logo text

Kepergian Rian

Esoknya, Rian langsung berangkat ke London pada siang hari. Paginya, dia mengemas barang-barang terlebih dahulu juga mengunjungi ibunya. Dia khawatir karena sejak kemarin ibunya tidak balik menghubunginya. Namun ternyata, semuanya baik-baik saja. Rian pun memberitahukan kepergiannya ke London sekaligus berpamitan. Dia datang ke apartemen ibunya bersama dengan Kiran. Agar Kiran tahu tempat tinggal baru Anita, dan mudah jika dia ingin berkunjung ke sana sementara Rian berada di London.
Keberangkatan Rian diantar oleh Kiran tentu saja. Anita pun turut mengantarkan ke bandara. Seluruh anggota keluarga Kiran juga ikut mengantarkan. Menyaksikan perpisahan sepasang suami istri, juga sepasang anak dan ibu yang tak akan berjumpa dalam waktu dua bulan.
Rian berangkat ke London bersama dengan Julia. Dan selama perpisahan, Julia tak bisa berhenti untuk merasa tak nyaman. Karena tatapan Rendi begitu menusuk padanya. Seolah memperingati dan mengancam lewat tatapan. Dan Julia pun tak henti mengingatkan diri untuk tetap mencintai diri dan karirnya. Jangan sampai karena hal bodoh dia kehilangan keduanya.
Anita dan Kiran berusaha tegar saat Rian masih di hadapan mereka. Namun, tangis mereka berdua tak bisa ditahan setelah sosok Rian menghilang dari pandangan. Anita memeluk menantunya dan mengusap punggungnya dengan lembut. Mengucapkan kata-kata penyemangat untuk menantunya yang sedang hamil itu.
"Tante, berkunjunglah ke rumah kami dulu. Jangan langsung pulang." Sintya mendekat, seraya mengajak mertua adiknya tersebut untuk berkunjung ke rumah. Sekaligus meraih Kiran yang masih menangis. Merasa tak enak hati melihat baju Anita sudah basah karena air mata Kiran.
"Tante mau pulang saja. Pekerjaan di rumah belum selesai," jawab Anita dengan suara sedikit tersendat. Dia berusaha memasang senyum. Lalu menatap Kiran, dan mengusap kepala Kiran dengan begitu lembut.
"Kamu yang sabar ya. Rian pasti akan sering menghubungimu. Jangan sedih. Tak baik bagi kandunganmu," ujar Anita pada Kiran. Kiran yang mendengar itu hanya mengangguk pelan.
Karena sosok Rian sudah tak terlihat, mereka pun memutuskan untuk pulang. Tak lupa, terus berdo'a untuk keselamatan Rian. Juga keteguhan hati Rian agar tak tergoda wanita lain di sana, terutama Julia yang menemaninya.
***
Satu hari, dua hari, Kiran merasa kesepian. Mungkin, dia sudah terbiasa adanya Rian di samping dirinya saat malam hari. Biasanya, saat tengah malam terbangun karena merasa lapar, Rian akan ikut bangun dan menemaninya makan. Biasanya, saat bangun di pagi hari, dia akan melihat Rian yang masih terlelap di sampingnya. Dan Kiran akan membangunkannya untuk mandi dan siap-siap bekerja.
Namun, sekarang Rian tak ada. Kiran kembali sendiri saat tidur. Tak ada yang menemaninya saat makan di tengah malam, tak ada yang harus dia bangunkan setiap pagi.
Setiap hari, Rian selalu menghubungi Kiran. Telepon dan video call, menanyakan kabar juga tak bosan menasehati dan memperingatkan Kiran akan hal-hal kecil yang Kiran lupakan.
Rian begitu perhatian. Membuat Kiran lama-lama semakin nyaman pada sosok pria berstatus suaminya tersebut. Namun, Kiran selalu berusaha menahan diri agar tak terlalu nyaman bersama dengan Rian.
Dua sampai tiga minggu, Kiran mulai terbiasa dengan tak adanya Rian di dekatnya. Namun, komunikasi masih berjalan dengan sangat baik. Bahkan, kadang Rian menunjukkan pekerjaan dan tempat bekerjanya saat mereka melakukan video call.
Seperti saat ini, Kiran sedang berbaring di atas ranjang dengan tangan memegang ponsel miliknya. Di layar ponselnya, terlihat sang suami yang masih memakai pakaian kerja lengkap. Mungkin, Rian belum selesai bekerja.
"Bagaimana bayinya? Sehat-sehat saja kan?" Rian bertanya, mempertanyakan kondisi janin yang Kiran kandung.
"Baik, Mas. Jadwal periksa sekitar empat hari lagi. Dan mungkin untuk sekarang, Kak Sintya yang akan mengantar," jawab Kiran. Tangannya yang bebas menyentuh dan mengelus perutnya sendiri.
"Maaf Mas tak bisa mengantarmu." Raut penyesalan terlihat jelas di wajah Rian. Kiran yang mendengar itu mengulas senyum lembut disertai anggukkan pelan.
"Tak apa, Mas. Mas di sana juga sedang kerja. Sedang mengusahakan kesuksesan perusahaan ayah," balas Kiran. Rian balas tersenyum mendengar itu. Merasa sedikit lega.
Karena hari sudah mulai larut, Kiran pun berpamitan dan tak lupa mengingatkan Rian untuk istirahat yang cukup. Setelah itu, video call pun berhenti. Kiran menatap layar ponselnya yang mati sesaat dengan bibir yang terus menyunggingkan sebuah senyum. Lalu dengan sedikit riang, dia menaruh ponselnya di atas nakas, dekat tempat tidur.
Kiran membaringkan tubuhnya, mencari posisi yang nyaman. Selimut tebal sudah menutupi tubuhnya dari leher sampai kaki. Matanya tak langsung terpejam. Masih mengingat, segala obrolannya dengan Rian hari ini. Mengingat semua perhatian yang diberikan Rian terhadapnya. Ah, Kiran jadi terus bertanya-tanya. Kenapa ada orang sebaik Rian?
Namun, tak bisa dipungkiri kalau Kiran sangat senang dengan segala perhatian yang diberikan oleh Rian. Merasa sangat beruntung, karena Rian begitu peduli terhadapnya. Bukan hanya padanya, tapi juga pada keluarga dan calon anaknya.
Perhatian yang Rian berikan membuat Kiran senang dan bahagia. Namun, kadang dia juga diliputi rasa takut dan khawatir. Takut, jika suatu hari nanti perhatian Rian padanya pupus. Khawatir kalau suatu hari nanti dia akan kehilangan perhatian dari Rian.
Namun, Kiran berusaha menepis segala pemikiran buruknya tersebut. Selalu berharap dan berdo'a, semoga Rian akan selalu ada di sampingnya. Ya, dia tak akan berhenti berdo'a tentang itu.

Komentar Buku (112)

  • avatar
    70300111058Nur Isnaini

    nice

    03/08

      0
  • avatar
    Sahrulisad Sahrul

    yuyyyy

    16/07

      0
  • avatar
    Tataaaaa

    bagusss

    12/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru