logo text

Tentang Rian

Setelah jam makan siang, biasanya Haris akan kembali ke kantor untuk bekerja. Namun kali ini, dia pergi ke rumah Sintya terlebih dahulu untuk menjemput kekasihnya tersebut. Karena mereka ada acara bersama, yaitu menghadiri pesta pernikahan salah satu kenalan Haris.
Sampai di rumah kekasihnya, rupanya Sintya sedang berada di kamar Kiran. Tak hanya berdua, tapi bersama Rendi dan Yulia juga. Mereka terlihat khawatir melihat kondisi Kiran yang sejak pagi bersedih dan terus menangis. Bahkan sampai sekarang, Kiran masih menangis di dalam pelukan Yulia.
"Ada apa?" Haris bertanya pelan pada Sintya yang berdiri memperhatikan Kiran.
"Aku gak tahu. Mungkin ada salah paham sama Rian," jawab Sintya berbisik. Haris membulatkan mulutnya mendengar itu. Ah, bermasalah dengan suaminya rupanya.
"Ran, kamu kenapa?" Haris bertanya, memecah suasana sunyi yang semula hanya diisi oleh isak tangis Kiran. Kiran menengok sesaat dan kembali menyembunyikan wajah di dada Yulia. Membuat Yulia semakin khawatir. Haris menghembuskan nafas pelan lalu duduk di samping Kiran. Tangannya menyentuh lengan Kiran, dan meremasnya pelan. Berusaha menarik perhatian calon adik iparnya tersebut.
Kiran akhirnya mau menatap Haris yang masih memegang lengannya. Dia menatap kekasih kakaknya tersebut dengan tatapan bingung juga heran. Bukan hanya Kiran, tapi semua yang ada di sana.
"Ada masalah dengan Rian?" tanya Haris. Kiran diam tak menjawab. Tak menggeleng ataupun mengangguk. Malah menundukkan wajah dan masih sesenggukan.
"Ran? Bicara dong. Jangan buat kami khawatir," ucap Sintya. Kiran masih setia menunduk dengan tangan meremas ujung rok yang dia pakai. Bibirnya yang bergetar mulai terbuka, terlihat akan bicara.
"A-aku mau cerai saja dengan Mas Rian," ucap Kiran dengan suara pelan dan lirih.
"Cerai?" tanya Yulia dan Sintya berbarengan. Mereka terlihat syok mendengar penuturan Kiran barusan.
"Aku tak mau menjadi beban Mas Rian. Mas Rian tak seharusnya mempertanggungjawabkan semua ini," lanjut Kiran dengan suara serak karena selesai menangis. Yulia dan Sintya saling pandang dengan tatapan bingung. Sementara Rendi hanya bisa menutup wajah dengan kedua tangan.
"Apa yang terjadi, Ran? Gak mungkin tiba-tiba kamu bicara begini jika tak ada apa-apa sebelumnya," ucap Haris. Kiran menatap Haris sesaat kemudian menggeleng. Tak mau menjawab secara jujur. Namun, Haris bisa menebak sesuatu.
"Apa karena Rian pergi makan siang dengan sahabatnya tadi? Kamu cemburu?" tanya Haris. Kiran membelalak kaget, tak menyangka Haris akan tahu.
"Rian pergi makan siang dengan sahabat perempuannya?" tanya Sintya. Nada suaranya naik satu oktaf, terlihat kesal. Haris langsung menatap Sintya dan memberikan tatapan peringatan.
"Kamu jangan ambil keputusan sepihak seperti ini dong, Ran. Ingat bayi kamu. Suatu hari nanti dia butuh seorang ayah. Walau Rian bukan ayah biologisnya, tapi Rian yang cocok jadi ayahnya nanti," ucap Haris. Tangannya bergerak menyentuh kepala Kiran dan mengusapnya pelan. Bertahun-tahun menjalin hubungan dengan Sintya membuat Haris sudah menganggap Kiran sebagai adiknya sendiri.
"Bisa kita semua bicara di ruang keluarga saja? Agar lebih nyaman. Ada yang harus aku katakan pada kalian semua," ucap Haris. Semua yang ada di sana mengangguk dan keluar dari kamar Kiran. Berjalan beriringan menuju ruang keluarga. Dan Kiran tak lepas dan rangkulan Yulia.
"Ran, ayo cerita. Sedikit saja gak apa-apa," ucap Haris lagi.
"Aku hanya merasa jadi beban untuk Mas Rian. Aku merasa menjadi penghalang bagi Mas Rian untuk mencapai kebahagiaannya sendiri," lirih Kiran. Rendi, Yulia, dan Sintya menatap Kiran pilu.
"Ran, Rian sudah banyak berkorban demi kamu loh. Jadi, jangan sia-siakan pengorbanannya. Jangan membuatnya kecewa dengan berkata ingin cerai darinya. Rian pasti akan kecewa jika kamu mengatakan kata itu padanya," ucap Haris. Orangtua dan kakak Kiran yang tak paham akan apa yang di sampaikan Haris hanya diam dan mendengarkan dengan seksama.
"Ran, apa semenjak Anton ditemukan Rian pernah mengajakmu bertemu dengan ibunya lagi?" Haris mulai bertanya. Kiran menatap Haris dan menggeleng.
"Kenapa kamu menanyakan hal seperti iru, Haris?" tanya Sintya.
"Ini semuanya bersangkutan. Sebenarnya, aku juga tidak akan tahu semua kebenaran ini jika saja tadi aku tak melihat Rian berada di perusahaan kolegaku," jawab Haris. Yang lain mengerutkan alis, merasa bingung. Haris menatap mereka satu persatu lalu menghembuskan nafas panjang. Bersiap untuk cerita.
"Pagi tadi aku ada rapat di perusahaan kolega. Saat sampai di sana, aku tak sengaja melihat Rian. Saat aku tanyakan pada sekretaris kolegaku, rupanya Rian bekerja di sana. Masih baru sih katanya. Kira-kira sekitar tiga mingguan."
"Kerja di sana? Bukannya dia CEO perusahaan ayahnya?" tanya Rendi.
"Awalnya memang begitu. Namun, karena Rian bersikukuh menjebloskan Anton ke penjara, Rian pun dipecat oleh ayahnya. Bukan hanya itu, Rian pun membawa ibunya pergi dari rumah ayahnya karena tak mau ibunya menjadi korban kemarahan ayahnya atas tindakannya menjebloskan Anton ke penjara. Kamu tahu Ran? Dia melakukan semua itu demi kamu, agar kamu mendapatkan keadilan. Sebenarnya, selama ini dia sudah tak kerja pada ayahnya. Dan mungkin, alasan Rian tak pernah mengajakmu bertemu ibunya adalah karena Rian tak mau kamu mengetahui kondisi keluarganya. Dia tak mau kamu semakin merasa bersalah padanya." Haris bercerita panjang lebar. Dia tahu itu semua jelas karena pencariannya sendiri. Tahu Rian kerja di perusahaan koleganya, Haris langsung menyusul ke perusahaan ayah Rian. Dan dia mendapatkan semua informasi itu dari para mantan karyawan Rian.
"Selama mengurus persidangan, rupanya Rian juga mencari rumah baru untuk ibunya, dan mencari pekerjaan. Akhirnya dia diterima di sana sebagai Manager Keuangan. Dia pasti tak cerita apa-apa pada kalian kan?" tanya Haris. Semua yang ada di sana menggeleng. Memang benar Rian tak bercerita, dan mereka tak tahu. Mereka kira, setelah kasus Anton selesai, kehidupan Rian dan keluarganya masih normal.
"Dia berkorban demi keadilan untukmu, Kiran. Jangan membuatnya kecewa. Masalah sahabat wanitanya, Rian sudah mengatasinya tadi siang. Aku sendiri yang mendengar pembicaraan mereka."
"Kamu mengikutinya?"
"Iya. Aku melihat dia naik taksi. Kupikir, dia akan ke sini untuk makan siang. Rupanya dia bertemu dengan sahabat wanitanya di sebuah restoran. Tapi Kiran, kamu tenang saja. Rian sudah memperingati sahabatnya dengan tegas. Aku salut pada Rian yang sangat menghormatimu sebagai istrinya," ungkap Haris lagi disertai senyuman. Kiran terdiam dengan wajah tak percaya mendengar itu. Rendi dan Yulia yang semula hendak marah mendengar Rian makan siang dengan wanita lain, kembali luluh setelah Haris menjelaskan dan bercerita. Sekarang, mereka semakin tahu sebesar apa perjuangan Rian untuk Kiran mendapatkan keadilan. Bahkan, sampai berani menentang ayahnya sendiri, juga sampai ibunya harus pergi meninggalkan rumah.
"Jangan berpikiran ingin cerai lagi dari Rian. Dia itu pria yang baik. Jarang ada pria sepertinya," ucap Rendi. Kiran menatap ayahnya kemudian mengangguk pelan. Kiran masih tak percaya dengan semuanya. Namun, Haris yang bercerita. Dan tak mungkin Haris berbohong hanya untuk membela Rian.

Komentar Buku (112)

  • avatar
    70300111058Nur Isnaini

    nice

    03/08

      0
  • avatar
    Sahrulisad Sahrul

    yuyyyy

    16/07

      0
  • avatar
    Tataaaaa

    bagusss

    12/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru