Bab 85

POV Tata (2)
Sialan! Maksudku kan nyelakain Kak Nina biar dia sama calon anaknya itu celaka! Kalok gak mati paling tidak anaknya itu cacat! Kok malah lahir selamat. Malam itu Bang Ronald baru aja pulang sama Ibuk. Mereka langsung marah-marah samaku. Katanya pasti aku sengaja mau bikin istrinya itu celaka.
“Tata! Sini kau! Sengaja kau tadi neteskan minyak di dekat kaki Nina, kan? Sengaja kau mau bikin anak istriku celaka, iya? Untungnya Allah masih melindungi mereka dari perempuan iblis macam kau!” kata Bang Ronald, ngamuk macam kesetanan.
“Mana buktinya, Bang? Abang jangan asal tuduh! Kan Kak Nina baru aja siap masak-masak, ya salahnya sendiri lah jatuh! Kok aku pulak yang disalahkan!” kataku sambil melengos, melipat dua tanganku di dada.
“Buktinya kau malah tertawa pas tau Nina jatuh! Memang daar kau jadi perempuan tak punya rasa empati! Keterlaluan! Tak mungkin Nina ceroboh meneteskan minyak ke lantai!” kata Bang Ronald sambil menunjuk mukakku.
“Memang dasarnya Abang tak sukak samaku, jadi apa-apa yang terjadi sama istri Abang, aku yang salah! Salahkan aja aku teroos!”
“Ta, mulai hari ini Ibuk mintak kau sebaiknya pergi aja dari rumah Ibuk! Terserah kau mau kemana! Ronald udah tau siapa kau sebenarnya! Ibuk jugak udah dapat info dari kampusmu dulu, alasan kau pilih transfer kuliah itu karena apa! cukup udah kau membohongi kami selama ini! Bahkan orang tuamu sudah lepas tangan! Lekas kemasi barang-barangmu! Ibuk tak mau lagi nengok mukakmu!”
“Apa maksud Ibuk? Ibuk ngusir aku?”
“Iya! Ibuk tak mau nama baik keluarga Ibuk rusak gara-gara perilakumu di luar sana yang tak punya rasa malu! Kau jadi simpanan laki-laki beristri! Ibuk udah tau!”
“Mana buktinya? Ibuk jangan fitnah, ya! Ibuk bisa kenak pasal pencemaran nama baik!” Kuancam lah sekalian.
“Mau tau buktinya?” kata Bang Ronald. Dia ngeluarkan hapenya, ditunjukkannya foto-fotoku pas lagi jalan sama Om Herman. Ya Tuhan, dapat dari mana dia foto-foto itu?
“Ooh, selama ini Abang membuntuti aku?” kataku sambil ketawa sinis.
“Tahu diri aja kau Tata! Sekarang lekas kemasi barang-barangmu!” ujar Ibuk sambil masuk ke dalam kamarnya. Bang Ronald masih aja mengawasiku dengan tatapan benci setengah mati.
Malam ini terpaksa aku telepon Om Herman, laki-laki tua yang membayarku untuk satu tahun. Aku terpaksa terima karena tak ada orang dekat daerah sini yang mau kontrak singkat dengan para sugar baby. Sial! Sedangkan kebutuhanku saja sangat banyak.
Kubawa sekoper besar pakaianku, dan sekoper lagi berisi buku kuliah dan perkakasku yang lain. Ranselku juga penuh dengan peralatan make up dan aksesoris milikku.
Om Herman memang menjemputku, tapi kami tidak pergi ke hotel ataupun wisma seperti biasanya. Kali ini aku dibawanya ke sebuah rumah petak kecil di pinggir kota. Mobil yang dipakainya untuk menjemputku jugak berbeda dari biasanya. Wajar saja, pikirku, dia kan orang berduit.
“Kok kita kesini, Om?” tanyaku bingung.
“Iya, Om sudah tak ada uang lagi untuk sewa hotel!”
“Hah? Kok bisa?” tanyaku kaget.
“Semua ATM dan kartu kredit udah diblokir sama istri Om! Dia jugak jual rumah kami diam-diam. Sekarang dia udah pindah ke rumah orang tuanya dikampung! Kami mau cere!”
“Jadi?”
“Jadi ya sekarang Om cuman punya kamu!”
“Aku gak mau! Om belum bayar aku sampai lunas! Perjanjiannya kontrak satu tahun seratus juta, Om baru bayar aku dua puluh juta! Jadi gimana sisanya?”
“Kita nikah!” jawab Om Herman santai.
“Nikah? Tinggal di rumah kontrakan kecil kayak gini? Hahaha! Om jangan becanda!”
“Om gak becanda! Itupun kalau kamu mau! Kalau tak mau silahkan tinggal di tempat lain!”
“Om! Om udah nipu aku! Perjanjiannya kan gak kayak gitu! Kalau memang Om udah tak sanggup bayar aku, lepaskan aku! Biar aku cari daddy yang lain!”
“Hahaha! Enak aja kau ngomong! Setelah aku jatuh miskin kau mau seenaknya batalkan kontrak? Kontrak kita satu tahun dan Om bebas membayarmu sampai habis kontrak! Jadi kau jangan macam-macam!” Om Herman menarik rambutku, kami belum turun dari dalam mobil. Melihat rumah yang bakal kutempati saja hatiku sudah tak selera.
“Lepaskan, Om! Sakit!”
“Tidak semudah itu sayang! Om jugak udah banyak keluar duit untuk biaya shopping dan perawatan tubuhmu! Jadi kau ini milik Om!” Om Herman semakin kasar memperlakukanku. Aku ingin berteriak tapi mulutku langsung disumpal dengan telapak tangannya yang besar itu. Malam itu aku diperkosa Om Herman di dalam mobil! Laki-laki sialan! Bandot tua miskin! Sial! Siaaaalll!
Dengan terpaksa aku tinggal di rumah yang disewakan Om Herman. Dia bisa datang kapan saja dia mau. Aku ingin menyewa rumah atau kost tapi uangku sudah habis untuk berfoya-foya. Hanya tersisa untuk membayar biaya semesterku saja. Semua orang yang tinggal di rumah petak sederetanku adalah pekerja malam. Sialnya aku!
Kadang Om Herman pulang dalam keadaan mabuk, dengan sesuka hatinya dia memperlakukan aku seperti budak. Aku ingin pergi, tapi Om Herman selalu mengancam akan menyebarkan foto dan video asusila yang kami lakukan. Entah kapan dia merekamnya. Baru sekali ini aku jumpa sugar daddy yang kelewatan sadis!
Tadi malam, dini hari dia pulang. Entah siapa yang mengantarnya. Lagi-lagi dalam keadaan mabuk berat. Kubiarkan saja dia tidur di ruang depan, sementara aku mengunci diri dalam kamar. Paginya dia menggedor-gedor kamarku meminta uang. Beberapa hari lalu memang dia memberiku sepuluh juta, entah uang dari mana. Yang aku tau sekarang kemana-mana dia tak pernah lagi mengendarai mobilnya.
“Ta! Bukak pintu! Bawak mari dulu duet lima ratus!”
“Gak! Itu duetku!”
“Pakek dulu Om lima ratus! Besok Om ganti sepuluh juta lagi!” Dengar kata sepuluh juta mataku langsung melotot.
“Betol? Untuk apa lima ratus?”
“Bayar pesanan ini! Ada barang datang!” katanya. Terpaksa aku buka pintu, kukira makanan yang dia pesan. Ternyata seorang kurir ganja yang datang! Kulihat orang itu kelaki muda, perawakannya kurus tinggi, tapi wajahnya lumayan tampan jugak.
Terpaksa kubayar barang haram pesanan Om Herman padanya. Alih-alih langsung pergi, laki-laki itu malah diam-diam mengajakku kenalan.
“Bondan!” ujarnya sambil tersenyum manis.
“Tata!”
“Itu siapanya?” tanyaknya.
“Orang gila yang terpaksa aku turuti kemauannya!”
“Kasihan, kau cantik, kenapa mau sama dia?” bisiknya.
“Terpaksa! Aku butuh duet! Sebenarnya udah kepingin kali aku minggat, tapi dia selalu ngancam!”
“Taaa … Ngapai lama-lama di luar! Lekas masok!” bentak Om Herman.
“Besok aku datang lagi!” kata Bang Bondan. Lekas dia pergi setelah menerima uang dariku. Aku bisa meminta tolong Bang Bondan untuk lepas dari jeratan laki-laki laknat bernama Om Herman.
“Ngapa kok lama kali di luar? Hah?” Om Herman menjambak rambutku keras.
“Aduh! Sakit, Om! Lepas! Dia cuman mastikan duit yang dipakek bayar itu bukan uang palsu!” jawabku asal, mencari alasan saja supaya tak dicurigai Om Herman. Akhirnya aku dilepaskan. Dia pun merebut bungkusan paket barang haram itu dari tanganku.
“Ingat, ya! Kontrak kita masih empat bulan! Kau jangan berani macam-macam!”
“Kalau kontak kita habis apa Om bisa jamin semua rahasiaku aman?” tanyaku sambil meringis menahan sakit bekas dijambak Om Herman.
“Hahahaha, aku tak bisa jamin!” jawabnya sambil ngeloyor pergi masuk ke dalam kamar. Sial!
Aku jadi sering bolos kuliah gara-gara Om Herman. Kalaupun bisa kuliah, semua mata di kampus melihatku seperti melihat sampah! Siapa yang sudah membocorkan aibku di kampus ini? Pasti Ibuk dan anak buahnya! Akan kubalas kalian!
Hari ini Om Herman tak pulang, sampai siang aku di dalam kamar, perutku lapar, mau pergi tak punya kendaraan. Mau pesan makanan tak ada yang mau terima orderan dengan alamat tempat tinggalku sekarang ini. Semua orang tau kalau lokasi ini wadahnya para pekerja malam. Mereka mungkin takut tertular penyakit jika datang ke tempat ini. Dasar manusia-manusia sok suci!
Tok tok tok!terdengar pintu kontrakanku diketuk. Kuintip dari balik jendela, ternyata Bang Bondan. Segera kubuka pintu rumah dan menyuruhnya masuk. Aku takut ada mata-mata Om Herman di sekitar sini melihatku.
“Ta! Om Herman kemana?”
“Pergi, belum pulang! Bang, tolong aku, Bang!”
“Tolong apa?”
“Aku tak mau lama-lama tinggal di rumah ini! Sumpek! Aku gak bebas!”
“Kenapa kau bisa ada di sini? Bukannya kau kuliah?”
“Kok Abang tau?”
“Aku pernah nengok kau di kampus pas ngantar barang untuk mahasiswa yang pesan barang.”
“Iya, aku terikat kontrak sama Om Herman, masih empat bulan. Dia belum lunas bayar aku! Tapi aku udah macam binatang dibuatnya! Aku gak tahan!”
“Kau mau ikut Abang? Abang ada tempat aman!”
“Dimana?”
“Di rumah Mamak Abang.”
Tok tok tok!
“Tataa … Bukak pintunya sayaaang!”
“Bang, Om Herman pulang! Lekas Abang pergi lewat pintu belakang!”
“Oke, besok Abang kesini lagi. Kita atur strategi!” Aku mengangguk dan membukakan pintu belakang supaya Bang Bondan bisa pergi. Om Herman masih saja menggedor-gedor pintu tak sabaran. Akhirnya aku membukakan pintu.
Plak! Plak! Plak! Tiga kali Om Herman menampar pipiku.
“Kenapa kok lama kali bukak pintunya? Masukkan orang laki-laki kau, kan?”
Plak!
“Ampun, Om! Sakit!”
“Jangan cobak-cobak kau, ya!”
“Mana ada!”
“Itu sandal laki-laki di depan punya siapa? Jangan bohong!” bentak Om Herman. Tercium aroma alkohol yang terlalu menyengat dari mulutnya, membuat aku pingin muntah!
“Itu sandalku! Aku memang sukak pakek sandal laki-laki!”
“Awas kau kalok berani macam-macam di belakangku! Sebentar lagi kita nikah! Tunggu surat cere dari binikku selesai, kita langsung nikah!” katanya sambil merengkuh pinggangku. Kujauhkan mulutnya yang sudah mau nyosor-nyosor ke mukakku. Benar-benar laki-laki busuk ini sudah keluar aslinya, tak seperti dulu sewaktu masih kaya, dia selalu baik samaku. Awas saja, kukerjai kau besok! Tunggu bantuan datang dari Bang Bondan!
***
Seminggu kemudian, akhirnya Bang Bondan datang lagi, mengantarkan pesanan si bandot tua. Lagi-lagi aku yang dipaksa keluar mengambil pesanannya itu. Diam-diam Bang Bondan memberikan aku sebungkus kecil entah apa isinya. Cepat-cepat kukantongi.
“Masukkan dalam minumannya! Sikit aja, nantik dia teler kita kabur. Dibalik kertas bungkus itu ada nomor hape Abang!” ujarnya sebelum berlalu.
Aku pun langsung berniat melancarkan aksiku. Si bandot tua semakin tak enak dipandang, uangnyapun sudah tak bisa lagi diharapkan, daripada aku menanggung sakit, bodyku yang semula padat berisi jadi kurus kering semenjak dengan dia.
Keesokan harinya, sepulang kuliah kubeli dua bungkus nasi padang dan sebotol besar air mineral. Sengaja aku mengajaknya makan siang bersama.
“Tumben kau belik nasik?”
“Namanya lapar!”
“Tumben beliknya dua!” ulangnya lagi.
“Kasian aku sama Om! Masak iya aku makan Om nengok aja!”
“Udah lekas ambil piring di belakang! Sama bawakkan minum!” perintahnya.
Kubawak air mineral ke dapur rumah kumuh ini, kutuangkan segelas besar air minum untuknya. Kubuka bungkusan obat dari Bang Bondan lalu langsung kutuangkan ke dalam air. Ajaib, warna air tak berubah. Saking buru-burunya tanganku gemetar, tanpa sengaja bubuk itu tertuang semua ke dalam air. Ah! Biarlah, toh gak akan ketahuan karna warna air masih tetap jernih.
“Lekas bawakkan minooom!” teriak Om Herman.
“Iya, lhoo! Tunggu ngapa sebentar! Tak sabaran kali!”
Kusodorkan air minum dan dua buah piring plastik peninggalan penunggu kontrakan sebelumnya. Kami pun makan. Sengaja kuberikan untuknya nasi padang dengan lauk yang banyak sambalnya supaya Om Herman kepedasan. Terbukti dia makan sambil megap-megap dan berkali-kali menenggak air minum. Belum selesai dia makan, kulihat matanya mengerjap-ngerjap seperti orang mabuk.
“Aduh! Sakit kepalaku! Kau kasi apa minumku ini?” tanyanya. Tangannya bersiap menjambak rambutku, tapi aku cepat mengindar. Tak menunggu lama, reaksi obat dari Bang Bondan sudah bekerja. Om Herman kelojotan dan matanya melotot. Mulutnya menggeram berkali-kali, lalu mengeluarkan busa.
Aku panik, kutelepon Bang Bondan. Tak lama pun dia sudah datang karena memang kami sudah janjian.
“Bang! Obat apa itu yang Abang kasi?” tanyaku setelah Bang Bondan melihat kondisi Om Herman.
“Kan Abang bilang kasi sikit aja! Ini pasti overdosis, Ta!”
“Tak tau aku, Bang! Tumpah karna aku buru-buru tadi.”
“Ya ampun! Mampus! Bisa-bisa mati dia!” kata Bang Bondan sambil megangi kepalanya.
“Jadi cemana, Bang? Kalok sampek mati aku tak mau masuk penjara, Bang!”
“Kau periksa dulu, masik bernapas enggak dia itu?”
“Tak berani aku, Bang!”
Akhirnya Bang Bondan yang meriksa.
“Gawat! Tak bernapas lagi dia! Lekas kita pigi dari sini! Kau bereskan barang-barangnya! Duet sama hapenya!”
“Iya, Bang!”
“Lekas! Mumpung sepi!”
Aku pun ngambil dompet di kantong celana Om Herman, kuambil duitnya aja, udah itu kubalekkan lagi ke kantongnya. Hapenya pun langsung kubukak, sayangnya terkunci. Kucobak pakek sidik jarinya, untungnya mau. Langsung kuhapusi semua foto sama video tak senonoh aku dengan dia. Setelah aman langsung kuletakkan lagi hape itu disampingnya.
“Kenapa tak kau ambil hapenya?”
“Bahaya, Bang! Bisa terlacak kita kalok bawak hapenya!”
“Oh, iya jugak!”
“Ya udah, cepat ambil barang-barangmu, kita pigi!”
Aku pun nurut sama Bang Bondan. Kami pigi bawak dua koper besar, terpaksa aku naik oplet (angkot), turun di tempat yang dibilangnya, baru kami ke rumah Mamaknya itu.
“Bondan! Siapa ini yang kau bawak pulang?” kata Mamak-mamak di rumah Bang Bondan itu. Mamaknya lah itu kurasa.
“Calon binikku, Mak!”
“Apaaaaa?”
Bah! Mamak Bang Bondan ini kok nampakku galak kali? Biar aja mau ngomong apa Bang Bondan itu, yang penting aku aman.
 

Komentar Buku (31)

  • avatar
    Dani Apay

    Semoga Reall Membayar Mau Berpa Pun Penarikan Saldo Nya Tanpa Ribet Iklan Dan Tanpa Syarat Apa Apa Cair Langsung Penarikan

    14/04

      0
  • avatar
    PutraRoyana

    ok thanks

    24/08/2025

      0
  • avatar
    Magdalena Laptop Account

    bagus banget

    07/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru