“Apa gagal?, kamu emang gak bisa diandalkan Arini, kalo seperti ini mana bisa kamu dendam orang tua mu hah!!!”. Kata Doni marah, dia tidak menyangka jika Arini tidak berhasil membuat kekacauan di perusahaan keluarga Junaidi itu. “Maaf Don ku akui, aku memang tidak pandai dalam hal ini, bahkan ketua preman yang ku sewa juga kalah dan malah menjadi teman, aku juga tidak menyangka jika suaminya Astri bisa sekuat itu”. “Apa!!!, Ketua preman, memang siapa preman yang kamu sewa hah?”. "Aku gak tau namanya siapa, tapi anak buah nya yang bernama Parto itu, dari geng Dakota”. “Apa geng Dakota?, Terus kamu bilang ketua geng Dakota kalah?’. “Iya dia kalah dan malah menjadi teman suaminya Astri”. “Apa!!!, ternyata dia kuat juga pantas saja dia bisa menyelamatkan Pak Abu Ridwan, ternyata dia memang memiliki kekuatan”. “Memang, padahal kekuatan yang di keluarkan oleh ketua preman itu sangat kuat tapi bagi dia, pukulan nya itu seperti bukan apa apa baginya “. Doni yang mendengar itu jadi berfikir untuk dua kali, jika harus menyerangnya dengan cara kekerasan, Doni harus menggunakan cara lain untuk bisa mengalahkan Fikri. Di tempat lain Belakangan ini Pak Junaidi terlihat sangat kusut, bahkan di matanya terlihat mata panda, sehingga memperburuk tampilan wajahnya itu. “Tolong!!!, Tolong !!!”, kata Pak Junaidi yang terbangun dari mimpi buruk nya itu. “Pa... Papa kenapa Pa?”. Tanya istrinya itu sambil menepuk pundak Pak Junaidi. “Enggak tau ini Ma, sudah dua hari ini setiap aku tertidur, aku pasti mimpi buruk Ma, ini makin membuat ku takut untuk tidur Ma”. “Mangkanya Pa sebelum tidur baca doa dulu Pa”. “Sudah Ma, bahkan Papa sampai berwudhu sebelum tidur Ma”. “Tapi kok masih di ganggu ya?”. “Itulah Ma, Papa sebenarnya ingin sekali bertanya pada Fikri, tapi karena sekarang Fikri sudah tinggal di rumah nya sendiri, Papa belum ada kesempatan ketemu sama dia Ma”. “Ya udah nanti Mama yang suruh dia kesini”. “Ya Ma suruh kesini aja, sekalian Papa mau kasih surat kuasa untuk dia, dia dan Astri akan Papa angkat menjadi direktur utama perusahaan perusahaan kita Ma”. “Ya nanti Mama akan menyuruh nya kesini”. Akhirnya Mama langsung menghubungi Fikri dan Astri untuk segera ke rumah dan mereka pun bersedia untuk pulang ke kediaman keluarga Junaidi. “Ma sebenarnya apa yang sudah terjadi Ma?”, tanya Astri pada Mama nya setelah sampai di rumah. “Itu Papa dua hari belakangan ini sering bermimpi buruk, Papa kelihatan lemes banget seperti ada yang ganggu gitu”. “Apa!!!”, kata Astri dan Fikri bersamaan. Fikri kemudian beranggapan jika mertua nya saat ini sedang mengalami gangguan alam gaib. “Terus Papa di mana Ma?, coba saya lihat dulu, kalo memang ada sesuatu nantinya, insya Allah saya akan coba obati nanti”. “Iya Fikri tolong Papa mu ya, Papa ada di kamar ayo kita kesana”. “Iya Ma”, jawab mereka bersamaan. Saat mereka sampai di kamar, mereka melihat keadaan Papa yang sedang tidak baik baik saja, Papa terlihat sangat buruk, ada aura negatif yang terpancar dari wajah Papa seakan akan aura itu seperti sedang menghisap jiwa mertuanya itu. “Papa sepertinya terkena guna-guna Ma”, kata Fikri sambil memijat kepala Pak Junaidi yang sedang tertidur itu. Pernyataan ini sontak membuat Astri dan Mama nya terkejut. “Terus gimana ini Mas, bisa di sembuhkan tidak Mas?”. “Insya Allah bisa Dek, hanya saja memang butuh waktu yang lumayan lama”. “Ya sudah, lama juga tidak apa apa, yang penting Papa bisa kembali seperti semula Fik”. “Iya Mas, kasihan Papa seperti ini “. “Iya Dek, Ma, insya Allah aku usahakan yang terbaik”. Fikri kemudian membacakan surat surat yang digunakan untuk meruqyah, saat membacakan ayat kursi, tiba tiba saja Papa terbangun dari tidurnya. “Nak Fikri kita harus ke kantor, Papa ingin membuat surat kuasa untuk kamu dan Astri”, kata Papa lemah. “Tapi kan Papa masih lemes ini, tunggu sampai sehat dikit ya”, jawab Fikri. “Iya Pa, Mama setuju sama Fikri”. “Jangan Ma, ini harus cepat dilakukan, Papa takut sesuatu akan terjadi sama Papa , tadi Papa sudah telepon Pak Arya Wiguna untuk bertemu di kantor saat ini, jadi sekarang Mama siap siap”. “Papa ngomong apa sih?, Jangan bikin Mama ketakutan dong”. “Ya Pa, insyaallah semua baik baik saja Pa, Mas Fikri pasti bisa obati Papa”. “Ya Papa tau, hanya saja ini buat jaga-jaga saja, pokoknya sekarang kita harus ke kantor”, kata Pak Junaidi bersikukuh untuk tetap melakukan keinginan nya itu. Setelah Mama siap, Papa kemudian langsung menyuruh Astri dan Fikri untuk segera mengantarkan nya ke kantor. Setibanya di kantor, mereka langsung menemui Pak Arya Wiguna untuk mengatur peralihan kekuasaan nya. Pak Arya Wiguna membawa berkas berkas yang harus di tandatangani oleh Mama, Fikri dan Astri. “Pa, ini kok tiga orang yang harus menandatangani surat kuasa ini”. Tanya Mama. “Harus Ma, agar jika nanti terjadi sesuatu, perusahaan tidak bisa dikuasai oleh sepihak, karena harus meminta ijin tiga orang yang menandatangani surat kuasa ini, kecuali jika semua orang yang menandatangani surat kuasa ini meninggal, maka secara otomatis surat kuasa ini akan jatuh pada orang yang tersisa, dan Papa sudah tidak memiliki hak lagi di perusahaan ini, disini Papa hanya sebagai penasehat saja”. “Kok gitu Pa?”, tanya Mama. “Iya pokoknya harus seperti itu, kalian tenang aja ini semua untuk kebaikan kita semua bener kan Pak Arya”, “Bener itu Pak Junaidi, dan soal ini tak ada yang tau lagi selain kita yang berada di ruangan ini, jadi persoalan ini tidak akan mungkin bisa bocor, sehingga keamanan soal ini bisa terjaga”. “Kok harus seperti ini sih Pa?”, tanya Mama. “Sebenarnya Papa kepikiran perkataan Astri, Papa juga sudah diskusi dengan Pak Arya dan Pak Arya menyetujui usulan ini”. “Jadi ini semua karena omongan Astri”, kata Mama. Astri tidak menyangka jika perkataan nya, membuat Papa nya mengambil inisiatif dan antisipasi seperti ini. “Papa merasa omongannya Astri seperti sinyal Ma, jadi Papa mengambil pencegahan seperti ini, terlepas nantinya akan terjadi atau tidak, setidaknya perusahaan kita tidak bisa jatuh ke tangan orang yang salah, Papa percaya sama nak Fikri, jika seandainya memang kejadian seperti apa yang di katakan oleh Astri, Papa minta maaf, tapi Papa tidak akan mungkin mengusir atau benci dengan mu, kamu anak Papa selama nya”, kata Papa sambil memeluk Fikri. Fikri bahagia karena mertua nya saat mencintai dan mempercayai nya, Fikri berjanji untuk selalu menjaga keluarga Junaidi. Astri dan Mama juga ikut berpelukan dengan Fikri dan Pak Junaidi, mereka semua larut dengan kebahagiaan, tapi disaat mereka sedang berpelukan tiba tiba Pak Junaidi terjatuh, dia bahkan mengeluarkan keringat dingin. Dengan panik Fikri langsung mengangkat Pak Junaidi, dia ingin membawa ke rumah sakit, akan tetapi saat melewati pantry, tiba tiba Nina menghentikan Fikri yang sedang membawa Pak Junaidi. Sebenarnya Nina sebelum nya memang sudah di beri tahu oleh Adul jika dalam beberapa hari ini Pak Junaidi akan pingsan di kantor, ini semua karena guna guna Mbah Karyo sudah menunjukkan reaksi nya, karena itu Mbah Karyo memberikan Adul bunga yang sudah di mantra-mantrai yang harus diberikan kepada Pak Junaidi di saat dia tak sadarkan diri nanti, dan Adul kemudian menyuruh Nina untuk menjalani misi terakhir ini, yaitu mengusapkan bunga mantra Mbah Karyo pada Pak Junaidi. Ketika melihat Pak Junaidi di gotong oleh Fikri, Nina merasa jika ini adalah saat yang tepat untuk melakukan hal ini. “Kamu siapa kok berhentiin saya”, tanya Fikri pada Nina. “Maaf Mas, saya office girl perusahaan ini Mas”. “Terus ngapain kamu stop in saya?”. “Jadi gini Mas, sebelumnya saya sudah melihat gelagat yang aneh pada Pak Junaidi, kebetulan saya bisa melihat hal hal ganjil seperti ini Mas, ya terserah Mas mau percaya atau tidak, tapi melihat keadaan Pak Junaidi seperti ini takut nya malah makin jadi Mas". “Jadi Mbak nya bisa ngobatin yang seperti ginian?”, tanya Astri pada Nina. “Insya Allah bisa Mbak”. “Ya sudah coba Mbak, Mas biarkan Mbak nya coba Mas, barangkali bisa Mas”. Fikri kemudian mempersilahkan Nina untuk mengobati mertua nya itu, disaat Nina mendekati Pak Junaidi, dia mengeluarkan bunga yang sudah di berikan oleh Adul, sambil membacakan mantra dia mengusapkan bunga mantra Mbah Karyo. Setelah mengusapkan bunga pada wajah Pak Junaidi tiba tiba ke anehan terjadi, keringat dingin yang keluar dari wajah Pak Junaidi langsung berhenti, bahkan Pak Junaidi langsung sadar setelah di usapkan bunga itu. “Papa sudah sadar, Alhamdulillah ya Allah”, kata Astri yang senang Papa nya sudah sadar. “Pa, Papa gak kenapa kenapa kan?”, tanya Fikri yang sedari tadi berada di samping Pak Junaidi. “Nggak kenapa kenapa nak, memang tadi Papa kenapa?”. “Tadi Papa jatuh pingsan Pa”. “Oh seperti itu, tapi Papa tidak ingat itu”. “Ya sudah itu gak penting Pa, yang penting Papa sudah baikan, oh iya Mbak terima kasih atas bantuannya ya”, kata Fikri pada Nina. “Sama sama Mas, tapi ini belum selesai Mas, sepertinya masih ada kekuatan yang tertinggal dan ilmu saya masih belum mumpuni, jika tidak keberatan saya bisa mempertemukan Pak Junaidi pada guru saya, saya yakin dengan pengobatan dari nya, Pak Junaidi bisa sembuh seperti sedia kala, bagaimana?”. “Ya sudah saya bersedia Mbak, Mbak nya tolong kasih tau dimana alamat nya kalo perlu Mbak ikut dengan kita”, kata Mama. “Ya sudah sekarang bisa kok kalau Ibu mau”. “Ya sudah ayo, Fikri kamu sama Astri di kantor aja, Mama minta tolong, tolong kamu handle dulu urusan kantor, biar Papa, Mama yang urus ya, gimana mau kan?”. “Mau Ma, ya sudah biar Aku sama Mas Fikri yang urus kantor, lagi kan sekarang kantor memang sudah tanggung jawab kita Ma”. “Ya sudah, Mama pergi dulu ya, Pak Arya tolong ajak Pak Jono untuk bantu papah bapak ya, saya yakin Bapak masih lemes”. “Iya Bu”. Pak Arya kemudian menyuruh Pak Jono untuk ikut memapah Pak Junaidi ke mobil. Setelah sesampainya di mobil, Pak Junaidi segera di bawa ke tempat di mana guru Nina berada. Nina merasa senang karena misinya berhasil, dia senang karena sebentar lagi dia akan mendapatkan transferan yang besar, sedangkan Ibu Ambar tidak menyadari jika dia sudah masuk ke dalam jebakan yang di buat oleh Mbah Karyo, sehingga membuat Pak Junaidi kedalam bahaya. Nina kemudian menelepon Adul dan mengatakan jika dia bersama Pak Junaidi sedang menuju ke rumah Mbah Karyo, Adul yang sedang bersama Reyhan senang mendengar berita ini, terlebih Reyhan, dia senang jika sebentar lagi dia akan segera bebas dan bisa membalas dendam pada keluarga Johan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
keren
10/03/2025
0lanjut ya thor
17/12/2024
0bgusss
13/11/2024
0Lihat Semua