logo text

Periksa Kandungan

Sedikit demi sedikit, komunikasi antara Rian dan Kiran mulai terjalin. Walaupun keduanya masih pasif, karena Kiran belum sepenuhnya berubah. Tapi, Rian tak keberatan. Dia mencoba biasa saja, saat Kiran berusaha menjalin komunikasi dengannya. Karena Rian tahu, butuh perjuangan berat bagi Kiran agar mau sekedar bicara padanya.
Hubungan mereka ada kemajuan lagi saat jadwal periksa kandungan tiba. Pukul sepuluh pagi, Rian yang sedang bekerja sengaja pulang lebih dulu untuk menjemput Kiran. Dan rupanya, Kiran sudah menunggu dirinya.
Kehamilan yang masih muda membuat perut Kiran masih terlihat datar-datar saja. Sekilas, tak ada yang tahu kalau sebenarnya Kiran sedang hamil.
Sampai di rumah sakit, Kiran tak bisa untuk berhenti merasakan gugup dan takut. Apalagi setelah sampai pada tempat periksa kandungan, dan mengantri. Kiran merasa, tatapan para ibu-ibu di sana terarah padanya semua. Membuat Kiran malu setengah mati.
Bisik-bisik samar terdengar oleh Kiran. Pasti, dia menjadi bahan pembicaraan. Biasanya ibu-ibu selalu seperti itu. Apalagi Kiran, yang masih remaja datang ke tempat periksa kandungan. Walaupun pikiran juga tebakan mereka sesuai dengan kenyataan, rasanya Kiran tetap sakit hati.
Dia memang hamil diluar nikah, saat masih duduk di bangku sekolah. Namun, itu semua bukan keinginannya. Dan mereka tak tahu bagian itu. Banyaknya remaja yang hamil di luar nikah akibat gaya pacaran yang terlalu bebas membuat para ibu-ibu memukul rata semua. Padahal, sebagian ada yang mengalami kejadian tak menyenangkan seperti Kiran.
Rian tahu, Kiran tak nyaman dengan situasi sekarang. Kepalanya terus menunduk, dan semakin dalam saja saat para ibu-ibu di depannya mulai berbisik-bisik seraya mencuri pandang padanya.
Dengan inisiatif sendiri, Rian pun menggenggam tangan Kiran dengan erat. Tentu saja Kiran terkejut karenanya. Saat netra mereka beradu dan saling tatap, Kiran bisa tahu kalau Rian sedang berusaha menguatkannya.
"Jangan dengarkan. Mereka tak tahu apa yang terjadi padamu. Belum tentu mereka akan tegar sepertimu jika mengalami hal yang sama," bisik Rian. Kiran mengerjap lalu mengangguk pelan. Dia membalas genggaman tangan Rian, dan meremasnya. Berusaha menguatkan diri.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya nama Kiran pun dipanggil. Kiran dan Rian bangkit berdiri dengan tangan masih saling menggenggam. Masuk ke dalam ruangan dokter untuk mulai pemeriksaan.
Kiran langsung diminta untuk berbaring di atas ranjang pasien. Rian pun membantunya dengan hati-hati. Takut kenapa-kenapa, karena pada trimester pertama biasanya rentan akan keguguran.
Saat dokter memeriksa, pandangan Rian tak lepas dari layar monitor yang menunjukkan gambar berwarna hitam putih. Dokter pun menjelaskan sedikit tentang bagian-bagian didalam rahim Kiran. Dan Rian bisa melihat sebuah gumpalan kecil di layar monitor, yang disebut dokter sebagai calon bayi.
Saat sedang diperiksa, fokus kiran bukan pada layar monitor yang memperlihatkan janin dalam rahimnya. Tapi pada Rian, yang begitu serius melihat dan mendengarkan penjelasan dokter. Matanya begitu jeli melihat layar monitor yang memperlihatkan gambar hitam putih tersebut.
Kiran bertanya-tanya dalam hati. Kenapa Rian begitu serius seperti itu? Kenapa dia harus terlihat begitu peduli? Padahal sudah jelas kalau janin yang dikandung Kiran bukanlah anaknya.
Entah Kiran harus merasa terharu atau sedih melihat kilat serius di mata Rian. Yang jelas, kini setetes air mata lolos dari matanya. Sadar, seharusnya Rian tak terjebak bersamanya di sana. Karena Rian bukanlah ayah biologis dari anaknya.
Terlalu sibuk dengan pikiran sendiri, membuat Kiran sampai tak sadar kalau proses pemeriksaan sudah selesai. Dia baru sadar saat dokter tersebut merapikan bajunya yang barusan sengaja di singkap.
Rian berjalan mendekatinya dan membantunya turun dari atas ranjang. Entah kenapa kini perasaan Kiran berubah jadi mellow. Ingat, kalau Rian tak seharusnya bertanggung jawab atas semua ini.
Selama konsultasi dengan dokter, Kiran tak fokus mendengarkan. Dia diam melamun dengan tatapan kosong. Rian lah yang terus bertanya, menanyakan segala hal pada dokter. Mulai dari aktifitas, sampai makanan apa saja yang tak seharusnya dilakukan juga dikonsumsi oleh Kiran.
Selama Rian berkonsultasi, sesekali Kiran meliriknya dari sudut mata. Rian terlihat serius dan antusias saat seluruh pertanyaannya dijawab oleh dokter. Kiran bisa menemukan kepuasan di wajah Rian.
Dokter pun sempat bertanya apa keluhan yang Kiran punya. Namun, Kiran hanya menggeleng saja. Sekarang, dia sudah tak mengalami muntah-muntah lagi. Tak ada keluhan penting yang dia rasakan. Karena keluhannya, ada dalam hati.
Selesai pemeriksaan dan konsultasi, Rian dan Kiran pun pergi keluar. Biaya pemeriksaan jelas Rian yang menanggung. Dan Kiran meringis pelan, mengingat itu semua. Rian pun jadinya harus banyak berkorban untuknya. Mulai dari materi, maupun waktu.
"Mau langsung pulang? Atau mampir dulu ke suatu tempat?" tanya Rian setelah mereka berada di luar rumah sakit. Kiran diam sesaat kemudian menggeleng pelan. Wajahnya terlihat sedikit murung. Membuat Rian kebingungan. Perasaan, tadi Kiran terlihat baik-baik saja. Hanya terlihat gugup saja karena bersamanya.
"Ada yang kamu mau? Atau aku melakukan suatu kesalahan?" tanya Rian lagi. Kiran kembali menggeleng dan langsung melangkah mendekati mobil. Dia masuk ke dalam mobil mendahului Rian yang masih memikirkan perubahan sikap Kiran.
Tak menunggu lama, Rian pun menyusul Kiran masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Kiran tak bicara dan terus saja memandang keluar jendela.
"Kiran, ada makanan yang sedang kamu inginkan?" Rian kembali bertanya setelah mobil keluar dari area parkir. Kiran mengerjap pelan dan berpikir. Namun, tak ada satu pun makanan yang sedang dia inginkan sekarang. Karena sekarang, mood-nya sedang dalam suasana yang tak cukup baik.
"Tidak ada," jawab Kiran pelan dan singkat. Rian menatap Kiran sesekali dari sudut matanya. Menghembuskan nafas pelan, melihat Kiran yang seperti itu. Memang benar rupanya kalau wanita itu susah dimengerti. Apalagi yang sedang dalam masa PMS dan hamil. Benar-benar harus ekstra sabar menghadapinya.
Tak bertanya lagi, Rian pun memilih diam. Mereka tak bicara dan mengobrol selama perjalanan pulang. Dan setelah sampai di rumah, Kiran langsung keluar mobil, sedikit berlari masuk ke dalam kamar. Rian berteriak, memperingati Kiran agar tidak berlari. Namun, Kiran tak mendengarkan.
"Loh, Yan, Kiran kenapa?" Yulia bertanya heran pada menantunya, setelah melihat Kiran berlari masuk ke dalam kamar.
"Aku juga nggak tahu, Bu. Setelah diperiksa tadi, Kiran berubah jadi murung," jawab Rian yang juga kebingungan. Yulia lalu menatap pintu kamar Kiran dan menghembuskan nafas pelan. Anak itu, selalu saja begitu.
"Sudahlah. Jangan dipikirkan. Sekarang, kamu mau ke kantor lagi kan?" tanya Yulia.
"Iya, Bu. Ini vitamin dari dokter tadi. Kiran harus rutin meminumnya sehari sekali." Rian menyerahkan kantong kresek berwarna putih pada Yulia. Setelah Yulia menerimanya, Rian pun pamit untuk segera kembali ke kantor.

Komentar Buku (112)

  • avatar
    70300111058Nur Isnaini

    nice

    03/08

      0
  • avatar
    Sahrulisad Sahrul

    yuyyyy

    16/07

      0
  • avatar
    Tataaaaa

    bagusss

    12/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru