Bab 28

Hamil dua bulan biasa disebut dengan hamil muda juga berada dalam masa ngidam. Seperti kebanyakan ibu hamil, Zahra juga mengalami fase ngidam itu.
Sejak seminggu yang lalu, dia sering mual dan muntah di pagi hari. Tak tega melihat Zahra tersiksa setiap pagi, Rivan pun berinisiatif untuk membawa Zahra ke Dokter. Dokter pun memberikan obat pada Zahra. Dan Alhamdulillah, rasa mual dan muntah yang Zahra lakukan sedikit berkurang setelah meminum obat dari Dokter.
Bukan hanya itu, Zahra juga kerap kali menginginkan makanan. Jika saja, Bi Ani membicarakan sebuah makanan, maka Zahra tergiur dan menginginkan makanan itu. Bahkan, jika Zahra menonton televisi yang menampilkan acara memasak atau kuliner, Zahra juga sering menginginkannya. Namun tak setiap makanan yang diinginkan Zahra mampu dibelikan oleh Rivan. Karena beberapa makanan yang diinginkan oleh Zahra susah untuk ditemukan.
Mungkin kesal karena keinginannya tidak dikabulkan oleh Rivan, Zahra pun melampiaskannya lewat air mata. Zahra bisa menangis sampai tiga jam lamanya sampai hatinya merasa lega dan tidak kesal lagi pada Rivan. Karena hal itu juga, Rivan membutuhkan waktu yang lama untuk membujuk sekaligus meminta maaf pada Zahra.
Seperti malam ini, Zahra sedang duduk di sofa yang ada di kamarnya. Di atas meja, ada sebungkus roti bakar isi selai kacang dan coklat yang baru saja dibelikan oleh Rivan atas keinginan Zahra. Rivan bersyukur karena malam ini, makanan yang diinginkan Zahra tidak susah untuk dicari.
"Kenapa Mas tidak makan?" tanya Zahra. Dia lahap sekali memakan satu persatu dari potongan roti bakar itu. Terlihat seperti orang kelaparan atau orang yang baru menemukan makanan enak hingga ingin memakannya terus menerus.
"Tidak. Melihatmu makan saja sudah membuatku kenyang," jawab Rivan. Zahra mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh dan kembali memakan roti bakar itu.
"Oh ya Mas, pakaian yang aku pesan untuk kita pakai saat hari pernikahan Tiara sudah selesai?" tanya Zahra. Ya, Zahra memang meminta pada Rivan untuk menyuruh satu atau dua orang pegawainya membuat pakaian mereka. Zahra dengan senang hati tak perlu pergi ke butik. Tinggal minta saja pada Rivan.
"Belum. Nina bilang, besok bajunya selesai dijahit sekaligus dicuci dan disetrika agar harum," jawab Rivan. Zahra tersenyum senang mendengarnya. Dia menyandarkan kepalanya pada bahu Rivan dan tangannya memeluk lengan Rivan dengan erat.
"Mas, besok mau pergi ke kantor?" tanya Zahra. Dia mendongak dan menatap Rivan yang ternyata juga sedang menatapnya.
"Iya. Memangnya kenapa?" tanya Rivan. Tangannya bergerak merapikan anak rambut Zahra yang bertebaran di kening Zahra.
"Tidak. Besok, aku izin mau ke rumah Mba Viana. Boleh kan?" tanya Zahra. Rivan tersenyum mendengarnya. Kepalanya pun bergerak mengangguk pelan.
"Boleh. Besok pagi, siap-siaplah. Agar sebelum ke kantor, aku bisa mengantarmu dulu ke rumah Viana," jawab Rivan. Zahra tersenyum lebar mendengarnya. Senang rasanya Rivan tidak mengekangnya. Rivan seperti itu juga karena tujuan Zahra bukanlah tempat yang berbahaya. Mengunjungi saudara juga merupakan hal yang baik dan positif.
"Baik Mas," balas Zahra. Dia memejamkan mata dan kepalanya bergerak mencari posisi nyaman di bahu Rivan. Saat sedang memejamkan mata, tiba-tiba Zahra merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh keningnya. Karena penasaran, Zahra pun membuka matanya kembali dan menatap Rivan yang ternyata sedang mencium keningnya.
"Belum mengantuk?" tanya Rivan setelah bibirnya lepas dari kening Zahra.
"Belum Mas," jawab Zahra. Rivan kembali mencium kening Zahra.
"Aku mengantuk. Temani aku tidur," ucap Rivan. Zahra mengangguk dan mereka pun berjalan menuju ranjang. Rivan dan Zahra langsung membaringkan tubuh di atas ranjang. Karena mengantuk, Rivan langsung memejamkan mata dengan tangan memeluk tubuh Zahra. Sebenarnya, malam ini hasrat memenuhi diri Rivan. Tetapi, kehamilan Zahra yang masih berada di trimester pertama sangat rentan. Dokter juga bilang kalau hubungan suami istri tidak boleh terlalu sering demi kesehatan sang calon anak.
***
Hari ini, rekan kerja Rivan yang seorang pengusaha konveksi tas merayakan hari ulang tahun anaknya yang keenam tahun. Karena mendalami agama seperti Rivan, rekan kerja Rivan tidak merayakan ulangtahun anaknya dengan pesta hura-hura. Tetapi, dengan mengundang beberapa rekan kerja untuk bersholawat di rumah.
"Terima kasih sudah datang. Apa istrimu ikut ke sini?" tanya Deni, rekan kerja Rivan yang merayakan ulangtahun anaknya.
"Tidak. Istriku sedang mengunjungi adik iparku. Jadi, aku datang ke sini sendirian," jawab Rivan.
"Oh iya. Kudengar, mertuamu akan menikahkan anak mereka yang lain. Apa benar?" tanya Deni. Hubungannya dalam bisnis dengan Rivan lumayan dekat. Jadi, mereka juga sering bertukar informasi tentang bisnis juga yang lainnya.
"Iya. Ayah mertuaku akan menikahkan anak keduanya. Adik tiri istriku," jawab Rivan. Deni menunduk sesaat setelah mendengar ucapan Rivan barusan. Sesaat kemudian, dia mendongak dan bertanya pada Rivan.
"Apa kamu tidak mendengar berita dari Pak Wawan si pengusaha batu bara?" tanya Deni. Rivan mengerutkan kening dan menggeleng pelan.
"Kemarin, Ayah bercerita padaku. Katanya, Pak Wawan, si pengusaha batu bara yang kaya itu mengatakan pada para pebisnis kalau anak bungsunya di fitnah sudah menghamili anak seseorang karena ada seorang gadis meminta pertanggung jawaban pada anak bungsu Pak Wawan. Tetapi, anak bungsu Pak Wawan menepis kabar itu dan berkata kalau dia difitnah," ucap Deni. Rivan diam dan mendengarkan. Dia belum mengerti dan belum tahu siapa saja yang diceritakan Deni.
"Setelah tiga hari, Pak Wawan berkata kalau gadis itu ternyata anak Pak Ardi, pengusaha makanan ringan yang juga terkenal dengan kekayaannya. Tetapi, Pak Ardi sampai sekarang masih belum tahu itu dan malah menikahkan anaknya itu dengan Alva, pengusaha emas dan perak," lanjut Deni.
Rivan membelalak kaget mendengarnya. Ternyata, firasat Zahra selama ini memang benar. Ada yang aneh dibalik Tiara yang mau menikah dengan Alva setelah belum lama dia putus dari Dion. Ternyata itulah alasannya. Tiara hamil anak Dion dan Dion lari dari tanggung jawab. Lalu, Tiara setuju menikah dengan Alva mungkin agar orang-orang berpikir kalau anak yang dikandung Tiara adalah anak Alva.
"Apa istrimu tahu hal ini?" tanya Deni. Rivan menatap Deni dan menggeleng pelan.
"Tidak. Istriku memang sudah berkata padaku kalau ada yang aneh dengan adik tirinya. Tetapi, dia tidak tahu apa yang sebenarnya," jawab Rivan. Dia terdiam dan merenung. Yang Rivan khawatirkan adalah Alva tahu kehamilan Tiara dan membatalkan pernikahan. Itu mungkin lebih baik. Tapi, yang lebih Rivan khawatirkan adalah  jika Tiara berencana menggugurkan kandungannya sendiri.

Komentar Buku (105)

  • avatar
    AinaNeng

    👍 pokoknya thebesd deh

    04/08

      0
  • avatar
    Bella Vanessa

    baguss

    23/07

      0
  • avatar
    ChairaAmiza

    👍🥹

    15/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru