logo text

Bab 60 Mendapat Perlakuan Kasar (Lagi)

Awalnya aku ingin marah saat ada yang menganggapku pengemis, tapi melihat uang yang didapat cukup banyak, walaupun aku hanya duduk saja membuatku menjadi senang.
Mungkin ini bisa dijadikan sampingan agar aku bisa mendapatkan uang untuk pulang ke Jakarta. Aku bod*h harusnya tadi aku keluar dengan membawa koperku, jadi aku tak perlu kembali ke rumah tersebut. Untuk membeli tiket pesawat pun aku harus mengambil identitasku, karena sekarang aku tak membawanya.
Aku mampir ke sebuah warung makan, hendak makan siang karena perutku sudah terasa lapar kembali.
Aku meletakkan Zea di meja. Si penjual adalah seorang wanita seusia Ibuku yang sedari tadi melihatku, mungkin ia heran, pakaian bagus dan terlihat mahal, juga wajahku yang glowing, tapi berjalan kaki dan makan di pinggir jalan.
“Ada apa ya dari tadi ngliatin saya terus?” tanyaku sopan.
“Maaf, Bu. Kenapa bayinya dibawa ke sana ke mari? Ibu kasihan lihatnya, Masih kecil begitu. Belum ada tiga bulan ya?” tanya Ibu penjual.
“Belum ada, Bu. Baru dua bulan, terpaksa, Bu. Soalnya nggak ada yang jaga. Jadi mau tidak mau harus dibawa terus,” jawabku sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutku.
“Memang suami Ibu kemana? Oh Iya, kenalin dulu, nama Ibu Sukinem, biasa dipanggil Bu Inem.” Bu Inem mengulurkan tangannya.
“Anggita. Suami saya mau menikah lagi, Bu.” Entah kenapa aku berkata jujur, padahal baru saja kenal dengan Bu Inem.
“Astagfirullah ... Yang sabar ya ,Nak Anggita! Kalau mau, Ibu punya kontrakan, mungkin nggak terlalu besar, tapi cukuplah untuk berteduh kamu dan anakmu. Nanti kamu ikut bantu-bantu Ibu masak buat jualan. Gimana?” ajak Bu Inem.
Aku terharu ... begitu baik Tuhan membantuku lewat Ibu Inem.
“Aku mau, Bu. Aku minta nomor Ibu, ya. Aku harus pulang dulu ke rumah itu untuk mengambil koper dan barang-barangku yang lain,” ucapku semangat.
Bu Inem mengambil kertas dan pulpen dari dalam lacinya dan menuliskan nomornya.
“Ini disimpan, jangan sampai hilang ya!”
Aku menerima kertas itu dan memasukkannya ke dalam kantong. Tiba-tiba aku berubah pikiran.
“Bu, kalau aku pindah sekarang boleh tidak? Nanti aku akan pulang sebentar mengambil koper dan barang-barang lainnya. Aku sudah tidak mau di rumah itu, Bu,” pintaku pada Bu Inem. Walaupun baru pertama bertemu, tapi aku yakin beliau orang baik.
“Tentu saja boleh. Tunggu sebentar ya, Ibu panggil anak Ibu. Biar dia yang nunggu warung.”
Bu Inem mengambil ponsel yang diletakkan di laci lalu menghubungi anaknya.
“Rumahnya jauh nggak, Bu dari sini?” tanyaku sambil menunggu anak Ibu itu.
“Enggak jauh, paling Cuma 10menit kalau jalan kaki,” jawab Bu Inem.
“Itu anak Ibu sudah datang.”
Tampak seorang pemuda gagah berkulit hitam manis datang mengendarai motor. Kami saling pandang, tak ada ucapan.
“Tunggu warung sebentar ya, To. Ibu mau mengantar Ibu muda ini ke kontrakan,” ucap Bu Inem kepada anaknya.
“Ya, Bu,” jawab si pemuda tersebut.
“Oh iya, Bu. Berapa semuanya?” tanyaku setelah selesei makan.
“Tidak usah, bawa aja buat beli susu menyusui." Bu Inem menolak saat aku memberikan uang.
“Terima kasih banyak ya, Bu,” ucapku tulus.
“Yuk, kita lihat dulu kontrakannya,” kata Bu Inem.
Aku mengikuti Bu Inem, memang lumayan dekat dari warung.
“Ini tempatnya.” Bu Inem menunjukkan rumah dua lantai yang memiliki banyak kamar. Seperti kos-kosan.
“Yang bawah untuk keluarga, ada tiga ruangan. Ruang tamu, kamar, dapur dan kamar mandi. Kalau yang lantai dua untuk kos anak-anak muda,” ucap Bi Inem.
Tempatnya bersih, walaupun menurutku sangat kecil. Bahkan luas kontrakan ini hampir sama dengan kamarku. Tapi menurutku lebih baik daripada di rumah Arya yang seperti neraka bila aku tinggal di sana.
“Berapa per bulannya, Bu?” tanyaku.
“Terserah kamu aja, yang penting kamu bantuin Ibu masak dan di warung! Ibu sudah mulai tua, butuh orang buat bantu. Nanti anakmu diajak aja, di belakang warung ada sebuah kamar sederhana, bisa untuk menidurkan anakmu!”
Lagi-lagi aku tak bisa berkata-kata akan kebaikan Bu Inem. Hanya ucapan terima kasih yang selalu aku ucapkan.
Setelah Bu Inem menyerahkan kunci kontrakan itu, aku segera pamit. Takut Arya akan curiga.
Tapi sebelum kembali ke rumah, aku datangi kembali konter tersebut, untuk bertanya apakah ponselku bisa diperbaiki.
“Permisi, Bang. Ponselku bisa diperbaiki enggak ya?” tanyaku
“Maaf, Bu. Sudah nggak bisa lagi. Banyak komponen yang pecah dan rusak kalau mau ganti, harganya hampir sama dengan membeli ponsel baru,”
Ucapannya membuatku lemas. Ponsel kesayanganku sudah tak bisa diperbaiki lagi. Mau tak mau aku harus membeli Handphone baru dengan harga yang lebih murah. Padahal harga ponselku itu lebih dari lima juta.
“Atau saya beli saja, Bu. Tukar tambah dengan ponsel yang ada di sini.”
Aku melihat ada beberapa ponsel yang dipajang. Aku tahu semuanya adalah barang bekas pakai. Seumur-umur baru kali ini aku membeli barang bekas, tapi mau bagaimana lagi? Tak ada pilihan lain. Untuk membeli yang baru pun juga tak ada uang.
Sebuah ponsel sudah kudapatkan, aku memasukkan SIM Card nya, tak berapa lama banyak pesan masuk, mungkin dari Ibuku. Aku segera penginstal beberapa aplikasi yang kuperlukan. Setelahnya aku akan menghubungi Orang tuaku nanti.
Tak terasa waktu sudah mulai senja. Aku harus segera pulang agar Arya tak curiga. Segera kupesan ojol agar lebih cepat sampai.
Begitu di depan gerbang aku melihat mobil Arya sudah terparkir di garasi. Untunglah tadi sebelum pulang aku membeli beberapa keperluan Zea sebagai jaga-jaga.
“Dari mana kamu?” sentak Arya begitu aku masuk rumah.
“Beli ini!” Aku menunjukkan plastik berisi perlengkapan Zea.
Arya pun membuka plastik itu dan memeriksa isinya.
“Punya uang dari mana kamu? Bukannya uangnya sudah aku ambil semua? Jangan-jangan kamu maling barang di sini lalu kamu jual ya!” tuduh Arya.
Aku sempat kaget, tapi langsung berusaha menguasai diri agar tidak ketahuan kalau aku mengambil cincin milik Sasa.
“Bagaimana mau mengambil? Kamarmu aja di kunci. Kamu sebagai suamiku harusnya memberiku nafkah! Bukan malah mengambil paksa uangku! Kalau seperti itu siapa maling sebenarnya!” teriakku
Plak!
“Jangan kurang ajar kamu ya! Beraninya menuduhku!” Arya tak terima aku menyebutnya maling. Padahal jelas-jelas dia mengambil uang di dompetku sampai tak bersisa.
Tak kuhiraukan ucapan Arya. Tamparan darinya pun membuatku sudah terbiasa.
Aku segera meletakkan Zea di tempat tidur dan menata perlengkapan yang sudah aku beli. Arya terus mengawasiku sambil bersedekap.
“Arya, aku harus bicara padamu!” aku memberanikan diri bicara dengannya secara langsung.
“Apa?” tanyanya santai.
“Jujur padaku kenapa kamu menikahiku kalau kamu sudah punya pacar? Aku yakin bukan Zea alasannya!” cercaku.
“Yakin kamu beneran ingin tahu?”
“Ya!” jawabku mantap.
“Sayangnya aku tak akan memberi tahumu! Biar batinmu tersiksa di sini. Ini semua adalah pembalasan Anggita!”
Ucapan Arya membuatku kesal. Aku tak tahu apa salahku tapi dia memperlakukanku seakan aku ini tawanan perang.
Plak!
Aku ganti menampar Arya.
“Kalau seperti itu lebih baik ceraikan aku! Kembalikan aku pada kedua orang tuaku! Daripada kamu menikahiku tapi tak pernah menganggapku istri!” teriakku marah.
“Kau ... sudah berani rupanya menamparku.”
Arya menjambak rambutku sangat keras dan menariknya. Aku berteriak kesakitan. Rasanya perih hingga air mataku keluar.
Mungkin karena mendengar teriakanku, Zea ikut menangis. Aku pun berontak, ingin segera menenangkan Anakku yang sedang menangis, tapi bukannya dilepaskan, Arya justru menariknya lebih keras.
Ia menyeretku sampai kamar mandi, dan menyiramku dengan air. Aku yang tak siap sampai gelagapan.
“Jangan sekali-kali berani melawanku. Ini baru peringatan! Selanjutnya bukan hanya kamu, tapi anakmu yang akan kutenggelamkan di sini! Paham!”
Aku yang mulai menggigil kedinginan hanya bisa mengangguk. Tangisan Zea semakin kencang aku hendak berdiri dan mengambil Zea, tapi ia justru mendorongku hingga terjatuh.
Arya menutup pintu kamar mandi dan menguncinya. Tak mengindahkan suaraku yang berteriak memanggil Zea.
Aku menangis, tak bisa berpikir apa-apa. Hanya Zea yang ada di pikiranku. Aku terus menggedor pintu itu agar dibukakan, tetapi nihil. Suara Zea tak terdengar lagi, hingga akhirnya semuanya gelap.
🍀🍀🍀
Entah berapa lama aku pingsan. Posisiku masih tetap sama, berada di kamar mandi. Aku sudah tak bisa merasakan tubuhku, mungkin karena aku kedinginan, semua seakan mati rasa. Aku mencoba membuka pintu, ternyata sudah tak dikunci.
Aku segera berganti pakaian, tapi tak kutemukan Zea di kamarnya. Aku menjadi panik. Jangan-jangan Arya melakukan sesuatu kepada anakku?
“Zea ... Zea ....” aku berteriak memanggilnya. Siapa tahu dia terbangun dan menangis mendengar teriakanku.
Aku menuju kolam renang, takut akan ucapan Arya yang akan menenggelamkan Zea di sana.
Benar saja, Arya dan Sasa memang ada di kolam renang bersama Zea.

Komentar Buku (130)

  • avatar
    Erna

    bagus

    6d

      0
  • avatar
    UtamiAulia

    woww

    12/09

      0
  • avatar
    yanikolekyani

    berak

    29/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru