Pagi menjelang dan Zahra mulai menjalankan perannya sebagai seorang istri. Dia bangun pagi-pagi sekali dan menyiapkan makanan. Zahra juga membereskan rumah. Dia melakukan itu sendirian karena tak ada asisten rumah tangga. Setelah semuanya selesai, Zahra pun naik lagi ke lantai atas. Dia berniat memanggil Rivan dan mengajak Rivan untuk sarapan bersama. "Mas, sarapannya sudah siap," ucap Zahra. Rivan yang sedang mengutak-atik ponsel langsung menatap Zahra. Dia mengangguk dan menyimpan ponselnya di atas nakas. Lalu dia berjalan mendekati Zahra yang berdiri di dekat pintu kamar. "Ayo!" ajak Rivan. Dia menggenggam tangan Zahra dan mereka pun berjalan bersamaan menuju ruang makan. Sampai di ruang makan, Zahra dan Rivan duduk di kursi meja makan. Dengan cekatan, Zahra mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Rivan. Rivan tersenyum melihatnya. Senang rasanya jika mempunyai istri. Apapun ada yang melayani. "Ini Mas," ucap Zahra seraya menyerahkan piring pada Rivan. Setelah itu, Zahra mengambil nasi untuk dirinya sendiri. Selama sarapan, mereka tak mengobrol. Hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring yang terdengar di ruangan itu. Itu karena Rivan dan Zahra sudah biasa makan tanpa bicara. Karena berbicara saat makan itu tidak baik. Setelah beberapa menit, mereka selesai sarapan. Rivan memilih untuk diam di ruang keluarga. Sedangkan Zahra mencuci piring kotor dulu. Setelah selesai mencuci piring, Zahra membuat teh hangat untuk Rivan dan membawanya ke ruang keluarga. "Mas, ini tehnya," ucap Zahra. Rivan mengangguk dan tangannya bergerak menarik Zahra untuk duduk di sampingnya. "Sekarang, kamu lega?" tanya Rivan. Zahra yang tak mengerti pertanyaan Rivan mengerutkan kening. Rivan terkekeh geli melihat ekspresi Zahra. Tangannya bergerak merangkul pinggang Zahra dengan mesra. Lalu, Rivan mendaratkan sebuah ciuman lembut di pipi Zahra. "Sekarang kan, kita sudah menikah. Sah secara agama juga negara. Kita juga sudah punya rumah sendiri," ucap Rivan. Mendengar itu, Zahra tersenyum kecil. Dia merebahkan kepalanya di bahu Rivan. "Iya Mas. Alhamdulillah kita bisa langsung tinggal di rumah kita sendiri," balas Zahra. Mereka terdiam untuk beberapa saat. Suasana yang hening namun menenangkan bagi Rivan dan Zahra. Hingga saat Zahra mengingat hari kemarin, dia pun mulai bersuara dan bertanya pada Rivan. "Mas, kemarin ada wanita bernama Gita yang datang. Saat dia datang, Mas sedang di kamar mandi. Dia juga menanyakan Mas. Dan, dia terlihat tidak ikhlas saat mengucapkan selamat padaku," ucap Zahra. Rivan menghembuskan nafas pelan mendengarnya. Kemarin, dia memang membutuhkan waktu yang lama di kamar mandi. Jadi, saat Gita datang dan pulang, dia tidak bertemu dengan Gita. Rivan juga tak menyangka jika para wanita yang sempat dijodohkan dengannya ternyata diundang semua. "Iya. Dia Gita. Dia salah satu wanita yang pernah dikenalkan padaku. Tetapi, aku menolaknya," ucap Rivan. "Kenapa Mas menolaknya?" tanya Zahra penasaran. "Karena dia tidak bisa memasak," jawab Rivan. "Kenapa Mas bisa tahu itu?" "Saat itu, aku berkunjung ke rumahnya. Dia memasak untukku dan masakannya tidak enak. Ternyata, dia tidak bisa membedakan mana garam dan gula." Mata Zahra membelalak kaget mendengarnya. "Sepertinya, dia anak yang dimanja orangtuanya," ucap Zahra. Ya, dia jadi ingat pada Tiara. Tiara tak pernah memasak. Mungkin dia juga sama seperti Gita. Tak bisa membedakan mana garam dan gula. "Ya. Dia memang anak yang lumayan manja," balas Rivan. Dia memeluk Zahra dengan erat dan menghirup aroma harum yang menguar dari rambut Zahra. Jika di rumah, Zahra memang tidak memakai kerudung. Dia akan memakainya jika ke luar rumah dan jika ada tamu datang ke rumahnya. "Zahra, kita ke kamar yuk," ajak Rivan. Zahra tertawa pelan dan mengangguk. Mereka pun berjalan bersamaan menuju kamar mereka. Rivan bahkan sampai melupakan tehnya. *** Hari-hari berlalu dan Rivan sudah mulai masuk kerja lagi. Dia akan berangkat pagi setelah sarapan dan pulang sore menjelang maghrib. Tetapi, Rivan juga akan pulang ke rumah saat waktunya makan siang. Dia akan makan siang bersama Zahra dan kembali berangkat ke kantor sendirian. Terkadang, Zahra juga ikut ke kantor. Tapi, tidak setiap hari. "Zahra, hari ini kamu mau ikut aku ke kantor?" tanya Rivan. Zahra menatap Rivan dan menggeleng pelan. "Tidak Mas," jawab Zahra. Dia membereskan piring kotor dan membersihkan meja makan. "Hari ini, Ranti ulangtahun. Ayu dan Jena mengajakku untuk membeli hadiah sekaligus datang ke rumah Ranti. Boleh kan Mas?" tanya Zahra. Zahra tak memaksa Rivan untuk memberi izin padanya. Jika Rivan memberi izin, Zahra akan berterima kasih. Jika tidak, maka Zahra pun tak akan pergi. "Teman-temanmu itu perempuan kan?" tanya Rivan. Zahra menatap Rivan dan mengangguk. "Boleh. Tapi, jangan pulang malam," ucap Rivan memberi izin Zahra untuk pergi. Zahra tersenyum senang mendengarnya. Dia pun berjalan mengikuti Rivan yang akan kembali ke kantor. "Aku berangkat," ucap Rivan. Dia mencium kening Zahra dulu sebelum pergi. "Iya Mas. Hati-hati di jalan," balas Zahra. Rivan mengangguk dan dia pun segera masuk mobil. Zahra juga segera bersiap karena sebentar lagi Ayu dan Jena akan menjemputnya. *** Selesai membeli kado, Zahra bersama kedua temannya langsung menuju ke rumah Ranti. Zahra berniat untuk datang dan memberi hadiah juga mengucapkan selamat saja. Setelah itu, dia akan pulang. Tak enak rasanya berada di sebuah acara yang sedikit bertentangan dengan kepercayaan Zahra. Karena menurut kepercayaan Zahra, ulangtahun dengan perayaan seperti itu bukanlah anjuran dalam agama islam. Malah, sebagian lagi menentang tentang itu. Tetapi, Zahra tak enak pada Ranti kalau dia tidak datang. "Ranti, barakallahu fi umrik ya. Semoga Allah selalu melindungimu dari bahaya," ucap Zahra. Ranti tersenyum mendengarnya. Dia mengangguk pelan dan berterima kasih. "Terima kasih ya Zahra kamu mau hadir," ucap Ranti. Zahra mengangguk. Lalu, dia memberikan kado yang dia beli kepada Ranti. "Ini untukmu. Maaf kalau isinya biasa-biasa saja," ucap Zahra lagi. Ranti mengambil kado dari Zahra barusan. Dia kembali tersenyum dan berterima kasih. Setelah itu, Zahra pun pamit untuk langsung pulang. Ayu lah yang akan mengantarkan Zahra pulang. "Padahal, makan atau minum dulu," ucap Ayu. Zahra hanya menggeleng pelan. "Tidak. Aku takut Mas Rivan keburu pulang saat aku belum ada di rumah," balas Zahra. Padahal, hari masih siang dan Rivan akan pulang sore. Tetapi, Zahra tetap merasa tak enak jika keluar rumah tanpa ditemani oleh Rivan. Zahra berjalan bersama dengan Ayu mendekati mobil Ayu. Saat akan masuk ke dalam mobil Ayu, ada sebuah mobil mewah yang parkir di samping mobil Ayu. Tak lama, ada dua orang keluar dari mobil itu. Seorang perempuan dan laki-laki. Zahra mengerutkan kening saat melihat laki-laki itu adalah Dion. Dion berjalan dengan merangkul pinggang seorang perempuan. Mereka terlihat mesra. Dan perempuan itu bukan Tiara.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
👍 pokoknya thebesd deh
04/08
0baguss
23/07
0👍🥹
15/07
0Lihat Semua