Beranda/Mertua Si Pahit Lidah/
Bab 22
Bab 22
Mereka Memohon
Ingin rasanya aku tertawa terbahak-bahak melihat mereka galau setengah mati. Sudah salah kok malah menyalahkan orang lain. Memangnya dia siapa? Coba main-main dengan orang yang tidak dikenalnya. Setelah tahu langsung mengkerut macam jeruk purut.
Aku jadi ingin tahu apakah mereka benar-benar mendatangi rumah bang Herdian untuk meminta cabut laporan? Berhubung Riri juga masih di rumah Kak Sari, aku jadi ada alasan untuk menjemput anakku.
Aku langsung mandi dan bersiap menuju rumah abang angkatku itu. Berdandan secantik mungkin, dengan pakaian tertutup dan sopan. Aku melaju ke kompleks perumahan mewah tempat Bang Herdian dan keluarganya tinggal.
Sampai di sana aku melihat sepeda motor si Ranti memang terparkir di halaman. Aku bertanya pada Mas security pribadi Bang Herdian.
“Siapa yang datang, Mas?”
“Ada ibu-ibu sama cewek cantik, Mbak.”
“Ciyeeh naksir, ya?”
“Nggak lah, Mbak. Pakaiannya cewek itu kurang sopan. Masak iya pakek daster kengsi datang ke rumah menejer.”
“Udah dari tadi, Mas?”
“Belum, Mbak. Kayaknya mereka dari tadi muter-muter dulu nyari rumah ini.”
“Ooh. Hehehe, oke makasih, ya! Aku masuk dulu mau jemput anakku.”
“Oke, Mbak.”
Aku pun langsung masuk ke dalam rumah mereka dari pintu samping. Aku menghampiri Kak Sari yang sedang membuat minum di dapur.
“Kak!” ujarku sambil mengendap-endap.
“Ah! Kau nya, Na! bikin kaget aja kau!”
“Ada tamu, ya, Kak?”
“Hiih, rasa pingin Kakak campur sianida ini di minuman yang mau Kakak kasikan mereka. Ulat bulu itu datang sama mantan mertuamu!”
“Hahaha … tadi pagi udah duluan dia datangi aku, Kak. Malah nyuruh aku cabut laporan. Salah alamat mereka. Apa memang udah terciduk si Bondan laknat itu, Kak?”
“Udah, langsung tadi malam katanya.”
“Nekat jugak orang tu datang kemari, ya? Memang gak ada mukak. Jadi kasian aku sama bekas Bapak mertuaku.”
“Ngapai kau kasian?”
“Kalok Bapak mertuaku dulu itu baek, Kak. Sukak bela aku dia kalok Mamak lampir itu merepet.”
“Hahahaha ... Untung lah kau udah lepas dari jeratan mereka.”
“Hahaha … sebenarnya sakit, sih, Kak. Tapi aku bawak sante aja, karna ini dunia, bukan surga! Ngapai aku bertahan di neraka dunia. Belom tentu jugak besok mati masuk surga. Kalok dapat neraka dunia akhirat alangkah ruginya aku, Kak.”
“Ada-ada aja kau ini. Bagusnya kita apain ini minuman mereka? Apa kita kasi racun aja?”
“Hahaha ... Jangan lah, Kak!”
"Udah gemes kali Kakak nengoknya. Bajunya si ulat itu kok gak ada sopannya. Bertamu ke rumah orang kok kayak mau mandi ke sungai.”
“Kan mulus dia, Kak?”
“Ah! Lambemu, lah! Mulus-mulus tapi paok!”
“Bwahahahaha ... Aku mau ikut nimbrung lah, Kak!”
“Ha, ayok! Kita geber mereka biar kapok.” Aku langsung membuntuti Kak Sari yang membawa nampan berisi minuman untuk tamu terhormatnya.
“Nah! Udah sampek sini kau, Nina?” tanya Bang Herdian.
“Udah, Bang. Sampek sini jugak orang dua ini rupaknya, ya?” tanyaku sambil duduk di dekat Kak Sari yang sudah menyuguhkan minuman pada mereka berdua.
“Minum dulu, Buk! Tenang aja, gak ada racunnya, kok.” Kak Sari berkata sambil memeluk bantal sofa.
“Cemana, Ma? Ini bekas mertua Nina mintak tolong kita cabut laporannya.”
“Ngapa kok mintak dicabut?” tanyaku pura-pura tak tahu.
“Ini memang kau punya kerja, kan, Nina?” ujar Ranti dengan wajah kesal.
“Kok aku pulak? Kan kelen datang-datang main tumbuk aja! Sekarang baru kelen kenak batunya! Tak tau berhadapan dengan siapa?” tanyaku mengejek.
“Mak, makin ngelunjak dia. Marahi, Mak!” ujar Ranti dengan kebiasaannya merengek seperti anak kecil.
“Nina! Apa gak kasian kau sama anakmu? Kok bisa kau misahkan anak sama bapaknya, kau pisahkan dengan dinding penjara. Dimana hati nuranimu sebagai perempuan?” ujar Mamak berapi-api.
“Kok gak kebalek itu? Cak Mamak tanyak dulu sama ulat bulu ulat keket di sebelah Mamak itu. Apa ada hati nuraninya merebut suami orang? Dua kali kepergok selingkuh, bukannya malu apa tobat. Malah semakin menggatal! Dia udah duluan misahkan anakku dengan bapaknya” ujarku santai.
“Kan, Mak! Dia masih sukak sama Bang Bondan. Pasti nanti dia mau lepaskan Bang Bondan asalkan Bang Bondan mau kembali sama dia.” Ranti malah membuat dugaan yang tak berdasar.
“Sepuluh pun laki-laki macam si Bondan itu untukmu semua, aku ikhlas! Bahagia hidupku semenjak kami pisah!”
“Nina, kayaknya orang dua ini memang cuman mau carik gara-gara aja! Bagusan kita biarkan aja si Bondan lama dalam penjara! Biar tau dia rasanya sakit suaminya diambil sama polisi.” Kak Sari ikut geram mendengar kata-kata si duo bulu.
“Pak! Aku mintak lah dulu kebijakan Bapak sebagai orang terhormat. Bapak lepaskan lah dulu anakku, besok-besok kami gak akan lagi mau berurusan sama keluarga Bapak! Termasuk sama si Nina ini!”
“Aku gak bisa jamin!” jawab Bang Herdian dengan santai.
“Aku yang jamin! Bondan udah bahagia punya binik baru yang lebih baik dari si Nina. Gak lokek, gak pelawan, santun, lembut, gak keras kepala macam si Nina ini!” ujar Mamak lagi.
“Masik berani jugak Ibuk menjelekkan adekku di depanku, ya?” tanya Bang Herdian sambil sedikit menggeser duduknya. Membuat Mamak terdiam seketika. Ciut juga nyalinya.
“Gini, lah! Kami bayar, lah! Berapa Bapak mintak?” tanya Ranti mencoba bernegosiasi.
“Kau pikir aku kekurangan duit?” balas Bang Herdian sadiss.
“Bukan gitu, Pak. Kasian lah Bapak sikit samaku, kami manten baru, loh, Pak!”
“Ah! Gak urusanku itu! Toh kau pun gak nya kasian dulu sama anak dan istrinya si Bondan. Kau rayu laki-laki yang jelas-jelas udah berkeluarga! Kau yang jahat kok kau pulak yang cari pembenaran!” Lagi-lagi Bang Herdian menjawab dengan tegas.
“Udahlah, jangan disangkutkan lagi sama masalah rumah tangganya dengan Nina dulu. Sekarang mereka bukan siapa-siapa lagi.” Kali ini Mamak lagi yang bicara.
“Aku pun dari tadi gak nya menyangkutkan kesana! Kan kelen duluan yang bicara. Kubalekkan lah lagi sama kelen itu!”
“Jadi gak mau Bapak melepaskan si Bondan? Gak kasian Bapak nengok Bapak si Bondan itu udah sakit-sakitan. Kalok gak ada si Bondan, dari mana kami makan?” ujar Mamak mulai memelas bermain peran.
“Tadi kelen nawarkan duit, kan? Ha! Kelen pakek aja duet itu untuk biaya hidup kelen sama berobat Bapak kelen! Selesai!” sambung Bang Herdian mantap.
“Aduuh, Mak! Cemana nya ini?” tanya Ranti tak sabar.
“Kau pun diam lah dulu! Dari tadi cemana-cemana aja teros yang kau bilang! Ya kan ini pun Mamak lagi berusaha!”
“Hahaha! Mamak kan udah punya mantu kaya yang dermawan, sholeha, baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung. Sekarang nikmatilah!” ujarku mengejek.
“Udah Nina sama Kak Sari masuk aja dulu. Biar Abang yang ngurus mereka berdua. Sampek kapanpun Abang gak akan mau cabut laporannya. Biar merasakan dulu mereka balasannya udah merusak rumah tangga Adek Abang.” Kami menuruti kata-kata bang Herdian dan memilih masuk ke dalam ruangan lain. Namun belum sempat kami beranjak, Riri datang dan melihat Mamak.
“Nenek!” ujarnya sambil berlari menghampiri Mamak.
“Eh! Apa nya kau, kau bukan cucuku lagi, ya!” ujar Mamak dengan refleks menjauhkan tangan Riri yang hendak memeluknya.
“Ya Allah, Mak! Kok bisanya Mamak bilang kayak gitu? Dia tetap cucu Mamak walaupun aku udah bukan istrinya Bondan!” ujarku kesal. Riri merajuk menghampiriku dan langsung memeluk kakiku.
“Nenek jahat, Ma!” ujarnya sambil terisak.
“Halah! Udah gak usah kebanyakan cakap lagi! Aku nanti akan dapat cucu lain dari si Ranti! Pastinya laki-laki dan penerus Marga si Bondan!” ucap Mamak, sengaja ingin menyakiti hatiku.
“Kalok gitu ceritanya, sebelum aku emosi bagusan kelen keluar dari rumahku! Dua perempuan tak punya hati! Kalian tak berhak dapat belas kasihan!” usir Bang Herdian dengan geramnya.
“Oke! Kami akan sewa pengacara hebat untuk melepaskan Bondan! Jangan mentang-mentang kelen orang kaya bisa berbuat seenaknya!” ujar Mamak sambil berdiri.
“Cobak aja sana! Sekarang cepat keluar!” bentak Bang Herdian lagi.
“Ayok, Mak. Kita pigi aja! Percuma mohon-mohon sama mereka. Orang kaya sombong! Dia pikir kita gak punya uang untuk sewa pengacara!”
“Terserah kelen mau ngapa! Kami udah gak mau berurusan sama kelen lagi!” ujar Kak Sari yang juga ikut geram. Kak Sari mendorong Mamak dan si Ranti keluar dari rumahnya.
“Pak satpam! Kasi tujuk jalan pulang dulu orang dua ini! Tesesat pulak nantik mereka!” ujar Kak Sari memberi perintah pada securitynya.
“Siap Buk Bos!” jawab sang satpam.
“Kami tau jalan, gak usah ditunjukkan! Rumah kelen ini masih sepele, mantu baruku sanggup jugak beliknya! Ya kan, Ti?”
“Kecil itu, Mak. Besok kita belik rumah sebelahnya itu. Biar tau mereka, biar jangan sombong lagi sama kita! Ayok Mak kita pulang aja!”
“Ha! Cepat pigi! Sebelum datang lalat ijo ngerubungi kelen dua!” ujar Kak Sari sambil menutup pintu. Kak Sari langsung menghampiriku yang masih sulit menenangkan Riri.
“Udah, Nak’e. Jangan nangis lagi, ya! Udah Wak usir orang jahatnya.” Riri langsung mengangguk dan luluh dalam gendongan Kak Sari.
“Betul-betul gak punya hati bekas mertuamu itu, Na. Sama anak kecil pun cucunya sendiri kayak gitu.”
“Itu lah, Kak. Aku pun bingung.”
“Harusnya ya, dia butuh sama kita, dia harusnya merendah bukannya malah sombong kayak gitu!” sambung Bang Herdian.
“Udah mintak tolong tapi marah-marah. Gak ada adab! Mentang-mentang orang tua pikirnya itu!” Kak Sari masih terlihat kesal.
“Riri mau nonton apa, Nak’e? Sini kita nonton sama-sama. Kartun iya?” tanya Kak Sari pada Riri. Riri mengangguk dan roman wajahnya kembali ceria. Sungguh sakitnya hatiku melihat anakku disakiti. Mereka boleh menyakiti hatiku, tapi jangan hati anakku. Benar-benar tak punya welas asih. Cucu sendiri tak diakui.
“Abang gak akan cabut laporannya, Na! biar mereka merasakan sakitnya!”
“Aku setuju, Bang. Dia yang selingkuh, dia pulak yang fitnah kita.”
“Kalau dia tahu dari dulu kalok kau adek angkat Abang, pasti dia gak akan berani macam-macam.”
“Belum tentu jugak, Bang. Udah ketahuan sekali pun nyatanya dia ulangi lagi kesalahan yang sama.”
“Aduh Abang nengok bekas mertuamu itu bikin naik tensi Abang aja pun! Betol! Cakapnya itu jahat kali. Kok tahan kau hampir enam tahun punya mertua kayak gitu?”
“Namanya dulu aku gak tau, Bang. Memang udah nasibku mungkin.”
“Ya udahlah, yang penting sekarang udah dijauhkan kau dari keluarga gilak itu.”
“Iya, Bang! Udah bersyukur kali aku. Walaupun masih sukak jugak mereka ganggu hidupku.”
“Kau jangan takut! Lawan aja!”
“Iya, Bang!”
“Kalok nggak kau jangan lagi tinggal disana! Sewakan aja rumahmu, kau tinggal sama Abang. Nanti Abang bilang sama Bapak sama Mamak.”
“Betol itu kata Abangmu, Na! Kalok kau masih sendiri di rumah itu, gak aman.” Sambung Kak Sari.
“Nantilah, Kak. Kupikirkan dulu baik buruknya.”
“Iya, lah! Sekarang gak usah lagi kau takut atau kepikiran soal si Bondan. Biar aja dia sama keluarganya menerima balasan yang setimpal.” Kak Sari memelukku dan aku pun membalas pelukannya dengan erat. Terima kasih ya Allah, sudah berikan keluarga yang sangat baik dalam membantu setiap masalahku.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (31)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Semoga Reall Membayar Mau Berpa Pun Penarikan Saldo Nya Tanpa Ribet Iklan Dan Tanpa Syarat Apa Apa Cair Langsung Penarikan
14/04
0ok thanks
24/08/2025
0bagus banget
07/07/2025
0Lihat Semua