanggal berapa acara pernikahan akan dilaksanakan?" tanya Hermawan. Matanya menatap Ardi dengan tatapan tegas.
"Terserah kalian saja," jawab Ardi acuh tak acuh.
"Zahra, tanggal berapa yang kamu inginkan?" tanya Mira pada Zahra. Percuma jika bertanya pada orangtua Zahra.
"Kalau bisa, setelah aku menerima surat kelulusanku saja Tante," jawab Zahra dengan sopan. Mira mengangguk.
"Baiklah. Sekarang, kita tunggu dulu surat kelulusan Zahra. Setelah itu kita kembali rundingkan tanggal berapa Rivan dan Zahra menikah," putus Hermawan. Ardi dan Revina hanya mengangguk seolah tidak peduli dengan pembahasan penting ini.
"Ini hanya oleh-oleh dari kami untukmu Zahra. Semoga kamu suka," ucap Mira. Dia menyerahkan sebuah kotak persegi berukuran sedang yang dibungkus kertas kado dan diberi hiasan pita.
"Terima kasih Tante," ucap Zahra dengan senyuman lembutnya. Hati Mira terasa hangat melihat senyuman Zahra. Andaikan saja Zahra terlahir dari rahimnya, maka dia akan menyayangi Zahra sepenuh hati. Tapi, sebentar lagi Zahra akan menjadi menantunya. Mira bisa menyalurkan kasih sayangnya sebagai seorang ibu pada anaknya jika Zahra sudah menikah dengan Rivan nanti.
Mata Mira lalu terarah pada Revina yang menatap lekat pada hadiah yang baru saja dia berikan pada Zahra. Jangan salahkan Mira yang mulai curiga jika saja nanti Revina akan merebut hadiah Zahra darinya barusan.
"Zahra, hadiah itu Rivan yang memilihnya. Khusus untukmu. Jadi, kamu pakai ya. Jangan diberikan pada orang lain," ucap Mira lagi. Rivan langsung menatap ibunya dengan tatapan bingung. Jelas, Rivan tahu kalau Zahra tidak mungkin memberikan hadiah itu kepada orang lain. Sayangnya, Rivan tidak tahu apa maksud ucapan ibunya barusan.
"Iya Tante," balas Zahra dengan anggukan pelan.
"Baiklah. Urusan kami disini sudah selesai. Kami pamit pulang dulu. Assalamu'alaikum," ucap Hermawan.
"Wa'alaikumsalam," balas Zahra. Hanya Zahra yang membalas ucapan salam Rivan dan kedua orangtuanya. Zahra pun mengantarkan Rivan bersama kedua orangtuanya sampai ke dekat mobil mereka.
"Om, Tante, Mas Rivan, maaf atas sikap tidak mengenakkan hati orangtuaku," ucap Zahra saat mereka sudah dekat dengan mobil.
"Tak perlu meminta maaf. Kami tahu kamu malu dengan sikap orangtuamu itu," balas Hermawan. Dia tersenyum pada Zahra dengan lembut.
"Iya. Tante bangga kamu bisa istiqomah seperti ini disaat keluargamu sendiri jauh dari agama," sambung Mira. Tangannya bergerak menyentuh kepala Zahra dengan lembut dan mengusapnya.
"Tante sudah tidak sabar untuk segera menjadikanmu sebagai menantu Tante," ucap Mira lagi. Pipi Zahra merona merah mendengar ucapan Mira barusan. Setelahnya, Mira masuk ke dalam mobil. Kini, tinggal Rivan yang berhadapan dengan Zahra.
"Aku tersanjung melihat kebaikan yang ada dalam dirimu. Aku harap, kita berjodoh. Aku akan sangat beruntung jika mempunyai istri yang baik dan solehah sepertimu," ucap Rivan. Zahra tersenyum kecil mendengarnya.
"Terima kasih Mas sudah mau percaya padaku untuk Mas jadikan seorang istri," balas Zahra.
"Bukan hanya seorang istri. Tapi juga ibu dari anak-anakku," lanjut Rivan. Wajah Zahra merona merah mendengarnya. Rivan pun terkekeh pelan melihatnya. Ingin rasanya Rivan menyentuh kepala Zahra yang berjilbab dan mengusapnya pelan seperti apa yang dilakukan ibunya tadi. Namun, Rivan tahu kalau Zahra tidak akan suka sebab mereka belum halal.
"Baiklah. Zahra, aku pamit pulang dulu," ucap Rivan. Zahra mengangguk dan Rivan pun masuk ke dalam mobil. Setelah mobil milik Rivan melaju pergi, Zahra pun kembali masuk ke dalam rumah. Mata Zahra membelalak kaget melihat Revina yang mengacak-acak hadiah dari Mira tadi.
"Ya Allah. Bu, kenapa diacak-acak?" tanya Zahra. Dia berjalan mendekati Revina dan membereskam hadiah dari Mira yang ternyata berupa pakaian muslim lengkap dengan jilbab syar'inya.
"Cih, kirain emas. Ternyata cuma baju murahan," ucap Revina. Zahra melipat dan membereskan baju beserta jilbabnya. Lalu Zahra memasukkannya kembali pada kotak berbungkus kertas kado itu.
"Walaupun murah, tapi aku senang Mas Rivan khusus memilihkannya untukku," balas Zahra. Revina kembali mendecih.
"Jangan sok-sokan. Laki-laki itu tidak sekaya Ardi. Pasti kamu tidak akan bahagia hidup dengannya," desis Revina.
"Harta benda tidak akan menjamin kebahagiaan sebuah rumah tangga Bu. Yang penting adalah keharmonisan," balas Zahra. Revina merasa kesal karena Zahra berani membalas perkataannya. Tak jauh seperti yang dilakukan Tiara saat di sekolah, Revina pun mengambil gelas berisi teh manis buatan Zahra tadi dan menyiramkannya pada wajah Zahra.
"Astagfirullahaladzim," ucap Zahra terkejut. Dengan cepat dia membersihkan air teh itu dari wajahnya.
"Dasar anak tidak tahu diri!" Revina kembali menyiramkan segelas teh pada wajah Zahra. Dia mengambil gelas ketiga dan hendak menyiramkannya lagi pada wajah Zahra. Namun, Bi Asih keburu datang.
"Ya Allah. Nyonya, tolong hentikan," pinta Bi Asih. Dia berjalan cepat mendekati Zahra dan langsung memeluk Zahra dengan erat.
"Nyonya, tolong hentikan," pinta Bi Asih lagi. Revina mendecih kesal dan melemparkan gelas yang dia pegang ke lantai hingga menimbulkan suara yang tak mengenakkan.
"Kau memang pantas jadi anak babu!" hina Revina. Setelah itu dia melenggang pergi dari ruang tamu.
"Non Zahra baik-baik saja?" tanya Bi Asih dengan khawatir.
"Aku baik-baik saja Bi," jawab Zahra. Matanya kembali memerah dan ada sedikit air mata yang keluar dari kedua matanya. Zahra mengambil kotak hadiah tadi dan hendak pergi ke kamarnya.
"Bi, aku ke kamar dulu. Maaf ya Bi, aku tak bisa membantu Bibi membereskan kekacauan ini," ucap Zahra. Bi Asih mengangguk pelan.
"Iya Non tidak apa-apa," balas Bi Asih. Setelah itu, Zahra pun berjalan meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya. Saat berjalan menuju kamar, air mata mengalir membasahi kedua pipi Zahra. Dia menangis tanpa suara. Hari ini, dia kembali mendapatkan perlakuan tidak baik dari keluarganya. Namun, Zahra hanya bisa bersabar dengan semua yang menimpanya. Dia tidak mempunyai kekuatan untuk melawan keluarganya sendiri.

Komentar Buku (105)

  • avatar
    AinaNeng

    👍 pokoknya thebesd deh

    04/08

      0
  • avatar
    Bella Vanessa

    baguss

    23/07

      0
  • avatar
    ChairaAmiza

    👍🥹

    15/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru