Seperti sebuah keberuntungan bagi Andra memiliki ibu tiri seperti Laila yang sangat baik dan pengertian. Saat dia sudah mulai bingung akan sikap sang ayah yang tak berubah pada Alisya, kini Andra merasa mendapatkan dukungan. Karena Laila selalu berkata, akan mendukung segala pilihan Andra. Besok, adalah persidangan kedua bagi keluarga Erlangga. Persidangan yang akan membahas dan mengusut tuntas semua kejahatan keluarga Erlangga di pengadilan negeri. Semua korban mereka pun sudah diberi tahu oleh Alisya tentang jadwal persidangan. Para korban akan bersaksi, agar penjahat yang menghancurkan hidup mereka mendapatkan hukuman yang setimpal. Malam ini, Andra pulang ke rumah ayahnya. Sebenarnya, Alisya melarangnya untuk pulang, berkata ingin berangkat bersama ke pengadilan besok. Namun, ada satu hal yang harus Andra katakan pada ayahnya. Selesai makan malam bersama dengan ayah dan ibu barunya, Andra tetap di sana dan tak langsung pergi. Panji memperhatikan gerak-gerik Andra yang seperti ingin mengungkapkan sesuatu. Hingga akhirnya, dia pun tetap diam di kursinya. Menatap Andra dengan serius. "Ada yang mau kamu katakan?" Panji bertanya. Andra mengangkat kepalanya, menatap mata sang ayah. Sedikit gugup, karena Andra sudah menebak bagaimana reaksi ayahnya nanti. Laila yang baru selesai membereskan piring ikut duduk di samping Panji. Penasaran apa yang akan dikatakan oleh anak tirinya tersebut. "Aku akan berhenti kerja di perusahaan Om Farhan." Satu kalimat yang berhasil Andra katakan, namun membuat Panji terkejut setengah mati. Tubuhnya langsung tegak, menatap Andra dengan mata melebar tak percaya. "Apa maksudmu?!" bentak Panji marah. "Aku akan berhenti kerja di perusahaan Om Farhan, Yah. Aku akan mencari kerja di perusahaan lain." Andra mengulangi perkataannya. "Kamu gila, Andra?! Farhan yang sudah membantu kita. Dia bahkan sudah membiayai sekolahmu sampai kamu menjadi seorang sarjana!" "Aku tahu, Yah. Tapi, aku sudah meminta izin pada Om Farhan untuk berhenti kerja tadi sore. Dan Om Farhan mengizinkan. Beliau yang akan menjadi CEO mulai besok." Panji memegangi kepalanya yang mendadak terasa pusing setelah mendengar pengakuan dari Andra. "Ini pasti gara-gara perempuan itu. Kamu sudah dihasut olehnya," ucap Panji menyalahkan Alisya. "Yah, jangan bawa-bawa Alisya dalam masalah ini. Ini semua adalah keputusanku. Alisya bahkan tak tahu aku melakukan ini semua," ucap Andra tak terima. Panji kini menatap Andra dengan tajam. "Terus saja kamu membelanya!" bentak Panji marah. Andra sudah menduga ini akan terjadi. "Mas, tenanglah." Laila memegang bahu suaminya dan mengelusnya pelan, berusaha menenangkan sang suami. "Ndra, jika kamu pindah kerja, bisa saja posisi yang kamu dapatkan nanti tidak sebagus posisi di perusahaan Mas Farhan. Kamu yakin tak akan menyesal?" tanya Laila dengan hati-hati. "Tidak akan, Bu. Aku sudah memikirkan ini semua dengan matang. Aku tak nyaman bekerja di perusahaan Om Farhan setelah Chiko dipindahkan ke Surabaya. Keponakan Om Farhan yang menjadi sekretarisku lah yang membuatku tak nyaman saat bekerja," jawab Andra jujur. Namun, Panji tetap tak percaya. "Lalu kamu akan kerja dimana, Andra? Kamu pikir mencari pekerjaan itu mudah? Sudah enak-enak Farhan memberikan jabatan tinggi untukmu, kamu malah berhenti begitu saja," gerutu Panji tak terima. "Aku akan bekerja di perusahaan Alisya, Yah. Dengan jabatan yang sama." Akhirnya Andra menjawab dengan jujur. "Nah kan? Sudah pasti ini semua ada hubungannya dengan perempuan itu. Kamu dibayar berapa hingga mau-mau saja diatur olehnya? Di mana harga dirimu, Andra?" "Mas ...." "Alisya memang memintaku untuk bekerja di perusahaannya, Yah. Dan aku setuju karena aku sudah tak nyaman di perusahaan Om Farhan. Jika saja Chiko yang masih menjadi sekretarisku, aku juga tak akan mengambil keputusan ini." Andra mulai tersulut emosi karena Panji terus saja menyalahkan Alisya. Kedua tangannya terkepal erat di atas meja, dan Laila melihatnya. Oke, ini bukan kali pertama dia menyaksikan ketegangan antara suami dan anak tirinya. Tapi kali ini, rasanya lebih parah dari hari-hari kemarin. "Mas, sudahlah. Kasihan Andra jika memaksakan diri bekerja di tempat yang membuatnya tak nyaman. Lagi pula, Andra mendapatkan pekerjaan dengan jabatan yang sama. Andra tak akan jadi pengangguran. Bagiku ini bukan masalah besar." Laila akhirnya bicara, berusaha menjernihkan pikiran suaminya. Namun, Panji malah mendengus tak terima. "Andra, sebaiknya kamu pergi saja. Bukannya besok kamu akan ke pengadilan dengan pacarmu?" Laila memberi kode lewat tatapan mata agar Andra segera pergi dari sana. Biar dia yang menghadapi Panji. Akhirnya, Andra pun pamit pergi untuk kembali ke rumah Alisya. Awalnya Andra sudah berniat akan tidur di rumah ayahnya. Namun, jika keadaannya seperti ini, yang ada Andra tak akan bisa tidur. "Laila, jangan terus membela Andra. Nanti dia keenakan," tegur Panji tak suka pada istrinya. "Mas, aku bukan membela. Tapi aku mengatakan kenyataan. Kerugian apa yang didapatkan Andra dengan keputusannya tersebut? Tak ada kan? Mas Farhan sudah mengizinkan, berarti Mas Farhan tak keberatan. Andra tak akan jadi pengangguran, karena sudah pasti mendapatkan pekerjaan baru di perusahaan pacarnya." Laila berusaha menjelaskan isi pikirannya pada Panji. Panji menghembuskan nafas kasar mendengar itu. "Mas, jangan karena Mas tak menyukai pacar Andra, Mas jadi selalu memandang segala yang berkaitan dengan pacar Andra itu buruk dan salah. Mas harus bijak. Jangan terbawa perasaan pribadi," tutur Laila penuh kelembutan. Panji hanya diam mendengar itu. Namun, kobaran amarah dalam matanya mulai padam. Inilah alasan kenapa Laila menyuruh Andra pergi. Karena jika Andra yang menjelaskan, tak akan masuk ke dalam hati Panji. Yang ada sepasang anak dan ayah itu akan terus bersitegang karena masalah tak kunjung selesai. "Ayo istirahat, Mas." Laila menggandeng lengan Panji dan mengajak suaminya itu untuk istirahat. Tentu saja Panji luluh dengan ucapan Laila. Dia pun tak membahas masalah Alisya lagi, walau hatinya masih belum sepenuhnya menerima.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ok sangat bagus
16/07
0sangat bagus
27/05
0mantap
21/05
0Lihat Semua