Bab 50

Rencana
Suasana sekolah masih belum terlalu ramai saat aku datang. Aku langsung menuju ruangan khusus bimbingan untuk mempersiapkan diri. Bimbingan dan latihan kepada siswa-siswa peserta olimpiade hanya dilakukan seminggu dua kali. Aku siapkan laptop dan proyektor di atas meja. Mengatur semuanya supaya ketika siswa datang kami langsung siap untuk belajar.
Kesibukan membimbing ini hampir tiap tahun aku lakukan. Sekolah selalu mempercayakan aku untuk membimbing para siswa yang terpilih. Lelah sudah pasti. Saat siswa lain istirahat, kami masih fokus belajar. Namun kami bisa bebas saat siswa lainnya kembali masuk kelas. Jam istirahat di akhir jadi lebih panjang.
Aku berjalan menuju kantin sekolah, karena perutku sudah mulai keroncongan. Aku melirik jam di pergelangan tanganku. Pukul setengah dua siang. Pantas saja. Selesai shalat di mushola tadi aku memang tak langsung mencari makanan untuk mengganjal perut. Akhirnya setelah bimbingan selesai, barulah aku bisa tenang menikmati makan siang.
Aku memesan makanan dan segelas jus jeruk. Duduk di tempat biaa kemudian menikmati makan siangku. Tak lama kemudian datang Pak Bernard yang juga baru selesai mengajar bimbingan.
“Makan, Pak!” ujarku padanya.
“Iya, Buk. Aduh, untung lagi sepi jadi enak mau makan.”
“Iya, Pak.”
“Makan sendirian aja, Buk?”
“Hehe, iya, Pak. Kan guru lain pada masuk kelas. Cuman kita berdua yang bebas tugas sementara.”
“Hehehe, kayaknya bertiga, Buk!” Pak Bernard memberi kode kalau ada orang lagi dibelakangku. Ya ampun, dia sudah berdiri di sana, mungkin memesan makanan juga. Akhirnya kami makan bertiga di satu meja. Sengaja hanya mengobrol hal-hal biasa tentang kesibukan di sekolah ini. Hufh! Syukurlah dia tak menunjukka tingkah yang aneh-aneh.
“Saya duluan, Buk, Pak. Mau bawakan jus ini untuk istri,” ujar Pak Bernard sambil tertawa renyah.
“Ciyee, pasangan romantis,” ujarku ikut tertawa.
Pak Bernard pun berlalu, tinggal kami berdua di sudut kantin. Aku sudah selesai makan, hanya tinggal menghabiskan minuman saja.
“Sibuk ya, Na? istirahat tadi gak kelihatan.”
“Iya, lhoo. Kan jam istirahat kami beda. Tapi udah selesai sekarang. Kalau mau pulang duluan jugak boleh.”
“Kita jalan-jalan sebentar, yuk? Aku pun udah selesai jam ngajarnya. Nanti sore lagi ngajar ekskul.”
“Kemana?”
“Makan?”
“Ngawur aja. Ini kan kita baru siap makan.”
“Hahaha, iya, lupa.”
“Lambungku gak akan muat makan banyak-banyak.”
“Ya jalan-jalan kemana gitu? Biar relax dan gak stress.”
“Kemana? Kapan-kapan aja, lah, ya?”
“Sekarang aja, kan kita sama-sama jam kosong.”
“Hahaha, masak guru mau cabut?”
“Bukan cabut, sayang. Cuman merilekskan pikiran aja sebentar.”
“Ya udah, ke toko buku aja. Mau cari buku untuk bahan bimbingan.”
“Oke, setuju. Ayok!”
“Izin dulu sama Bu Kepsek!”
“Oh, iya, lupa!”
Kami pun meminta izin keluar pada Ibu Kepala Sekolah.
“Kompakan ya keluarnya?” ujarnya datar.
“Nina mau beli buku buk, untuk tambahan bahan bimbingan.”
“Ooh, ya sudah. Silahkan! Pak Ronald, antarkan sekalian Buk Nina, ya!”
“Lho? Ya kebetulan kalok gitu, Buk.” Pak Ronald malah kegirangan.
“Saya tunggu undangan dari kalian berdua!” ujar Bu Kepsek sambil tertawa. Padahal aku sudah agak takut kalau-kalau tak diberi izin.
“Buk?” ujarku sambil mengernyitkan dahi.
“Hehehe, saya bercanda! Ya sudah sana cepat pergi, kayaknya mendung mau hujan. Sebelum jam pulang sekolah harus sudah kembali, ya!”
“Siap, Buk!” sahut Pak Ronald dengan roman wajah sangat gembira. Apakah Bu Kepsek mulai curiga kalau kami berdua memang ada hubungan? Adduh! Pusing pala berbie.
Aku dan Pak Ronald langsung menuju parkiran. Ternyata hari ini dia tak naik ninja nya ke sekolah. Outlander hitam yang kemarin ada di sana.
“Ayo naik tuan putri,” ujarnya sambil mempersilahkan aku masuk setelah pintu dia bukakan.
“Lebay kaliiii ….”
“Hahaha, nanti pun lama-lama biasa, malahan kangen sama kelebayan ini. Hahaha.” Aku hanya sedikit merengut dan langsung naik, memasang safety belt dan menunggu dia duduk di bangku kemudi.
“Tuh, kan, gerimis. Untung tadi aku bawak mobil.” Aku hanya melihat kesamping, benar, hujan mulai turun perlahan.
“Na.”
“Ya?”
“Kok diam aja?” tanyanya saat mobil sudah berjalan cukup jauh.
“Terus harus gimana? Nyanyi? Nanti sakit kuping dengarnya.”
“Hahaha, ya ngobrol, lah. Mau cari buku apa?”
“Mapel yang aku ajar, lah. Masak buku resep masak.”
“Hahaha, iya pulak! Aku jugak mau cari buku, lah. Buku tips dan trik menjadi suami yang baik. Ada gak, ya?”
“Hahaha, ada, aku yang nulis. Tapi gak laku, jadi udah ditarik dari peredaran.”
“Bwahaha, kok gitu?”
“Iya, soalnya penulisnya akhirnya rumah tangganya bubaran.”
“Hahaha, ada-ada aja, pun.”
“Hehe, cari aja buku lain. Tauladan Rasulullah misalnya. Beliaukan jelas suami yang baik bagi istri-istrinya.”
“Istri-istrinya, ya?” ujarnya bergumam. Tapi aku tetap bisa mendengarnya.
“Heh, mikir apa?” tanyaku sambil melotot ke arahnya.
“Hahaha, iya kamu bener, aku mau cari buku itu aja.”
“Dasar lelaki!”
“Hahaha, tenang aja, nanti pun istriku cuman kamu, Na! Sayaaang!” ujarnya sedikit berteriak.
“Kurang keras bilang sayangnya! Budek kupingku tau!”
“Iya, biar Nina yakin kalau aku sayang, sayang kali, pun.”
“Udah sih, gak perlu dibilang-bilang terus.”
“Kan biasanya cuman bilang di chat, Nina gak dengar langsung.”
“Nyetir aja yang bener! Hujan ini, jalanan licin!”
“Okke deh, sayang!” Aku hanya memajukan bibirku sedikit mendengar ucapannya itu.
Akhirnya kami sampai di toko buku terbesar di kota ini. Dia keluar duluan dan membuka payung untukku.
“Ayo masuk duluan tuan putri, hehe.”
“Makasiih, yaa … Payung!”
“Kok makasih sama payung? Hahaha.”
Kami pun langsung masuk ke dalam toko. Untung saja aku gak sampek basah kenak hujan. Ronald menyusul setelah meletakkan payungnya entah dimana.
“Na, aku ke deretan ujung sana, ya!”
“Oke!”
Kami berpisah untuk mencari buku pilihan kami masing-masing. Aku sudah mendapatkan buku yang aku cari, namun aku tak melihat Ronald, mungkin dia ada dibalik rak-rak buku. Aku menuju kasir untuk membayar.
“Sini aku aja yang bayar!” Tiba-tiba saja dia sudah ada di sampingku dan merebut tumpukan buku dalam genggaman tanganku.
“Eeh, jangan! Udah biar aku bayar sendiri aja!”
“Gak papa lho, Na. biar Abang Ronald yang bayar!”
“Diiih, Abang pulak!”
“Hahaha, Nina duduk aja di sana, tunggu sebentar, ya!”
“Bener ini dibayarin? Nanti aku disuruh ganti rugi pulak.”
“Iya, tukar dengan cintamu saja sayang!”
Bugh! Aku meninju lengannya yang kekar itu. Ya pastinya dia tak akan merasakan sakit. Seberapalah tenagaku ini.
“Lagi dong! Kayak gitu rasanya ditinju sama kesayangan. Hihihi.”
“Ganjen! Itu baru pakek tenaga luar, belum tenaga dalam!” kelakarku. Beberapa orang yang juga mengantri malah menoleh ke arah kami. Akhirnya daripada jadi pusat perhatian, aku mengalah, pergi ke bangku di sisi lain toko untuk menunggu Pak Ronald.
“Udah, nih!” Dia menyerahkan bungkusan plastik berisi buku-buku pilihanku tadi.
“Abis berapa? Aku ganti, ya?”
“Gak usah, sayang! Udah ayok mau kemana lagi?”
“Balik ke sekolah, lah!”
“Oke, siap!”
Kami pun menuju parkiran dan naik ke dalam mobil. Cuaca masih gerimis dan kami hanya bisa melaju dengan kecepatan sedang.
“Na, berapa minggu lagi lomba?”
“Tujuh minggu.”
“Masih lamaa.”
“Ya memang segitu lah waktunya. Makanya biarkan aku konsen mengurus murid-muridku.”
“Ya, aku mana tahan sehari aja gak chat sama Nina.”
“Buktinya kemaren dulu itu bisa diemin aku.”
“Hahah, ya kan itu mau tau cemana reaksi Nina. Dan lagian, rasa sayangnya sejak itu sampek hari ni semakin besar.”
“Masak?”
“Iya!”
“Alasannya apa?”
“Apa, ya? Nina itu baik, cantik, cerdas, disukai banyak murid dan guru-guru lain, kalem, gak banyak tingkah, susah ditebak, terus manis.” Dia tersenyum ke arahku. Serrr! Darahku lagi-lagi berdesir.
“Dulu gak pernah ngeh kalau aku ini seperti itu?”
“Dulu kita gak sedekat ini, terus Nina jugak ada suami. Mana berani aku menaruh rasa pada istri orang. Hahaha.”
“Semuanya gara-gara Ranti, kan?”
“Iya! Harus makasih jugak sama dia. Karena dia, aku jadi penasaran sama sosok Nina. Dan sampai akhirnya malah jatuh cinta. Cinta mati pulak.”
“Bweh! Gombal!”
“Na!”
“Hmm.”
“Rencana kita nikah dimana? Di sini atau di rumah ortu Nina?”
“Kayaknya di rumah ortu aja, lah. Lagian keluarga banyak di sana.”
“Boleh, jugak. Bapak pun sering di sana. Kami kesana sama Ibuk paling sebulan sekali.”
“Ya, di sana aja. Aku khawatir ada gangguan kalau acaranya di sini.”
“Setuju!”
“Tapi mau minta tolong, kalau bisa menjelang nikah nanti, kita jangan terlalu sering kirim pesan.”
“Biar apa? aku mana tahan, sayaang!”
“Dua hari menjelang nikah aja. Biar rindu.”
“Nina, aku gak nyangka Nina bisa jugak ungkapkan perasaannya kayak gini.”
“Serius, ini. Sampai kita sah jadi suami istri, jangan chat aku, ya! Chat Bapakku aja!”
“Hahaha … baiklah, kita cobak.”
Tanpa terasa, kami pun sudah kembali sampai di sekolah. Aku langsung masuk ke ruang guru dan menata buku-buku di dalam laci mejaku. Supaya besok aku tak terlalu ribet mencarinya.
 

Komentar Buku (31)

  • avatar
    Dani Apay

    Semoga Reall Membayar Mau Berpa Pun Penarikan Saldo Nya Tanpa Ribet Iklan Dan Tanpa Syarat Apa Apa Cair Langsung Penarikan

    14/04

      0
  • avatar
    PutraRoyana

    ok thanks

    24/08/2025

      0
  • avatar
    Magdalena Laptop Account

    bagus banget

    07/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru