Alisya kembali ke ruang makan dengan wajah datar. Sedangkan Andra, tak bisa berhenti untuk merasa curiga. Bantuan apa yang dimaksud oleh Axel? Apa saja yang mereka lakukan di kamar Axel? Semua pertanyaan itu terus berputar dalam benak Andra tanpa mendapatkan sebuah jawaban. Selesai makan siang, Alisya pamit pulang pada David. David pun membiarkan mereka pulang, karena dia juga ada acara setengah jam lagi. Sedangkan Axel, tak menampakan wajah di depan Andra. Dan itu semua membuat Andra semakin berprasangka buruk. Sampai di rumah, Alisya langsung masuk ke kamarnya. Menyimpan tasnya dan mengisi baterai ponselnya. Andra mengikuti gadis itu masuk ke dalam kamar. Dan wajah Andra, terlihat tak bersahabat. Dia tak suka, saat Alisya keluar dari kamar Axel tanpa rasa bersalah sedikit pun, sedangkan dirinya terus dihantui pikiran buruk. "Ada yang mau kamu katakan?" Alisya bertanya seraya duduk di pinggir ranjang. Menatap Andra, yang berdiri beberapa langkah di depannya dengan wajah kusut tak enak dipandang. Sebenarnya, Alisya sudah bisa menerka kalau perubahan sikap Andra sekarang pasti karena interaksinya dengan Axel tadi. Tapi, Alisya ingin Andra mengatakannya sendiri. "Apa yang kamu lakukan dengan dia di kamar?" tanya Andra dengan suara rendah. Alisya menatap kekasihnya tersebut cukup lama, kemudian menjawab. "Dia hanya meminta pendapatku saja tentang baju yang akan dia pakai. Itu saja," jawab Alisya dengan mudah. Tak ada rasa bersalah di wajahnya, membuat Andra meradang. Walaupun itu sebuah kebenaran, Andra tetap tak terima saat tahu Alisya berada di kamar berdua dengan seorang laki-laki lain. Apalagi saat tahu kalau mereka pernah akan dinikahkan oleh David. "Kamu cemburu, Ndra?" tanya Alisya. "Haruskah aku menjawabnya?" tanya Andra disertai giginya yang bergemeletuk. Alisya menatap Andra lama, dan dia tahu kekasihnya tersebut marah. Terlihat dari rahangnya yang mengeras. Alisya berdiri lalu berjalan mendekati Andra. Tangannya kemudian bergerak menyentuh pipi Andra dan mengusapnya dengan lembut. Alisya tak gugup saat melakukan itu. Karena dia senang jika bisa melakukan kontak fisik lebih sering dengan Andra. "Aku menjawab dengan jujur. Tak ada lagi yang terjadi. Kamu tak percaya?" bisik Alisya. Kini tangannya turun menyentuh dasi Andra, dan merapikannya. Alisya bisa mendengar hembusan nafas kasar di atas kepalanya. Disusul dengan tangan Andra yang merangkul pinggangnya. Wajah pria itu bersembunyi di ceruk lehernya. Dan Alisya tak bisa menahan senyuman. "Jangan lakukan hal yang sama. Kamu tidak tahu betapa susahnya aku menahan diri untuk tak menyusulmu," gumam Andra. Alisya terkekeh pelan mendengar itu. Tangannya bergerak memeluk punggung tegap sang kekasih. Begini kah rasanya dicintai? "Hei. Hubunganku dengan Axel tak sebaik yang kamu kira," ungkap Alisya. Dia mengurai pelukan, menatap lekat mata Andra yang sayu. "Dan kamu ingin aku percaya?" tanya Andra tak suka. "Ya, kamu harus percaya. Karena itu kenyataannya. Aku dan Axel jarang akur." Alisya berusaha menjelaskan secara jujur. Namun, sulit bagi Andra untuk percaya. Dia masih tak rela jika Alisya berdekatan dengan Axel. Alisya menatap Andra dengan lekat, dan tahu kalau pria itu tak akan percaya begitu saja. Biarlah, suatu hari nanti Andra juga akan melihatnya sendiri. Tangan Alisya beralih ke leher Andra, menariknya untuk menunduk. Kemudian, dengan berani Alisya mengecup bibir Andra. Hanya kecupan singkat saja. Setelahnya Alisya tertawa pelan. Akhir-akhir ini rasanya dia berubah jadi lebih riang. Mungkin, karena beban berat yang selama ini dia tanggung sudah terlepas. "Ada yang lucu?" tanya Andra heran saat melihat Alisya tertawa tanpa alasan. "Kamu. Kamu lucu jika seperti ini," jawab Alisya. Dengan gemas, dia mencubit pipi Andra. Setelah itu, Alisya berbalik hendak melihat ponselnya. Namun Andra tak membiarkan. Menarik Alisya dalam sekali gerakan hingga kekasihnya tersebut terkunci dalam pelukannya. Kepala Andra menunduk, langsung meraih bibir Alisya. Ciumannya sarat akan emosi yang mendalam, yang bisa Alisya rasakan. Alisya membiarkan Andra melakukan apa yang pria itu inginkan. Dia sadar, telah membuat pria itu marah. Jadi, mungkin itu bisa mengurangi sedikit kemarahannya. Setelah beberapa saat, kepala Andra menjauh dari Alisya. Kemudian dia mencium kening Alisya dengan lembut, dan mengeratkan pelukannya. Sungguh, dia takut kehilangan gadis itu. Dia tak mau jika Alisya sampai jatuh hati pada Axel kalau mereka terlalu sering bertemu dan berinteraksi. "Hei. Mau tidur siang? Rasanya aku mulai mengantuk." Alisya berucap. Andra menatapnya sesaat, kemudian mengangguk. Pelukan mereka terlepas, dan Alisya langsung merebahkan diri di atas ranjang. Sementara Andra, melepaskan jas dan dasinya terlebih dahulu hingga akhirnya menyusul Alisya ke atas ranjang. *** Pagi ini, Andra dan Alisya sama-sama bersiap untuk pergi ke perusahaan yang sama, yaitu FC Company. Reza sudah mengatur jadwal rapat dengan para direksi untuk mengumumkan pergantian kepemimpinan secara resmi. Andra menatap bayangan dirinya di cermin, dan entah kenapa dia merasa gugup. FC Company adalah perusahaan besar, dan hari ini dia akan menjadi CEO-nya. Andra tak mengerti kenapa bisa Alisya mempercayakan kepemimpinan perusahaan besar itu padanya, yang tak ada andil apapun dalam perusahaan tersebut. "Sudah siap? Ayo kita berangkat!" Alisya berbicara dengan semangat. Seruannya barusan membuyarkan semua lamunan Andra. Andra berusaha menampilkan senyum terbaik, agar Alisya tak melihat kegelisahannya. Alisya mendekat dan langsung menggandeng lengan Andra dengan mesra. Mereka keluar dari kamar bersamaan menuju ruang makan. Sebelum ke perusahaan, perut mereka harus diisi terlebih dahulu. Itu adalah salah satu kebiasaan Alisya. Tidak pernah melewatkan jam makan. Para ART di rumah Alisya, juga para bodyguard-nya sudah tak aneh lagi memang dengan kebersamaan Alisya dan Andra. Setiap Andra menginap, pasti mereka selalu tidur di kamar yang sama. Walau begitu, mereka tak pernah melakukan hal yang lebih dari sekedar pelukan dan ciuman bibir saja. Pernah sih hampir kelewatan sekali, tapi tak sampai terjadi hal yang lebih lagi. Pagi ini, wajah Alisya terlihat sangat cerah. Mengingat Andra akan menjadi CEO di FC Company, Alisya sangat senang. Dengan fakta tersebut, dia bebas mengunjungi Andra kapan saja. Dia bebas mengajak Andra kemana pun walau belum jam istirahat. Dan mereka bebas bermesraan tanpa takut akan orang-orang di perusahaan itu. Tentu saja karena Alisya pemiliknya. Dia bebas melakukan apapun yang dia inginkan. Dan Alisya sudah tak sabar untuk momen itu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ok sangat bagus
16/07
0sangat bagus
27/05
0mantap
21/05
0Lihat Semua