logo text

Keinginan Alisya Yang Sebenarnya

Pagi hari, Alisya terbangun dan tak melihat Andra di kamarnya. Dia tak peduli, berpikir mungkin pria itu sudah pulang. Semalam, Andra tidak tidur di ranjang, melainkan di sofa. Tentu saja, itu atas perintah Alisya. Dan beruntungnya, kali ini Andra menurut.
Alisya bangun, meringis pelan seraya memegangi lehernya yang sakit. Ah, harusnya sekarang dia minum obat pereda nyeri. Baru saja kedua kaki Alisya turun, pintu kamarnya terbuka. Andra masuk dengan tangan memegang nampan. Dia sengaja membawakan makanan untuk Alisya. Alisya yang melihat itu merasa tak percaya. Andra mau melakukan itu untuknya?
"Makanlah. Setelah itu minum obat agar lehermu tak sakit lagi," ucap Andra seraya menyimpan nampan di atas laci. Bukannya langsung pergi, Andra malah sengaja duduk di samping Alisya.
"Andra, seharusnya kau sudah pulang sejak tadi. Kenapa masih di rumahku?" tanya Alisya.
"Aku hanya ingin memastikan kamu makan saja, Alisya. Setelah kamu makan dan minum obat, aku akan pergi," jawab Andra. Alisya terdiam dan menggeleng pelan. Sungguh, dia bingung dengan segala sikap Andra.
Alisya mengambil piring berisi nasi dan menuang sup ayam yang di bawa Andra. Alisya tentu tahu ini adalah masakan ART-nya. Tak mungkin Andra bisa masak.
"Tadi pagi-pagi sekali Reza datang. Tapi tak lama karena dia langsung pergi lagi." Andra berbicara, melapor.
"Dia mengatakan sesuatu?" tanya Alisya. Andra mengangguk pelan.
"Reza sudah menemukan orang yang membantu ayahmu dan ibuku untuk memalsukan data hingga pernikahan mereka bisa tercatat oleh negara. Reza bilang, dia baru menemukan orang tersebut, dan belum menginterogasinya. Reza menunggu perintah darimu." Andra menjelaskan. Alisya terdiam sesaat mendengar itu, lalu kembali fokus pada makanannya.
"Bagus. Tak salah aku menjadikan dia orang kepercayaan," gumam Alisya. Setelah cukup lama, nasi di piring Alisya pun habis. Andra lalu menyerahkan obat pada Alisya dan Alisya langsung menenggaknya dengan segelas air.
"Istirahatlah. Jangan terlalu banyak beraktifitas, apalagi berteriak. Itu tak baik untuk penyembuhan lehermu," ucap Andra. Alisya mendecih pelan saat tahu kalau Andra menyindirnya. Memang, semalam Alisya sering berteriak marah dan kesal pada Andra.
"Hm." Alisya hanya membalas dengan gumaman saja. Kemudian Alisya kembali berbaring di atas ranjang. Andra pun keluar dari kamar Alisya, membawa piring bekas makan gadis itu. Ajaib sekali Andra melakukan semua ini demi Alisya.
Karena harus berangkat ke kantor, Andra pun langsung pulang dan hanya berpamitan pada ART saja. Mobilnya terparkir rapi di garasi rumah Alisya. Dan yang menyimpan mobilnya ke sana adalah salah satu bodyguard Alisya yang setia berjaga di depan gerbang.
Seharusnya, Andra tak perlu khawatir pada Alisya. Toh, rumah Alisya selama 24 jam selalu di jaga oleh para bodyguard yang berjaga bergantian. Samping, depan sampai belakang rumah semuanya di jaga dengan ketat. Jadi, kemungkinan penyusup masuk sangat kecil.
Dari Reza juga tadi, Andra tahu kalau semua orang yang bekerja pada Alisya adalah orang-orang dari kalangan tidak mampu, yang sama juga merupakan tulang punggung keluarga. Jadi secara tak langsung, sebenarnya Alisya membuka lowongan pekerjaan bagi banyak orang.
Pantas saja banyak yang mau jadi bawahan Alisya, walau tahu kalau tabiat Alisya tak secantik wajahnya. Dan para bodyguard Alisya, semuanya dilatih lebih dulu sebelum di pekerjakan.
Sebenarnya, mungkin Alisya tak sejahat dan semengerikan seperti yang selalu diceritakan oleh orang-orang. Hanya saja, dia memang tak akan memberi ampun pada orang yang sudah dia anggap musuh dan saingan. Dan Andra, tak tahu posisinya apa sekarang. Apakah dia menjadi sekutu Alisya?
***
Saat jam makan siang, Andra memiliki niat untuk mengunjungi Alisya. Namun tak disangka, ternyata Reza menghubungi dan meminta untuk bertemu. Karena penasaran kenapa Reza mengajaknya bertemu, Andra pun menerima ajakannya. Dan mereka sudah janjian akan bertemu sekalian makan siang di sebuah restoran yang dekat dengan kantor Alisya.
Reza, bukanlah orang dengan perawakan besar seperti binaragawan. Menurut Andra, tubuh Reza masuk kategori ramping, walau tak sekecil itu.
"Jadi, sejak kapan kamu menjadi asisten Alisya?" Andra bertanya setelah menyeruput kopi hitamnya. Menatap Reza yang duduk di hadapannya.
"Sejak lima tahun yang lalu. Pengacara Bu Diana mempercayakan saya untuk menjadi asisten Nona Alisya." Reza menjawab dengan formal. Andra merasa tak nyaman sendiri saat mendengarnya.
"Jadi, apa yang mau dibahas?" tanya Andra lagi.
"Ini tentang gugatan yang akan dilakukan Nona ke pengadilan. Saya hanya ingin meminta Pak Andra untuk bisa membujuk Nona Alisya agar segera mengajukan gugatan terhadap keluarga Erlangga." Reza berbicara dengan serius. Alis Andra mengerut mendengar itu.
"Kenapa harus segera?" tanya Andra heran.
"Saya hanya khawatir akan keselamatan Nona Alisya. Pak Rama jelas tak akan diam saja setelah apa yang dilakukan Nona."
"Lalu, apa kamu tahu alasan Alisya masih belum mengajukan gugatan itu ke pengadilan?" Andra bertanya lagi. Reza menghela nafas pelan sebelum memberikan jawaban.
"Tidak. Saya hanya menerka, mungkin sebenarnya Nona Alisya masih menunggu. Berharap Pak Hendra dan Pak Rama mengalah, dan memberikan sejumlah uang yang diminta," jawab Reza pelan. Andra semakin bingung mendengar itu.
"Apa? Kenapa begitu? Padahal jika mengajukan gugatan, Alisya memiliki kemungkinan besar untuk menang di pengadilan dan dia bisa memiliki seluruh kekayaan Pak Hendra." Andra berkata dengan bingung.
"Saya tahu. Inilah yang sebenarnya tidak diketahui banyak orang. Sebenarnya, Nona Alisya itu merupakan orang yang tidak tegaan. Walau selalu bersikap kasar dan sombong pada Pak Hendra, sebenarnya Nona Alisya tak benar-benar ingin menghancurkan Pak Hendra. Hanya satu yang diinginkan Nona Alisya. Yaitu diakui anak oleh Pak Hendra." Andra tertegun mendengar penjelasan Reza. Seperti itukah Alisya yang sebenarnya?
"Memangnya, Pak Hendra tak mengakuinya sebagai anak?" Andra bertanya dengan hati-hati.
"Ya. Nona Alisya pernah melakukan tes DNA, untuk membuktikan kalau dirinya memang anak kandung Pak Hendra. Hasilnya memang akurat, tapi Pak Hendra tetap tak mengakui Nona Alisya sebagai anak. Dan ya, itu juga karena hasutan dari Bu Sarah." Andra menghembuskan nafas kasar mendengar itu. Lagi-lagi ibunya yang jadi biang masalah.
"Baiklah. Aku akan mencoba membujuknya." Andra memutuskan. Reza terlihat lega mendengar itu. Dia pun tak lupa mengucapkan terima kasih pada Andra.

Komentar Buku (148)

  • avatar
    Sahrulisad Sahrul

    ok sangat bagus

    16/07

      0
  • avatar
    PabedilanNuri

    sangat bagus

    27/05

      0
  • avatar
    isnenandha

    mantap

    21/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru