Bab 48

Nina Tahu Ranti Celaka
Hari ini aku mendapat kabar dari Bang Herdian bahwa Bang Bondan mendapat vonis penjara selama tiga bulan, potong masa tahanan. Sementara dia sudah ditahan sekitar satu bulan, artinya dia hanya akan menjalani sisa masa tahana selama dua bulan lagi. Aku tak tahu apakah harus sedih atau senang. Kasihan juga kalau dia lama-lama di dalam tahanan. Karena kasus yang menjeratnya merupakan jenis penganiayaan ringan, makanya vonisnya hanya tiga bulan. Sesuai perkiraan Bang Herdian.
Ya sudah, lah. Semoga lain kali dia lebih berhati-hati dalam bertindak. Semua yang kita lakukan pasti akan dipertanggungjawabkan, entah di dunia ataupun kelak di akhirt.
Aku sedang bersiap mengantar Riri ke sekolahnya, namun dia sangat sayang untuk meninggalkan boneka barunya. Akhirnya aku mengizinkannya membawa serta boneka itu ke sekolah. Riri dengan sangat gembira masuk ke sekolahnya sambil membawa boneka. Siswa PAUD masih boleh bawa mainan ke sekolah. Aku senyum-senyum sendiri melihat tingkah anakku itu.
Aku pun melanjutkan perjalananku. Saat melewati ruas jalan seperti biasa, aku melihat kerumunan orang-orang di jalan. Kulihat juga ada beberapa petugas polisi di TKP. Aku berhenti sebentar untuk bertanya.
“Bang, ada apa kok rame-rame?” tanyaku pada seorang lelaki yang ada di sana.
“Ini, Kak. Tadi malam ada kecelakaan. Kereta tabrakan sama colt diesel.”
“Ya Allah, jadi cemana kondisi korbannhya, Bang?”
“Dua orang cewek-cewek boncengan, dua-duanya kritis katanya. Sekarang di rumah sakit.”
“Ya Allah.”
“Iya, Kak. Kata orang yang nampak, yang naik kereta itu yang ngebut.”
“Gitu, ya, Bang? Makanya hati-hati lah kita bawak kendaraan.”
“Iya, Kak. Itu bekas darahnya banyak berceceran. Kalok masik idup mungkin mukjizat lah itu, Kak!” Aku merinding mendengar kalimat terakhir si Abang. Aku pun langsung melanjutkan perjalanan menuju sekolah. Membayangkan sakitnya akibat luka berat saja aku sudah tak tahan, memang benar masih terlihat bekas darah yang sudah disiram di jalanan itu. Ngerii!
Sampai di sekolah, si pemilik ninja sudah menungguku di parkiran. Suasana belum terlalu ramai karena hari masih pagi. Aku sengaja berangkat cepat untuk mempersiapkan bimbingan bagi siswa-siswi yang akan ikut olimpiade tingkat kabupaten.
“Pagi kesayangan!” ujarnya saat aku sudah memarkirkan sepeda motor dan membuka helm.
“Ingat tempat, ya!”
“Kan gak ada orang, ya gak apa-apa, lah! Hehe.”
“Hari ni kayaknya bakalan sibuk, aku gak masuk kelas, cuman khusus kasih bimbingan aja.”
“Sama guru lain jugak?”
“iya, sama Pak Bernard.”
“Aku cemburu,” rajuknya.
“Jangan kayak anak kecil! Kami dapat tugas berat, harus bisa tembus tingkat kabupaten dulu. Kalau menang, baru maju tingkat provinsi.”
“Tambah lama lagi dong sibuknya?”
“Enggak, kalau udah naik tingkat provinsi nanti ganti pembimbing.”
“Hufh! Syukurlah. Jangan sampek Nina lagi yang dapat tugas ke provinsi.”
“Do’akan aja dulu biar anak-anak kita menang!”
“Iya, aku pasti do’akan.” Dia tersenyum manis, aku tak berani menatap wajahnya. Takut jadi terbayang-bayang lagi, terus urusan bimbingan jadi gak konsentrasi. Aku dan dia berjalan beriringan menuju ruang guru. Baru ada beberapa guru saja yang sudah datang. Waktu bel masuk masih sekitar sepuluh menit lagi. Kami menuju ke meja kami masing-masing.
“Pak, Buk, udah tau kabar?” tanya Bu Beti.
“Apa itu, Buk?” tanyaku.
“Tadi malam katanya ada kecelakaan di jalan sana itu!”
“Ooh, iya tadi aku lewat situ, masih banyak polisi sama orang yang nengok,” ujarku.
“Kecelakaan apa itu, Buk? Tadi pagi sempat aku baca sekilas di pesbuk, tapi karna fotonya berdarah-darah, aku skip aja.” Pak Ronald ikut bicara.
“Kereta sama mobil colt diesel katanya. Kereta itu laju, mau nyalip, rupanya di depan ada colt diesel. Ya udah, beradu, lah.” Bu Beti bercerita dengan antusias.
“Ngeri, aku tadi lewat masih ada bekas-bekas darahnya. Katanya korbannya kritis dua orang perempuan.”
“Ha, ini dia mukak korbannya. Sempat-sempat pulak orang ini merekam, bukannya lekas ditolong! Sini, Buk, Pak, ini ada orang yang mosting kejdian tadi malam itu.” Karena penasaran, aku pun mendekat pada Buk Beti untuk melihat ke layar ponsel miliknya. Pak Ronald pun tak mau ketinggalan. Saat Buk Beti menscroll layar untuk melihat lebih banyak foto, aku terkesiap saat salah satu korban terlihat bagian wajahnya. Dia adalah Ranti. Dengan refleks aku dan Pak Ronald langsung saling bertatapan. Dia mengangguk tanda mengerti, yang kami lihat itu adalah Ranti. Sedangkan satu lagi temannya aku tak kenal.
“Ya Allah, kasihan sekali nasibnya.” Bu Beti menyudahi untuk menunjukkan foto-foto itu pada kami.
“Nanti pun ditutup itu sama pihak pesbuk, tak boleh mampangkan muka orang kecelakaan kayak gitu,” ujar Pak Ronald. Aku kembali ke mejaku dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Satu sisi aku kasihan karena dia harus mengalami kejadian buruk, tapi juga sedikit lega karena dia tak akan mengganggu hubungan kami lagi. Aku masih mendo’akannya, semoga dia selamat dan bisa memperbaiki hidupnya.
Hari ini pikiranku masih agak kurang fokus, lima orang murid pilihan yang aku bimbing masih asyik berdiskusi dengan contoh soal-soal olimpiade tahun lalu.
“Anak-anak, ini contohnya soal yang keluar di olimpiade tahun lalu. Mungkin tahun ini kan lebih berat. Tapi modelnya mungkin tak jauh berbeda.”
“Iya, Buk. Kalau masih mirip seperti ini kami masih sanggup ngerjakan, Buk.”
“Iya, semoga aja soal yang keluar gak terlalu sulit. Tapi kalian harus tetap mempersiapkan diri. Tantangan dari lawan-lawan kalian lumayan banyak, penyisihan kali ini kita harus masuk tiga besar supaya bisa tembus ke tingkat provinsi.”
“Siap, Buk! Kami akan berjuang!”
Anak-anak ini semuanya siswa paling berprestasi di sekolah. Mereka dipilih karena sudah lulus uji yang dilakukan pihak sekolah. Kami sampai sore membahas pelajara, dibantu pula dengan Pak Bernard. Jika aku bagian materi, Pak Bernard yang mengajarkan soal penalaran. Anak-anak terlihat sangat antusias. Syukurlah, semoga masih semangat sampai nanti waktunya perlombaan.
Jam lima sore, aku baru keluar dari gerbang sekolah. Sekolah sudah sepi, aku memilih lewat jalanan yang ramai. Aku trauma lewat jalanan yang selalu ada premannya. Jam segini pengendara jarang lewat situ. Lebih baik aku cari aman saja.
Sampai di rumah Bang Herdian sudah hampir maghrib. Aku mandi dah sholat maghrib di rumah Kak Sari. Selanjutnya kami makan malam bersama. Aku ceritakan kalau aku mendapat info bahwa Ranti mengalami kecelakaan tragis. Entah bagaimana nasibnya kini. Bang Herdian dan Kak Sari turut prihatin, namun kami tak mungkin mengunjunginya ke rumah sakit. Keadaannya mereka adalah pihak yang tak menyukai kami.
“Do’akan aja, Na. Semoga masih dikasi kesempatan hidup sama Allah.” Kak Sari berkata dengan raut wajah serius.
“Tapi Abang dengar-dengar tadi, kan heboh ini beritanya, satu udah ninggal tadi pagi.” Bang Herdian menyahut.
“Ya Allah, serius, Bang?” tanyaku.
“Iya, katanya. Tapi Abang pun gak tau pasti jugak.”
“Siapanya yang ninggal, Bang? Ranti apa kawannya?” tanyaku penasaran.
“Kurang tau jugak Abang. Cak kau telpon siapa orang dekat rumahmu dulu, tanyak cemana kabarnya, si Ranti apa kawannya yang meninggal. Kalok memang dia, ya kita layat besok ke rumahnya.”
“Iya, Bang. Aku mau nelpon Mak Uwo dulu, tetangga dekat situ yang dulu bantu aku jagakan bayinya Riri.”
“Ha, iya, lekas tanyak!”
Aku langsung mengambil ponsel dan menghubungi nomor Mak Uwo.
“Assalamu’alaikum, Na! apa kabarmu, Nak? Rindu lah Uwo sama Riri.”
“Wa’alaikum salam, Wo. Alhamdulillah kami sehat.”
“Kapan kelen main kemari?”
“Insya Allah, kalau Nina tak sibuk kali Nina main kesana, ya, Wo!”
“Iya, Na! Ada apa ini kok tumben kau nelpon?”
“Wo, aku mau tanyak. Orang kampung situ ada kabar duka apa?”
“Oo, iya! Itu lah sampek lupa Uwo mau ngasi tau. Si Ranti yang jadi binik barunya si Bondan, tadi malam katanya kecelakaan.”
“Iya, Wo. Nina udah tau. Tapi sekarang kabarnya cemana, Wo?”
“Katanya masih kritis, Na. Kepalanya itu banyak keluar darah. Kakinya katanya ada yang patah jugak. Kalok kawannya katanya udah ninggal tadi pagi. Kereta yang dipakek itu memang kereta si Ranti, tapi kawannya yang bawak. Ngebut, tak pakek helm pulak. Ya udah lah!”
“Innalillahi wainnailaihi roji’un. Berarti Ranti masih kritis, ya, Wo?”
“Iya, kawannya itu yang ninggal. Kasian lah. Pas pulak kan Mamak sama Bapak si Ranti ini sekarang ada di sini. Belum lama datang dari jawa.”
“Ooh, gitu.”
“Iya, banyak dapat musibah anak itu. Kemaren rumah lamanya kebakaran, kau tau?”
“Enggak tau, Wo. Semenjak pisahan itu aku gak pernah tau kabar kampung itu lagi. Padahal aku kangen sama bekas Bapak mertuaku. Sehat gak dia, Wo?”
“Bapak si Bondan?”
“Iya, Wo.”
“Sehat-sehat gitu, lah! Namanya orang udah tua. Udah jarang dia keluar rumah. Malu dia katanya semenjak kau pisahan itu, gak sudi dia sama mantu barunya.”
“Owalah, kasian Bapak.”
“Iya, sekali-kali kau bawak Riri jenguk opungnya, ya!”
“Iya, Wo. Insya Allah. Makasih banyak infonya ya, Wo.”
“Iya, Na. Main-main lah kelen kemari, ya!”
“Iya, Wo. Kapan ada waktu kami kesana.”
“Iya.”
“Ya udah dulu ya, Wo. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Aku sedikit lega setelah tau kabar ini. Ranti masih hidup walaupu kondisinya kritis. Semoga Alalh menolongnya dan memberikan kesembuhan. Aamiin.
“Bukan si Ranti, ya, Na?” tanya Kak Sari.
“Bukan, Kak.”
“Orang jahat memang lama matinya,” ujar Kak Sari.
“Kakak ini, kasian lho, Kak!”
“Tah! Kakakmu itu kadang-kadang kalok ngomong sukak betol! Hahahaha.” Bang Herdian malah terkekeh.
“Hah! Abang pun sama.”
“Do’akan aja, lah. Semoga dia sehat terus tobat.”
“Iya, Kak. Aamiin.”
“Apa dia masik ngejar-ngejar si Ronald?” tanya Kak Sari kepo.
“Entah, Kak. Aku gak pernah tanyak-tanyak.”
“Tanyak, lah! Kan dia calon lakikmu!” ujar Kak Sari lagi.
“Gak berani aku, Kak. Itu urusan pribadi dia. Kalok memang dia serius ya pasti dia gak akan macam-macam ke perempuan lain.”
“Betol jugak, sih.”
“Aku berusaha percaya aja. Kalok suatu hari dia berbuat yang salah, pasti Allah tunjukkan.”
“Abang yakin dia baik.”
“Tadi malam kami diajak makan diluar. Riri dikasi hadian banyak kali tah apa-apa aja. Baru sekali ni aku nengok Riri bahagia kali.”
“Ooh, iya?”
“Sebenarnya gak mau aku pergi sama dia, Bang. Takut ditengok orang gak enak.”
“Ya sebaiknya jangan sering-sering. Ingat kau itu jugak seorang guru.”
“Iya, Bang. Dia ngajak nikah.” Aku berusaha berkata dengan suara pelan.
“Hah? Kapan itu?” tanya Kak Sari dengan wajah sumringah.
“Sering, Kak. Tapi kubilang nanti dulu. Aku masih ada yang harus diurus. Aku dapat tugas bimbing siswa yang mau ikut olimpiade.”
“Lama itu?” tanya Bang Herdian.
“Lombanya dua bulan lagi, Bang. Jadi ya setelah itu, lah.”
“Lho, pas itu pas si Bondan keluar penjara!” sahut Kak Sari lagi.
“Iya, bisa jadi.”
“Jangan sampek lah si Bondan betingkah lagi nanti pas kelan mau nikah.”
“Ya jangan berburuk sangka jugak, Kak.”
“Takutnya, kan.”
“Mudah-mudahan aja enggak. Aku udah rela dilepaskan sama dia, artinya dia udah gak lagi berharap samaku,” ujarku lagi. Tapi jujur dalam hatiku ada rasa sedikit khawatir dengan kata-kata Kak Sari tadi. Semoga ini hanya perasanku saja.

Komentar Buku (31)

  • avatar
    Dani Apay

    Semoga Reall Membayar Mau Berpa Pun Penarikan Saldo Nya Tanpa Ribet Iklan Dan Tanpa Syarat Apa Apa Cair Langsung Penarikan

    14/04

      0
  • avatar
    PutraRoyana

    ok thanks

    24/08/2025

      0
  • avatar
    Magdalena Laptop Account

    bagus banget

    07/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru