Saat jam istirahat, Rian mengajak Kiran untuk berkunjung ke rumahnya, sekaligus bertemu dengan ibunya. Anita yang melihat kedatangan Kiran senang bukan main. Memperlakukan wanita muda itu layaknya anak sendiri. "Bapak, tinggal di rumah ini lagi?" Kiran bertanya, dengan panggilan formalnya. Ya, dia heran karena Rian mengajaknya berkunjung ke rumah mewah nan megah yang dulu ditempati Rian bersama orangtuanya. Bukan di apartemen, terakhir kali Anita dan Rian tinggal. "Ayah dan ibu memilih rujuk. Jadi ya, aku kembali ikut ibu tinggal di sini," jawab Rian. Kiran membulatkan bibir mendengar itu. Tak menyangka kalau ternyata Anita mau rujuk lagi dengan Rio. "Ngomong-ngomong, jangan panggil bapak jika di luar kantor. Aku merasa sudah sangat tua mendengar panggilan itu," lanjut Rian. Mendengar itu, Kiran jadi kebingungan. Lalu dia harus memanggil Rian dengan sebutan apa? "Panggil Mas saja. Seperti dulu," ujar Rian dengan senyuman manisnya. Dia menatap Kiran membuat Kiran grogi sendiri. Tak lama, Anita datang dari arah dapur membawa mangkuk berisi sup. Rio yang akan ikut makan siang juga baru muncul dari kamarnya. Memberikan senyuman kecil pada Kiran, berusaha bersikap baik pada wanita muda tersebut. Walau nyaman bersama Anita, Kiran tetap canggung berhadapan dengan Rio. Karena itu, dia tak banyak bicara. Anita yang tahu ketidaknyamanan yang dirasakan Kiran pun memaklumi. Selesai makan siang, dia menyuruh Rian mengajak Kiran ke halaman belakang. Sementara dirinya membereskan meja terlebih dahulu. "Sejak kapan Tante Anita kembali ke sini?" Kiran bertanya, penasaran. Dia pikir, Anita sampai sekarang masih sendirian. Atau mungkin, punya suami baru. Tak tahunya, ternyata Anita kembali rujuk dengan Rio. "Tak lama setelah mereka cerai. Sebenarnya, saat itu Ayah terbawa emosi karena keputusanku, juga karena ibu yang memilih pergi meninggalkan rumah. Mungkin, setelah lama Ayah juga sadar kalau dia tak bisa hidup sendirian. Mengandalkan orang yang menggantungkan hidup padanya sama sekali tak ada gunanya. Jadi ya, Ayah kembali datang dan meminta Ibu kembali." Rian menjawab, sekaligus bercerita sedikit pada Kiran. Bagaimana pun juga, dulu hubungan Kiran dan Anita sudah sangat dekat. Hal itu pasti membuat Kiran penasaran akan kisah Anita selama dia tak di Jakarta. "Lalu, bagaimana dengan wanita yang itu?" Kiran kembali bertanya. "Fitria maksudmu?" Kiran mengangguk. "Saat meminta Ibu kembali, rupanya Ayah sudah menjatuhkan talak pada Fitria. Entah masalah apa yang terjadi hingga Ayah berani menceraikannya. Sebab, sejak dulu Fitria selalu dimenangkan dan dibela. Tapi mungkin, dia juga melakukan kesalahan yang fatal. Sekarang, kami tak tahu di mana dia. Namun beberapa bulan ke belakang, aku dengar dia tinggal di daerah Bekasi." Kiran diam dan mendengarkan cerita Rian dengan seksama. Entah kenapa, Kiran merasa senang sendiri mendengar Fitria, ibu kandung Anton sudah diceraikan oleh Rio. Walaupun dengan hal itu tak akan bisa memutuskan hubungan darah antara Anton dan Rian, tetap saja ada kesenangan tersendiri bagi Kiran. Mungkin, karena dia juga seorang wanita yang bisa merasakan bagaimana perasaan Anita selama ini. Apalagi, Kiran juga tahu kalau Anita dan Rian sudah banyak berkorban demi Fitria dan Anton. Sekarang, sudah waktunya mereka menjalani kehidupan secara bebas tanpa harus terus menanggung kesalahan orang lain. Sebelum Kiran melontarkan pertanyaan lagi, Anita datang membawakan teh dan camilan. Rian pun memberikan waktu untuk dua wanita itu mengobrol. Memilih menyingkir sesaat, masuk ke dalam rumah. "Sejak kapan kamu pulang?" Anita bertanya, dengan senyum yang terukir di wajahnya. Hati Kiran terasa begitu hangat melihat senyuman lembut Anita. "Baru sekitar seminggu, Tante," jawab Kiran. "Belum lama rupanya. Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja kan?" "Baik, Tante. Selalu baik." "Ah, baguslah jika begitu. Sudah punya pacar belum?" Kiran sedikit terkejut mendengar pertanyaan Anita barusan. Namun, Kiran tetap menjawabnya dengan gelengan kepala. "Belum, Tante. Aku baru saja menyelesaikan pendidikan. Jadi, belum ada waktu untuk hal seperti itu. Untuk sekarang, aku ingin fokus bekerja dulu," jawab Kiran sopan. Anita tersenyum mendengar itu, terlihat lega. "Rian juga masih sendiri sampai sekarang. Padahal usianya sudah masuk kepala tiga. Harusnya dia sudah punya istri dan anak sekarang," ujar Anita disertai hembusan nafas pelan. Kiran yang mendengar itu hanya tersenyum kecil, tak tahu harus menanggapi seperti apa. "Berkali-kali dia mengenalkan wanita. Tapi, Tante melihat mereka semua tak jauh seperti Fitria. Dan beruntungnya Rian memang penurut. Saat tahu Tante tak setuju, dia langsung mengakhiri hubungannya," lanjut Anita. Kiran yang mendengar itu tetap diam, walau hati terus berkata. Berarti, setelah berpisah dengannya Rian sudah menjalin hubungan dengan banyak wanita. Namun, tak ada yang berhasil sampai jenjang pernikahan. "Kamu tak mau kembali dengan Rian? Tante setuju saja jika kamu calon istrinya Rian," ujar Anita lagi secara tiba-tiba. Jelas Kiran terkejut mendengar itu. Tak menyangka Anita akan berbicara seperti itu terhadapnya. Tangan Anita bergerak, menyentuh rambut Kiran dan mengelusnya perlahan. Menyalurkan rasa kasih sayangnya terhadap Kiran, yang sejak dulu tak pernah pudar. Dalam sorot matanya terlihat sebuah perasaan rindu saat melihat Kiran. "Kamu tahu? Sampai sekarang Rian masih menyimpan fotomu juga foto kalian berdua saat melaksanakan akad dulu. Rian sering menatap foto itu sampai-sampai dia ketiduran. Tante sering menemukan foto itu di bawah bantalnya. Tak jarang, Tante juga melihat foto itu di atas tubuhnya saat Rian sedang tidur." Kiran terdiam mendengar itu. Itu berarti, Rian tak pernah melupakannya barang sebentar? Kiran tak menyangka Rian bahkan sampai masih menyimpan foto itu, foto yang jelas-jelas tak ada kebahagiaan di dalamnya. "Jodoh memang bukan kita yang mengatur. Tapi, berharap tak ada salahnya kan?" tanya Anita disertai kekehan pelan. Kiran hanya membalas dengan senyuman mendengar itu. Menunduk sesaat, kemudian menatap ke arah depan. Melihat taman mini di halaman belakang, yang sepertinya baru. "Kamu tunggu di sini ya. Tante panggilkan Rian dulu," ucap Anita seraya bangkit dari tempat duduknya. Dia masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan putra sematawayangnya. Memanggilnya, dan menyuruhnya untuk kembali menemani Kiran. Karena jam istirahat hampir berakhir, Rian pun langsung mengajak Kiran untuk segera kembali ke kantor. Kiran berpamitan pada Anita sebelum pergi. Dan sorot mata Anita yang sarat akan harapan membuat Kiran jadi tak enak hati. "Apa ibu berkata yang aneh-aneh padamu?" Rian bertanya, saat mereka sudah berada di dalam mobil. Rian yang menyetir sesekali melirik Kiran dari sudut matanya. Menunggu jawaban dari wanita itu. "Tidak kok, Mas," jawab Kiran. Kening Rian berkerut mendengarnya. Entah kenapa, dia merasa Kiran berbohong padanya. Namun, sebelum kembali bertanya, Kiran langsung melanjutkan jawaban. "Tante Anita hanya bilang, katanya Mas masih menyimpan foto kita saat melakukan akad dulu. Tante Anita bilang, sering menemukannya di bawah bantal," lanjut Kiran. Rian menatap Kiran sesaat, kemudian menatap lurus ke depan. Sudut bibirnya terangkat mendengar itu. Ah, rupanya kebiasannya itu sering diketahui oleh ibunya. Dan ibunya malah menceritakan hal itu pada Kiran. "Ya, itu memang. Aku tak tahu tujuannya apa. Hanya saja, secara tak sadar aku sering melakukannya, menatap foto itu cukup lama," balas Rian. Kiran tak membalas, namun bibirnya tak bisa menahan senyuman. Kenapa dia merasa senang seperti ini mendengar perkataan yang terlontar dari Rian barusan? Padahal itu bukanlah hal lucu. Suasana di dalam mobil seketika menjadi hening. Mereka tak bicara lagi, dan fokus dengan pikiran masing-masing. Senyum sama-sama tersungging di bibir mereka. Secara tak sadar, hal sederhana yang sering Rian lakukan membuat Kiran senang. Dan Rian, merasa malu juga saat Kiran mengetahui hal itu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
nice
03/08
0yuyyyy
16/07
0bagusss
12/05
0Lihat Semua