"Mau jadi pacarku gak?" Luna menatap Lian dengan tatapan aneh dan heran. Masalah kecil apa yang dihadapi Lian hingga pria itu datang-datang bicara ngawur? "Om, kepala Om kebentur?" tanya Luna. Lian berdecak kesal mendengarnya. Sialan sekali. Padahal dia sudah serius. "Lun, aku serius." "Ya nggak lah. Aku gak mau pacaran sama om-om," jawab Luna cepat. Lian mendelik mendengar jawaban Luna yang tanpa pikir panjang itu. "Oke. Itu bukan pertanyaan. Tapi itu permintaan. Dan aku tak terima penolakan apapun," ucap Lian tegas. Mata Luna melebar mendengar itu. "Om! Ya nggak bisa gitu dong!" protes Luna tak terima. "Lah, kamu sendiri yang bilang aku boleh minta apapun sebagai balas budimu padaku." "Ya, nggak gitu juga kali. Aku-" "Kamu masih menyukai Nathan?" "Nggak. Bukan itu alasannya." "Ya sudah. Gak ada alasan apapun. Hari ini kita resmi pacaran." "Om! Aku gak mau!" "Tak ada penolakan, Sayang." "Nggak! Aku bilang nggak ya nggak!" Luna terlihat kesal. Malu juga saat Lian dengan lantangnya menyebutnya sayang. Luna berbalik dan langsung ke dapur. Berniat menjauhi Lian. Eh, tak tahunya Lian malah mengikuti. "Lun, aku gak main-main." "Aku juga gak main-main, Om," desis Luna. "Oke. Kalau kamu tidak mau, kamu pura-pura saja jadi pacarku. Gimana?" "Nggak. Nanti Om malah kepedean." "Lun, bantu aku sekali aja kenapa susah banget sih," gerutu Lian. "Ya, bantunya gak harus dengan cara itu juga kan?" "Tak ada cara lain, Luna." "Memangnya ada apa sih? Sampai-sampai Om mendesakku seperti ini?" Akhirnya Luna melontarkan pertanyaan dengan nada sebal dan kesal. Menatap Lian dengan alis menukik tajam. "Aku dijodohkan, Lun." "Terus?" "Ya makanya kamu harus mau pura-pura jadi pacarku agar aku punya alasan kuat untuk menolak perjodohan." "Kenapa harus aku orangnya?" "Karena gak ada perempuan lain." "Ada Kak Yunita kan?" "Dia sudah punya tunangan." "Sekretaris Om dikantor?" "Sudah punya anak dan suami." "Kalau begitu, Om harusnya-" "Cukup, Lun. Aku hanya minta kamu berpura-pura saja oke? Gak asli kok. Hanya pura-pura saja. Anggap saja sebagai balas budimu padaku yang sudah banyak membantumu." Lian memotong ucapan Luna dengan cepat. Dia pikir, Luna akan dengan mudah berkata iya. Nyatanya, gadis itu malah membuat situasi jadi ribet. "Beneran cuma pura-pura kan?" tanya Luna memastikan. Lian langsung mengangguk. "Baiklah kalau begitu." Luna berbalik, menghadap kulkas. Mengambil air untuk minum. "Kenapa zaman sekarang masih ada perjodohan segala sih? Padahal ini sudah zaman modern," ucap Luna merasa heran. "Mana aku tahu," balas Lian. Dia mengambil minuman kaleng dari dalam kulkas tanpa izin lebih dulu. Tapi, Luna tak mempermasalahkan. Toh, semua isi kulkasnya dibeli memakai uang Lian. "Kenapa Om gak tolak aja langsung?" "Tidak semudah itu, Luna," jawab Lian jengkel. "Lalu, kenapa gak diterima saja?" "Aku gak mau." Lian meneguk minumannya dengan cepat. Luna memperhatikan, terlihat sekali Lian sepertinya sedang kesal. Entah kesal pada keluarganya, atau pada Luna yang susah diajak kerja sama. "Aku tahu aku tampan. Tak perlu melihatku sampai segitunya," ucap Lian pede. Luna bergidik geli mendengar ucapan narsis Lian. Ampun deh. Selain narsis, om-om itu pintar ngegombal juga. "Gino sudah datang lagi ke sini belum?" Lian bertanya seraya mendekati Luna yang sedang mengambil makanan dari dalam kulkas. Menghangatkan makanan yang dipesan secara online oleh Lian tadi. "Belum. Entah Kak Gino akan mampir atau enggak saat pulang kerja." "Keterlaluan saja kalau dia sampai tak mampir walau hanya sebentar." "Lebih baik Kak Gino tak mampir ke sini dari pada nanti kena marah Papa. Aku tak mau Kak Gino terseret masalah karena aku." Lian terdiam mendengar itu. Ah, Luna. Kadang Lian suka terharu jika mendengar kisah Luna dalam keluarganya. "Dia menyayangimu. Dia pasti akan melakukan apapun untukmu." "Aku tahu. Dan aku harus menolak demi posisinya agar tetap aman. Aku tak mau Kak Gino ditendang dari perusahaan oleh Papa karena terus berada di pihakku." Lagi-lagi Lian terdiam mendengar itu. Kasihan sekali Luna dan Gino. "Om, sudah pulang kerja?" Luna bertanya, mengalihkan pembicaraan. "Aku nggak ke kantor hari ini." "Ah, begitu rupanya. Ya sudah. Ayo kita makan ini." Luna menghidangkan semua makanan itu di atas meja makan. Mengajak Lian untuk menyantapnya bersama. Lian pun duduk di samping Luna. Ikut makan dengan gadis itu. *** Jam menunjukkan pukul sebelas malam, dan Luna terbangun dari tidurnya. Dia kaget saat mendapati Lian tidur lagi di sampingnya. Kesal dan marah, namun Luna tak tega membangunkan Lian. Akhirnya, dia membiarkan saja pria itu tidur. Seingat Luna, tadi dia sedang menonton film dengan Lian. Entah mungkin dia ketiduran, hingga tak tahu kapan pindah ke kamar. Sampai tak sadar kalau Lian tidur di sampingnya. Luna meneguk air putih yang sudah dia siapkan di atas laci. Lalu, perhatiannya teralihkan pada ponsel miliknya. Sejak tadi dia mengabaikan benda itu. Karena sibuk beres-beres dan membuat sketsa. Rupanya, ketiga temannya berbondong-bondong mengirim pesan berisi pertanyaan yang hampir sama semua. Kenapa tidak sekolah? Apa kamu sakit? Ada masalah apa? Kok gak cerita? Luna hanya membaca pesan mereka tanpa membalasnya. Kemudian menyimpan ponselnya lagi di atas laci. Luna menatap ke samping, pada Lian yang tidur lelap di sampingnya. Entah kenapa, kali ini dia tak terlalu kaget saat sadar tidur seranjang dengan Lian. Seolah, dia sudah terbiasa. Luna memperhatikan Lian yang tidur nyenyak. Masih memakai pakaian kerjanya, tanpa di ganti. Hanya jasnya saja yang dilepas. Menggerutu pelan, melihat dua kancing kemeja Lian yang terbuka. Entah disengaja atau tidak. Pelan, Luna menarik selimut, untuk menutupi tubuh Lian. Kasihan jika pria itu sampai kedinginan. Lalu Luna menyentuh rambut Lian yang acak-acakan, hendak merapikannya sedikit. "Akh!" Luna memekik kaget saat Lian mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat hingga terasa sakit. Mata Lian langsung terbuka lebar, terlihat kaget dengan nafas terengah-engah. Sial. Dia mimpi buruk lagi. "Aw. Om, lepasin. Sakit tahu." Lian terkejut dan langsung melepaskan tangan Luna. Terlihat, pergelangan tangan Luna memerah karena cengkeraman kuat dari Lian. "Maaf. Aku tak sadar," ucap Lian menyesali perbuatannya. Luna meringis pelan seraya mengusap-usap pergelangan tangannya. Menatap Lian yang terlihat kesal pada dirinya sendiri. "Om, mimpi buruk?" tanya Luna hati-hati. Lian menatap Luna sesaat, kemudian mengangguk. "Iya. Maaf aku menyakitimu," ucap Lian lagi merasa bersalah. Luna mengangguk pelan mendengarnya. "Tak apa, Om." Lian menghembuskan nafas pelan. Mimpi buruknya selalu saja tak jauh dari wanita yang menghadirkan masalah pada hidupnya. Mimpi buruk itu pertama kali terjadi saat Lian ditinggal nikah kekasihnya, empat tahun yang lalu. Sudah dua tahun ini, Lian tak lagi mendapatkan mimpi buruk. Namun, yang hadir dalam mimpinya barusan bukanlah sang mantan kekasih. Tapi Lina, wanita yang dijodohkan dengannya. Dalam mimpi Lian, Lina hendak menyentuhnya. Dengan cepat dia menahan tangan Lina, karena tak mau disentuh. Tak tahu, ternyata Luna lah yang malah dia sakiti barusan. "Om, gak tidur lagi?" Luna bertanya setelah Lian melamun cukup lama. "Sebentar lagi. Kamu kenapa terbangun?" "Haus," jawab Luna pendek. Lian terdiam cukup lama dengan mata menatap Luna dengan intens. Luna yang ditatap seperti itu jadi grogi sendiri. Dan lagi-lagi, Lian melontarkan pertanyaan, yang membuat Luna kaget bukan main. "Luna, apa kamu pernah berciuman?"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (193)
05nndaalifptra
asli seru banget,ga bertele-tele,ga banyak basa basi,sat set sat set banget pokonya,di tunggu bab selanjutnya.
19/04/2022
5
Gondo KusumaYuliawati
buagus cerita dan alurnya , sat set sat set tamat...
asli seru banget,ga bertele-tele,ga banyak basa basi,sat set sat set banget pokonya,di tunggu bab selanjutnya.
19/04/2022
5buagus cerita dan alurnya , sat set sat set tamat...
10/07
0bagus
23/06
0Lihat Semua