logo text

Pengorbanan Rian

Makan malam hari ini, tak ada yang aneh sebenarnya. Kiran yang sejak pagi sampai siang terus bersedih sudah kembali mendapatkan keceriaan. Sikap semua orang di rumah pun seperti biasanya. Hingga Rian tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi siang tadi di rumah.
Selesai makan malam, biasanya Rian akan langsung ke kamar bersama Kiran. Namun, kali ini tidak. Rendi memanggil Rian untuk menemaninya mengobrol di halaman belakang, hanya berdua. Ditemani dua gelas teh hangat manis juga camilan.
"Yan, bagaimana kabar orangtuamu?" Rendi bertanya, memulai obrolan. Setelah tahu segala kebenarannya dari Haris tadi, Rendi pun sudah membuat sebuah keputusan. Dan semoga saja Rian mau menerima keputusannya tersebut.
"Baik, Yah," jawab Rian. Matanya menatap lurus pada halaman belakang yang diterangi lampu. Tak tahu kenapa Rendi mengajaknya mengobrol di sana, kecuali mungkin memang ada sesuatu yang penting.
"Ibumu sehat kan?" Rendi kembali bertanya. Dan jawaban Rian tetap sama seperti semula.
Sebenarnya, Rendi sedikit kecewa pada Rian yang menyembunyikan semuanya sendirian, tanpa mau memberi tahunya, atau minimalnya memberi tahu Kiran. Namun, sekali lagi Rendi berusaha memaklumi. Memang benar jika Rian mengatakan segalanya, maka Kiran akan semakin merasa bersalah. Karena sejak awal pun, Kiran tak percaya diri. Merasa dirinya menjadi beban bagi Rian.
"Ayah dengar kamu punya sahabat wanita. Apa itu benar?" Rendi kembali bertanya. Rian tertegun sesaat kemudian mengangguk.
"Iya, Yah."
"Berteman dan bersahabat dengan siapa pun boleh saja, Yan. Tapi, Ayah minta jangan sampai kamu lupa pada istrimu sendiri. Dan, kamu pasti juga paham betul kalau sikap Kiran masih seperti itu," ucap Rendi. Rian jadi teringat siang tadi saat dia memilih makan siang berdua dengan Zia, ketimbang pulang ke rumah. Ah, mungkin ini topik pembicaraan utama yang ingin dibahas Rendi.
Memang, siang tadi Rian sudah memberi tahu Kiran. Bahkan, dia juga mengajak Kiran. Namun, Kiran menolak. Tapi, Rian tak akan membela diri.
"Maafkan aku, Yah. Kupikir Kiran tak akan marah," jawab Rian. Rendi terkekeh pelan mendengar itu.
"Tidak. Dia tidak marah kok. Hanya saja ya, kamu harus tahu batasan-batasan dengan wanita lain jika sudah beristri," lanjut Rendi. Kemudian, dia meneguk teh miliknya sedikit demi sedikit.
"Rian, kamu tahu? Sebenarnya kejujuran itu lebih baik walaupun menyakitkan akhirnya. Dari pada harus berbohong. Karena sekalinya berbohong, maka akan terus ada kebohongan baru untuk menyembunyikan kebohongan yang lainnya. Jadi, seburuk apapun akibatnya nanti, lebih baik kamu jujur saja. Dari pada hanya diam," ucap Rendi lagi dengan serius. Rian terdiam dengan kepala menunduk. Rendi melirik menantunya itu sesaat dan menghembuskan nafas pelan.
"Haris bilang, sekarang kamu kerja di perusahaan lain. Apa itu benar?" tanya Rendi.
"Iya, Yah," jawab Rian dengan suara pelan. Dia tak berniat sedikit pun untuk berbicara. Membiarkan Rendi untuk bicara lebih dulu, menyelesaikan pembahasannya.
"Haris katanya tak sengaja melihatmu saat dia datang ke perusahaan koleganya untuk rapat. Dan dari informasi yang dia dapat, katanya kamu kerja di sana. Ada yang terjadi dengan perusahaan ayahmu?" Rendi kembali bertanya. Dia menatap Rian dengan serius. Menatap lekat Rian yang setia menunduk dengan tatapan terarah pada lantai. Dan Rendi bisa melihat beban berat dari sorot mata menantunya tersebut.
"Apa ini semuanya berhubungan dengan Anton yang dipenjara?" Rendi lagi-lagi bertanya. Rian tak bersuara, dan hanya menjawab dengan anggukkan kepala saja.
"Yan, sebelumnya terima kasih. Kamu sudah berkorban banyak demi Kiran. Kamu mau bertanggung jawab atas kehamilannya, padahal itu bukan salahmu. Dan sekarang, kamu kembali berkorban agar Kiran mendapatkan keadilan. Pengorbanan yang membuatmu mendapatkan masalah dengan ayahmu. Kamu itu benar-benar bertanggung jawab dan baik hati. Maaf jika pernikahanmu dengan Kiran malah membuat hidupmu semakin terbebani. Ayah minta, tetaplah disisi Kiran, setidaknya sampai dia melahirkan. Setelah dia melahirkan, kamu boleh pergi dan mengejar kebahagiaanmu sendiri, Yan. Tak seharusnya kamu terjebak dalam hal yang tak kamu inginkan."
Rian terdiam mendengar kalimat panjang lebar dari ayah mertuanya tersebut. Rian masih berusaha mencerna maksudnya.
"Kamu itu sudah dewasa, mapan, baik hati lagi. Sementara Kiran hanya remaja yang ya, kamu tahu sendiri kalau dia masih labil. Kamu berhak mendapatkan pendamping hidup yang layak bersamamu. Yang bisa berjalan dan mendampingimu dengan benar. Dan Ayah rasa Kiran bukanlah orang yang tepat. Dia masih labil dan kekanakan," lanjut Rendi.
Rian diam tertegun setelah paham apa maksud Rendi sebenarnya. Jadi, Rendi mengizinkan dia jika suatu hari nanti dia menceraikan Kiran? Begitu kah?
"Kenapa Ayah berkata seperti itu?" tanya Rian.
"Ayah tak mau kamu hidup dalam keterpaksaan dalam waktu yang lebih lama lagi, Yan. Setelah Kiran melahirkan, kamu boleh pergi dan cari wanita yang layak menjadi pendampingmu," jawab Rendi. Rian terdiam mendengar itu, tak kembali bicara. Rendi menghabiskan tehnya lalu bangkit berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah. Saat melewati Rian, Rendi menepuk pelan bahu Rian.
"Jika kamu bersedia, besok kita pergi ke kantor Ayah," ucap Rendi. Setelah itu dia masuk ke dalam rumah, meninggalkan Rian sendirian yang masih terdiam karena tak percaya akan apa yang dikatakan Rendi barusan.
***
Rian masuk ke dalam kamar saat jam menunjukkan pukul sembilan malam. Dia pikir, Kiran susah tidur. Namun ternyata dugaannya salah. Kiran masih terjaga, dan rupanya sedang menunggu dirinya.
"Kenapa belum tidur?" tanya Rian setelah dia duduk di samping Kiran.
"Ayah bicara apa sama Mas?" tanya Kiran balik tanpa menjawab pertanyaan Rian lebih dulu. Rian menatap Kiran cukup lama, dan tak langsung menjawab pertanyaan istrinya tersebut.
"Mas?" Kiran kembali bertanya, memanggil Rian yang masih terdiam.
"Maaf Mas menyembunyikan semuanya darimu. Mas hanya tidak mau kamu kepikiran nantinya," ucap Rian. Tangannya meraih telapak tangan Kiran dan menggenggamnya dengan cukup erat.
"Mas minta maaf karena tadi siang pergi makan bersama Zia. Maaf karena Mas tak pulang," lanjut Rian. Kiran langsung menggeleng mendengar itu.
"Tak apa, Mas. Aku tak masalah kok," jawab Kiran. Dia tersenyum, berusaha meyakinkan Rian kalau dia baik-baik saja. Memang sih, tadi mood-nya sempat turun. Tapi sekarang dia sudah ceria lagi.
"Mas, bagaimana kalau hari Minggu nanti kita berkunjung ke rumah Mas? Aku ingin bertemu dengan Ibu Nita lagi," ucap Kiran. Rian terdiam sesaat kemudian menyunggingkan senyuman dan mengangguk.
"Boleh. Ibu juga sudah menanyakanmu. Katanya rindu," balas Rian. Kiran tersenyum lebar mendengar itu. Rasanya, dia sudah tak sabar menunggu hari Minggu. Dia sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan ibu mertuanya lagi.
"Sekarang tidurlah. Jangan tidur terlalu malam," ucap Rian. Kiran mengangguk. Dia pun mulai membaringkan tubuhnya dan mencari posisi yang nyaman. Setelah menemukan posisi yang nyaman, matanya mulai terpejam. Sementara Rian, masih setia memperhatikan. Ah, dia jadi teringat ucapan ayah mertuanya tadi. Tegakah dirinya meninggalkan Kiran nanti setelah wanita muda itu melahirkan?

Komentar Buku (112)

  • avatar
    70300111058Nur Isnaini

    nice

    03/08

      0
  • avatar
    Sahrulisad Sahrul

    yuyyyy

    16/07

      0
  • avatar
    Tataaaaa

    bagusss

    12/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru