Pukul sepuluh malam, Rian baru kembali masuk ke kamar. Saat sampai di kamar, Rian lihat Kiran sudah tidur pulas di atas ranjang dengan seluruh tubuh tertutupi selimut. Dia tersenyum kecil melihat wajah polos Kiran. Ah, kembali merasa tak percaya pada Anton yang tega menghancurkan kehidupan gadis cantik itu. Pelan, Rian menutup pintu. Tak mau sampai membangunkan Kiran yang sudah tidur. Rian melakukan segala aktifitasnya di kamar itu dengan hati-hati. Mulai dari membuka kopernya sendiri, sampai menata pakaiannya ke dalam lemari. Tak memakan waktu lama, karena Rian hanya membawa pakaian sedikit. Lalu Rian mulai membereskan barang-barangnya yang lain di atas meja depan sofa. Sebenarnya, di sana ada sebuah meja dekat kemari. Namun, di meja itu terdapat banyak buku dan barang-barang milik Kiran. Rian takut kalau Kiran tak suka jika barang mereka sampai tercampur. Selesai membereskan semua barang bawaannya, Rian pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sejak tadi, dia memang berada di luar kamar. Dan dia baru sempat membersihkan diri sejak pagi. Sepuluh menit sudah Rian menghabiskan waktu di kamar mandi. Dia keluar dari sana dengan tubuh yang sudah memakai piyama. Tak mendekati ranjang, Rian memilih duduk di sofa. Kembali membuka laptopnya dan membuka email. Mengecek satu persatu, dan membalas yang dikira penting. Karena kantuk belum juga datang, akhirnya Rian pun membuka akun sosial medianya. Waktu terus terlewati dan Rian mulai mengantuk. Namun, dia memaksakan matanya untuk tetap terbuka. Hingga tanpa sadar, dia pun tertidur di atas sofa. *** Pukul lima pagi, Kiran terbangun dari tidurnya. Dia membuka matanya perlahan, dan menatap lurus ke depan dengan alis berkerut. Setelah ingat tentang apa yang terjadi kemarin, Kiran langsung duduk dengan tergesa-gesa. Nafasnya memburu dengan mata menatap sekitar was-was. Tangannya mencengkeram selimut dengan erat. Setelah sadar tak menemukan siapa-siapa lagi di atas ranjang selain dirinya, Kiran bernafas lega. Kemudian tatapannya terpaku pada Rian, yang tertidur di atas sofa. Tanpa bantal dan selimut. Hanya memakai piyama saja. Kiran tertegun melihatnya. Mengerjap pelan, tak percaya. Bertanya-tanya dalam hati, apa Rian tidur di sana secara sengaja, atau tak sengaja ketiduran? Setelah kesadarannya terkumpul, Kiran pun turun dari atas ranjang. Melirik sesaat pada jam dinding yang tergantung dekat pintu. Perlahan, Kiran melangkah menjauhi ranjang. Melihat koper Rian yang sudah tersimpan rapi di samping lemari. Penasaran, Kiran pun membuka lemarinya. Dan di bagian yang semula kosong, kini sudah terisi oleh beberapa setelan kerja Rian. Kiran bergumam pelan. Tak menyangka, Rian membereskannya sendiri. Dia pikir, Rian bukan pria mandiri yang menggantungkan diri pada wanita tentang hal-hal sepele seperti itu. Kemudian, perhatian Kiran teralih pada meja depan sofa. Meja yang biasanya kosong kini penuh oleh berkas dan barang-barang yang bukan miliknya. Lalu Kiran melirik meja belajarnya, yang separuhnya masih kosong. Ah, rupanya Rian tahu diri untuk tak mencampurkan barang-barang mereka. Kiran memang takut saat bertemu Rian, jika situasinya Rian sedang terjaga, sedang membuka mata. Namun, jika Rian sedang tidur Kiran tak perlu takut apapun. Setelah mencuci wajah dan menggosok gigi, Kiran keluar dari kamar tanpa berniat membangunkan Rian sedikit pun. Tidak. Dia tak mau terlibat apapun dengan pria yang sekarang sudah menjadi suaminya itu. Lebih baik mereka menjalani kesibukan masing-masing saja. Karena Kiran, belum sepenuhnya percaya kalau Rian berbeda dari Anton. *** Pukul tujuh pagi, menu sarapan di rumah keluarga Kiran sudah terhidang semuanya. Piring, sendok dan gelas sudah tertata rapi di atas meja makan. Kiran yang sejak tadi hanya duduk memperhatikan tetap diam di tempatnya semula. Tak berniat untuk pergi ataupun pindah tempat. "Ran, kamu sehat sekarang?" Sintya bertanya seraya duduk di samping adiknya tersebut. Dua hari yang lalu, Kiran masih saja mengalami muntah-muntah hingga tak bisa makan apapun. Sampai-sampai tubuhnya lemas karena tak ada asupan makanan untuk tubuhnya. "Sehat, Kak," jawab Kiran dengan suara pelan. Dia memainkan sendok bagiannya di atas meja. Memutarnya, dan memukulkannya pada piring sesekali. Kiran terlihat lesu, dengan wajah yang pucat dan tak bersemangat. Semua itu karena dia masih belum rela sepenuhnya tentang perubahan hidupnya sekarang. Ditambah lagi efek kehamilannya. "Ran, Rian mana? Bangunin dong. Ajak dia sarapan bareng." Yulia berkata setelah melihat putri bungsunya itu tetap diam di tempatnya. Tak beranjak sedikit pun. "Nggak mau," jawab Kiran. Dia menunduk, menatap lantai ruang makan yang dia pijak. Yulia dan Sintya saling tatap sesaat setelah mendengar jawaban Kiran barusan. "Kenapa? Kamu gak boleh begitu pada Rian, Ran. Bersikaplah baik padanya," ucap Yulia berusaha menasehati dan memberikan pengertian. "Bersikap baik? Bagaimana kalau dia juga bukan orang baik, Bu? Bagaimana kalau dia tak beda jauh dengan Anton?" tanya Kiran dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Yulia dan Sintya hanya bisa mendesah pelan mendengarnya. Usia yang masih remaja, ditambah efek kehamilan membuat perasaan Kiran semakin sensitif. Apalagi, Kiran memang belum sepenuhnya percaya bahwa Rian itu berbeda dengan Anton. "Ran, mereka memang bersaudara. Tapi, sifat mereka jauh berbeda. Kamu sekarang sudah tahu juga kan kalau mereka itu walau bersaudara tetap berbeda ibu. Itu mempengaruhi kelakuan mereka juga," jelas Sintya dengan suara lembut dan lemah. Ya, dia berusaha keras mengubah kebiasannya yang selalu bicara lantang dan tegas. Jika tetap seperti itu, dia takut Kiran nantinya tersinggung. "Kalian membelanya?" gumam Kiran. Yulia dan Sintya lagi-lagi mendesah pelan. Nah, kan. Kiran malah salah paham. Sebelum obrolan mereka berlanjut, Rendi datang dan langsung duduk di tempatnya. Menatap ketiga perempuan di depannya dengan tatapan bertanya. "Ada apa?" tanya Rendi heran. Yulia dan Sintya menggeleng pelan sebagai jawaban. Sementara Kiran, menundukkan kepala. "Suamimu mana, Ran?" tanya Rendi. Wajah Kiran tertekuk kesal mendengar ayahnya juga ikut menanyakan keberadaan Rian. Padahal, Kiran tak mau sarapan bersama dengan Rian. Dia tak mau duduk satu meja dengan Rian. Kalau bisa, dia tak mau bertemu dengan Rian. Kiran tak memberikan jawaban dan semakin dalam menundukkan wajah. Yulia memberi kode untuk jangan bertanya tentang Rian pada Kiran. Rendi pun baru paham kenapa wajah Kiran semakin muram. Akhirnya, Yulia lah yang beranjak meninggalkan ruang makan untuk memanggil Rian. Namun, mereka bertemu di ruang keluarga. Rian sudah siap dan rapi dengan setelan kerjanya. "Rian, ayo sarapan dulu," ajak Yulia. Rian menatap ibu mertuanya tersebut dan tersenyum kecil. "Aku sarapan diluar saja, Bu," tolak Rian halus. Yulia hendak bertanya, namun mengurungkan niat. Sepertinya, Rian tahu bagaimana sikap Kiran sekarang. Makanya dia lebih memilih untuk menghindar. "Baiklah. Hati-hati di jalan," pesan Yulia. Rian mengangguk lalu dia pun berpamitan dan segera pergi meninggalkan rumah. Yulia menghembuskan nafas pelan setelah kepergian Rian. Ah, dia kasihan pada Rian. Setelah berkorban demi Anton, kini dia harus memahami Kiran yang masih bersikap seperti itu. Yulia hanya bisa berharap semoga Rian sabar menghadapi Kiran.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
nice
03/08
0yuyyyy
16/07
0bagusss
12/05
0Lihat Semua