Bab 59

Kedatangan Makmer Lagi
“Aku kesini bukan mau basa-basi sama kalian. Aku mau bawa anakku tinggal samaku mulai sekarang!” ujarnya dengan nada dingin. Seketika darahku menggelegak mendengar kalimatnya barusan. Kuminta anakku untuk masuk kembali ke dalam kamarnya.
“Gak bisa! Riri berada dalam hak pengasuhanku, Bang!” ujarku mulai emosi. Ronald berusaha menenangkan aku.
“Bang, masuklah dulu, kita bicarakan baik-baik di dalam. Malu sama tetangga!” ujar suamiku. Bang Bondan menurut. Dia duduk, namun gayanya sangat waspada.
“Kenapa Abang tiba-tiba mau ngambil Riri?” tanyaku lgi.
“Aku tak mau Riri tinggal dan diasuh sama laki-laki macam suami barumu ini!” jawabnya ketus.
“Memangnya salahku apa, Bang?” Ronald masih berbicara dengan sabar.
“Tak usah kau pura-pura bodoh! Aku memang di dalam penjara, tapi orang lain melihat. Kau pernah berhubungan dengan Ranti, perempuan yang masih sah jadi istriku!”
“Bang, maaf sebelumnya. Itu memang salahku, waktu itu aku tak tau kalau Ranti punya suami. Setelah tau aku tak pernah lagi mau didekati sama dia.”
“Tak usah banyak alasan. Aku tak rela anakku tinggal sama laki-laki busuk sepertimu!”
“Bang! Jaga kata-katamu, bercerminlah sebelum bicara!” ujarku kesal. Apakah dia sendiri laki-laki baik yang bertanggung jawab pada keluarga? Seenaknya saja bicara. Disaat aku dan anakku tersisih, dimana dia?
“Maaf, Bang! Riri memang anak kandungmu, tapi aku sayang sama Riri seperti anakku sendiri.”
“Kau tak usah ikut campur, ini urusan aku sama Nina!”
“Urusan kita sudah selesai, Bang! Kalau abang mau jenguk Riri kapan saja aku izinkan, tapi untuk membawanya tinggal sama Abang aku gak bisa izinkan. “
“Riri jugak anakku, Na! Aku berhak ikut menentukan masa depannya.”
“Masa depannya akan jauh lebih baik kalau Riri tetap samaku, Bang! Aku tak mau Riri diasuh Ibu tiri seperti Ranti!”
“Dan aku juga tak mau Riri diasuh Ayah tiri seperi dia!”
“Cukup, Bang! Di putusan pengadilan semua sudah jelas, hak asuh Riri ada samaku.”
“Aku tak peduli, pokoknya aku akan tetap mengambil Riri untuk ikut samaku!”
“Aku tau siapa sumiku, Bang! Tak mungkin aku mau menikah sama lelaki yang tak jelas asal-usulnya. Aku sudah pernah melakukan kesalahan, jadi tak mungkin aku mengulanginya lagi!”
“Maksudmu aku ini laki-laki yang tak jelas asal-usulnya?” ujarnya dengan rahang yang mengeras.
“Kau pikirlah sendiri, Bang! Entah jadi apa anakku kalau diasuh lelaki sepertimu dan wanita seperti Ranti!”
“Ranti sudah pergi! Dia sudah tak ada lagi di sini. Dia pergi ikut orang tuanya ke pulau Jawa!”
“Susul lah! Siapa tahu kalian bisa lekas punya anak, jadi tak perlu lagi meributkan hak asuh Riri. Jangan seenaknya kau mencampakkan perempuan yang sudah kau nikahi! Cukup aku saja yang merasakan sakitnya!”
Bang Bondan terdiam mendengar kata-kataku.
“Bang, tak perlu lagi lah mengungkit hal-hal yang sudah lewat. Aku sayang Nina dan Riri, aku akan jaga mereka baik-baik. Aku janji, Abang tak perlu khawatir.” Ronald masih saja tetap bersabar menghadapi mantan suamiku ini.
“Kami sudah bahagia, Bang! Tolong biarkan kami menjalani hidup kami dengan tenang, tak usah lagi ikut campur! Kalau niatmu baik ingin jumpa dengan Riri, kapanpun aku izinkan, tapi kau tak berhak mengambilnya dariku.”
“Sebaiknya sekarang Abang pergi, tenangkan diri, tak perlu berprasangka buruk padaku.” Akhirnya Ronald mengusir Bang Bondan dengan halus. Bang Bondan beranjak, namun bukannya keluar, dia malah menerobos masuk ke rumah kami dan mencari riri di kamarnya.
“Bang! Jangan bikin kesabaranku habis!” bentakku dengan keras.
“Riri! Ayo ikut sama Ayak, Nak! Ayak akan berikan semua yang Riri mau!” ditariknya tangan Riri yang menjerit kesakitan.
“Mama … Riri gak mau ikut sama Ayak, Ma!” Riri berteriak menyeyat hati.
“Lepaskan Riri!” bentak Ronald.
“Kau diam! Kau bukan siapa-siapanya!” Bang Bondan masih menarik tangan Riri, aku berusaha meraih tubuh anakku, tapi Bang Bondan malah mendorong tubuhku, hingga aku mundur dan terjatuh.
“Tolong, Bang! Janagn bikin keributan di rumah kami!” Ronald mulai emosi melihat tingkah Bang Bondan.
“Rumah kami? Hey! Sadar! Kau Cuma numpang di rumah ini! Aku masih punya hak atas rumah ini, rumah ini harta bersama kami saat aku masih jadi suaminya Nina!”
“Bukannya kemarin Abang sudah merelakan Nina, waktu kami datang ke rumah orang tuamu? Kenapa Abang sekarang jadi kayak gini, Bang? Jangan sampai aku main kasar, Bang!”
“Kau mau numbok aku? Tumbok! Biar tau kau rasanya dingin lantai penjara! Hahahaha.” Bang Bondan menantang seperti orang kesetanan.
“Na, panggil Pak RT saja! Aku tak mau mengotori tanganku untuk menyentuh laki-laki ini!”
“Awas kau! Aku mau bawa anakku pergi dari sini!” Aku langsung berlari ke rumah Pak RT dan memberi tahu kalau mantan suamiku itu datang membuat huru-hara. Pak RT dan beberapa tetangga pun datang dan melihat Ronald berusaha menghalangi Bang Bondan yang masih berusaha membawa kabur anakku.
Riri menjerit-jerit histeris memanggil namaku. Aku sendiri pun hanya bisa menangis melihat anakku dikasari seperti itu.
“Pak Bondan! Tolong lepaskan Riri!” ujar Pak RT dengan tegas.
“Pak, saya tak ada urusan sama Bapak!” jawab Bondan lantang.
“Ooh, jelas ada, Pak! Bapak udah bikin keributan di lingkungan yang jadi wilayah tanggung jawab saya! Bapak bukan lagi warga kami, Bapak sudah bukan suami Buk Nina.”
“Tapi ini anakku, Pak! Aku punya hak untuk ngambil dia! Bapak semua harus tau siapa laki-laki yang jadi suami si Nina ini! Dia ini pernah ganggu istriku yang baru, Pak! Dia ini laki-laki tak beradab! Setelah tak berhasil dapatkan istriku, dia nikahi mantan istriku!”
“Tutup mulutmu Bondan!” teriakku tak bisa lagi menahan sesaknya hatiku.
“Kita bisa laporkan Pak Bondan ke pihak berwajib karena memasuki rumah warga kami tanpa izin, dan membuat keributan!”
“Bagus kau pergi aja, Bondan! Sebelum kami betul-betul panggil polisi!” ujar beberapa bapak-bapak yang lain. Akhirnya Bang Bondan melepaskan tangan anakku, Riri langsung berlari ke arahku dan kupeluk dia. Tampaknya Bang Bondan gentar juga mendengar kata polisi, kurasa cukup trauma dia berurusan dengan pihak berwajib.
“Sudah, pergi sekarang jugak! Jangan lagi datang kalau cuman mau bikin kerusuhan!” perintah Pak RT. Dengan menahan malu, wajahnya memerah, Bang Bondan langsung pergi seketika itu jugak.
“Ya Allah, Nina gak apa-apa kan si Riri?” tanya Bu RT saat dia menghampiri kami. Ronald juga langsung mendekat dan menenangkan kami berdua. Riri masih menangis histeris dalam pelukanku. Ronald menggendong Riri dan meredakan tangisnya.
“Makasih banyak lah ya Pak RT, Buk RT, bapak-bapak semua, kalau tadi tak dibantu, kami pasti udah berantam,” ujar Ronald pada semuanya. Mereka mengangguk dan mewanti-wanti kami untuk cepat kembali lapor jika tiba-tiba Bang Bondan kembali bikin ulah.
Tak lama kemudian, hujan turun sangat deras, mereka semua langsung kembali ke rumah masing-masing. Hujan disertai petir membuat anakku semakin ketakutan.
Riri masih menangis dalam gendongan Ronald. Dengan telaten Ronald berusaha menenangkan Riri, sampai akhirnya anakku tertidur. Pelan-pelan Ronald membaringkan Riri di atas kasur, memberinya selimut, dan menutup pintu kamar.
Aku menatap tetesan air hujan dari balik jendela. Kejadian tadi membuatku was-was. Bisa saja suatu hari Bang Bondan kembali nekat ingin mengambil Riri dariku. Aku tak akan rela, aku takut.
“Yank, masik kepikiran tadi, ya?” Ronald memeluk tubuhku dari belakang. Dikecupnya puncak kepalaku. Aku tahu dia juga khawatir pada kami.
“Cemana kalok Bang Bondan nekat ambil Riri saat kita kerja?”
“Nanti kita bilang sama guru-guru di sekolahnya, jangan izinkan siapapun jemput Riri selain aku, Nina, atau Kak Sari.”
“Aku gak rela kalau sampai Riri diambil sama dia.”
“Aku jugak gak rela, Yank! Cemana nanti perkembangan mental Riri diasuh sama orang tempramental kayak si Bondan itu.”
Aku hanya bisa tergugu, aku tak akan sanggup membayangkan jika aku benar-benar berpisah dari anakku.
“Udah, jangan nagis! Gak papa itu, semuanya akan baek-baek aja. Aku yang akan maju duluan kalok sampek Riri disakiti sama siapapun! Dia anakku.”
“Makasih, Yank!” Kubalikkan tubuhku, kupeluk dia. Sekarang dialah yang aku harapkanku untuk jadi pelindung setelah Tuhanku. Membayangkannya saja aku tak sanggup. Tuhan, jaga keutuhan keluarga kecilku ini, aku mohon!
***
Hari ini kami kembali ke sekolah, kami mengantar Riri ke sekolah. Kami pesankan kepada pihak sekolah dan security. Riri hanya boleh dijemput oleh aku, suamiku, dan Kak Sari seperti biasa. Kuceritakan sedikit tentang kejadian itu, dan pihak sekolah bisa memahami kekhawatiranku. Sekarang aku sdikit lega. Semoga saja Bang Bondan tak pernah punya niatan untuk mengambil Riri di sekolahnya.
Sampai di sekolah, kami disambut ucapan selamat dari semua guru. Rasanya begitu haru, begitu banyak orang-orang yang masih peduli padaku. Mereka patungan memberikan sebuah kado berukuran besar sebagai hadiah pernikahan kami.
“Maaf ya kadonya telat, soalnya mau datang gak bisa, jauh kali!” Demikian ujar meeka semua.
“Pak Ronald, makan-makan lah kita!” seloroh Pak Bernard.
“Oke, Pak! Siap! Nanti aku pesankan nasi ramas ya! Di rumah makan padang yang terkenal itu! Istirahat pertama nanti kita makan-makan.”
“Mantaaaap!” Mereka bersorak gembira. Aku tersenyum bahagia melihat kekonyolan guru-guru di sekolah ini.
“Selamat Buk Nina!”
“Betol, kan, yang kubilang kemaren dulu itu, Pak Ronald itu naksir sama Ibuk!” Buk Beti berkelakar.
“Hehe, alhamdulillah, memang jodohnya mungkin ya, Buk!”
“Alhamdulillah!”
“Pak Bernard dan Buk Dora, siap-siap predikat pasangan romantisnya pindah ke Pak Ronald sama Buk Nina!”
“Hahahahaha …” Kami semua tertawa bahagia. Bel berbunyi, dan kami berjalan menuju lapangan upacara untuk melaksanakan apel senin pagi.
***
Sekarang sudah waktunya jam pulang sekolah bagi Riri. Dia sudah berpesan sejak jauh hari untuk minta dijemput oleh sang Papa.
Kuhampiri Ronald di tepi lapangan, sepertinya sebentar lagi dia selesai mengajar.
“Pak Ronald,”
Kulihat anak-anak murid langsung bubar melihat kedatanganku menghampiri Ronald.
“Eh, iya. Udah waktunya Riri pulang, ya?”
“Iya, bisa jemput, kan?”
“Bisa, bisa! Ini udah mau selesai jam ngajar. Sebentar lagi ya,”
“Oke. Nanti bawa ke sekolah aja lagi ya, gak usah antar ke rumah Kak Sari biar nggak bolak-balik.”
“Siap Bu Guru!” Dia tersenyum ke arahku sambil memasukkan bola-bola ke dalam sebuah jaring. Masih, masih berdesir darahku dibuatnya.
Setengah jam kemudian, anakku sampai di sekolah, dan di dudukkan di meja guru milikku.
“Halo sayang, cemana tadi sekolahnya? Udah lama libur pasti kangen kawan-kawan, ya?” ujarku pada Riri. Terlihat wajahnya sangat ceria, syukurlah kalau dia sudah bisa melupakan kejadian kemarin.
“Iya, Mama! Buk guru bilang Riri lama kali liburnya, Buk guru kangen.”
“Anak cantik memang bikin kangen, kan banyak yang sayang sama Riri. Mama masuk kelas dulu ya, Nak! Riri di sini aja dikawani sama Papa. Oke?”
“Oke, Mama!”
“Udah Buk, anaknya biar sama kami! Anaknya lucu kali, ya! Pipinya itu tembem kali kurasa!” ujar Bu Beti.
“Titip anakku bentar ya, Buk!” ujarku tapi sambil melirik pada Ronald. Dia hanya mengangguk dan tersenyum.
“Iya, Buk!” sahutnya. Aku pun jalan menuju kelasku untuk mengajar jam terakhir.
Waktunya pulang sekolah, Riri ikut aku mengajar les di rumah Tasya. Ronald mengajaknya bermain, sedangkan aku fokus mengajari Tasya. Dia rupanya rindu seminggu tak bertemu denganku. Sekarang murid lesku tinggal Tasya saja. Sebelum olimpiade tempo hari, beberapa murid terpaksa aku offkan, karena jadwalku sangat padat. Tak apa lah, mereka pun tak terlalu keberatan dengan keputusanku.
“Ibuk, sekarang Tasya panggilnya Kakak, ya? Kan udah nikah sama abangku!”
“Hahaha, sukak-sukak Tasya aja mau panggil apa!”
“Hehehe, iya udah Kakak aja. Mama kemaren jadi dateng kan, Kak?”
“Dateng, Mama Papanya Tasya dateng. Kenapa Tasya gak ikut?”
“Gak bisa lah, Kak! Tasya besoknya mau ulangan.”
“Ooh, gitu. Iya lah. Gimana nilainya?”
“Kayak biasa, seratooos!”
“Bagooos!” Aku mengacungkan jempol padanya.
“Kak, anaknya Kakak ya yang tadi itu?”
“Iya, biar aja dia main sama Papanya.”
“Lucu kali kutengok la mukaknya. Kok gak mirip Kakak dia, ya?”
“Hahaha, mirip kok!”
“Sekolah apa dia, Kak?”
“Masih paud, bentar lagi TK.”
“Sama kayak Tasya, sekolahnya paud, TK, baru masuk SD.”
“Enak, kan? Sekolah belajaranya sambil main?”
“Iya, seru! Tapi sekarang tak bisa lagi banyak main! Tasya tak mau nilainya dibawah kawan-kawan lain.”
“Jangan terlalu keras belajarnya, sesekali bawak santai biar tak tegang kali otak.”
“Hehe, iya. Sekarang mau agak santai. Capek kali memang kurasa kalok terlalu serius.”
“Kan betol? Lebih enak dibawa santai tapi masok!”
“Hahahaha …” Dia malah tertawa.
“Bentar lagi masuk SMP, mau sekolah di sekolah mana?” tanyaku lagi.
“Di sekolah Kakak aja, lah! Biar pontenku seratos teroos!”
“Hahaha, mana aci! Kalok ada yang salah ya kurang nilainya.”
“Hahaha, Kakak kasi lah aku nilai seratos, kan kita sodara! Hahahaha!”
“Curang itu namanya!”
“Hahaha …”
“Udah siap apa belajarnya? Kok asik ketawa aja dari tadi Abang dengar?” Ronald masuk di ruang tempat aku mengajar dengan emnggendong Riri.
“Hahaha, belom, Bang! Kakak ini lucu, masak kalok aku masuk ke sekolah tempat Kakak ngajar, dia tak mau ngasi aku nilai seratos!”
“Enak aja kau mintak seratos! Belajar dulu yang betol!”
“Hahaha, aku kan paling pintar di sekolah sekarang, Bang!”
“Iya, di esempe kau besok tambah banyak saingan!”
“Hahaha, iya ya kan?”
“Makanya jangan incak-incak kau belajarnya! Apalagi nanti kalok udah kenal cowok, diselentik mamamu itu kupingmu kalok nilaimu menurun!”
“Hiii, jangan lah, Bang!” Tasya memonyongkan bibirnya.
“Hahahaha, takut nya kau, kan?”
Akhirnya hari itu kami tak belajar, cuman ngobrol sambil ketawa-ketawa aja. Kami pun pamit pulang, kebetulan Tante Kamila mamanya Tasya baru pulang dari kantornya.
“Eeh, ada manten baru datang!” Tante Kamila langsung cipika cipiki denganku.
“Iya, Tante, kan jadwalnya les Tasya.”
“Ini cucu Nenek, ya? Ya ampun masih muda udah jadi nenek-nenek.” Tante Kamila menoel pipi gembil Riri sambil terkekeh.
“Salam Nenek, Nak!” perintahku. Anakku pun menurut. Lalu kami pamit pulang karena hari sudah sore.
Sampai di rumah, aku melihat mantan Mamak mertuaku duduk di teras rumah kami.
“Mama, ada Nenek! Riri gak mau kalok Nenek mau ngajak Riri kayak Ayak kemaren.” Riri mulai histeris karena ketakutan. Kami masih di dalam mobil. Riri memelukku. Dia berpindah dari bangku tengah ke depan.
“Yank, cemana ini? Aku gak mau sampek Mamak bikin keributan lagi!” bisikku pada Ronald.
“Udah, tenang aja, ya! Biar aku turun dulu tanyak apa perlunya Mamak Bang Bondan ini.”
“Riri tenang, ya, sayang! Nenek gak akan jahat sama Riri.” Riri mengangguk meskipun masih terisak.
 

Komentar Buku (31)

  • avatar
    Dani Apay

    Semoga Reall Membayar Mau Berpa Pun Penarikan Saldo Nya Tanpa Ribet Iklan Dan Tanpa Syarat Apa Apa Cair Langsung Penarikan

    14/04

      0
  • avatar
    PutraRoyana

    ok thanks

    24/08/2025

      0
  • avatar
    Magdalena Laptop Account

    bagus banget

    07/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru