Beranda/Keluarga Beracun/
Bab 71 Cobaan untuk Dani
“Mas ....” Aku menyadarkan Mas Dani dengan menyentuh pundaknya.
Mas Dani menoleh, sambil terisak ia berkata. “Rara menikah ... baru saja aku mau minta maaf tulus dan memintanya memperbaiki hubungan, sekarang dia telah menikahi teman masa kecilnya. Dia jahat ya! Rara jahat!”
Bukannya tenang Mas Dani malah berlari menuju sepasang pengantin baru itu. Tapi belum sampai di tempat duduk Rara, Mas Dani tiba-tiba tergeletak pingsan.
“Mas Dani!” aku berteriak saking kagetnya. Beberapa orang satpam mengangkat Mas Dani dan membaringkannya di kursi dekat pintu belakang. Seorang wanita paruh baya memberikan minyak kayu putih untuk menyadarkannya, sepertinya ART di sini. Aku jadi merasa dejavu, sama saat Ibuku pingsan saat pernikahanku dengan Mas Dani dulu.
“Tolong! Adakah yang bisa mengantarkanku ke rumah sakit? Mas Dani belum sadar juga!” aku panik melihat Mas Dani seperti ini.
“Pakai mobilku saja!” teriak si Pengantin pria.
“Aku ikut!” Rara pun ikut bersuara.
Tanpa sempat berganti baju, mereka segera mengambil mobil dan membawa Mas Dani ke rumah sakit.
🍀🍀🍀🍀
Sudah beberapa menit berlalu, Mas Dani masih di ruang periksa. Ibu Mas Dani pun sudah datang, aku menghubunginya tadi. Tak henti-hentinya ia menangis melihat anak lelakinya masuk rumah sakit.
“Ini gara-gara kamu, Rara! Kenapa kamu menikah dengan pria ini?! Anakku jadi shock dan berakhir seperti ini! Pokoknya ini salahmu!” Mantan mertuaku itu menyalahkan Rara.
Aku melihat Rara hendak berucap, tapi pengantin pria menahannya. Ia meletakkan jarinya di mulut seqkan menyuruhnya diam.
“Kami menikah memang sudah direncanakan. Kami bahkan tidak tahu kalau dia datang, karena memang tidak diundang! Kalau menurut Ibu kami salah, ya sudah, terserah. Kami permisi!”
Pria itu menggandeng tangan Rara dan mengajaknya pergi.
“Ooi! Bayar dulu rumah sakitnya! Kalau kalian pergi, siapa yang mau bayar!” Bu Intan berteriak, tapi mereka tak menoleh sama sekali.
“Apa yang terjadi Anggita, kenapa Dani bisa seperti ini!” Bu Intan kembali menangis.
Belum sempat aku menjawab, pintu terbuka. Dokter segera menghampiri kami.
“Apakah pasien tidak meminum obatnya? Maaf virusnya terlanjur menyebar menyerang organ lainnya,” ucap dokter itu.
“Obat apa, Dok?” tanyaku.
“Obat untuk mencegah penyebaran virus HIV-nya, karena sekarang virus tersebut berkembang menjadi AIDS,” jelas dokter itu
“Apa!”
Aku dan Bu Intan sama-sama kaget dan menutup mulut tak percaya.
“Bolehkah kami masuk?” tanya Bu Intan
Dokter segera pergi setelah mempersilahkan kami memasuki ruang perawatan Mas Dani.
Mas Dani telah sadar, aku baru menyadari, ternyata Mas Dani memang semakin kurus, dan tubuhnya kelihatan pucat.
“Ibu, Rara telah menikah, Bu. Maafkan aku, Bu.” Mas Dani menangis.
“Aku sudah tahu tentang penyakitmu,” Ibu lantas memeluk anak lelakinya itu.
Aku menutup pelan-pelan. Tak terasa hari telah mulai petang. Aku mengerang frustasi. Gara-gara Mas Dani pingsan, aku jadi lupa meminta nomor Bu Inem, aku juga tak memperhatikan tadi Bu Inem ada di sana atau tidak. Dengan lemas aku mulai mencari ojol dan segera pulang.
Ayah dan Ibuku sudah menunggu kepulanganku. Aku menatap wajah mereka yang penuh harap.
“Bagaimana, Anggita?” tanya Ibu.
Aku menggeleng lemah. Ayah dan Ibu menghela napas panjang. Besok pagi mau tak mau, kami harus menyerahkan rumah ini. Aku segera menjual barang-barang ke tetangga-tetangga. Tak la kemudian banyak warga berdatangan dan membeli semua barang di rumah ini.
“Diusir ya, Bu? Makanya nggak usah sok kaya, suami jadi ojol aja sok-sokan mau pakai barang mahal, ya gini jadinya!” ucap seorang Ibu bertubuh gendut. Dia memang salah seorang biang gosip di wilayah ini.
“Heh, sembarangan! Kita mau pindah rumah ke yang lebih besar, dari pada bawa banyak barang mending dijual!” ucapan Ibu jelas berbohong.
“Halah ... nggak usah bohong! Aku denger kok pas rentenir itu datang, udah miskin masih juga sombong!” balas wanita itu.
“Yang benar, Bu? Bukannya dia bilang dulu kalau menantunya kaya? Pengusaha di Medan gitu, masa ia tak bisa bayar in utang mertuanya,” ucap seorang Ibu sambil berbisik, tapi aku masih bisa mendengarnya.
“Ibu-Ibu, kalau hanya berniat nggosip, mending pindah lapak, yang di sini yang mau beli barang kita saja. Masalah diusir atau tidak itu urusan kami, kenapa Anda semua yang repot!” sentak Ayah
Dengan mulut komat kamit, Ibu-ibu meninggalkan rumah kami. Beberapa barang sudah terjual, rumah kami mulai lenggang. Kami berempat tidur sekamar, karena besok rumah ini bukan menjadi milik kita lagi.
🍀🍀🍀
“Kita harus tinggal dimana, Yah?” tanya Ibu.
“Ayah sudah mencari rumah kontrakan, tinggal bayar saja,” jawab Ayah.
“Bentar Ibu hitung dulu uang penjualan barang kemarin, takutnya uangnya kurang,” kata Ibu sambil membuka tasnya yang berisi uang penjualan barang-barang.
Kami duduk di pinggir jalan yang lumayan sepi karena ini masih pagi.
Tiba-tiba tanpa diduga ada beberapa pria yang menodongkan pisaunya kepada kami.
“Serahkan uang itu kepada kami!” ucap Seseorang itu.
Ibu masih memegang tasnya dengan erat, tapi seorang lagi segera merebut tas itu. Setelah mendapatkan uangnya, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti dan mereka pun segera masuk dan meninggalkan kami.
“Rampok! Tolong! Ada rampok!” Ibu berteriak histeris. Ayah masih shock tak bisa berkata apa-apa.
Orang-orang mulai berdatangan, tapi semuanya percuma, karena mobil itu telah pergi, aku yang masih blank pun tak bisa mengingat Pelat mobil itu karena kejadiannya begitu cepat.
Betapa sialnya nasibku, tak punya rumah, tak punya uang. Akhirnya kami berjalan tak tentu arah.
Hari berganti malam, tapi kami masih belum menemukan tempat tinggal, akhirnya kami tinggal di ruko sebuah toko yang sudah tutup.
Kuselimuti Zea agar tidak kedinginan. Maafkan Ibu, Nak. Ibu tak bisa memberikan kehidupan yang layak untukmu!
Keesokan harinya, aku terbangun dengan badan yang sakit.
“Ayah, Ibu. Titip Zea ya? Aku akan mencari pekerjaan. Kita harus bisa mengumpulkan uang agar bisa menyewa sebuah tempat tinggal.
Aku teringat saat di Medan dulu, dengan hanya duduk di pinggir jalan memangku Zea, aku bisa mendapatkan uang. Aku pun mengambil Zea kembali dan mengajaknya duduk di pinggir jalan, aku mencari tempat yang teduh agar ia tak kepanasan.
Ayah dan Ibuku yang melihat hal itu, segera mencari tempat untuk mengemis. Sepertinya kami harus terbiasa dengan kehidupan seperti ini.
Kami bertiga sekarang menjadi pengemis. Tinggal di perkampungan kumuh di balik gedung-gedung bertingkat. Bahkan seringkali aku harus berkejaran dengan satpol PP yang akan merazia kami. Tak ada lagi Anggita yang cantik dengan baju dan make up mahal. Yang ada hanyalah Anggita Janda beranak satu yang menjadi pengemis untuk menyambung hidup.
Aku pernah sesekali mencoba mencari pekerjaan di kantor, tapi sampai sekarang belum ada hasilnya. Pernah juga melamar pekerjaan sebagai pelayan restoran, tapi ternyata juga tak mendapatkan hasil.
Jadilah aku menjadi pengemis, sambil menunggu pekerjaan yang lebih terhormat. Tapi apa daya, perut perlu diisi agar asi meningkat. Menunggu kerjaan yang tak kunjung datang. Sedangkan kedua orang tuaku, mereka mulai sakit-sakitan. Mungkin karena beban pikiran dan kondisi fisik yang sudah tak sekuat dulu, sehingga aku mengemis untuk menghidupi mereka semua.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (130)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus
5d
0woww
12/09
0berak
29/05
0Lihat Semua