Hari ini, Alisya berniat untuk mengunjungi Hendra yang sudah di tahan di kantor polisi. Tentu tidak sendirian, Alisya ditemani oleh Andra. Dan Andra pun memiliki niat yang sama, dia akan mengunjungi Sarah. Tidak mudah sebenarnya bagi mereka mengambil keputusan ini. Namun, Alisya maupun Andra ingin melihat mereka sedikitnya satu kali sampai persidangan nanti. Kini, Alisya sudah berada di ruangan khusus untuk menemui tahanan. Ayahnya di bawa oleh dua orang polisi dan borgolnya di lepas. Dua polisi itu menunggu di dekat pintu, mengamati dan memperhatikan. Takutnya Hendra menyerang Alisya secara mendadak. Tapi, sebenarnya Hendra juga tak memiliki pemikiran seperti itu. Alisya menatap tajam Hendra yang tak berani menatap matanya. Wajahnya memperlihatkan rasa lelah. Tentu saja ini tak akan mudah. Terbiasa bergelimang harta, kini harus tidur di atas lantai dengan makanan seadanya. Sangat kontras dengan kehidupannya kemarin-kemarin. "Jadi, bagaimana? Apakah tempat ini lebih nyaman untukmu juga keluargamu itu?" Alisya melontarkan pertanyaan dengan nada sinis. Hendra menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia tahu momen ini akan terjadi. Momen di mana harga dirinya dihancurkan sampai tak bersisa oleh anaknya sendiri. Momen di mana dia harus kuat menanggung malu yang sangat besar. "Aku tahu, kamu tidak sejahat ini. Diana adalah wanita yang baik dan aku tahu kamu juga baik. Hanya saja-" "Bagus jika kamu ingat betapa bodohnya kamu meninggalkan wanita yang baik demi seonggok sampah. Sekarang lihat sendiri. Bagaimana kualitas anak-anak yang dia lahirkan? Mereka semua hanya bisa membuat masalah dan mencoreng nama baik," desis Alisya memotong perkataan Hendra. Kepala Hendra semakin menunduk saat mendengar itu. Matanya terpejam erat, dengan lidah yang kelu. "Aku hanya meminta hakku saja yang tak pernah kamu penuhi. Tapi hasilnya? Kamu egois. Maka jangan salahkan aku jika jalur hukum yang akan aku tempuh," lanjut Alisya. Entah kenapa, rasanya lidah Alisya sulit untuk menyebut sosok di depannya dengan panggilan 'ayah'. "Milikilah semua yang tersisa. Itu milikmu dan ibumu. Tapi aku minta satu hal padamu, Alisya. Cabut tuntutanmu pada Sarah dan anak-anak. Cukup aku saja yang-" "Enak sekali. Kamu pikir aku akan mengabulkannya? Tentu saja tidak." Alisya memotong perkataan Hendra lagi dengan sinis. Hendra langsung menatap Alisya tak percaya. "Ibuku memang gambaran manusia berhati malaikat. Setelah dikhianati pun ibuku tak menuntut apa-apa. Tapi, tidak denganku. Aku tidak memiliki hati malaikat sepertinya. Aku bisa jadi malaikat, juga bisa menjadi iblis tergantung dengan siapa aku berhadapan," ucap Alisya dingin. Dia kemudian berdiri, dan tak henti menatap Hendra dengan tajam. "Sampai bertemu lagi di pengadilan. Bersiaplah untuk kehidupan baru yang akan dijalani." Setelah mengatakan itu, Alisya pergi keluar. Hendra pun kembali di bawa ke dalam sel. Dia tak bicara apapun, bahkan setelah berada di dalam sel. Saat Rama dan Radit yang satu sel dengannya bertanya, Hendra hanya diam saja. Sementara di ruangan lain, Andra masih berhadapan dengan sang ibu, Sarah. Dan sejak duduk berhadapan, Sarah tak sedikit pun menatap Andra. Dia tetap menunduk, dengan jemari bertaut gelisah. Tentu saja dia tak menyangka kalau anak dari pernikahannya dulu akan muncul di saat keadaannya sudah seperti ini. Sarah mungkin merasa malu, karena tahu kalau Andra sekarang bukan orang biasa. Itu bisa dilihat dari penampilannya. "Bu, maafkan ayah dan aku yang tak bisa membahagiakan Ibu hingga Ibu pergi. Hanya saja yang aku sesalkan, kenapa Ibu tak mengurus dulu perceraian dengan ayah sebelum menikah dengan Pak Hendra? Ibu tahu sendiri sekarang semua konsekuensi yang Ibu lakukan dulu. Semua anak Ibu berstatus anak diluar nikah karena pernikahan Ibu dan Pak Hendra tidak sah," ucap Andra. Matanya memandang sendu pada wanita yang sudah melahirkannya tersebut. Kasihan, tapi mau bagaimana lagi. Mungkin ini memang sudah waktunya bagi orang-orang yang jahat mendapatkan balasannya. Sarah masih diam tak bicara dengan kepala menunduk. Dan Andra tahu, beberapa menit ke depan pun akan tetap seperti ini. Entah sekecewa apa sang ibu padanya, hingga untuk menatapnya pun tidak mau. "Bersiaplah untuk persidangan nanti. Alisya tak akan memberikan keringanan apapun," lanjut Andra. Dia berdiri, kemudian berbalik untuk segera pergi. Namun baru dua langkah, Sarah bersuara. "Dan kamu akan membantunya menjebloskan Ibu yang sudah mengandung dan melahirkanmu ini?!" tanya Sarah dengan nada tinggi. Andra tersenyum miris mendengarnya. Alasan yang sangat klasik sekali. "Terima kasih sudah melahirkanku ke dunia ini dengan selamat dan sehat, Bu. Tapi, kejahatan tetap kejahatan. Semuanya akan mendapatkan balasan pada waktunya. Dan mungkin sekarang, bagian Ibu mendapatkan hukuman," balas Andra tanpa menengok. Setelah mengatakan itu Andra melenggang pergi keluar dari sana. Jantungnya berpacu cepat, dan terasa sangat sakit di bagian dada. Setelah lama tak bertemu, Sarah malah mengungkit masalah mengandung dan melahirkan. Memang kadang yang tak introspeksi diri selalu merasa sangat hebat setelah berhasil mengandung dan melahirkan seorang anak. Ya, itu memang hal yang hebat. Tapi, kesalahan yang dilakukan melebihi kehebatan itu. Sarah tak sadar kalau meninggalkan suami dan anak, lalu menghancurkan rumah tangga orang lain, dan juga menikahi pria lain sebelum bercerai dari suaminya itu adalah sebuah dosa. Dosa yang sangat besar. Andra menghormati Sarah sebagai ibunya. Namun kejahatan tetap kejahatan. Dan sekarang, sudah waktunya keadilan untuk Alisya dapatkan. Sudah cukup lama dia menderita selama ini. Sudah waktunya dia bebas karena semua yang jahat padanya mendekam di balik jeruji besi.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ok sangat bagus
16/07
0sangat bagus
27/05
0mantap
21/05
0Lihat Semua