Zea tampak tertidur di pangkuan Sasa. Sedangkan mereka berdua sedang asyik berbicara dan bercanda. Aku mendekati mereka dengan perlahan. Mereka tak menyadari aku mendekat karena posisi mereka yang menghadap ke kolam. “Ze—“ Kuurungkan niatku untuk memanggil Zea karena aku mendengar percakapan mereka membahas tentang aku. “Wah, kamu kejam juga ya, Sayang. Masa minta teman kamu yang juga teman dia buat memperkosa Anggita, sih. Kalau aku jadi Anggita, paling udah bunuh diri. Apalagi posisi hamil. Hahahah ... “ Sasa tertawa, entah menertawai nasibku atau ucapannya sendiri. Aku sangat kaget mendengarnya. Tak menyangka peristiwa mengerikan itu atas perintah Arya. Kenapa dia sangat kejam padaku? Apa salahku? Sekuat tenaga aku menjaga agar tak bersuara. Aku diam di tempatku, berharap semoga mereka belum sadar kalau aku sudah berdiri di sini mendengarkan percakapan mereka. “Itu semua belum seberapa dibandingkan sakit hatiku karena kehilangan orang tuaku. Gara-gara orang tua Anggita aku kehilangan Ayah dam Ibuku sekaligus,” ucap Arya. “Apa kamu juga yang mengatur kepergian mereka ke luar kota? Atau kamu memasang kamera di rumah mereka?” tanya Sasa penasaran. “Tentu saja aku mengaturnya. Orang yang menawarkan kerja sama dengan orang tua Anggita di luar kota adalah orang suruhanku. Kalau tidak bagaimana aku bisa memastikan kalau mereka akan pergi lama atau tidak?” Kurang ajar Arya. Ia sudah keterlaluan padaku. Teganya ia merencanakan itu semua? Pemerkosaan adalah musibah paling mengerikan yang dialami oleh seorang wanita. Tak hanya fisik, mentalnya pun terkadang akan rusak karena perlakuan itu. Dan dengan mudahnya ia mengatur itu semua? Sebenarnya apa yang telah dilakukan orang tuaku hingga kedua orang tua Arya meninggal? “Sudahlah, tak usah membahas wanita itu. Lebih baik kita bahas pernikahan kita yang tinggal menghitung hari.” Arya mengalihkan pembicaraan. “Semua persiapan telah selesei. Nanti malam kita akan ke butik untuk fiting terakhir baju pengantin. Papa uda memesan tiket untuk kita ke Jakarta, karena keluarga besar ada di sana,” jelas Sasa. “Tapi aku takut, Sayang.” Suara Sasa terdengar Sendu. “Takut kenapa?” “Takut Papa tahu kalau kamu sudah menikahi Anggita meskipun hanya menikah siri. Karena kamu tahu sendiri kalau Papa anti yang namanya perselingkuhan,” ucap Sasa. “Tenanglah, tak akan ada yang tahu kalau kamu tidak mengatakannya. Jadi tenang aja ya, Sayang.” Aku melihat Arya mengelus rambut Sasa dengan penuh kasih. Aku masih bergeming. Menelaah semua ucapan yang aku dengar dari mereka berdua. Tetapi kenyataan bahwa peristiwa mengerikan yang terjadi padaku itu adalah ulah Arya membuatku yakin untuk segera pergi dari sini. Kalau saja aku membawa ponselku pasti akan lebih mudah lagi merekam percakapan mereka dan menjadikannya bukti untuk menyeret mereka ke penjara. Sayangnya aku tak membawa ponselku ke mari. “Satu lagi, Sayang. Mau kamu apain anak Anggita ini?” tanya Sasa sambil menatap Zea. “Entahlah, tapi untuk saat ini dia adalah alat untuk menyiksa batin Pak Joko Si*lan itu!” terang Arya penuh amarah. “Kita rawat aja jadi anak kita. Aku nggak mau hamil, nanti jadi gendut dan bergelambir,” sungut Sasa. “Terserah kamu aja, Sayang.” Arya menoleh ke arah Sasa dengan pandangan mata penuh sayang. “Aku taruh Zea dulu, ya.” Sasa berdiri dan berbalik. Ia mematung melihatku berdiri berhadapan dengannya. “Oh, dari tadi kamu menguping pembicaraan kami ya?” Sasa tersenyum sinis. Aku masih diam, tak membalas ucapannya. Aku melewati Sasa dan berada di hadapan Arya. Plak! “Dasar lelaki berhati iblis!” Aku menampar Arya. Dia menatapku nyalang. “Dan kamu? Kamu adalah wanita terbodoh yang aku tahu. Kalau dia bisa melakukan hal itu padaku, aku yakin dia juga akan tega melakukan hal itu padamu. Sebelum terlambat batalkan saja pernikahanmu dengan pria pendendam seperti dia!” ucapku kepada Sasa. “Bilang aja kalau kamu cemburu padaku!” sengit Sasa. “Terserah, yang penting aku sudah memperingatkanmu!” Aku mengambil Zea dari tangan Sasa dan membawanya masuk. Segera aku berganti baju setelah meletakkan Zea. Aku memasukkan semua bajuku ke dalam koper. Besok pagi, saat Arya dan Sasa pergi ke kantor aku akan pergi dari sini. 🍀🍀🍀🍀 Pagi menjelang, aku segera memandikan Zea dan menyiapkan perlengkapanku untuk kabur dari rumah ini. Sarapan telah terhidang di meja makan. Aku membawa sepiring untuk kumakan di kamar sambil menunggu kedua orang itu berangkat ke kantor. Setelah memastikan bahwa mereka telah berangkat, aku segera keluar, tak sabar untuk segera pergi dari sini. Sampai di depan gerbang, aku bingung. Arya mengunci gerbangnya, sementara aku tak punya kunci duplikat gerbang itu. Aku mengirim pesan singkat kepada Bu Inem, barangkali dia mempunyai teman seorang tukang kunci. Beberapa saat kemudian, dari dalam rumah aku melihat sebuah mobil berhenti di depan gerbang. Sambil menggendong Zea, aku menghampiri seorang pria yang keluar dari kursi penumpang. “Permisi ... apa benar ini rumah Bu Anggita?” tanya pria itu. “Iya benar. Bapak siapa ya?” “Saya tukang kunci yang diminta ke sini oleh Bu Inem. Yang mana yang perlu saya bantu?” tanya tukang kunci itu lagi. “Yang ini. Aku lupa dimana menaruh kuncinya, padahal aku harus pergi sekarang juga.” Aku menunjuk gerbang yang masih tergembok. Tukan kunci itu segera melakukan tugasnya. Aku menunggu dengan was-was. Takutnya Arya atau Sasa tiba-tiba pulang dan memergoki aku yang hendak kabur. “Sudah, Bu. Ini kuncinya.” Ia menyerahkan sebuah kunci padaku. Aku lalu mencoba kunci itu, dan ternyata terbuka. Aku tersenyum senang. Saat hendak membayar, orang itu menolak. “Maaf, Bu. Sudah dibayar sama Pak Anto. Beliau menunggu Ibu di mobil. Saya permisi dulu.” Ternyata sudah ada seseorang yang naik sepeda motor sedang menunggu kunci itu. Aku menuju mobil yang sedari tadi terparkir di depan gerbang. Aku yakin yang orang yang dimaksud Bapak tadi adalah anak dari Bu Inem. Tiba-tiba jendela mobil itu terbuka. Tampaklah anak Bu Inem yang aku tak tahu namanya itu. “Cepat masuk! Ibu menyuruhku menjemputmu sekalian! Walaupun merepotkan!” Aku kesal mendengarnya. Kalau dia keberatan kenapa tidak menolak saja? Dasar pria aneh! Dia sama sekali tak mau membentuk mengangkat koper dan memasukkannya ke dalam bagasi. Dengan susah payah akhirnya berhasil meskipun sedikit kesusahan karena aku sedang menggendong Zea. Dengan perasaan kesal bukan main aku membanting pintu mobil saat menutupnya. Dia sama sekali tak mengatakan sepatah kata pun. Aku pun malas mengajaknya bicara. Sampailah kita di rumah kontrakan yang aku sewa. “Lain kali kalau ada masalah, tanya Google aja, jangan hubungi Ibuku, karena itu akan merepotkanku,” ucap pria itu sambil memakai kembali kacamata hitamnya. Lagi-lagi ucapannya membuatku kesal. “Makasih!” ucapku jengkel. Tanpa bicara lagi dia segera tancap gas. Aku pun segera masuk ke dalam rumah ini. Semoga ini menjadi awal untuk kehidupan yang lebih baik. Aku takjub saat membuka pintu rumah. Beberapa perkakas sudah tersedia. Sepertinya ini adalah perbuatan Bu Inem. Siapa lagi yang memiliki kunci kalau bukan beliau? Aku segera membersihkan ranjang baru ini, menyemprot pewangi ruangan yang sudah tersedia dan menghidupkan kipas angin, karena cuaca di sini panas. Zea terbangun, dan menangis sebentar, tapi setelah kususui, dia tidur kembali. Ah, terima kasih, Nak. Karena kamu ngerti keadaan Mamamu. Zea sudah tertidur nyenyak. Aku pun segera menata pakaianku ke dalam lemari yang juga sudah diberi oleh Bu Inem. Setelah ini aku harus ke rumahnya untuk berterima kasih. Aku ikut berbaring di samping Zea, karena hanya bisa memuat satu ranjang saja. Mulai sekarang aku harus bertahan hidup sendiri. Aku terlalu malu untuk bercerita kepada orang tuaku tentang keadaanku sekarang. Biarlah mereka mengira aku bahagia dengan Arya. Aku pun harus menyelidiki kejadian tentang Ayah Ibuku dan orang tua Arya. Mataku mulai terpejam saat kudengar ketukan pintu. Siapa yang datang? Padahal aku tak kenal siapapun di sini. Jangan-jangan Arya? Seketika ketakutan mendera. Aku terlalu takut untuk membukanya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
1d
0woww
27d
0berak
29/05
0Lihat Semua