logo text

Alisya Mulai Bertindak

Malam hari, Reza datang ke rumah Alisya setelah menemukan banyak informasi tentang Andra. Alisya sedikit tak sabar untuk mendengarnya.
"Andra bekerja di perusahaan teman ayahnya. Dia menjabat sebagai CEO di sana. Perusahaan tersebut pun masih beberapa tingkat di bawah perusahaan Anda." Reza menjelaskan. Alisya terdiam, kemudian senyuman kecil terbit di bibirnya.
"Baguslah. Mudah bagiku untuk menekannya nanti jika dia berusaha menghalangi rencanaku," ucap Alisya. Reza menghela nafas pelan mendengar itu. Merasa kasihan, karena Andra tak salah apa-apa. Tapi, mau bagaimana lagi. Dia hanya sebagai bawahan yang harus mematuhi setiap perintah Alisya. Reza hanya berharap, Andra tak ikut campur yang bisa membuatnya kehilangan banyak hal karena Alisya.
"Mana Mario dan Lucas? Mereka masih belum melaporkan apa-apa lagi?" tanya Alisya.
"Mario sedang menyelidiki Alvian, Alvino dan Alvina. Sedangkan Lucas, sedang menyelidiki perusahaan Pak Hendra. Mencari skandal, yang mungkin tak mencuat ke permukaan dan bisa dijadikan sebagai tuntutan nantinya," jawab Reza. Alisya menyeringai tipis mendengar itu. Beruntung lah asisten-asistennya cerdas, tahu apa yang diinginkan oleh Alisya tanpa banyak bertanya.
"Baguslah. Aku ingin secepatnya melihat mereka menderita," ucap Alisya. Reza hanya diam mendengar itu. Balas dendam Alisya, tentu tanpa alasan. Walau bukan hal yang dibenarkan, tapi sakit hati sudah mengalahkan segalanya. Dan Alisya, bukanlah orang yang bagus untuk dilawan. Dia tak main-main untuk menghancurkan lawannya.
***
Sampai di rumahnya, Andra melamun, memikirkan ucapan Alisya. Entah kenapa, dia sedikit khawatir akan keadaan ibunya nanti. Setelah mendengar banyak berita tentang Alisya, Andra jadi tahu kalau gadis itu memang kejam. Melakukan apapun asal balas dendamnya terlaksana kan.
Selama mengetahui keberadaan sang ibu, Andra hanya tahu ibunya sudah menikah dan memiliki anak lagi. Andra tak tahu, kalau ternyata ibunya merebut suami orang. Andra tak tahu, kalau ternyata ibunya menghancurkan rumah tangga orang lain. Tak di sangka oleh Andra, dia akan bertemu dengan anak dari wanita yang sudah disakiti oleh ibunya. Dan sekarang, dia pun mendapatkan peringatan keras dari Alisya.
Wajah panik dan gelisah tak bisa Andra sembunyikan. Panji, yang melihat itu merasa keheranan. Akhirnya dia pun bertanya pada sang anak yang terlihat gelisah di ruang keluarga.
"Andra, ada apa?" Panji datang dengan ART yang mendorong kursi rodanya. Kemudian mereka ditinggalkan berdua di sana.
"Kamu terlihat gelisah dan panik. Ada masalah apa?" tanya Panji lagi. Kepala Andra menunduk dalam mendengar itu. Tak tahu bagaimana respon sang ayah jika tahu hal ini.
"Aku bertemu dengan ibu tadi," jawab Andra pelan. Ekspresi Panji langsung berubah saat mendengar itu. Kemudian dia menghela nafas pelan.
"Baguslah." Panji merespon singkat. Andra lagi-lagi terdiam melihat respon ayahnya. Dia tahu, ada luka dalam diri ayahnya karena ditinggalkan dulu oleh sang ibu. Sulit untuk melupakan, walau bibir sudah berkata memaafkan. Sakit itu tak akan mudah hilang.
"Yah, aku harus bersikap seperti apa saat bertemu ibu?" Andra bertanya pelan.
"Seburuk dan sejahat apapun Sarah, dia tetap ibumu. Sebisa mungkin hormati dia dan perlakukan dia dengan baik. Jangan membencinya. Jangan isi hatimu dengan perasaan buruk dan negatif," ucap Panji bijak. Dia tak mau membuat anaknya membenci Sarah. Masalah luka yang pernah ditorehkan Sarah dulu, cukup dia yang merasakan. Karena Panji tahu, semakin Andra dewasa, maka Andra akan semakin tahu mana yang baik dan buruk. Apalagi, Andra tahu dan ingat kalau Sarah meninggalkan mereka berdua dulu.
Andra hanya diam mendengarkan. Salut pada sang ayah yang tak pernah mendoktrin dirinya untuk membenci sang ibu. Karena itu, walau kecewa atas apa yang dilakukan ibunya dulu, Andra tak bisa sepenuhnya membencinya. Makanya, dia merasa khawatir saat tahu sang ibu sekarang sedang menjadi target Alisya untuk dijatuhkan dan dibuat hidup menderita.
***
Desti, sekretaris Rama masuk dengan cepat dan terburu-buru ke dalam ruangan sang bos. Rama dan Radit yang sedang berdiskusi terlihat terkejut. Menegur Desti, yang masuk tanpa izin.
"Maaf, Pak! Tapi ini masalah serius," ucap Desti. Ekspresi wajahnya yang terlihat panik, membuat Rama dan Radit keheranan. Akhirnya, Desti pun memperlihatkan sebuah artikel yang memuat berita tentang skandal perusahaan mereka, Herlangga Empire.
Seorang mantan karyawan Herlangga Empire yang tak disebutkan namanya, mengungkap tentang pelecehan yang pernah dia alami di perusahaan tersebut.
Rama dan Radit membelalak kaget membaca paragraf pertama. Dengan tak sabar, mereka pun membaca artikel tersebut sampai habis. Tak percaya, skandal yang diperkirakan terjadi lima tahun yang lalu kini muncul ke permukaan.
"Saya sudah cek, dan banyak media yang mengunggah berita ini. Dengan adanya berita skandal ini, harga saham bisa anjlok, bahkan para investor bisa saja menarik seluruh saham mereka," jelas Desti. Rama dan Rangga diam merenung, memikirkan hal tersebut.
"Siapa yang melalukan ini?" tanya Rama. Radit diam, karena dia pun tak tahu siapa yang melakukan hal ini. Padahal, skandal ini susah payah dia dan Rama tutupi dulu. Tapi, kenapa dengan mudah terkuak?
Saat suasana sedang hening dan tegang, tiba-tiba telepon Rama berdering nyaring. Dia mengambilnya, dan langsung mengangkat panggilan tersebut tanpa membaca nama yang menelepon.
"Halo, Kak Rama. Sudah baca artikel terbaru?"
Suara itu, Rama sangat mengenalnya. Giginya bergemeletuk, merasa marah. Kini dia tahu siapa biang dari berita skandal tersebut.
"Kok diam saja? Kaget pasti ya? Haha. Aku turut prihatin."
"Diam kau! Apa maumu hah?!" Rama terlihat emosi, sampai dia berdiri. Radit dan Desti hanya memperhatikan, karena mereka tak tahu siapa yang menghubungi Rama.
"Aku sudah berbaik hati hanya meminta 40 miliar saja. Tapi kalian tak memberikannya. Jadi, jangan salahkan aku atas semua ini."
"Sialan! Kau pikir kau bisa menang hanya dengan hal seperti ini?!"
"Kak, aku sudah bilang kalau aku akan  melakukan apapun demi kalian semua."
"Dasar sombong. Kau tak tahu siapa aku sebenarnya!"
"Begitu kah? Baiklah. Tunjukkan padaku. Jangan sampai malu sendiri."
Sambungan telepon terputus, dan Rama langsung berteriak marah. Radit berdiri, berjalan mendekati Rama.
"Ada apa?" tanya Radit. Rama diam sesaat, menatap keluar jendela dengan tajam.
"Alisya. Dia yang melakukan ini semua."

Komentar Buku (148)

  • avatar
    Sahrulisad Sahrul

    ok sangat bagus

    16/07

      0
  • avatar
    PabedilanNuri

    sangat bagus

    27/05

      0
  • avatar
    isnenandha

    mantap

    21/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru