Bab 100

Bahagianya Kita
Mimpi apa aku semalam, pagi-pagi diajak ke kantor sama Ronald. Sampai sana dapat kejutan dari karyawan. Ronald memang selalu bisa bikin hatiku berbunga-bunga. Jadi teringat waktu dulu dia melamarku didepan teman sesama guru dan murid-murid satu sekolah. Rencananya selalu berjalan mulus. Aku salut, dia selalu tau caranya membuat hatiku ini senang.
Cincin berlian dengan model yang cantik dan lucu disematkan di jari manis tangan kananku. Katanya tanganku ini yang selalu berusaha membahagiakan dia dan anak-anak, kadang-kadang dia itu memang lucu, romantis, tapi juga sukaknya maksa.
Aku ucapkan terima kasih karena dia selalu menghargai apapun yang sudah aku lakukan untuknya dan anak-anak. Mungkin memang masa-masa pernikahan kami memang lagi manis-manisnya. Walaupun selama menikah sudah cukup banyak cobaan yang harus kami hadapi bersama. Hari ini dia kembali membuktikan rasa cintanya untukku.
“Makasih banyak, sayang! Sebenarnya gak perlu kado semahal ini, aku merasa kayak belum pantas pakek cincin berlian.”
“Itu sebagai bukti, aku bekerja keras untuk kamu dan anak-anak kita, Nina sayang!” Dicubitnya pipiku dengan gemas. Kami masih di dalam ruangan kerjanya.
“Bahagiaku yang sesungguhnya itu, kamu, suamiku dan anak-anakku, serta semua keluarga kita selalu dalam keadaan sehat.”
“Aamiin. Semoga selalu diberi kesehatan sama Allah. Nyenengin istri itu kan jugak dapat pahala, ya kan, sayang?”
“Hahaha, iya lah! Sekali lagi makasih banyak, ya!”
Tiba-tiba ponselku berdering, Mamak melakukan panggilan video call.
“Anak Mamak, tambah dewasa, sehat selalu, ya, Nak!” ujar Mamak, wajahnya terlihat bahagia. Mamak dan Bapak selalu ingat tanggal lahirku.
“Makasih banyak do’anya, Mak, Pak! Do’a kalian itu yang paling utama!” Terlihat Bapak melambaikan tangan disamping Mamak.
“Iya, maap Mamak sama Bapak gak bisa datang pas pembukaan kantor barunya Ronald kemaren! Bapakmu ini ada acara pulak yang udah direncanakan jauh-jauh hari. Tak enak kalok dibatalkan.”
“Iya, gak papa, Mak, Pak!” sahut Ronald.
“Ya udah, baik-baik kelen disana, jangan lupa kalok mau kemari kabari Mamak! Mamak kangen sama cucu ini!”
“Iya, Mak! Insya Allah kalok Ronald ke kantor besar Nina ikut, nginap di rumah Mamak.”
“Iya, Nak! Ya udah dulu, ya! Kelen yang rukun disana!”
“Iya, Mak!”
“Assalamu’alaikum ….”
“Wa’alaikum salam ….”
Kami berdua tersenyum setelah kedua orang tuaku menutup panggilan videonya.
“Kapan kita pulkam ke rumah Mamak lagi ya?” tanyaku pada Ronald.
“Hmm, nanti kalok ada urusan yang harus diurus ke sana lah, ya!”
"Oke, mumpung Riri masih TK, besok kalok udah SD payah cari hari libur yang agak lama.”
“Iya, sayang. Nina mau kuantar pulang? Apa mau di sini aja sampek jam pulang kantor?”
“Lama kali, pulang aja lah, Yank! Nantik Riri kasian.”
“Ya kita jemput aja main ke kantor sini.”
“Pulang aja, lah! Aku mau masak. Nanti malam kita dinner sama Ibuk, sama orang Kak Sari.”
“Di rumah?” Aku mengangguk.
“Hehehe, boleh boleh.”
“Di halaman belakang aja, kita bakar ikan, cemana?”
“Waah, asik lah! Mantap! Bikinkan sambel kecap bawang goreng, ya!”
“Hahaha, gagal dietmu sayang!”
“Gak papa sesekali aja kok.”
“Ya udah, ayok. Kita pesan ikannya dulu, biar nanti sore diantar. Malam tinggal siap dibakar.”
“Yok lah! Adek jugak kayaknya ngantuk dia mau mimik. Biasanya jam segini kalok di rumah dia waktunya tidur.”
“Iya, ya udah aku gendong Arka, kamu turunkan ini strollernya.”
“Nanti, kita akan punya kantor yang pakai lift, biar gak naik turun tangga. Insya Allah.”
“Aamiinn ….”
Kami pun turun ke lantai satu. Ronald pamit sebentar pada karyawannya untuk mengantarku pulang. Kami singgah di tukang penjual ikan segar, memesan untuk diantarkan nanti sore, ikan yang udah disiangi. Jadi aku tak perlu capek-capek lagi, tinggal dicuci bersih, dikasih bumbu, dan panggang.
Kami pun singgah menjemput Riri di sekolahnya. Terlihat anakku agak muram.
“Kenapa, sayang?”
“Mama, Papa, tadi Ayak kesini.”
“Riri jumpa sama Ayak?” tanyaku.
“Iya, Ayak tau Riri sekolah TK di sini.”
“Terus?” tanya Ronald ikut merasa khawatir.
“Kata Bu guru Riri gak boleh ikut selain sama Mama atau Papa.”
“Alhamdulillah, Riri ada ngomong apa sama Ayak?” tanyaku lagi.
“Ayak mau ajak Riri jalan-jalan, tapi Riri gak mau. Ayak ngomong dari luar pagar sekolah. Sama Buk Guru terus Riri diajak masuk lagi.”
“Ya Allah, Nak. Riri mau jumpa Ayak?” tanya Ronald. Riri menggeleng.
“Besok aja kalok Riri udah besar. Kalok sekarang Riri takut dicubit lagi sama Nenek.”
“Ya udah, anak Papa jangan sedih, ya! Kita kemana? Biar Riri seneng? Papa rela bolos kantor demi Riri.”
“Papa, Riri mau beli bando miki moss!”
“Dimana jualnya? Ayok kita kesana!”
“Di Toko dekat rumah teman Riri.”
“Ayok Riri kasi tau Papa jalannya, kita kesana, ya! Riri jangan sedih lagi, ya, Nak! Kan ini hari ulang tahun Mama.”
“O iya, selamat ulang tahun, Mama! Riri berdo’a semoga Mama sehat, Mama tambah sayang sama Riri sama adek sama Papa.”
“Aamiin, maksih ya sayang! Mama pasti akan selalu sayang sama kalian.” Kupeluk anakku dan menuntunnya masuk ke dalam mobil. Arka sudah tidur di carseatnya.
Ronald mengemudikan mobil sesuai arahan Riri, sampailah kami di toko yang dimaksudnya. Entah tahu dari mana dia toko ini, mungkin dari teman-temannya yang lain.
“Riri sama Papa aja, Mama biar dalam mobil aja jaga adek.”
“Oke, Papa!”
Ronald membukakan pintu dan langsung menggendong Riri masuk ke dalam toko aksesoris itu. Tak lama kemudian mereka keluar dengan sekantong belanjaan.
“Katanya beli bando miki maouse, Nak! Rupanya tambah yang lain jugak, ya?” tanyaku sambil tertawa. Riri kembali duduk dibangkunya. Ronald menutup pintu bagian tengah dan kembali masuk untuk mengemudi.
“Papa boleh kok Riri ambil banyak pita.”
“Hahaha, iya boleh! Kan Riri anak perempuan, harus cantik rambutnya diikat pita.”
“Papa, makasih, ya!”
“Iya, sayang!” jawab Ronald. Aku hanya bisa tersenyum melihat mereka.
Sampai di rumah, kuletakkan Arka di dalam box nya dan berpesan pada Riri.
“Nak, baju sekolahnya kan besok gak dipakek lagi, Riri masukkan mesin cuci, ya!”
“Oke, siap, Mama! Nanti pakekkan Riri pita baru!”
“Iya, Nak. Mama tarok adek dulu ini, ya!”
Ronald duduk di ruang tamu, mengecek ponselnya. Lalu mengetik entah apa, mungkin membalas pesan.
“Mama, ini ikat rambut barunya. Pakekkan!” Riri menyerahkan karet rambut berpita yang ingin dipakainya. Kukucir dua rambutnya yang panjang sebahu.
“Udah? Kayak gini?”
“Iya, Mama! Papa, cantik?” tanya Riri pada Ronald.
“Cantik, sayang!”
“Riri mau main di kamar.”
“Iya, Nak!” sahutku lagi.
“Yank, mau langsung balek ke kantor?”
“Nanti aja, abis zuhur sekalian.”
“Berarti makan siang di rumah?”
“Iya.”
“Kalok gitu tunggu lah, ya! Bikin lauk dulu sebentar.”
“Iya, Na. Aku pun ada mau cek email-email dulu. Mau balas, berkas di lapotop pulak di kantor. Jadi kubaca aja dulu, lah!”
“Iya! Sambil dengar-dengarkan adek, sapa tau tebangun dia.”
“Iya, sayang!” ujarnya sambil merangkul pinggangku.
“Kalok iya, ini kenapa malah dikekepin? Lepas dulu, ah!”
“Sukak aja,” jawabnya usil.
“Gak jadi masak nantik, laper kita!”
“Hahaha, ya udah sini kiss dulu!” Dikecupnya pipiku sekilas lalu dia melepaskan tangannya.
“Dasar suami! Udah tunggu aja dulu situ, aku masak.”
Aku pun bergegas masak di dapur, bergerak secepat mungkin sebelum Arka merengek karena terbangun. Akhirnya selesai jugak, kami pun makan siang. Setelahnya terdengar adzan zuhur berkumandang. Selesai sholat, Ronald pun pamit kembali ke kantor.
“Jam berapa pulang, Yank?” tanyaku sebelum dia pergi lagi.
“Jam lima lah ya, paling lambat.”
“Ya udah, bantu bikinkan api di belakang untuk manggang ikannya nanti!”
“Ooh, iya, amanlah. Kayu kan udah ada, peninggalan yang punya rumah dulu itu. Masik bisa dipakek kayaknya.”
“Iya, kalok bisa jangan kesorean, kan untuk acara makan malam.”
“Iya, sayang! Ya udah, pigi dulu, ya! Assalamu’alaikum ….”
“Wa’alaikum salam ….”
Setelah Ronald pergi, aku menelpon Kak Sari untuk mengundangnya nanti malam. Tapi Kak Sari malah mau datang nanti sore jam empat. Ya sudah, tak apa lah, pikirku. Mungkin Kak Sari mau bantu-bantu aku masak.
Benar saja, Kak Sari datang selepas waktu ashar. Dia yang sibuk menyiapkan bumbu untuk memanggang ikan dan kelengkapan lainnya.
“Sedep kali Kakak Rasa rumahmu ini. Enak bisa bakar-bakar di belakang rumah kelen.”
“Iya, Kak. Rencana sudut sana yang gudang itu mau dibongkar sama Ronald, mau dibikin jadi pendopo untuk keluarga kalok santai sore.”
"Nah, bagus itu! Biar enak kami kalok main ke rumah kelen.”
“Hehehehe, iya, Kak.”
“Kapan ikannya datang?”
“Aku pesankan jam lima nantik suru antar dari tukang jual ikannya.”
“Ikan segar itu, kan?”
“Ya iya, lah, Kak!”
“Ikan apa itu?”
“Nila sama gurame.”
“Nah! Cocok, kesukaan Abangmu kali itu.”
“Hahaha, Ronald pun sama.”
“Ulang tahun tahun depan nambah anak lah ya, Na!”
“Hahaha, entah, Kak! Terserah Ronald. Dia maunya banyak anak. Tapi kan awak tak sanggup kalok terlalu rapat!”
“Tambah lah agak dua lagi!”
“Hahaha … Sakitnya aja pun belum hilang!”
“Hahahaha … Nantik pun kau mau lagi nya itu punya anak. Kakak pun ya dulu kayak gitu, sakit-sakit katanya, tapi bikinnya keenakan pulak! Ya udah, jadi!”
“Hah! Kakak ini! Hahaha ….”
Kami malah asik bercanda, sampai si tukang ikan datang. Malam ini kami kembali berkumpul untuk makan malam sama-sama sambil bakar ikan. Ronald sudah menjemput Ibuk saat dia pulang dari kantor. Bang Herdian dan anak-anaknya datang setelah maghrib.
Ibuk memelukku dan meberikan ucapan selamat serta do’anya untukku. Tak lupa Ibuk memeberikan bingkisan kecil di tanganku.
“Ibuk kok repot-repot?” ujarku segan.
“Mana lah repot, Nak! Udah, terima aja! Ibuk mau main sama cucu-cucu Ibuk dulu! Ibuk gak bantuin bakar-bakar, Ibuk momong aja!”
“Hahaha, iya lah, Buk! Nantik bauk asap.”
Setelah ikan bakar matang, kami pun langsung saja makan di ruang tengah yang luas. Gelak tawa terdengar karena keluarga kami memang suka bercanda.
Setelah selesai acara makan malam, Bang Herdian sekeluarga pun pamit. Sementara Ibuk kuminta untuk menginap. Akhirnya Ibuk pun setuju. Kami mengobrol sesaat sebelum tidur.
“Kelen ada masalah kemaren sama Tata kenapa gak kasi tau Ibuk?”
“Masalahnya udah selesai, Buk. Kami tak mau bikin Ibuk jadi kepikiran.”
“Iya, memang. Kaget Ibuk, kemaren Ronald cerita. Jadi cemana si Tata?”
“Masih dirawat di rumah sakit katanya, Buk. Sebenarnya kami kasihan. Ronald bantu kok biayanya. Biar cemanapun kita sodara sama dia. Mudah-mudahan aja lekas sehat dia.”
“Anak itu terlalu gampang terhanyut. Memang kasian nengok keluarganya. Tapi dia salah ambil jalan. Bukan tak ada yang tak mau peduli sama keluarganya. Cuman Bapaknya itu yang parah pecandu tuaknya. Makanya sodara jadi malas lagi berurusan.”
“Iya, Buk. Kami pun baru tau. Kasian memang,” ujarku.
“Kita do’akan aja, lah! Semoga dia bisa sehat lagi, waras lagi. Ibuk mau kok nampung dia asalkan dia betul-betul mau berubah jadi anak baik.”
“Iya, Buk.”
“Udah malam ini, anak-anak udah tidur. Riri pinter ya, waktunya tidur dia pigi tidur sendiri.”
“Udah tambah besar dia semakin mandiri kutengok, Buk,” ujar Ronald.
“Iya, bersyukurlah kelen punya anak pintar. Ya udah, ibuk mau tidur aja.”
“Iya, Buk. Kamar udah disiapkan Nina. Remot AC di meja kaca, ya, Buk!” ujar Ronald lagi. Ibuk hanya mengangguk dan beranjak masuk ke dalam kamar.
Sebenarnya Ibuk belum terlalu tua, aku yang salah menilainya saat dulu pertama kali jumpa. Ibuk mengalami penuaan dini efek dari rahimnya yang sudah diangkat. Jadi wajahnya terlihat lebih tua dari usianya. Ibuk juga harus rajin merawat kesehatan tulangnya, sebab wanita yang sudah tak memiliki rahim rentan terkena osteoporosis. Itu lah aku ingat, dulu pertama kali jumpa di minimarket, Ibuk mau beli susu kasium untuk lansia.
Melihat semangat Ibuk aku jadi semakin salut pada mertuaku itu. Semoga Allah selalu berikan kesehatan untuk Ibuk, do’aku dalam hati.
Aku dan Ronald pun langsung menuju kamar untuk istirahat.
“Yank!” ujarnya sesaat setelah kami berada di dalam kamar. Kulihat Arka masih tetap pulas.
“Apa?”
“Capek?”
“Hahaha, enggak. Kan tadi masak dibantu Kak Sari.” Ronald mendekat, lalu mencium rambutku.
“Kalok capek sini aku pijetin!”
“Yank, kamu bauk asap!” ujarku sambil menutup hidung.
“Ah! Masak iya?” ujarnya sambil mengendus-endus badannya sendiri.
“Hahaha … sana mandi!”
“Oke lah, demi istri aku rela mandi lagi.”
“Demi aku?”
“Abis mandi kita ehm ehm!”
“Hish! Iyaaa! Udah sana mandi dulu! Bauk kali pun asap ikan bakar tadi!”
“Hehehe, tapi enak, kan?”
“Ya enak, lah, ikan dibumbuin dibakar tentulah enak!”
“Nanti yang lebih enak lagi! Tunggu ya sayang!” Dikecupnya lagi pipiku sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi. Memanglah!
Aku memilih berbaring sambil meperhatikan Arka yang sudah terlelap. Bayiku ini jarang kali dia rewel, paling kalok pas demam aja karna imunisasi.
“Na!” ujar Ronald sambil menutup pintu kamar mandi.
“Ya? Sini, sayang!” ujarku menggodanya. Ronald langsung saja masuk ke dalam selimut yang sudah menutupi tubuhku. Tanpa basa-basi langsung direngkuhnya tubuhku ke dalam pelukannya. Aku terkekeh karena merasakan geli.
“Jangan berisik! Nantik Ibuk dengar!” bisiknya.
“Hahaha … Pulaknya tangannya usil kali!”
Ronald kembali memelukku dengan mesra. Bibir manisnya tersenyum, lalu mengembara disetiap lekuk tubuhku.
"Na!"
"Iya?"
"Nina bahagia kan hidup denganku?"
"Sangat bahagia. Gak pernah bayangkan sebelumnya."
“Makasih ya, Na! Aku bahagia kali Nina ngomong jujur. Sekali lagi, selamat ulang tahun istriku sayang. Ini kadonya yang kedua, ya!” ujarnya sambil mencari-cari sesuatu diantara kakiku.
“Aaarghh ….”
“Kenapa, Na?”
“Pelan sikit! Sakit, tau!”
“Hahaha … Maap! Udah gak tahan!”
“Hahaha ….”

Komentar Buku (31)

  • avatar
    Dani Apay

    Semoga Reall Membayar Mau Berpa Pun Penarikan Saldo Nya Tanpa Ribet Iklan Dan Tanpa Syarat Apa Apa Cair Langsung Penarikan

    14/04

      0
  • avatar
    PutraRoyana

    ok thanks

    24/08/2025

      0
  • avatar
    Magdalena Laptop Account

    bagus banget

    07/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru