Beranda/Keluarga Beracun/
Extra Part 2
Extra Part 2
“Kamu tidak apa-apa, Sayang?” tanya Alex sembari mengulurkan segelas air putih kepadaku.
Aku hanya mengangguk. Malu rasanya Alex bicara begitu gamblang kepada orang tuaku. Mama dan Papa hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihatku yang salah tingkah
“Rencana kalian berapa lama di sana?” tanya Papa yang masih senyum-senyum melihatku.
“Seminggu mungkin, Pah! Kalau Rara masih betah di sana ya sebulan juga nggak papa. Hahahah ....” tawa renyah Alex membahana. Sepertinya dia sangat senang akan berbulan madu denganku. Aku pun sama. Tak sabar dan deg-degan rasanya.
“Wah, bawa vitamin yang banyak, Ra. Biar nggak gampang sakit,” goda Papa lagi.
“Hmmm ... Namanya juga pengantin baru, Pah! Kayak Papa dulu enggak aja! Inget nggak dulu sampai ditelpon Nenek suruh pulang, karena perusahaan butuh Papa juga?” mendengar ucapan Mama, membuat Papa menghentikan tawanya.
Aku baru tahu cerita ini karena Mama tidak pernah menceritakannya.
“jadi Papa juga gitu ya? Sok-sokan meledek segala ....” aku pun ganti menggoda Papa. Yang digoda masih diam dan memasang wajah cemberut. Namun hanya sesaat, Apa kemudian menatap Alex yang tengah sarapan.
“Coba dari dulu kamu berani melamar anakku, Lex. Pasti Rara tak perlu merasa sakit hati terlebih dulu. Papa senang akhirnya Rara jatuh ke tangan yang tepat. Papa sempat cemas dan kuatir kalau Rara akan mendapatkan suami seperti yang dulu. Kalau kamu nyakitin Rara, tinggal bilang sama Papamu terus kami berdua akan menghajarmu ramai-ramai!” nada bicara Papa terdengar serius.
Ya, aku tahu, Papa lah yang paling sedih dan terpukul atas peristiwa yang menimpaku. Meskipun Mama bialng pasti ada hikmah dibalik musibah yang kualami. Menikah dengan Mas Dani adalah musibah bagiku, tapi surga bagi mereka. Begitulah Mama menyebutku dulu.
“Papa ish ... Ngapain sih ngomong kayak gitu? Kita ini mau honeymoon loh, Pa,” ujarku merajuk. Ucapan Papa membuat suasana menjadi canggung. Aku tahu Alex tak akan menyakitiku seperti Mas Dani, karena aku sdulmudahbkenal dengan kedua orang tua Alex sedari kecil.
“Iya nih, Papa bikin Alex jadi salah tingkah tuh. Memang Rara harus membuang yang salah untuk mendapatkan yang benar.” Sahut Mama.
“Enggak akan, Pa. Papa tenang saja, karena aku akan menjaga Rara dengan segenap jiwaku.” Ucapan gombal Alex mampu membuat pipiku memanas.
“Sudah ... Sudah ... Kita lanjut lagi aja makannya!” perintah Papa. Kita Kemudian melanjutkan sarapan dengan candaan ringan saja.
Selesai sarapan, Mama segera membereskan meja makan, aku kembali ke kamar untuk mengecek barang-barang sekali lagi. Takutnya ada barang penting yang tertinggal.
“Semua koper sudah masuk mobil kan, Nak?” Mama ikut mengecek barang-barangku.
Mama dan Papa yang akan mengantar kami ke bandara.
“Ini ada kado dari Mama. Dibuka saat sudah di sana, ya!” Mama menyelipkan sebuah kado ke dalam koperku. Entah apa isinya aku tak tahu karena Mama tidak memperbolehkan ku membukanya sekarang.
“Iya, Mah. Makasih!” jawabku menutup koper kembali dan memasukkannya ke bagasi.
“Sudah siap? Yuk berangkat!” ajak Alex yang sudah selesai menata koper dan menutubagas
Kami menaiki mobil yang disopiri oleh Papa. Mereka berdua ingin mengantar kami menuju bandara. Letaknya lumayan dekat. Hanya memerlukan satu jam perjalanan.
Jalanan sepi karena jam sibuk kantor telah terlewati. Aku pun menikmati pemandangan yang ada sambil sesekali menimpali candaan ketiga orang tersayangku itu. Benar kata Mama. Ada hikmah dibalik semua peristiwa. Hikmahnya adalah aku mendapatkan suami yang telah mencintaiku sejak lama. Dulu kita bersahabat, sekarang kita menjadi pasangan suami istri.
Sampai sekarang pun rasanya masih belum bisa percaya kalau Alex adalah suamiku. Dia yang dulu pendiam kini sah menjadi suamiku. Aku pun hanya bisa bersyukur atas kebahagiaan ini.
Meskipun rasanya kikuk menikahi sahabat sendiri
“Alex, jaga Rara ya! Jangan sakiti hatinya. Lindungi dia seperti Papa melindunginya. Kini tanggung jawab menjaganya Papa serahkan kepadamu!” Papa menepuk bahu Alex, terlihat mata Papa berkaca-kaca. Aku pun ikut menitikkan air mata. Terharu melihat kasih sayang Papa yang begitu besar.
“Pasti, Pa. Aku akan menjaga Rara dan membuatnya bahagia. Sebagai gantinya, tolong jaga kesehatan Papa dan Mama agar bisa menyaksikan kebahagiaan kami hingga cucu kalian lahir!”
Aku mencubit pinggangnya pelan, dari tadi cucu terus yang dibahas.
“Hahaha ... Sepertinya kamu sudah tidak sabar. Pergilah! Semoga kalian selalu dilindungi Tuhan.”
Papa dan Mama bergantian memelukku.
“Jadilah istri yang baik. Turuti suami selama itu tidak menyimpang!” pesan Mama saat memelukku.
“Baik, Ma. Pa, kami berangkat dulu.”
***
Ternyata tempat yang menjadi tujuan bulan madu kali ini adalah lombok, lalu ke Bali terakhir ke Karimunjawa. Alex benar-benar memanjakan ku dengan perlakuannya yang sangat manis. Menikmati keindahan alam Indonesia, membuat mata dan pikiran segar kembali. Semoga pernikahan ini menjadi awal kebahagiaanku.
Tak terasa sudah seminggu lebih kami di sini. Puas berbulan madu, kami berencana kembali ke rumah.
“Perasaan kemarin berangkat Cuma bawa dia koper, kenapa pulang menjadi enam koper.” Keluh Alex
Aku hanya tertawa. Di sini aku membeli dua koper lagi untuk diisi oleh-oleh. Satu untuk Mama, dan satu koper untuk mertua.
Pesawat mulai landing, kami segera mencari taksi untuk pulang. Sesampainya di rumah, lagi-lagi Alex membuatku terkejut. Rumah yang dulu kutempati mulai tak terurus. Dulu belum sempat dijual oleh Papa. Hanya disewa sementara oleh teman Papa agar Keluarga Mas Dani tidak bisa tinggal di sini lagi.
“Maaf, aku tidak bilang padamu, tapi aku sudah meminta izin kepada Papa untuk menjual rumah ini. Dan Papa pun menyetujuinya. Dia minta agar kita membuka lembaran baru tanpa ada embel-embel masa lalu.”
Aku menatap rumah yang diberikan oleh Papa saat pernikahanku dengan Mas Dani dulu.
Tampak sebuah truk besar terparkir di depan rumah. Beberapa orang laki-laki sibuk mengangkut barang dari dalam rumah dan menaikkannya ke dalam truk itu.
Ya, ternyata barang-barangku sudah terpacking rapi. Mungkin memang ini rencana Alex.
“Hari ini juga kita akan pindah ke rumah yang baru. Rumah ini sudah terjual, dan sebagian uangnya akan kusumbangkan ke panti asuhan. Sisanya bisa kamu simpan untukmu. Karena ini memang milikmu.”
Aku sampai tidak bisa berkata-kata. Kejutan demi kejutan yang Alex beri sebagai hadiah pernikahan sungguh membuatku tercengang.
“Kamu mau kan tinggal berdua denganku? Mama Papa biar di sini?” Alex menggenggam tanganku.
“Aku setuju. Memang seorang istri wajib untuk mengikuti kemana suaminya pergi,”
Alex lantas memelukku.
“Yuk kembali ke mobil. Biar kutundukkan rumah baru kita. Nanti biar truk itu mengikuti “ Ia mengajak kembali ke mobil. Tujuan kali ini adalah ke rumah baru yang dimaksud Alex. Hampir dua jam perjalanan sampailah kami di sebuah pedesaan.
Desa ini masih dikelilingi pegunungan. Kata Alex, banyak warga sini yang masih berprofesi sebagai petani. Banyak tanah yang ditanami padi maupun hasil perkebunan lainnya.
Rumah inilah yang aku inginkan sejak kecil dulu. Tinggal di tempat yang jauh dari hingar bingar perkotaan. Rumah sederhana tapi bersih dan nyaman. Kali ini aku sangat bahagia. Aku memeluk suamiku yang ikut senang melihatku bahagia.
Di kiri dan kanan rumah ini terhampar pegunungan berwarna hijau. Sungguh membuatku sangat nyaman.
Dua tahun kemudian ...
Perutku semakin membesar karena HPL tinggal dua Minggu lagi. Saat hamil besar begini, gerakanku menjadi terbatas bahkan untuk memakai sepatu pun aku kesulitan. Tapi aku menikmati kehamilan ini.
“Mas, perutku sakit sekali, sepertinya aku akan melahirkan,” erangku sambil memegang perut yang sudah membesar.
Setelah menikah, memang aku memanggil Alex dengan sebutan Mas, untuk lebih menghormatinya sebagai suamiku meskipun awalnya kelihatan aneh aku memanggilnya Mas Alex.
“Bukan kontraksi palsu lagi ya? Sudah benar-benar tidak kuat lagi?” tanya Alex panik dan mulai mencari tas baby kami tapi dia belum menemukannya.
“Tenanglah, Mas. Tidak usah panik. Ambil tasnya di dekat lemari itu, lalu bantu aku berganti baju, kita ke rumah sakit sekarang,” ujarku perlahan sambil menahan sakitnya kontraksi.
Untunglah meskipun di desa, tapi fasilitas kesehatan tidak terlalu jauh, hanya satu jam perjalanan sudah sampai di rumah sakit. Penanganannya juga bagus, tak kalah seperti rumah sakit kota.
Setelah berjam-jam menahan sakitnya kontraksi, akhirnya bayinya terlahir juga. Seorang bayi perempuan yang sangat cantik.
“Masya Allah ... cantiknya anak Papa!” suamiku begitu terpesona dengan bayi kami yang sangat cantik, setelah mengucapkan hal itu, dia lalu mengazani putri kami.
Binar bahagia terlihat dari manik mata suamiku. Dia menimang dan mengecup keningnya dengan perlahan. Terasa sekali kasih sayang seorang Papa. Aku pun juga merasa bahagia karena begitu dicintai olehnya.
“Terima kasih telah menghadirkan bayi yang sangat cantik. Kamu hebat!” Alex mengecup keningku lama, lalu meletakkan anakku di pangkuan agar bisa kuberi asi. Semua rasa sakit saat kontraksi seakan lenyap begitu melihat malaikat kecil yang sedang kutimang ini.
“Halo Sayang. Selamat datang di dunia Mama,” ucapku memeluk pelan-pelan.
Tak lama kemudian, kedua orang tuakk datang. Mama dan Papa juga menyambut gembira kelahiran cucu pertama mereka.
Setelah mencuci tangan, Mama menggendong putri kecil kami.
“Siapa nama anak cantik ini, Sayang?” tanya Mama sambil menggendongnya.
“Nirmala, dipanggil Lala. Biar mirip sama Mamanya.” Alex yang menjawab pertanyaan Mama. Rara dan Lala.
Kehadiran Nirmala membuat semuanya ceria. Rona kebahagiaan terlihat di wajah keluarga kami. Terima kasih, Tuhan atas hadirnya malaikat kecil kami.
“Aku keluar sebentar ya, Sayang. Di sini sudah ada Mama dan Papa kan?”
“Mau ke mana, Nak?” tanya Papa.
“Pulang sebentar, Pa. Ngambil baju ganti. Semalam karena panik hanya baju dedek yang dibawa.”
“Hati-hati, Nak!” pesan Papa lagi.
“Wajahnya mirip denganmu, tapi hidungnya hidung Alex.” Mama memuji bayiku.
Badanku terasa lelah, hingga akhirnya aku menutup mata.
Entah kapan aku tertidur, saat ada yang mengusap keningku perlahan.
“Ada yang ingin bertemu denganmu.” Suara suamiku membuatku terjaga sepenuhnya.
Di sini hanya ada Alex. Mungkin Mama dan Papa sudah pulang. Lalu pandanganku teralih kepada seseorang yang berdiri di samping ranjang.
Ada mantan mertuaku berdiri di sisi kanan ranjang.
“Apa kabar, Bu?” tanyaku basa-basi lalu mulai memperbaiki letak dudukku agar lebih nyaman
Bukannya jawaban yang kudapat melainkan Isak tangis.
“Maafkan Ibu, Nduk!” ucap Ibu yang masih mengusap air matanya.
“Kenapa, Bu?” tanyaku.
“Sekarang keluarga Ibu hancur, Ra! Bayangkan rasanya menjadi Ibu yang anak-anaknya tak ada yang mendapat kebahagiaan. Dani menjadi ODHA, Imron dipenjara. Ibu tak bisa bekerja karena harus menjaga Dani. Rasanya Ibu ingin mati saja!” tangis Ibu semakin deras. Alex hanya memperhatikan Ibu dari tadi.
Sebenarnya aku juga bingun apa maksud Ibu, dan ada urusan apa datang kemari. Ingin kutanyakan hal itu, tapi Ibu terus-terusan menangis.
“Bu, Lalu apa yang Ibu mau?” akhirnya aku memberanikan diri menanyakan hal itu saat tangisan Ibu mulai mereda.
“Ibu ingin kerja sama kamu, Ra. Biar bisa mendapat pemasukan. Meskipun ada jaminan kesehatan untuk Dani, tapi tetap saja Ibu butuh uang untuk sehari-hari. Ibu juga butuh uang untuk ngirim anak Ibu di penjara. Kamu kan sekarang kaya, lahiran aja pakai yang VVIP, pasti bisa kan, Ra ngasih Ibu pekerjaan?”
Aku dan Alex saling berpandangan.
“Maaf Bu. Aku masih belum paham. Bagaimana Ibu bisa tahu kalau aku menginap di sini?”
“Tentu saja aku tahu, Dani juga kontrolnya di sini, tapi ya itu tadi pakai jaminan kesehatan. Tidak seperti kamu yang sombong ngambil ruangan VVIP, padahal masih banyak orang lain yang kekurangan.”
Lagi-lagi aku dibuat bingung dengan ucapan Ibu dari Mas Dani ini. Aku melihat Alex sudah mulai geram dengan Ibu. Aku takut Alex akan berbuat sesuatu. Ingin aku mencegah agar Alex tidak berbuat nekat, tapi jangankan untuk berdiri. Untuk bangun saja jahitan masih terasa sakit.
“Bu, tolong ya kalau hanya—“
Ucapan Alex terpotong saat tiba-tiba ada yang membuka pintu.
Sosok tinggi kurus berdiri di depan pintu. Sekilas aku tidak mengenali orang itu kalau saja dia tidak menyapa Ibu.
“Ibu, ngapain di sini. Katanya Cuma Nebus obat. Kok malah lama!”
Suara yang sangat aku hapal. Namun tidak dengan fisiknya kini.
Matanya cekung, Wajahnya tirus, jambang dan kumis tumbuh di sekitar pipinya. Badan yang dulu berdiri tegap berisi kini tinggal tulang berbalut kulit. Bahkan untuk berdiri lama pun sepertinya ke susahan.
Aku tak pernah menyangka mantan suamiku akan seperti ini. Di mana kesombongannya dulu kini tak berarti apa-apa. Wajahnya yang dulu gagah dan selalu ia banggakan kini tak ada lagi.
Memang setelah resmi bercerai aku tak tahu lagi dengan kabar Mas Dani dan keluarganya. Saat melihat Alex, dia pun sama terkejutnya denganku
“Rara ....” Mas Dani berjalan tertatih mendekat ke arah ranjang. Aku melihat dia merasa sungkan. Mulutnya terkunci walaupun ingin mengatakan sesuatu
Hanya senyum yang bisa kuberikan kepadanya.
“Bayi yang cantik!” netranya menatap Lala yang masih tertidur di boxnya.
“Bu, ayo kita pulang. Tak usah menganggu Rara lagi!” ucapnya lagi.
“Dan, Ibu sudah lelah! Harus mengurusmu yang sedang sakit dengan penuh kekurangan. Bahkan untuk makan sehari-hari aja kita kesulitan. Sedangkan lihat Rara dan suami barunya?”Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (130)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus
7d
0woww
12/09
0berak
29/05
0Lihat Semua