Bab 69

Tata Mau Celakai Nina
Entah sudah berapa lama aku pingsan, saat tersadar, aku sudah berbaring di sebuah ranjang dalam ruangan bernuansa putih. Kulihat di sebelahku ada Bu RT dan juga suamiku yang sedang memangku Riri. Aku merasakan nyeri di punggung tangan kiriku. Ternyata ada selang infus yang terpasang di sana.
Kupegang kepalaku yang rasanya masih sangat pusing. Melihat gerakanku, sontak mereka berdiri mendekatiku.
“Na, udah sadar, Alhamdulillah,” ujar Ronald, terlihat wajahnya sangat khawatir.
“Buk RT? Dimana ini, Yank?” tanyaku.
“Di puskesmas. Tadi Nina pingsan, aku langsung panggil Buk RT, bantu bawak Nina ke puskesmas.”
“Riri!” panggilku pada anakku itu.
“Mama,” sahutnya. Wajah anakku masih terlihat bekas menangis.
“Riri, maapin Mama, ya, Nak’e! Mama janji gak akan biarkan Riri dijahati lagi sama Nenek.”
“Iya, Mama! Mama jangan sakit, Riri sedih,” gumamnya lagi.
Seorang pria petugas kesehatan masuk ke dalam ruangan, dan langsung memeriksa tekanan darahku. Aku seperti pernah mengenali pria berseragam putih ini. Tapi dimana? Aku lupa.
“Tekanan darah Kakak ini rendah, masih pusing, ya, Kak?” tanyanya.
“Iya, Pak.”
“Tapi biasa itu, kalau lagi hamil muda biasanya memang kayak gitu. Yang penting abis ini makan bergizi, jangan kecapek’an ya, Kak!”
“Aku kayak pernah jumpa sama Pak Mantri ini, tapi dimana, ya?” ujarku berusaha mengingat.
“Hehe, iya, Kak. Aku pun tadi mikir gitu jugak. Kakak yang pernah kusenggol helmnya di halte hujan-hujan dulu itu.”
“Ya Allah, iya, betol! Baru ingat. Sapu tangan Pak mantri udah ilang kubikin. Orang waktu itu pigi aja.”
“Udah gak papa, Kak. Orang aku kok yang salah. Kakak gak perlu dirawat, udah boleh pulang. Nanti dikasi obat penguat kandungan sama vitamin dan asam folat, ya, Kak. Sama satu lagi, harus rajin minum pil tambah darah. Kalau yang dari puskesmas habis, Kakak beli sendiri aja di apotek. Usahan rutin periksa ke bidan. Abang ini jagakan istrinya jangan sampai jatuh, ya, Bang! Biasanya memang kalau tekanan darah rendah, sukak rasa macam melayang itu rasanya, hati-hati jangan sampai jatuh.”
“Siap Pak Mantri,” ujar Ronald.
Setelah mengurus administrasinya, kami pun pulang ke rumah. Bu RT masih setia menuntunku sampai berbaring di dalam kamar.
“Udah sarapan tadi, Na?” tanya Bu RT.
“Sarapan roti aja, Buk. Papanya Riri sampek masak sendiri, aku kecium bauk bawang tiba-tiba aja jadi mual.”
“Hahaha, ya biasa itu namanya ngidam, yang biasanya gak papa jadi sensitif di idung.”
“Makasih banyak ya Buk RT, udah bantu ngawani sampek puskesmas tadi,” ujar Ronald.
“Sekarang makan nasi dulu, Na! Nanti kau jangan telambat minum obat sama vitaminnya!” ujar Bu RT sebelum pamit.
“Iya, Buk! Makasih banyak ya, Buk!” ujarku lagi.
“Iya, sama-sama. Ya udah, Ibuk pulang dulu, ya!” ujarnya lalu pulang ke rumahnya.
“Na, kepingin makan apa?” tanya Ronald. Riri naik ke atas ranjang dan duduk di sebelahku.
“Apa, ya? Belum ada selera,” jawabku. Memang rasanya perutku belum ingin diisi apa-apa. mulut pun rasanya asam.
“Mama harus makan, biar dedek bayi sehat!” Riri mengelus perutku yang masih datar.
“Hehehe anak Mama pinter. Besok sayang sama adek, ya, Nak’e!” ujarku sambil mengelus rambut Riri.
“Iya, Mama.”
“Masih sakit tangannya, Nak? Sedih kali hati Mama, Nak! Mama aja gak pernah cubit Riri, gak pernah pukul,” ucapku sambil menahan air mata yang kembali akan menetes.
“Gak sakit kok, Mama. Asalkan jangan di pegang. Kalok dipegang iya sakit!” jawab Riri.
“Sini Papa baluri minyak zaitun, Nak!” Ronald mengambil minyak dan mengoleskan pada lengan Riri yang membiru. Rasa bersalahku kembali hadir, menusuk di hati, betapa bodohnya aku membiarkan anakku tersakiti seperti ini.
“Udah, besok sembuh itu. Mulai sekarang kita harus lebih hati-hati jaga Riri. Aku jugak salah, inginnya nahan, tapi aku gak mau Bang Bondan mikir aku menghalangi Ayah ketemu sama anaknya. Posisiku serba salah ya kan?”
“Bang Bondan harus tau kalau mamaknya udah nyakitin Riri. Aku gak akan pernah lagi izinkan Riri dibawak.”
“Ya udah, jangan terlalu stress ya, sayang! Ingat masih ada satu anak kita yang harus kita jaga jugak. Ya udah, sekarang mau makan apa? Papa masakkan apa mau belik?” tanyanya lagi.
“Nak, mumpung Papa nawarin, kita pesan banyak-banyak aja, yok!” ujarku berusaha mengajak Riri bercanda.
“Hahaha, coklat, Papa!”
“Hahaha, itu kan cemilan, Nak! Makanan berat lho maksud Papa itu. Nasi rames? Bubur ayam? Nasi uduk? Sate?”
“Belikan sop daging aja lah, yank! Kayaknya seger!”
“Oke, siap! Riri mau pesan yang lain? Biar Papa carikan.”
“KindelJoy, Papa!”
“Hahaha, oke, oke! Riri di rumah aja ya jagakan Mama. Papa pigi sebentar beli sop.”
“Iya, Papa!”
“Oh, iya, Papa udah nelepon Bapak sama Mamak, Ibuk sama Bapak pun nanti katanya mau datang. Jadi malam ini kita kumpul keluarga besar.”
“Kapan nelponnya?” tanyaku.
“Tadi, pas di puskesmas pas Nina belum sadar. Bapak sama Mamak Nina langsung berangkat siang nanti.”
“Ya ampuun! Nak, Riri nanti jumpa Nenek sama Kakek dua-duanya. Makasih, ya, Yank! Nanti kita masak apa buat makan malam?”
“Gampang! Nanti pesan aja. Ya udah Papa pergi ya!” Ronald mengecup kami berdua bergantian lalu pergi membelikan makanan pesananku.
“Mama,” ujar Riri.
“Iya, Nak?”
“Nanti adeknya cowok apa cewek?”
“Hehe, belum tau, Nak. Riri mau adek cewek apa cowok?”
“Mau dua-duanya, Mama. Kembar.”
“Hahaha, nanti Riri jagain malam-malam bikinkan susu, ya?”
“Iya, Riri bobok sama adek bayi.”
“Kita telepon Wak Sari, ya! Bilang, nanti malam Wak Sari suru ke rumah Riri, Nenek sama Opung mau datang.”
“Oke Mama.”
Aku mengambil ponsel dan menelepon Kak Sari. Riri berbicara dengan antusias ketika telepon sudah tersambung.
“Halo, Wak.”
“Iya, Nak’e? Ada apa Riri nelpon Wawak? Kangen ya? Mana oleh-olehnya yang baru balek dari Sibolga?”
“Wak nanti malam ke rumah Riri, ya! Nenek sama Opung dari kampung mau datang.”
“Oh, iya, nya? Ada apa kok Nenek sama Opung mau datang?”
“Mama sakit, Wak.”
“Hah? Sakit apa? kok Wak gak dikasi tau? Mana Mama?”
“ini Mama!” Riri memberikan ponsel padaku.
“Asslamu’alaikum, Kak.”
“Wa’laikum salam. Kau sakit apa, Na? Kok gak ngabari kakak, kau?”
“Hehe, gak sakit, Kak! Cuman tensiku rendah tadi pagi semaput aku.”
“Ha! Hamil apa kau?”
“Alhamdulillah iya, Kak. Tadi sempat di bawak ke puskesmas sama Ronald. Tapi gak papa kok, Kak. Makanya nanti malam kemari ya, Kak. Bapak sama Mamak mau kemari jugak.”
“Alhamdulillah, selamat ya adekku sayaang! Akhirnya gak lama-lama langsung joss! Hahahaha.” Terdengar suara ngakak khas tawa Kak Sari.
“Kakak ini! Ya udah, aku cuman mau ngasi tau itu aja. Jangan lupa bilangi Abang jugak ya, Kak!”
“Oke, siap, siap!”
“Ya udah, Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikum salam,” tutup Kak Sari,
“Asiiik, nanti malam rumah kita rame.”
“Iya, Nak. Jangan sedih lagi, ya. Masih banyak yang sayang kali sama Riri.”
“Iya, Mama!” Riri memeluk dan menciumi pipiku.
“Sayang anak gadis Mama.”
Tak lama kemudian terdengar deru mesin mobil Ronald yang sudah kembali, lalu dia mengucapkan salam dan masuk ke kamar.
“Ada, Yank?” tanyaku.
“Ada, tunggu sini bentar, ya! Papa siapkan dulu. Ini pesanan anak gadis, Mama jugak pasti sukak kalok dikasi coklat. Kongsi, ya!” ujar Ronald sambil menyerahkan plastik berisi jajanan. Ya ampun, semua serba coklat. Riri kegirangan karena mendapatkan jajanan coklat terviral dengan bentuk bulat telur itu.
“Asiik, Papa beli dua. Mama mau kindeljoy nya?” tawarnya padaku.
“Hihihihi, itu jajanan buat anak kecil. Untuk Riri aja. Mama nanti yang coklat lain aja.”
“Hehehe oke deh, Mama! Kupas!” ujarnya sambil menyodorkan si kindeljoy untuk dibuka.
Ronald kembali ke kamar membawa semangkuk nasi panas yang sudah diberi sop daging. Aromanya harum menggugah selera.
“Ayok, makan dulu ya sayang,” ujarnya sambil mengipas-ngipas nasi panas dengan kipas tangan milikku. Ingat, makanan panas tak boleh ditiup, itu sunnah.
“Aku makan sendiri aja, Yank!”
“Bisa?” tanyanya tak percaya.
“Hahaha, bisa lah! Makan sambil duduk aja kok, bukannya sambil lari-lari.”
“Padahal pingin nyuapin istri.”
“Ya udah, suapin! Biar dapat pahala banyak. Hehehe.”
Ronald menyuapkan makanan ke mulutku sedikit demi sedikit. Riri pun sesekali membuka mulutnya ingin disuapi. Selesai makan, aku langsung meminum vitamin dan obat yang diberikan dari puskesmas tadi.
“Yank, jangan dikeluarin lagi, ya! Gak mual lagi, kan?” tanya Ronald.
“Hehe, enggak. Mudah-mudahan lah gak pakek mabok-mabok yang parah.”
“Kalau mau makan apa bilang, biar dicarikan!”
“Hihihi, mau makan daging onta, Yank!”
“Hah? Serius? Waduh, dimana nyariknya daging onta?”
“Hahaha, katanya mau makan apa bilang!”
“Wadduh!” Ronad menepuk dahi dengan telapak tangannya.
“Hihihi, enggak! Becanda.”
“Hahahaha, Mama kalok mau makan onta pigi ke arab aja!” celetuk Riri.
“Tau dari mana, Nak, kalok onta adanya di arab?”
“Ada kawan Riri kemaren kasi teka-teki. Katanya apa yang lahir di arab besar di arab tapi gak bisa bahasa arab. Jawabannya onta, Mama!”
“Owalaaah. Hahahahaha ….” Kami terbahak-bahak mendengar celotehan polos Riri.
***
Sore hari, Kak sari datang lebih dulu. Dia langsung memelukku mengucapkan selamat, mewanti-wanti agar aku hati-hati menjaga kandungan. Dulu saat hamil Riri aku dua kali mengalami pendarahan akibat kelelahan fisik dan stress. Bersyukurnya anakku masih kuat bertahan di dalam rahimku sampai waktunya lahir. Jangan sampai kali ini aku mengalaminya lagi.
“Abang mana, Kak?”
“Abangmu gak bisa ikut, ada urusan penting katanya. Tak bisa ditinggal.”
“Ooh, iya udah gak papa.”
“Kak, aku titip Nina, ya! Aku mau pigi jemput Bapak sama ibukku. Sekalian beli makanan untuk makan malam kita nantik. Mungkin bentar lagi mertuaku sampek lah ini.”
“Eh, udah! Kau tenang aja! Biar kakak masak aja, masik sempat nya ini. Ada apa di kulkas kelen?” tanya Kak Sari.
“Kakak cek lah cobak di kulkas. Nanti apa yang kurang Kakak telpon aku, biar kucarikkan,” ujar Ronald.
“Ooh, oke kalok gitu! Ya udah kau lekas pigi.”
“Iya, Kak! Mama, Riri, Papa pigi dulu, ya!”
“Oke Papa, hati-hati!” ujarku menjawab pamitnya.
Aku duduk bersama Kak Sari menemaninya di dapur. Membantu memotong sayur dan bahan makanan lain.
“Kak, urusan ngupasi bawang Kakak aja, ya! Aku tak sanggup kecium bauknya.”
“Gak sukak kau bauk bawang?” tanya Kak Sari.
“iya, Kak. Mual.”
“Hahaha, sama kayak Kakak dulu. Untung asal hamil maboknya tak lama.”
“Mudah-mudahan ini pun iya lah, Kak.”
“Bawak bahagia aja, jangan banyak pikiran!”
“Kak, aku mau cerita. Kenapa sampek tadi aku pingsan.”
“Ha, apa itu?”
“Riri, Kak. Tadi malam dijemput Bang Bondan katanya mau diajak nonton pasar malam. Tadi pagi pulangnya, Riri ngadu, dia dicubit sama bekas mertuaku itu sampek biru, Kak. Sedih kali aku, bah!”
“Ya Allah, kok jahat kali bekas mertuamu itu? Kok kau kasi dia dibawak si Bondan?”
“Itu lah aku nyesal kali, Kak! Kupikir iya lah aman anakku dibawak dia. Dia kan udah berapa kali datang nengok Riri, ngasi baju, sama duet jajan. Kupikir iya lah dia udah berubah. Masak cuman satu malam aja aku tak kasi izin, gitu pikirku, rupanya kejadiannya malah kayak gini, Kak. Cuman gara-gara Riri mintak kawani ke kamar mandi, mau pipis, kamar mandinya gelap. Gak ada yang mau ngawani. Bapaknya itu memang dari dulu kalok udah tidur macam orang mati, payah dibanguni. Jadi Riri mintak kawani neneknya, tak mau neneknya ngawani. Akhirnya anakku tak tahan, pipis lah dia di celana, malah dicubit sama neneknya. Biru kak lengannya.”
“Ya Allah, kalok tau abangmu, ngamuk dia itu, yakin Kakak! Kok ada lah manusia tega kali kayak gitu sama cucunya sendiri.”
“Terakhir itu, Kak. Tak akan pernah lagi kukasi izin mereka nyentuh anakku.”
“Bagus itu, jangan kasi lagi! Kakak dengarnya pun geram Kali! Tak berubah jugak dari dulu! Hatinya macam iblis! Hiih! Kalok tau Kakak, Kakak ribakkan sekali, biar kapok nenek lampir satu itu!”
“Tak pernah aku rasa nyesal kayak gini, sakit kali aku nengok anakku diperlakukan macam gitu.”
“Pokoknya kau jangan pernah kasi lagi Riri dibawak-bawak sama orang itu!”
“Iya, Kak.”
“Udah, kau bawak tenang aja, jangan kau pikirkan terus! Nanti pun dapat balasannya Mamak si Bondan itu!”
“Iya, Kak. Udah cukup rasanya kasi kesempatan, nyatanya tak bisa jugak berubah.”
Kak Sari langsung bergegas memasak untuk makan malam. Kak Sari memang sangat piawai kalau urusan masak memasak, tangannya cepat dan terampil mengolah bahan makanan dengan sigap. Sampai akhirnya Bapak dan Mamakku sampai. Kami saling berpelukan bahagia.
“Selamat ya, Nak’e. Sehat-sehat terus, ya!” ujar Mamak.
“Iya, Mak. Do’akan ya, Mak.”
“Pak, duduk dulu, Pak. Biar kubuatkan minum. Bapak mau teh apa kopi?” tanya Kak Sari.
“Apa aja, lah! Bapak semua oke!” sahut Bapak yang langsung memangku Riri duduk di sofa.
“Mamak?” tanya Kak sari lagi.
“Mamak mentahnya aja, lah! Hahahaha ….” Mamak malah bercanda dengan Kak Sari.
Menunggu mertuaku tiba, kami pun asyik bercanda dan bercerita sambil menikmati sore. Kak Sari menyuguhkan bakwan dengan teh hangat pada kedua orang tuaku.
Terdengar suara mobil yang dikendarai Ronald sampai di depan rumah. Tak lama kemudian kedua mertuaku turun disusul Ronald di belakangnya, dan juga Tata. Tata? Tumben dia ikut? Aku jadi sedikit risau saat melihat wajahnya, gayanya masih seperti biasa. Pakaian yang dikenakan memang panjang tapi sangat ketat. Bahkan kaosnya hanya sebatas pusar, jadi jika sedikit saja dia salah gerak, maka perutnya akan langsung terlihat.
Kedua orang tuaku dan kedua mertuaku saling bersalaman, melihat moment itu aku sangat bahagia, akhirnya bisa berkumpul lagi seperti ini, di moment yang pas. Mereka terlihat sangat akrab. Di sudut lain terlihat Tata hanya duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Selepas maghrib, kami langsung bersiap makan malam bersama. Kak Sari sibuk menata makanan di ruang tamu. Sofa sudah digeser agar ruang tamu jadi lebih lapang.
“Tata, kau ini anak gadis kok kerjanya main hape aja! Sana bantui Kakakmu di dapur nyiapkan apa-apa yang mau dibawak ke depan sini!” ujar ibu mertuaku.
“Iya, Buk!” jawab tata, namun raut wajahnya terlihat seperti enggan.
“Ini, bawakkan air cuci tangan dalam mangkok kecil aja ke depan!” perintah kak Sari. Tata menurut. Sedangkan aku masih sibuk mengupas buah untuk cuci mulut. Setelah semuanya selesai ditata di ruang tamu, aku pun menyusul sambil membawa sepiring besar buah yang sudah kupotong.
Saat melewati pintu antara ruang dapur dan ruang tamu, tiba-tiba kakiku seperti menyentuh air di lantai keramik , tanpa bisa mengelak tiba-tiba kakiku terpeleset, tubuhku langsung limbung, dan tak bisa menyeimbangkan diri lagi. Saat hampir terjembab, sesosok tangan menangkapku dari belakang. Sontak semua mata langsung tertuju padaku yang hampir terjatuh.
“Ya Allah, Na! untung aja tak jatuh! Hati-hati lah, sayang!” ujar suamiku dengan tatapan mata sangat khawatir. Ternyata dia baru saja dari kamar mandi, untung saja dia datang diwaktu yang tepat.
“Ya Allah, untung ada kamu, Yank! Gak tau kenapa kok ada air di sini,” ujarku sambil melihat lantai yang basah.
“Nina gak papa, kan? Siapa yang main air? Apa Riri?” tanya Mamak yang juga terlihat cemas.
“Enggak, Riri dari tadi main sama Opung!” jawab Bapak.
“Jadi siapa?” tanya mamakku lagi.
“Ooh, tadi adek itu yang kakak suruh bawakkan air cuci tangan dalam mangkok. Kurasa tumpah itu!” ujar Kak Sari.
“Tata?” tanya Ronald dengan mata membesar karena marah. Terlihat Tata hanya cengengesan memainkan ponselnya dan duduk di atas sofa tanpa merasa bersalah, sementara orang tua yang lain sudah duduk lesehan di karpet di atas lantai.
“Yank, udah, jangan marah-marah, sabar!” ujarku pada Ronald yang sudah bersiap hendak mendamprat Tata. Akhirnya Ronald mengurungkan niatnya untuk memarahi sepupunya itu.
 

Komentar Buku (31)

  • avatar
    Dani Apay

    Semoga Reall Membayar Mau Berpa Pun Penarikan Saldo Nya Tanpa Ribet Iklan Dan Tanpa Syarat Apa Apa Cair Langsung Penarikan

    14/04

      0
  • avatar
    PutraRoyana

    ok thanks

    24/08/2025

      0
  • avatar
    Magdalena Laptop Account

    bagus banget

    07/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru