Beranda/Mertua Si Pahit Lidah/
Bab 55
Honeymoon
Kami baru saja selesai membersihkan diri untuk kedua kalinya pagi ini. Benar-benar lelaki sejati suamiku ini. Aku selalu berhasil dibuatnya terbang ke langit ketujuh. Terdengar pintu kamar diketuk dari luar.
“Na … Kakak sama anak-anak ikut, ya! Kami mau jalan-jalan ke Mall!” Terdnegar suara Kak Diana.
Aku membuka pintu karena memang sudah siap untuk berangkat.
“Ayok, lah, Kak. Mana anak-anak?” tanyaku padanya.
“Udah nunggu mereka di depan. Ya udah, Kakak tunggu jugak di depan, ya!” ujarnya. Aku pun mengangguk.
“Yank, Kak Diana sama anak-anaknya mau ikut kita, sekalian nanti jalan-jalan ke Mall.”
“Oke, sayang. Bentar lagi selesai ini. Tunggu aja di depan, ya!”
“Siip!”
Akhirnya kami pun meluncur menemui anakku. Rasanya rindu sekali pada Riri. Sedang apa dia sekarang? Aku menghubungi nomor Kak Sari, memberi tahu kalau aku dan yang lainnya sedang jalan menuju kesana.
“Kak, dimana?”
“Masih di Hote Mutiara. Ngapa, Na?”
“Kami mau jalan-jalan, sekalian bawak Riri. Kakak ada rencana kemana hari ini?”
“Mau nonton kami ke bioskop.”
“Waah, iya? Sama lah nanti ya, Kak.”
“Ya udah, kau langsung aja ke Centre point, Kakak pun udah mau jalan ini. Jumpaan disana aja nanti kita.”
“Ooh, oke, Kak. Ini pun kami sama Kak Diana dan anak-anakanya.”
“Oke lah, rame-rame kan seru.”
“Ya udah, kami tunggu ya, Kak.” Aku pun memutus sambungan telepon.
Sampai di Mall yang kami tuju, kami pun menunggu Kak Sari dan Bang Herdian di dalam Mall. Tak menunggu terlalu lama akhirnya mereka sampai.
“Mama ….” Riri memanggilku dan berlari menghampiri kami.
“Sayaang … Mama kangen lah sama anak Mama ini. Riri apa gak kangen sama Mama?” Kupeluk dia penuh rasa sayang.
“Enggak, hehehe …” jawabnya usil.
“Hmm, pinter ya usil!”
“Papanya dicuekin yaa?” Ronald langsung mengangkat tubuh Riri dan menggendongnya.
“Papa, kita beli mainan, yuk?”
“Ayuk, siapa takut? Riri mau beli apa biar Papa borong!”
“Hahaha …” Kami semua tertawa, lalu mulai berjalan-jalan mengelilingi Mall. Ronald menggandeng tanganku dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya menggendong Riri. Kami mencari toko mainan dan membiarkan Riri memilih apa yang dia mau.
“Papa yang ini boleh?” tanya Riri.
“Apa itu, Nak?”
“Playdooh!” jawabnya.
“Boleh. Kareen, Kevin, pilih mau yang mana, ya!” ujar Ronald lagi. Kedua anak Kak Diana sepertinya malu-malu pada kami.
“Iya, Om!” jawab mereka serentak. Kak Diana mengikuti kedua anaknya untuk memilih mainan yang mereka sukak. Semantara aku dan Ronald mengikuti Riri yang masih kebingungan mau beli mainan apa.
“Mama, itu barbie nya yang bisa nyanyi kan?”
“Kayaknya iya, Nak.”
“Riri mau itu, Ma!” ujarnya senang. Matanya berbinar saat Ronald mengambilkan boneka itu untuknya.
"Papa mau beli mobil remot, lah!" ujar Ronald, membuatku terbelalak heran.
"Kayak anak kecil aja, sih, Yank!"
"Hahaha, sukak aja, Yank, main mobil remot."
Aku biarkan saja dia memili mobil-mobilan. Setelah puas berbelanja mainan, kami pun berniat untuk bersantai dulu di café. Kak Sari, Bang Herdian, dan bungsunya sudah memisahkan diri sejak tadi. Mereka menuju kounter ponsel untuk melihat-lihat ponsel incaran Kak Sari. Sementara Kak Diana juga pergi mencari keperluannya sendiri. Tinggal kami bertiga saja, masuk ke foodcourt untuk makan makanan ringan. Kami memilih duduk di sofa panjang di sudut ruangan.
“Riri mau makan apa, Nak?” tanya Ronald.
“Papa, Riri mau es krim.”
“Tadi Riri di hotel sarapan apa, Nak?” tanyaku pula.
“Makan bubur ayam, sama sereal, sama buah.”
“Ya ampun, banyak kali makannya, Nak. Yang congok lah anak Mama ini, ya.”
“Yang, mau pesan apa?” tanya Ronald.
“Ini aja, Red Velvet sama jus rainbow.”
“Papa ini jugak, lah. Kayaknya enak.”
Kami pun langsung memesan makanan. Sambil menunggu pesanan datang, Riri sudah tak sabar membuka mainan barunya.
“Nanti aja di rumah sayang,” ujarku.
“Gak papa, lah, Na. Sini Papa bukakkan kotaknya.” Riri bertepuk tangan senang saat bonekanya sudah dibuka. Boneka barbie bernyanyi, bisa berputar-putar jika diletakkan dilantai. Ditimang-timangnya boneka barunya itu sambil tersenyum riang.
“Senang kali dia dapat mainan terus, Yank.”
“Anak kita harus bahagia, Mama sayang!” Ronald mendaratkan kecupan lagi di pipiku.
“Hiiih, nampak orang nanti!” ujarku setengah berbisik.
“Biar aja, orang sama istrinya kok. Hehehe.”
“Kunap!” ujarku sambil meliriknya.
“Apa itu kunap? Hahahaha, kawannya kurap?”
“Yank, ih! Jorok kali ngomongin kurap. Kunap itu kuat nafsu, tau?”
“Cemana gak nafsu, orang istrinya kayak bidadari gini,” ujarnya pula agak berbisik.
“Bidadari turun dari angkot, bukan dari khayangan! Dasar lelaki!” sungutku.
“Hahaha, turun dari angkot! Bibirmu itu lho, Yank!” ujarnya sambil mencubit daguku.
“Apa? Bimoli? Bibir monyong lima inchi?”
“Hahaha, Riri ini Mamanya lucu kali ya kan?” ujarnya pada Riri.
Kami masih asyik bercanda sampai akhirnya pesanan datang dan kami pun langsung menikmatinya.
“Lho disini kelen rupanya!” Tiba-tiba Kak Sari sekeluarga sudah muncul, masuk ke tempat yang sama.
“Dari mana Kakak? Ayok lah sini ngemil dulu kita. Mau makan berat masih tanggung,” ujarku.
“Abang ini ada mau jumpa kawannya dulu sebentar, orang PT jugak, tapi yang cabang Medan,” ujar Kak Sari.
“Ooh, dimana mau jumpanya?” tanyaku lagi.
“Di atas kayaknya, tempat makan jugak. Tapi kakak sama Raisa di sini aja lah, nampak Raisa tadi si Riri makan es krim, makanya kami masuk sini.”
“Abang ke atas dulu, ya, Na, Nald! Udah ditunggui kawan di atas!” pamit Bang Herdian.
“Oke, oke, Bang!” ujar suamiku pula. Bang Herdian pun berlalu.
“Pesan, Kak! Raisa mau apa, Nak? Mau es krim kayak adek Riri, ya?” tanyaku pada Raisa. Bocah itu mengangguk. Kami pun memanggil pelayan dan memesan beberapa cemilan lagi.
“Na, Kakak beruntung kali, dapat hape harga promo tadi.” Kak Sari membuka bungkusan kantong plastik di atas meja.
“Apa itu, Kak?” tanyaku.
“Hape, lagi ada toko yang cuci gudang tadi, lumayan, kalok harga normal mau tiga jutaan.”
“Jadi ini berapa Kakak belik?”
“Satu juta berapa tadi, ya. Gak sampek dua juta lah pokoknya. Inceran Kakak ini hapenya.” Kak Sari terlihat sangat senang memamerkan hape barunya.
“Wiih, beruntung kali yaa.”
“Yank, mau ganti hape? Kesana nanti kita kalok mau jugak.”
“Enggak, lah. Hapeku masih bagus kok. Aku mana pernah ganti-ganti hape kecuali kalok udah rusak parah.”
“Memang kayak gitu si Nina ini, Nald. Kalok punya barang yang awetan. Gak ganti-ganti sampek rusak. Tak macam Kakak, nampak model baru langsung belik. Hahahaha.”
“Ya Kakak bojonya Pak Menejer, wajar lah,” ujarku sambil tertawa.
“Ya udah, nanti kita tengok-tengok aja dulu, siapa tau ada yang cocok, kita beli.”
“Tah! Nina ini, orang dibelikkan sama lakiknya aja kok, ya kan, Nald!”
“Masik agak lupa kurasa dia Kak, kalok sekarang udah punya suami. Tadi aja bangun tidur macam tekejut gitu dia lihat aku. Hahaha.”
“Hahaha, ada-ada aja pun tingkah kelen ini.”
“Kak, jadi nonton?”
“Tak ada film anak-anak. Adanya film dewasa sama action semua. Tak jadi lah, masak anak-anak kita mau diajak nonton film dewasa, kan tak mungkin.”
“Ooh, udah Kakak cek tadi kesana?”
“Udah, makanya Kakak tau!”
“Yaah, gak jadi nonton deh!”
“Ya kalok kelen mau nonton berdua ya gak papa, biar si Riri sama Kakak.”
“Gak usah, lah, Kak. Merepotkan Kakak terus jadinya.”
“Repot apa, orang anakmu pinter, kok!”
“Hehe, lain kali aja nontonnya.”
“Mumpung disini, kalok udah pulang ke tempat kita sana mana ada bioskop!”
“Ooh, iya, pulak.”
“Nonton, Yank?” tanyaku pada Ronald.
“Mau nonton ayok, satu judul aja jadilah.”
“Ha, paling lama dua jam nya itu, ya udah nanti Riri biar sama Kakak. Dia tarok kolam bola aja tahan itu berjam-jam tak mau diajak balek. Lagian Kakak pun nungguinya duduk sambil main hape baru. Hihihi.”
“Oo, itu rupanya alasannya!” ujarku ikut terkekeh.
“Riri, Raisa, udah habis es krim kelen dua itu?”
“Udah, Ma!” jawab Raisa.
“Ha, ayok, lap dulu mulutnya pakek tisu. Pigi kita ke tempat main yang tadi malam.”
“Asiiiik …” Riri melonjak gembira.
“Nak, sini Papa lap dulu itu mulutnya. Makan es krim nya cemot-cemot gitu anak Papa.” Dengan telaten Ronald mengelap mulut Riri dengan tisu.
“Nah, udah cantik lagi anak Papa.” Diciuminya Riri dengan sayang.
“Kak, itu kayaknya Kak diana. Kakak ajak aja sekalian dia main, bawak anak-anaknya!” tunjukku saat melihat Kak diana lewat di depan foodcourt ini.
“Ooh, iya iya cocok jugak biar ada kawan ngobrol Kakak. Abangmu entah jam berapa itu nanti selesainya.”
“Iya, Kak.”
“Ya udah, duluan kami, ya! Selamat nonton berdua gelap-gelapan. Hahaha.”
Kulemparkan gulungan tisu kecil ke arah Kak Sari, dan dia semakin tertawa terkekeh-kekeh.
“Riri, jangan jauh-jauh dari Wak sari ya, Nak!”
“Oke Mama.”
“Cium dulu Mama!” Riri pun mencium pipiku sebelum pergi.
“Papa? Gak dicium?”
“O iya, lupa!” Riri pun tak lupa mencium pipi Papa barunya. Semakin berbunga-bunga saja hatiku dengan pelakuan manis suamiku ini. Sayangnya dia pada anakku, melebihi Ayah kandungnya sendiri.
“Yank, bentar lagi waktu dzuhur, ayok kita cari mushola dulu!” ujarku. Ronald melihat jam di pergelangan tangannya.
“Ooh, iya, tapi masih dua puluh menit lagi. Kita jalan-jalan dulu sempat lah. Apa mau beli tiket bioskop aja dulu?”
“Ya udah ayok!”
Ronald membayar ke kasir, lalu kami bergandengan tangan berjalan menuju bioskop di lantai paling atas.
“Itu kayaknya toko yang dibilang Kak sari, Yank! Rame kali pengunjungnya, karna promo itu mungkin, ya?” ujarku dari atas eskalator, menunjuk toko dilantai bawah.
“Ooh, iya kayaknya.”
Kami pun lanjut menuju ke tempat penjualan tiket bioskop, sambil melihat-lihat highlight film yang terbaru dan ditanyangkan hari ini.
“Kayaknya itu bagus, Yank!” Aku menunjuk sebuah poster film yang diperankan oleh salah satu artis horror papan atas.
“Yakin mau nonton film hantu?” Aku hanya mengangguk sambil menahan senyum.
“Nanti ketakutan pulak!”
“Takut ya kan ada suaminya, tinggal peluk!” ujarku sambil merapatkan diri ke arahnya. Tangan kami masih saling berpegangan. Biar saja orang-orang iri melihat kami. Pastinya mereka tahu kalau kami pengantin baru. Henna di tanganku masih terlihat jelas.
“Ooh, itu maksudnya pilih film hantu. Hahaha.” Ronald malah tertawa mendengar kata-kataku barusan. Aku cubit saja dia. Dia paling tak tahan kalau aku mencubit bagian perutnya.
“Gelik, Yank!”
“Udah sana antri, abis itu kita sholat dulu. Tayangnya masih jam satu lewat.”
“Oke!” Ronald pun melepaskan genggaman tangan kami dan berdiri mengantri di loket penjualan tiket. Tak lama kemudian dia pun menghampiriku kembali.
“Udah dapat, Yank. Yok lah turun dulu cari mushola. Udah dengar tuh adzan.”
“Yuk, lah.” Kami pun kembali turun dengan eskalator menuju mushola Mall di lantai bawah. Sampai di musholla kami sholat masing-masing karena tidak ada yang berjamaah. Aku masuk ke ruang shalat khusus wanita. Selesai shalat kami pun kembali naik ke lantai atas.
Aku duduk di bangku ruang tunggu bioskop.
“Yank, tunggu sini bentar, ya!” ujarnya.
“Mau kemana?” tanyaku.
“Beli cemilan sama minum. Masak mau puasa di dalam.”
“Ooh, ya udah!”
“Jangan kemana-mana!” Dicubitnya pipiku lagi.
“Iyaa!” ujarku sambil menjauhkan tangan usilnya itu. Dia pun berlalu. Lumayan lama aku menunggunya. Dia ini beli minum apa bikin minum sih? Beli pop corn apa jualan pop corn? Haduuh, aku jadi gelisah. Berkali-kali aku melihat jam di tanganku. Aku telpon dia juga tak diangkat. Sebentar lagi waktunya masuk ke dalam bioskop. Benar saja, tak lama kemudian terdengar suara dari speaker bahwa penonton diminta masuk ke dalam ruang bioskop karena film akan segera diputar.
Tak mungkin aku masuk sendiri duluan, sedangkan tiketnya dua-dua samaku. Aduuh, Ronald ini kemana, siih? Si mbak penjaga tiket sudah melirik ke arahku, dia pasti tau kalau aku juga akan masuk ke dalam karena aku duduk di bangku tunggu tepat di samping pintu. Orang-orang sudah masuk sejak beberapa menit yang lalu.
“Na!” Terdengar suara Ronald memanggilku. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang jugak.
“Kok lama kaliii? Kemana dulu?” tanyaku pura-pura melotot.
“Hehe, ini pegang dulu pop cornnya!” terlihat dia agak kepayahan memegangi minuman dan popcorn sekaligus. Aku terima sekotak besar popcorn dan segelas minuman soft drink.
“Itu apa?” tanyaku saat melihat satu bungkusan lagi di tangannya.
“Ini untuk istri tercinta! Udah nanti aja, kita masuk aja dulu, udah keburu diputar filmnya.” Kami pun masuk setelah menyerahkan dua lembar tiket pada Mbak penjaga. Lalu naik mencari nomor kursi kami, dan akhirnya ketemu. Kami berdua langsung duduk menunggu film ditayangkan. Penonton tak terlalu banyak, karena ternyata film ini sudah tayang satu hari sebelumnya juga.
“Dari mana tadi kok lama kali?” bisikku.
“Ke bawah,” jawabnya singkat.
“Ngapain?” tanyaku masih penasaran.
“Nanti pun tau, kita nonton aja dulu!”
“Iiih, jangan sukak bikin penasaran ngapa!” Aku gelitiki saja perutnya biar dia mengaku.
“Hihihi, ampun, Yank! Tau kali kelemahan suaminya. Iya ini belik hape baru untukmu sayang!”
Dia menyerahkan plastik berisi kotak hape yang baru saja dibelinya.
“Dih, belik hape kok aku gak diajak tadi?” ujarku gemas.
“Kan biar surprise!”
“Huuh, bilang aja takut aku pilih yang mahal, kan?”
“Hihihi, iya!”
“Iiiih!” Aku cubit dia sekali lagi.
“Eh, iya ampuun. Enggak, denk, ini pun mahal kok, Yank! Hahaha.”
“Apa mereknya?”
“Tengok aja sendiri, lah!”
Aku cepat-cepat membuka isi bungkusan itu, mumpung lampu bioskop belum dimatikan.
“Alhamdulillah, makasih banyak ya, sayang!” Kukecup pipinya yang sengaja dia sodorkan padaku.
“Sukak?” tanyanya sambil merangkulku.
“Sukak, lah. Sekalian nanti kita beli baju ya!”
“Oke, mumpung disini puas-puasin lah belanja, Yank!”
“Bayarin ya, Yank!”
“Iyaa, amaan! Asalkan nanti malam,” ujarnya sambil menegedip-ngedipkan matanya.
“Huuh! Dasar Pak Ronald!” Aku dorong lengannya sedikit menjauh.
“Hahaha! Eh, udah mau mulai. Awas ya jangan nangis ketakutan!”
“Enggak, lah. Hantu Indonesia gak serem!”
“Ini minumnya tarok yang bagus, nanti tumpah pulak!” ujarnya padaku.
“Iya, ya udah ini dimakani lah popcorn nya!”
Kami pun langsung fokus pada layar besar di depan. Suara menggelegar, dan lampu pun padam.
“Yank, itu nanti dia mati jadi hantu!” bisiknya di telingaku.
“Udah diem jangan berisik, spoiler!” ujarku juga berbisik. Jarak dua bangku di sebelah kami ada penonton lain jugak. Jangan sampai kami jadi tontonan orang gara-gara membising.
“Hihihi, kalok takut nanti berondok bawah ketek, ya!”
“Dieeem Pak Ronald!” Kugigit saja telunjuknya. Kebetulan sekali dari tadi dia tak mau melepaskan genggaman tangannya padaku.
“Aduh, sakit, Na! awas ya nanti aku balas!”
“Udah diem!” Aku menyandarkan kepala di lengannya yang kekar itu.
“Hihihi, belum apa-apa udah pegangan lenganku, bilang aja takut!”
“Bukan takut sama hantunya!”
“Jadi?”
“Takut kehilanganmu, Sayang!”
“Jiaaahahahaha ….”
Plakk! Aku memukul pahanya biar dia diam. Dasar suami gaje! Hahahaha ….Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (31)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Semoga Reall Membayar Mau Berpa Pun Penarikan Saldo Nya Tanpa Ribet Iklan Dan Tanpa Syarat Apa Apa Cair Langsung Penarikan
14/04
0ok thanks
24/08/2025
0bagus banget
07/07/2025
0Lihat Semua