Beranda/Emperor Quan's Consort/
Bab 5
Dari tadi Mei mondar-mandir di dalam kamarnya cemas karena hari ini adalah hari kebahagiaan semua orang namun tidak dengan dirinya.
Mei ingin kabur atau pun pura-pura sakit tapi rasanya sia-sia saja.
Bagaimana ini apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau menikah! jerit Mei Ling.
Creekk
Pintu terbuka dan nampaklah seorang pria tua yang gendut. Pria yang selalu memberikan Mei kasih sayang serta sosok ibu bagi Mei. Siapa lagi kalau bukan ayahnya tercinta, Zhang Ling.
"Sayang, apakah kau sudah bersiap? Ayo kita pergi." ajak Zhang Ling sembari mengandeng tangan Mei.
Berat rasa kaki Mei untuk melangkah tapi mau bagaimana lagi. Jalan buntu. Tidak ada jalan keluar lagi.
Iringan langkah kaki Mei serempak dengan iringan langkah kaki Zhang Ling. Mei melakukan itu agar hatinya tidak merasa cemas dan dapat menemukan jalan keluar.
Mei melirik ke sana kemari berharap ada celah untuknya, tapi nihil! Seluruh sudut kerajaan dipenuhi dengan prajurit.
Mei menghembuskan napasnya pasrah dan menerima keadaan. Diam-diam Mei juga memperhatian hiasan yang memenuhi ruangan yang sangat luas dan besar. Perpaduan warna merah dan emas merupakan ciri khas orang Tionghoa.
Banyak hiasan yang tak kalah cantik di zaman modern dan hal itu sukses membuat Mei sedikit kagum dan berbinar. Jangan lupa pandangan sinis dari beberapa orang yang iri serta tak suka kepadanya.
Di depan matanya sendiri, Mei dapat melihat sosok pria yang akan menjadi suaminya kelak.
Mei akui pangeran Quan sangat menawan di tambah dengan hanfu merahnya yang melekat sempurna di tubuh tinggi nan tegapnya sungguh sangat memikat dan pastinya membuat hati para kaum hawa akan dipenuhi bumbu cinta ketika melihatnya.
Dengan langkah jenjangnya, Quan melangkah menghampiri Mei dan Zhang Ling. Setelah sampai, sembari memberi hormat kepada ayah mertuanya Quan langsung menggandeng tangan Mei dan membawanya berjalan menuju altar bersama-sama.
Seumur hidup Mei, dirinya tak dapat menyangka akan menikah di umur yang masih terbilang muda.
Setelah melakukan banyak adat serta tetek bengek ritual pernikahan yang sejujurnya tidak Mei ketahui, akhirnya Quan dan Mei resmi dan sah menjadi sepasang suami istri.
Quan membimbing Mei dan membawanya di hadapan Baginda Kaisar dan Ibu Ratu.
"Salam Ayah Kaisar. Salam Ibu Ratu."
Quan dan Mei serempak memberi hormat serta berlutut di hadapan Baginda Kaisar serta Ibu Ratu.
Mei dengan anggunnya memberi salam serta tersenyum manis seperti ajaran dari guru utusan Ibu Ratu.
"Bagaimana? Menyenangkan bukan?" bisik Quan sembari duduk di atas kursi yang sudah disiapkan untuk pasangan pengantin baru itu.
Mei menoleh dan tersenyum masam menanggapi bisikan Quan, "Ya mau bagaimana lagi, lumayan." jawab Mei dengan santai.
Quan menatap datar Mei dan mengalihkan pandangannya sembari berdecih tak senang mendengar jawaban Mei.
Saat ini Mei sedang berusaha menutupi kegugupannya. Rasanya seperti ingin mati saja.
"Para hadirin tamu undangan. Silahkan menikmati hidangan yang telah kami sediakan!"
Suasana sangat meriah. Di tambah lagi dengan alunan musik serta para penari yang menghibur para tamu membuat kemeriahan semakin berlipat ganda.
Tak hanya itu, hidangan yang disediakan sangat mengugah selera makan Mei dan benar saja tanpa tahu malu Mei dengan lahapnya makan mengabaikan tatapan aneh dari Quan.
Bahkan dalam sekejap, Mei lupa ajaran yang disampaikan gurunya itu.
Mei dapat merasakan tatapan tajam dari para gadis. Tidak bukan hanya para gadis saja, Mei rasa hampir seluruh penduduk kota Yucheng tidak menyukainya.
Kesialan apa yang menimpamu wahai Mei Ling. batin Mei.
"Apa kau ingin menari bersamaku?" tanya Quan.
Mei melihat Quan dengan tatapan malasnya. Jangankan menari, di zaman modern berdansa saja dia tidak tau.
"Tidak terima kasih." tolak Mei dengan cepat.
"Baiklah kalau begitu aku akan menari dengan gadis lain saja."
"Silahkan." balas Mei dengan santai.
Quan mengeram kesal tidak senang dengan jawaban yang dilontarkan Mei. Bagaimana tidak, wanita yang telah resmi menjadi istrinya malah mengizinkan suaminya bersama wanita lain. Aneh sekali.
Quan yang awalnya berdiripun langsung mendudukkan bokongnya dengan kasar.
"Kakak Quan!"
Mei menoleh dan mendapati seorang gadis yang lebih muda darinya dengan wajah yang sangat imut berlari kecil berhamburan memeluk Quan dengan manja.
"Kakak Quan kau tampak sangat tampan sekali!" puji Wuan Chu, anak Penasihat Kaisar.
"Hn." jawab Quan dengan singkat.
"Aku terkejut ternyata wanita yang kakak pilih itu kakak Mei, aku pikir kakak Cuang Yarou." ujar Wuan.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Quan dengan raut wajah tak senang.
"Ya habisnya kak Cua itu lembut dan anggun di tambah lagi sangat pandai bermain kecapi. Bahkan kak Cua tak segan-segan mengajariku bermain kecapi." jelas Wuan panjang lebar.
Cih dasar bocah sialan. geram Mei Ling.
"Pergilah!" usir Quan.
"Kenapa? Aku masih ingin di sini bersama kakak Quan." tolak Wuan.
"Aku bilang pergi!" geram Quan.
Wuan tampak cemberut dan pergi meninggalkan keduanya. Mei dapat melihat sekilas tatapan tidak suka dari wajah Wuan.
Seperti biasa, Mei hanya bisa mengabaikannya. Bagai Mei, Wuan hanyalah anak kecil jadi tidak repot untuk mengurusnya kalau sewaktu-waktu dia menganggu Mei.
"Maaf ucapannya sebelumnya, dia masih kecil." ujar Quan.
"Tidak masalah. Lagi pula yang dikatakannya memang benar seharusnya kau memilih gadis yang berbakat bukannya aku!" balas Mei Ling.
Tiba-tiba Quan memegang pergelangan tangan Mei dan meremasnya membuat Mei meringis kesakitan.
"Apa katamu? Sekali lagi kau mengatakan itu akan aku terkam kau sekarang juga!" ancam Quan.
Mei merinding membayangkan Quan yang akan menerkamnya hidup-hidup serta merobek tubuhnya yang mulus. Itulah yang dipikiran Mei.
Lain lagi dipikiran Quan. Quan memikirkan bagaimana rencananya malam nanti untuk menerkam Mei sehingga membuatnya tak berdaya. Memikirkannya saja sudah membuat Quan bersemangat.
"Dasar gila!" gumam Mei.
"Apa katamu?" tanya Quan yang mendengar gumaman Mei.
"Tidak ada, lupakan!" elak Mei.
Bukannya berbincang atau bermesraan, Quan dan Mei malah berdebat kecil di hari pernikahan mereka.
Pasangan yang sangat serasi sekali. gumam Xiao Wu, pangeran pertama yang sedari tadi melihat keakuran pengantin baru itu.
Setelah semuanya selesai, Mei berjalan menuju kamar dengan Quan di belakangnya. Tapi setelah sampai di perbelokan, bukannya berbelok sebelah kiri Mei malah memilih untuk berbelok sebelah kanan.
"Kyaaa...." pekik Mei saat Quan tiba-tiba mengendongnya di pundak.
"Turunkan aku sialan!" geram Mei sambil memukul bahu Quan dengan sekuat tenaganya tapi hal itu tak berarti untuk Quan.
"Kau mau ke mana? Arah kamar kita di sebelah sana." tunjuk Quan.
"Iya aku tau."
"Lalu kenapa kau berbelok di sebelah kanan tadi?" tanya Quan.
"Aku ingin ke dapur."
Mendengar jawaban Mei sukses membuat Quan berhenti mendadak, "Apa yang kau lakukan di sana?"
"Aku ingin makan. Aku lapar!" teriak Mei.
Quan menutup mulutnya dan tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan istrinya itu.
"Kau lapar? Lagi? Padahal tadi kau barusan makan. Perutmu sebesar apa memang? Makan banyak tapi tubuhmu masih kecil!" ejek Quan.
Mendengar ejekan Quan membuat Mei murka, "Jangan mengejekku sialan! Dan sekarang turunkan aku!"
"Memangnya apa lagi yang ingin kau lakukan? Pesta sudah selesai." balas Quan dengan santai sambil berjalan dengan cepat menuju kamarnya.
"Iya aku tau tapi biarkan aku berjalan sendiri jangan memikulku seperti ini." jerit Mei.
"Tidak! Kalau aku membiarkan kau berjalan sendirian, nanti kau malah kabur."
Plak!
"Aww...!" Mei meringis saat Quan menampar bokongnya.
"Menjeritlah sayang." goda Quan.
"Dasar gila, tukang mesum, berengsek, sialan!" geram Mei.
"Lengkap sekali, tapi nanti aku mau kau cukup mendesah saja." bisik Quan dengan vulgar sambil menurunkan Mei di tempat tidur.
Quan mulai membuka penutup wajah yang dikenakan Mei. Lama Quan menatap Mei membuat Mei gugup setengah mati.
"Ganti bajumu, ayo kita mandi air panas bersama." ajak Quan.
Mendengar ajakan Quan, dengan cepat Mei menggelengkan kepalanya. Mei dapat merasakan ancaman kalau menerima ajakan dari Quan.
"Kenapa? Kau tidak mau melakukannya di sana? Atau... Kau mau sekarang ya? Ternyata istriku ini agresif sekali." ejek Quan.
"Diam sialan!" teriak Mei.
"Baiklah baiklah, aku akan pergi duluan. Jangan lupa untuk menyusulku kesana."
Quan pergi meninggalkan Mei yang semakin salah tingkah. Mei dapat merasakan rona merah mulai memenuhi wajahnya. Mei yakin, saat ini wajahnya pasti sudah semerah kepiting rebus.
Tak lama setelah itu Quan datang dengan hanfu tidur yang digunakannya. Sangat menawan. Hal itu yang terlintas di benak Mei.
"Kenapa kau tidak menyusulku hah?" tanya Quan dengan geram.
"Ah maaf, tadi aku sibuk membuatkanmu minuman." jawab Mei sambil memberikan Quan segelas teh hangat.
"Kau ingin menyemangatiku ya." ujar Quan tanpa ragu langsung meminum teh yang diberikan Mei.
"Ayo kita langsung mulai saja." ajak Quan setelah meminum teh yang Mei berikan.
Quan mendorong pelan tubuh Mei di atas tempat tidur sehingga Mei terbaring dengan Quan yang berada di atas tubuhnya.
Dengan lembut Quan membelai pipi Mei sampai di bibir mungil Mei dan hal itu sukses membuat Mei membeku tak mampu menggerakan tubuhnya karena saking gugupnya.
Perlahan tapi pasti Quan mendekatkan wajahnya di wajah Mei sehingga bibir mereka hampir bertemu.
Tiba tiba.
Krukk...!
Perut Quan berbunyi. Quan memegangi perutnya yang terasa mulas.
"Awww....." jerit Quan.
"Ada apa Quan? Kenapa kau menjerit?" tanya Mei.
"Pe...perut ku...mulas sekali..." jerit Quan sambil berlari keluar kamar meninggalkan Mei sendirian.
"Berhasil!" sorak Mei kegirangan sambil melompat kegirangan di atas tempat tidur.
"Tak aku sangka ternyata obat ini berguna juga." gumam Mei sambil memegangi botol kecil yang di yakini obat sakit perut.
# Flassback On
Di dalam kamar pengantin setelah kepergian Quan mandi air panas. Mei mondar mandir cemas dan otaknya tak mampu berpikir dengan jernih saat ini.
Mei merasa otak jeniusnya tiba-tiba menghilang begitu saja.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau diperkosa!" jerit Mei.
Tiba-tiba Mei teringat dengan sesuatu. Botol kecil yang Mei temukan di kamar Mia Ling.
Mei membaca tulisan di botol tersebut "Obat Sakit perut".
"Ini obat untuk menyembuhkan sakit perut atau sebaliknya?" gumam Mei.
Lama Mei berpikir sampai pada akhirnya pelayan membawakan dua cangkir teh untuk Quan dan Mei.
Untuk menjawab rasa penasarannya, Mei mengorbankan Quan untuk mencoba obat tersebut dan mencampurkannya di dalam teh milik Quan.
"Semoga berhasil." gumam Mei.
# Flassback off
"Tidak aku sangka ternyata berhasil. Kenapa Mia menyimpan obat sakit perut ya? Apa untuk mencelakaiku?" tanya Mei.
"Ya sudahlah siapa yang peduli, sekarang aku sudah bebas dari badak Quan!"
Dengan iringan langkah kaki bangga Mei menutup pintu serta menguncinya agar Quan tidak bisa masuk.
Mei mulai membersihkan tempat tidur yang berantakan karena ulah Quan sebelumnya.
Dengan santai Mei melepaskan hanfu pengantinnya dan menggantinya dengan baju tidur.
Semoga malam ini aku tidur dengan nyenyak. batin Mei sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan melupakan Quan yang sekarang sedang berjuang menyelamatkan dirinya.
Sedangkan Quan saat ini sedang memegangi perutnya yang teramat mulas dengan keringat yang bercucur deras di keningnya.
"Gadis sialan, aku tau ini pasti ulahnya. Lihat saja nanti aku akan membalasmu!" geram Quan.
********
Karena saking nyenyaknya Mei tidur sampai tak menyadari kalau Quan masuk ke dalam kamarnya sambil berkacak pinggang. Raut garangnya tak pernah lepas dari wajahnya dan langsung menggendong istrinya itu.
"Huaammm... Eh kenapa? Ada apa?" tanya Mei di tengah kebingungannya yang baru bangun.
Sinar matahari menerpa wajahnya membuat matanya silau. Dan seketika Mei langsung sadar dengan keadaan dan melihat wajah Quan yang memerah.
"Quan ada apa?" tanya Mei Ling.
"Kenapa? Tanyakan sendiri pada dirimu!" geram Quan.
Mei dapat melihat amarah yang teramat di wajah Quan dan tiba-tiba...
Byurr!
"Aaaaaa......Quan!" teriak Mei Ling.
Quan tiba-tiba menceburkan Mei Ling ke kolam kediaman Quan yang dipenuhi dengan banyak ikan mas.
"Quan apa apaan kau?" tanya Mei geram.
"Kenapa? Seharusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan kepadaku hah?" tanya Quan.
"Apa maksudmu? Aku tak mengerti dasar gila!" balas Mei pura-pura tak tau maksud Quan.
Habislah aku. Badak Quan pasti ngamuk gara-gara kejadian malam tadi. batin Mei.
"Pikirkan sendiri kesalahanmu! Sebelum kau menyadarinya jangan masuk ke dalam kamar!" ancam Quan.
Quan pergi meninggalkan Mei yang masih berendam di dalam kolam.
"Dasar badak Quan!" geram Mei.
"Nona, apa Nona baik -baik saja?" tanya Wanqi sembari berlari menghampiri Mei.
Wanqi terkejut bukan main saat melihat Nonanya itu sudah berada di dalam kolam ikan mas di pagi hari.
"Tidak" jawab Mei ketus menerima uluran tangan Wanqi.
"Huhfff dingin sekali. Dasar Quan gila pagi-pagi udah ngamuk!" geram Mei Ling.
"Maaf Nona, lebih baik Nona mengakui kesalahan Nona." bujuk Wanqi.
Mei membelalak terkejut mendengar ucapan Wanqi. Yang benar saja. Mei haru mengalah, begitu?
"Apa-apan kau ini! Kau berada di pihak Quan?" tanya Mei geram.
"Ah ti...tidak Nona. Maksud hamba... Maksud hamba..." Wanqi bingung dengan apa yang di sampaikannya.
"Sudahlah lupakan, buatkan aku teh hangat aku dingin sekali dan jangan lupa bawakan aku baju ganti!" titah Mei Ling.
Wanqi menuruti permintaan Mei sedangkan Mei berpikir bagaimana caranya membujuk Quan.
Aku harus membujuknya!
********
"Dasar sialan! Berani-berani nya dia mempermainkanku. Lihat saja nanti aku tidak akan mengampuninya." geram Quan.
Quan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang barusan ditiduri oleh Mei. Quan dapat mencium aroma tubuh Mei di selimut membuat Quan sedikit terlelap.
Quan tak habis pikir, kenapa istrinya sendiri tega meracuni suaminya. Sungguh sudah sangat keterlaluan. Quan ingat dengan jelas bagaimana wajah polos itu menyerahkan segelas teh hangat kepadanya dan bodohnya dirinya langsung meminumnya tanpa memeriksanya terlebih dahulu.
Jujur saja, Quan merasa tak tega melihat Mei harus berendam di kolam ikan pagi-pagi buta tapi mau bagaimana lagi, Quan sudah tidak mampu membendung emosinya lagi dan harus segera memberi kucing nakal itu pelajaran sebelum merajalela.
"Aku sudah memberikannya pelajaran. Aku harap setelah ini dia menurut kepadaku dan memenuhi permintaanku. Hahhhh... Malam pertama ku hancur." gumam Quan.
Tok tok tok...
"Permisi Pangeran!"
Quan membuka pintu dan nampaklah pelayan yang sangat Quan kenali.
"Kau pelayan Mei Ling bukan? Apa mau mu?" tanya Quan dengan wajah khasnya.
"Ma...maaf Pangeran...ha...hamba Wanqi pelayan Nona Mei. Hamba ke...kemari atas utusan Nona Mei." jelas Wanqi ketakutan.
"Ada apa?" tanya Quan.
"Nona menyuruh hamba untuk mengambil bajunya." jelas Wanqi.
"Bilang kepadanya kalau mau baju datanglah kemari dan akui kesalahannya!" titah Quan.
Wanqi dapat merasakan aura-aura kemarahan disekitarnya.
"Ba..baik Pangeran!"
Dengan cepat, Wanqi pergi meninggalkan Quan yang menampilkan seringaiannya.
Kita lihat, apakah kau berani kemari!
*******
Wanqi datang dengan napas terengah engah dan menjelaskan apa yang Quan katakan kepadanya sebelumnya.
"Dasar berengsek. Badak Quan!" geram Mei Ling.
Wanqi menundukan kepalanya melihat kemarahan Nonanya yang tak biasa. Sekali lagi, Wanqi merasa pusing dibuatnya.
"Quan, dia sudah sangat keterlaluan! Dia selalu mengaturku ini itu dan terus memaksaku. Setelah aku membalasnya, dia malah menceburkan aku di kolam ikan pagi-pagi buta. Sangat menyebalkan! Tau begini lebih baik aku mati saja! Baru satu malam jadi istrinya sudah membuatku pusing apa lagi di kedepannya!" omel Mei.
Dengan lemas, Mei bersandar dengan selimut yang membalut tubuh basahnya. "Mau bagaimana lagi, aku harus menemuinya."
Dengan kesal, Mei Ling pergi menuju kamar Quan dengan kaki yang dihentak hentakkan persis seperti anak kecil.
Beberapa pelayan serta prajurit yang menjaga hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Nona mereka yang sangat menggemaskan.
Sebelum mengetuk pintu, Mei menghirup oksigen sebanyak-banyak mungkin sebelum bertemu dengan Quan dan masuk ke dalam sarangnya yang horor bak neraka.
Tok tok tok...
Mei mulai mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban.
"Pangeran!" panggil Mei.
Tetap saja tak ada jawaban.
Sedangkan Quan terkekeh geli mendengar Mei memanggilnya seperti ingin meminta pengampunan.
Lebih baik aku abaikan saja sebentar. gumam Quan.
"Pangeran." panggil Mei.
Masih tak ada jawaban.
"Kalau kau tidak membukanya, akan aku dobrak!" ancam Mei.
Sama seperti sebelumnya, tidak ada jawaban apapun.
Karena tak ada jawaban, Mei mendorong pelan pintu dan ternyata tidak terkunci. Dengan penuh keberanian Mei masuk ke dalam kamar.
Mei melihat Quan yang terbaring tanpa menggunakan hanfu menampilkan ukiran roti sobek impian para kaum hawa.
"Ada apa?" tanya Quan dengan tatapan dinginnya.
Quan bangkit dari tidurnya dan duduk memperhatikan Mei dengan mata elangnya.
Pipi Mei semakin bersemu karena Quan terus memperhatikannya dari atas sampai bawah membuat Mei semakin salah tingkah.
Quan menyadari hal itu. Seringaian mulai mengukir bibir Quan yang menandakan kalau dirinya memiliki sebuah rencana.
"Kemarilah!" titah Quan sambil menepuk tempat di sebelahnya meminta Mei untuk duduk di sampingnya.
"A..aku -"
"Cepat!" potong Quan.
Mei menuruti permintaan Quan dengan bibir yang di majukan ke depan, hal itu tak luput dari perhatian Quan.
Mei duduk di sebelah Quan dengan selimut yang masih membaluti tubuhnya yang masih basah.
"A..ada apa?" tanya Mei.
"Ada apa? Seharusnya aku yang bertanya ada apa?" tanya Quan.
Ya ampun hampir saja aku lupa dengan tujuanku kemari. Batin Mei.
"Be..begini... Aku..aku tidak mengerti dengan ucapanmu barusan. Apa maksud mu kalau aku ingin mencelakaimu?" tanya Mei.
Quan tersenyum penuh arti menanggapi pertanyaan istri kecilnya itu.
"Kau tak bisa berbohong kucing nakal!" bisik Quan sambil mendekatkan wajahnya di wajah Mei.
DEG!
Jantung Mei berdebar cukup kencang. Mei takut kalau Quan sampai mendengar detak jantungnya.
Ya ampun dekat banget! Ini pertama kalinya dalam seumur hidupku dekat dengan lawan jenis. batin Mei gugup.
Mei dapat melihat alis tebal serta mata tajam dan hidung mancung milik Quan. Sungguh ciptaan tuhan yang sangat indah.
"Bagaimana? Kau tak mungkin lupa kan dengan perbuatan jahatmu tadi malam? Apa kau tau hukuman untuk seseorang yang berani mencelakai seorang Pangeran? Dia akan dipenjara seumur hidup!" desis Quan.
Mei membesarkan kedua bola matanya terkejut. Tiba-tiba tubuhnya mendingin membuat Mei hampir saja mengigil.
"Ja..jangan berbohong! Aku tau kau hanya mengertakku." ujar Mei tak mau kalah.
"Kau pikir aku berbohong? Aku tidak pernah bermain-main." balas Quan.
Lama Mei terdiam, berpikir cukup lama sampai pada akhirnya Mei memilih untuk menyerah.
"Baiklah...aku...aku yang melakukannya."
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Quan.
"Emmm iseng aja hehe." jawab Mei dengan cengir kudanya.
"Kau!" geram Quan.
"Ah iya maaf Pangeran Quan, maaf." mohon Mei sambil menciumi punggung tangan Quan.
Quan menatap Mei dengan tatapan tajamnya membuat Mei tak berani menatapnya. Saat ini, Quan sedang berusaha menahan tawanya agar rencananya berhasil untuk menundukkan istrinya itu.
"Aku tidak mau memaafkanmu! Bagaimana pun kau berencana ingin mencelakaiku jadi aku akan menghukummu!"
Quan semakin menjadi menakuti Mei sedangkan Mei tak dapat membayangkan bagaimana kehidupannya kelak kalau di dalam penjara. Membayangkannya saja sudah membuat Mei merinding.
"Tidak! Aku tidak mau! Quan tolong maafkan aku. Aku akan melakukan apa pun yang kau mau!" rengek Mei Ling tanpa sadar dengan ucapannya yang sukses membuat Quan tersenyum penuh kemenangan.
"Baiklah aku akan memaafkanmu."
"Benarkah?" tanya Mei dengan mata berbinar.
"Benar tapi dengan satu syarat."
"Apa?" tanya Mei penuh kecurigaan.
Quan menunjuk pipi kanannya bermaksud agar Mei menciumnya membuat Mei refleks menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku tidak mau!" tolak Mei dengan cepat.
"Oh baiklah, bersiaplah untuk dipenjara!" ancam Quan.
"Baiklah baiklah aku akan melakukannya!" terima Mei.
Sekali lagi, Quan tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil menundukkan Mei Ling.
"Lakukan!" titah Quan.
Mei mulai mendekatkan bibirnya di pipi kanan Quan dengan jantung yang berdetak tak karuan begitu pula Quan.
Dengan begini urusanku selesai! Tinggal menciumnya saja tidak perlu melumatnya. batin Mei.
Dengan secepat kilat, Mei mencium pipi kanan Quan dan langsung beringsut menjauh.
Quan geram dengan kelakuan Mei, dengan cepat Quan menarik kembali tengkuk Mei dan mulai melumat bibir Mei dengan gemas.
Mei kewalahan menanggapi ciuman dari Quan.
Sial ciuman pertamaku! Batin Mei.
Ya karena Mei tidak memiliki pengalaman berciuman.
Karena merasakan oksigen hampir habis, Mei memukul dada bidang Quan membuat Quan melepaskan lumatannya.
Quan memperhatikan Mei yang sedang terengah engah berburu oksigen.
"Apakah ini pengalaman pertamamu?" tanya Quan karena merasa Mei tak membalas lumatannya.
"I..iya." jawab Mei.
Quan tersenyum mendengar pengakuan Mei membuatnya semakin penasaran.
Dengan lembut, Quan menarik tangan Mei dan membawanya duduk dipangkuannya.
"Menurut lah kucing nakal. Jangan sampai membuat masalah. Ini kawasanmu. Kau boleh menggunakannya sesuka hatimu. Kalau kau menginginkan sesuatu katakan padaku. Paham?" jelas Quan.
Mei hanya bisa mengangguk anggukkan kepalanya paham. Seakan akan terhipnotis ketika melihat mata elang Quan yang tajam.
"Gadis pintar." puji Quan sambil mengelus lembut rambut panjang istri kecilnya.
Kenapa aku merasa seperti hewan peliharaan ya? Dari tadi dipanggil kucing terus, ada embel-embel nakalnya lagi.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (228)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
BAGUS!!!
20/09/2025
0cantikk
22/04/2025
0ceritanya keren banget, aku suka❤️❤️❤️
21/04/2025
0Lihat Semua