“Siapa yang barusan dari ruanganmu, Tuan Putri? Sepertinya aku pernah melihatnya tapi dimana ya?” tanya Alex yang tiba-tiba ada di depanku. Aku yang sedang fokus kerja terlonjak kaget mendengar suara seseorang di depan mejaku. “Alex, kamu mengagetkanku!” sungutku dan melemparkan kertas kecil tak terpakai yang sudah kugulung-gulung. Dia hanya tertawa sambil memperlihatkan giginya yang putih bersih. “Kamu belum jawab pertanyaanku, Ra!” “Dia Arya, barusan menawarkan kerja sama. Dia ingin usaha kulinernya dimodali oleh perusahaan ini, tapi aku masih pikir-pikir.” “Semacam franchise gitu, kan? “tanya Alex. “Ya, semacam itu. Aku belum menjawabnya. Betewe, ngapain ke kantor? Tumben banget kamu ke sini!” sindirku. “Yaelah, Tuan putri udah pikun. Bukannya kamu mau traktir aku maksi? Gimana, sih?!” Alex mengerucutkan bibirnya. Lucu sekali aku melihatnya. “Haha ... aku lupa. Kuy lah kita berangkat! Pantas aku pusing, kukira sakit, ternyata lapar.” “Ah, dasar kamu ini kebiasaan dari dulu! Bukannya kamu punya mag? Inget gak dulu pas kamu masih kuliah, alasanmu pengin usaha katering?” tanya Alex. Aku mengingat-ingat, dan ya, dulu aku pernah bilang ‘Lex, besok setelah lulus aku mau buka katering, biar penyakit mag ku sembuh.’ “Ya, aku ingat, setelah aku mengucapkan hal itu kamu menyentil dahiku lalu kamu bilang, ‘Apa hubungannya sakit mag dengan katering, Tuan putri!” Tanpa sadar kami mengucapkannya bersamaan. Kami berdua tertawa. Sungguh memiliki sahabat seorang laki-laki sungguh menyenangkan, tak ada gosip, tak ada membahas Fashion, dan tidak ada pembicaraan yang tidak penting “Ayoklah, becanda terus gak jadi makan antar!” Alex berjalan duluan dan membukakan pintu. Dengan satu tangan di depan perut, dan tangan yang lain berada di punggungnya, Alex sedikit membungkuk, berperan sebagai seorang pengawal yang mempersilahkan majikannya lewat. Dengan berlenggak lenggok layaknya tuan putri beneran aku keluar dari ruanganku. Aku kaget begitu melihat Andre sudah ada di depanku. Dia menatap dengan heran poseku dan Alex. Alex pun jadi salah tingkah dan segera berdiri tegak dan memasang tampang sok cool. Dengan wajah memerah aku melewati Andre begitu saja. “Tunggu! Nanti jam dua ada meeting, apa tak sebaiknya kita makan bersama lalu berangkat meeting?” terdengar suara Andre. “Sharelock aja, aku dan Alex mau makan siang dulu,” ucapku. “Ra ...!” Panggil Andre. Aku pun berhenti dan menoleh. “Ada apa?” “Tidak ada yang namanya persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Salah satunya pasti ada yang jatuh cinta,” ucap Andre serius. Aku menanggapinya dengan tertawa, lalu memandang Alex yang hanya diam saja. “Kamu kenapa?” tanyaku heran melihat Alex yang terdiam. “Tidak apa-apa. Yuk berangkat.” *** “Ini dimana sih, Lex? Kenapa nggak makan di tempat biasa?” “Sudah diem aja meskipun sederhana, tapi makanan di sini enak. Kamu harus nyobain!” ujar Alex mantap. Aku pun hanya mengikuti aja dengan makanan yang dipesan Alex. Sambil menunggu makanan datang, aku melihat ke sekeliling. Pandanganku tertuju pada satu orang pria yang duduk sendirian. Wajahnya seperti Mas Dani. “Lex, itu Mas Dani bukan sih?” aku menunjuk meja Mas Dani. Alex pun memicingkan matanya agar melihat lebih jelas. “Iya, bener. Itu Dani. Lagi nunggu siapa dia?” Alex mulai penasaran. “Bukan urusanku lagi, Lex. Makanan udah datang, Buruan makan, nanti keburu dingin!” Kami makan dengan lahap, sesekali kami bercanda dan tertawa. Saat sedang asyik makan, Mas Dani justru mendatangi meja kami. Dan dia sukses membuat moodku hancur. Aku pun mengakhiri makan siangku dan mengajak Alex pergi. Kami kembali ke kantor, di sana Andre sudah menungguku untuk meeting dengan klien. “Lain kali ingat waktu kalau mau pacaran, biar kerjaan gak terbengkalai!” ucapnya dingin. Aku mendengus kesal mendengarnya, memangnya dia siapa? “Oh iya, apa kamu akan menerima kerja sama dengan Pak Arya?” tanya Andre berganti topik. “Belum tahu, menurutmu bagaimana?” Papa memang memintaku untuk membicarakan masalah kantor dengannya, karena dia adalah orang yang Papa percayai untuk membantu mengurus kantor ini. “Menurutku tolak saja, atau proyeknya diundur setahun lagi. Soalnya aku mencari tahu tentangnya, yang ada hannyalah berita buruk. Dia memegang kendali perusahaan setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan beberapa bulan yang lalu. Bukannya tidak percaya, tapi daripada perusahaan kita dipakai sebagai umpan, mending kita antisipasi dulu,” jawab Andre panjang lebar. Memang luar biasa orang kepercayaan Papa ini. Aku bahkan tak sampai ke pikiran untuk menyelidiki sampai sejauh ini. Dedikasi untuk pekerjaan sangat tinggi. Aku jadi penasaran bagaimana istrinya menghadapi pria dingin yang gila kerja ini. Duh, kenapa aku kepo dengan kehidupan orang lain sih! Meeting berjalan dengan lancar. Aku mulai mengaktifkan ponselku kembali. Aku melihat banyak pesan spam dari nomor baru. [Dek, Mas mau minta maaf] [Dek, kapan ada waktu? Mari kita bicara serius] [Kenapa tak dibalas pesan Mas?] [DEK!] Dan masih banyak pesan lain yang tidak kubaca. Tanpa dinamai pun aku tahu kalau itu adalah Mas Dani. Mau apa lagi dia? Tak cukupkah dia dulu menyakiti hatiku? Sekarang saat aku mau menata kembali kehidupanku, dia kembali merecoki. Apakah dia menyesal kalau sekarang aku menjadi lebih kaya dan lebih sukses dibanding dirinya? Apapun alasan dia menghubungiku kembali, bagiku aku sudah menutup buku tentang dirinya, sekarang saatnya menata masa depan dengan semangat baru. Sekali lagi kublokir nomor Mas Dani, seperti aku memblokir nomor keluarganya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
8d
0woww
12/09
0berak
29/05
0Lihat Semua