Bab 126

Final Chapter
“Nina, Ronald, makasih banyak, ya! Sampek hari ini kelen masik peduli sama Mamak,” ujar Mamak, tangannya menggenggam tanganku. Kami baru saja mengantarkan Mamak pulang kembali ke rumahnya.
“Mulai sekarang, Mamak jangan lagi kerja berat-berat, jaga kesehatan, ya!” ujarku sambil membenarkan selimut yang menutup badan Mamak.
“Iya, Na. Kakakmu si Ruli pun dia mau pindah lagi kemari ngurusi Mamak.”
“Ya memang harus gitu lah, Mak! Mana bisa Mamak tinggal sendirian.”
“Na, kok Mamak dengar kau mau pindah?”
“Iya, Mak. Aku ikut suamiku. Dia harus megang urusan di kantor besar. Bapak mertuaku udah tua, udah waktunya istirahat.”
“Jadi, kita gak bisa jumpa lagi, lah, ya?”
“Insya Allah bisa, Mak. Kami pun nanti sesekali kemari, Ronald jugak harus mantau kantor yang di sini.”
“Mamak pasti jadi kangen sama anak-anakmu, Na!”
“Mamak kan masik punya Nisa sama Andi, anak-anak Kak Ruli, mereka pun pasti sayang sama Mamak. Jangan lupa, Mak. Mereka jugak kan cucu Mamak.”
“Iya, Mamak sering kayak gitu, gak sayang sama cucu sendiri. Sekarang Mamak baru sadar, mereka itu anak-anak yang ngajarkan ketulusan, gak pernah ada dendam di hati mereka, ya, Na?”
“Kak Ruli, mulai besok bukak jualan sarapannya di depan rumah Mamak aja, yakin banyak jugak yang belik. Kan di dekat sini tak ada yang jualan sarapan,” ujarku pada Kak Ruli.
“Iya, Na! Dimana aja lah, asal mau usaha, pasti ada aja rezekinya, ya, kan?”
“Mak … Mamak lekas sehat, ya! Nina pamit dulu.”
“Iya, Na! kapan kau pindah?”
“Masik agak lama, Mak. Mungkin bulan depan.”
“Iya, lah. Mamak do’akan semoga kalian terus bahagia, banyak rezekinya, sehat-sehat kelen, ya! Mamak tak bisa ngasi apa-apa, Mamak cuman mintak do’a dari kelen jugak.”
“Iya, Mak! Mamak udah sehat aja pun aku ikut senang nengoknya.”
Sebelum aku keluar rumah, kulihat para tetangga datang untuk menjenguk Mamak. Syukurlah, akhirnya mereka bisa kembali akur. Aku sempat berbasa-basi juga sebentar, lalu pulang bersama Ronald.
“Alhamdulillah, akhirnya Mamak bisa pulang ke rumah, sehat lagi. Jadi kita pindah udah tenang.” Ronald menarik tanganku dan mengecupnya dengan mesra.
“Aku aja kaget, Yank, tiba-tiba ada perintah pindah ke kantor pusat. Padahal kita belum lama nempati rumah baru.”
“Kan kasian Bapak, Na! udah waktunya Bapak istirahat. Aku yang urus kantor besar. Aku udah buktikan kalok aku bisa dipercaya megang jabatan di kantor besar.”
“Aku ya senang, Yank. Walaupun ada sedihnya jugak.”
“Rumah kita jangan dijual, jadi kalok sewaktu-waktu kita apa aku kemari, kan punya tempat tinggal, gak harus nginap di hotel.”
“Iya. Hikmahnya pun kan aku jadi dekat sama Mamak bapakku, Yank!”
“Nah, itu dia! Kapan mau bisa main ke rumah mereka.”
“Disana kita tinggal sama Bunda, ya?”
“Iya, lah, Na. Rumah itu untuk kita.”
“Aku seneng, Bunda orangnya baik kali. Anak-anak pun pasti seneng. Bunda selalu manjakan mereka.”
“Pokoknya Nina tau beres aja, urus anak-anak aja. Nanti urusan pindah biar aku yang ngurus!”
“Makasih, ya, Yank!”
***
Hari ini, Riri meminta kami mengantarnya menemui ayahnya di rutan. Sebelumnya Kak Ruli juga berpesan untuk menyempatkan menjenguk Bang Bondan sebelum kami pindah, Bang Bondan sangat ingin bertemu Riri. Kami akan pindah ke luar kota, mungkin ini pertemuan mereka yang terakhir sebelum Bang Bondan bebas. Ronald pun meluangkan waktu untuk mengantar kami.
Pertemuan Ayah dan anak itu begitu haru. Aku tak bisa manahan air mataku, bahkan untuk bicara saja rasanya dadaku terlalu sesak. Mereka berpelukan, Ronald juga berusaha menguatkan hati Bang Bondan. Meyakinkan dia kalau Riri akan baik-baik saja bersamaku dan Ronald. Riri menghapus air mata yang mengalir di pipi Bang Bondan, mereka saling menyayangi, saling menguatkan.
Beberapa waktu kemudian, kami mendapat kabar dari Kak Ruli kalau Bang Bondan divonis selama dua belas tahun penjara. Waktu yang cukup lama, semoga Bang Bondan bisa menjadi orang yang jauh lebih baik lagi setelah ini.
Disinilah kami sekarang, di rumah Bunda. Bunda sudah mulai sakit-sakitan, Bunda sangat ingin masa tuanya berkumpul dengan anak dan cucu-cucunya. Wanita hebat yang sudah mengabdikan diri sepenuhnya untuk kebahagiaan kami, karena keluasan hati Bunda, akhirnya ada Ronald, dan kami hidup bahagia.
Inilah kehidupan baruku, hidup seatap dengan mertua. Sungguh jauh berbeda dengan yang dulu pernah aku rasakan sebelumnya. Bahagia yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Anak-anak tumbuh semakin besar, sehat, dan juga cerdas. Usaha yang dijalankan Ronald juga semakin maju pesat. Sesekali aku masih mengirimkan uang untuk Mamak mantan mertuaku.
Bunda, beliau memperlakukanku dengan sangat baik, bukan sebagai menantu, tapi seperti anak kandungnya sendiri. Semanjak aku tinggal bersama Bunda, kesehatan Bunda jadi lebih terkontrol. Aku senang bisa menemani Bunda melakukan aktivitas yang sama-sama kami sukai.
Kapan ada waktu, kami suka perawatan ke salon berdua, makan di luar, jalan-jalan atau sekedar window shopping di Mall. Kadang Ronald dan Bapak yang jagakan anak-anak. Tapi mereka senang, karena kalau kami berdua bahagia, maka suasana rumah juga akan bahagia.
“Bunda jadi kelihatan Muda, semenjak ada Nina.” Demikian Bapak mertuaku memuji Bunda.
“Iya, mungkin kemarin-kemarin Bunda sering meriang itu karena Bunda kesepian. Sekarang kan udah ada anak sama cucu kumpul di rumah. Bunda jadi semangat.” Bunda berkata seraya merangkulku. Kami semua tertawa bahagia.
Tak terasa, sudah tiga tahun berlalu. Kehidupan kami kian membaik, sesekali kami masih kembali ke rumah lama kalau kebetulan Ronald harus mengecek kondisi kantornya. Sejauh ini semua karyawan yang bekerja selalu amanah, tak ada kecurangan apalagi korupsi. Kuncinya adalah, Ronald memberikan kepercayaan penuh pada mereka, segala keluhan dan kesulitan mereka, selalu ditanggapi dengan baik oleh Ronald sebagai pimpinan.
Hari ini, tepat lima tahun pernikahanku dengan Ronald. Kami merayakan dengan membuat acara makan malam sederhana di rumah, berdo’a, dan aku mendapat hadiah kecil dari Bunda.
“Waah, makasih banyak hadiahnya, Bund! Bunda repot-repot, kan, jadinya?” ujarku saat melihat sebuah gamis cantik yang dibelikan Bunda khusus untukku. Warna dan modelnya aku benar-benar suka.
“Untuk Nina yang udah merawat Bunda, yang udah jadi istri terbaiknya anak bunda, Ibu terbaik jugak untuk cucu-cucunya Bunda, hadiah itu belum seberapa. Tapi boleh gak Bunda mintak sesuatu sama Nina?”
“Apa, Bund? Insya Allah kalau Nina bisa ya Nina turuti.”
“Hehehe … Bapak aja lah yang bilang!” ujar Bunda sambil bergelayut manja di lengan Bapak. Bapak jadi terkekeh melihat tingkah Bunda.
“Na, Bundamu itu mintak cucu lagi! Katanya biar rumah ini hidup karna ada tangisan bayi!”
“Masya Allah, kalok itu aku setuju, Bund!” Ronald menyahut dengan penuh semangat.
“Kan Arka udah lumayan besar, Bunda kuat kok kalok harus begadang malam jagain cucu.” Bunda tersenyum merayu.
“Hahahaha ….” Kami semua jadi tertawa, permintaan yang cukup masuk akal. Pastinya Bunda ingin merasakan kembali nikmatnya mengurus bayi.
Malam ini kami semua manikmati makan malam dengan bahagia. Anak-anak semakin lengket dengan kedua mertuaku itu. Arka, dia sudah hampir empat tahun, sudah pandai bicara, dan protes kalau dia tidak suka. Riri, gadis kecilku ini juga sudah semakin cantik, selalu juara kelas, dan sangat sayang pada Arka. Dia menjadi Kakak yang sangat mengayomi untuk Arka, mengalah tetapi sikapnya sangat tegas.
Saat anak-anak asyik menonton tv dengan kakek neneknya, Ronald mengajakku duduk di taman belakang rumah Bunda. Taman yang sudah kami sulap jadi arena bermain dan juga tempat koleksi bunga-bunga kesayangan Bunda.
“Pak, Bund! Kami mau ngobrol di halaman belakang dulu, titip anak-anak, ya!”
Bunda mengedipkan mata sebelah, membuatku jadi salah tingkah. Bapak malah mengibaskan tangannya, seolah berkata lekaslah kalian sana, pergi! Hahahaha ….
“Ngapain kesini, Yank?”
“Ada yang mau aku kasi untuk istriku tercinta!”
“Kenapa gak di dalam aja?”
“Kalok di sini kan remang-remang, romantis!”
“Hahaha … udah tua lho kita, masih aja sukak sok romantis!”
“Loh, lihat Bapak sama Bunda, mereka pun masih sukak romantis, kok!”
“Ya udah, mau kasih apa?”
Ronald mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, lalu memberikannya padaku.
“Apa ini?” tanyaku bingung.
“Bukak, laaa!”
“Hehehe, apa, ya?” Kugoncang-goncang kotak hadiah kecil yang Ronald berikan padaku.
Perlahan kubuka kotak kecil pemberian Ronald. Terlihat sesuatu berkilau tertimpa cahaya lampu taman yang temaram.
“Alhamdulillah, dapat kalung cantik!”
“Iya, kan kemaren kalung Nina putus ditarik Arka.”
“Hahaha, mau aku bawak ke toko mas buat disambung lagi, tapi belum jadi-jadi.”
“Ini aku belikan, biar kembaran sama Bunda. Cincin berliannya kembaran sama Ibuk. Kan Nina mantu kesayangan Bunda sama Ibuk. Hehehe ….”
“Ya ampun, sampek segitunya. Gak karena perhiasan ini pun, aku sayang sama mereka, dan mereka sayang samaku, Yank!”
“Ini tandanya, di dalam diri Nina ada sifat mereka berdua, penuh kasih, penuh perhatian, rela berkorban, dan semua yang baik-baik ada sama Nina, kumpul jadi satu. Itu penghargaan dariku untuk istriku tersayang.”
“Makasih, ya, Pak Ronald. Gak nyangka kamu masih bisa selalu romantis.”
“Kan aku udah janji dulu, sebelu kita nikah. Aku akan selalu romantis sampek kita tua.”
“I Love You suamiiii ….” Kurangkulkan kedua tanganku di lehernya.
“Gak cukup cuman bilang I Love U!” ujarnya, balas mendekap tubuhku sampai tak ada jarak lagi diantara kami berdua.
“Hahaha … jadi?”
“Ingat kan permintaan Bunda tadi?” ujarnya sambil mengecup bibirku.
“Wadduh! Langsung ditageh! Hahaha ….”
“Iya, lah! Mumpung kita masih muda, ayok kita gas pool!”
Ronald semakin erat mendekap tubuhku, suara binatang malam semakin membuat suasana jadi romantis. Perlahan kami berdua tenggelam dalam cumbuan manis, tak ingin terpisahkan lagi.
“Woooyyy … yang lagi pacalaaaan! Ini anak-anak kelen udah ngantook! Balek, baleeeek!” Tiba-tiba saja terdengar teriakan Bapak dari arah belakang rumah. Kami jadi tertawa, batal melanjutkan acara mesra-mesraan di taman.
“Kapok! Udah, ayok kita pulang!” ujarku sambil menepuk halus pundak kekar suamiku itu.
“Nanti kita lanjutkan perjuangan yang belum selesai!” Ronald tersenyum, dia kembali menciumi pipiku, lalu kami berjalan, bergandengan tangan, dan pulang.
Terima kasih Allah, atas segala karuniaMu dalam hidupku. Satu yang aku yakini setelah segala perjalan pahit dan ujian hidup yang aku alami, teruslah berbuat kebaikan, maka kebaikan itu akan kembali lagi kepada diri kita. Insya Allah ….

Komentar Buku (31)

  • avatar
    Dani Apay

    Semoga Reall Membayar Mau Berpa Pun Penarikan Saldo Nya Tanpa Ribet Iklan Dan Tanpa Syarat Apa Apa Cair Langsung Penarikan

    14/04

      0
  • avatar
    PutraRoyana

    ok thanks

    24/08/2025

      0
  • avatar
    Magdalena Laptop Account

    bagus banget

    07/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru