"Tipsnya nanti saja, aku kasih langsung." batinnya, Andra melirik ke arah Flower. Mereka berdua saling melempar senyum. "Oh oke, tolong tanda tangani di sini bang." mamih Wulan memberikan kertas vochernya, Andra menandatanganinya. "Oke, kalau ada apa-apa silahkan panggil saya mana tahu mau nambah vocher lagi, terima kasih bang." mamih Wulan tersenyum tipis dan beranjak keluar room, Andra anggukkan kepalanya. "Iya mih, kembali kasih." Andra dan Aris tersenyum lebar. "Nih orang dua cengar-cengir mele, efek dari gele kayanya. Untung tadi sudah makan kalau gak, bisa tepar duluan aku." Flower melirik ke arah mereka berdua, ia sudah merasa pusing duluan karena cium bau dari maryuana yang sangat menyengat di room. "Sudah makan, belum? Kalau belum, pesan makan saja dulu." basa-basi Andra membuka obrolan. "Aku sudah makan, apa mau aku pesanin makan?" Flower membuat minum untuknya lalu menuangkan ke gelas mereka berdua. "Kita orang sudah makan, ayo kita tos. Langsung habis ya, one shot." Andra mengangkat gelasnya, ia menyodorkan gelas satunya ke Aris. "Perhatian amat, baik juga dia. Tapi mampus gak tuh ngajak minumnya one shot, Si Botak! Untung Martel Vsop, enak tispynya nyantai." batinnya, Flower mengangkat gelasnya juga. Mereka bertiga tos lalu langsung meneguknya habis. Glek! Glek! Glek! "Mau gak?" Andra menyodorkan rokok maryuananya, Flower menghisapnya hanya beberapa kali. "Aku rasa sudah cukup gak kuat gele aku, maaci." Flower mengembalikan rokok maryuananya, Andra angguk-angguk. "Kalau gak kuat jangan banyak-banyak, aku juga gak maksa." Andra tersenyum tipis, Flower nyengir kuda. Setelah beberapa jam room mulai ramai dengan canda dan tawa yang terbahak-bahak, sampai perut Flower terasa kram. Tertawa karena banyolan Andra atau karena efek dari rokok maryuananya? Entah lah. "Si Botak ternyata lucu orangnya, duh rahang sampe pegel rahang perut sampe kram ketawa mele. Tapi palaku pusingnya beda, gak enak banget pusing gara-gara gele." Flower ngeflush toiletnya, mencuci lalu menyeka daerah wanitanya dan pakai kembali g-string hitamnya. Flower bercermin lalu mengambil bagian rambutnya sedikit, ia pelintir-pelitir lalu menarik rambutnya sampai bunyi berkali-kali. Pletok! Pletok! Pletok! "Mendingan gak terlalu pusing palaku, hadeh." ia memejamkan mata sambil elus-elus bekas rambut yang ditariknya lalu merapihkan baju dan rambutnya, balik badan ke luar toilet kembali ke room. Tidak terasa sudah enam jam Flower menemani Andra karaoke dan sudah waktunya close bill, ia menekan bel yang ada di sudut meja untuk memanggil waitres. Tidak lama waitres masuk ke room langsung berjalan ke arahnya. "Ada apa, Flo?" Flower menoleh. "Close bill, ya kak." waitres anggukkan kepalanya dan langsung keluar room. "Habis ini mau ke mana, Okem?" Andra menghisap rokoknya, Flower celingak-celinguk. "Aku nanya kamu, Flower." "Oh nanya aku, kirain nanya temanmu habis manggilnya Okem. Aku ya langsung, pulang." "Hemm, aku panggilnya Okem saja ternyata kamu ada tatonya." "Dia lihat, di mana? Kan, aku pake gaun lengan panjang." Flower mengerlingkan matanya. "Tato?" Andra anggukkan kepalanya. "Iya, tato yang di pinggang belakang bagus juga tatonya." "Maaci." Flower tersenyum tipis. "Pasti kelihatan lah ya, aku pake gaun setelan rok baju lengan seperapat bukan gaun terusan, lupa ada tato di belakang ingetnya yang di tangan saja." ia merapihkan bajunya. Setelah membayar bill, mereka berempat keluar room. "Maaf ya saya gak antar sampai lobby, thanks for coming(terima kasih udah dateng)." "Iya gak pp, santai saja Okem." Mereka berdua saling lempar senyum, Flower berjalan cepat ke loker. "Flo, sudah di tips belum?" mami Wulan melirik ke arahnya. "Tipsnya bukannya masuk bill, mih?" Flower dudukkan bokongnya di sofa. "Gak masukin bill tipsnya kata waitresnya juga, minta tipsnya sana! Kejar, tamunya masih di lobby kali." mami Wulan meninggikan suaranya. "Ebusyet, tuh Si Botak lupa apa gimana sama tipsnya? Ampun dah!" Flower berlari cepat ke lift. Ting! Flower keluar lift celingak-celinguk mencari Andra, ia mendapatinya sedang menunggu mobilnya di vallet. "Hey ... " serunya lantang, ia berlari kecil ke arahnya. Andra menoleh. "Ada apa?" Andra mengerutkan dahinya. "Maaf sebelumnya, saya mau minta uang tipsnya. Saya juga disuruh mami kejar minta uang tipsnya, saya baru kerja di sini." Flower nyengir kuda. "Ebujug di kejar gara-gara uang tips tiga ratus ribu, kacau!" Andra tertawa terbahak-bahak. "Biar cuma tiga ratus ribu, itu hak saya. Ngapain juga saya harus malu, kalau gak mau kasih tips jangan minta ditemenin lc lah karaokenya, gitu aja kok repot." Flower sewot, ia memajukan bibirnya. "Maaf saya lupa uang tipsnya, ini juga baru pertama kali saya ngalamin dikejar gara-gara uang tips." Andra mengeluarkan tiga lembar uang kertas berwarna merah. "Maaf ya, Okem." ia memberikan tipsnya sambil cengangas-cengenges. "Iya, lain kali jangan lupa sama tipsnya kalau boking lc. Maaci." Flower meraihnya cepat lalu berlalu pergi sambil melambaikan tangannya ke atas. "Ada-ada saja, baru ini aku kejar tamu gara-gara duit tips, ampun gusti. Sebenernya malu aku, tapi ngapain juga malu itu kan hak aku." Flower tepok jidat. "Dia lucu sekali dadahnya gak nengok ke sini marah kayanya dia, tapi emang tips itu hak dia sih. Pengalaman yang lucu, ternyata dia lc baru di sini." Andra memandangi sampai bayangannya hilang, ia cengar-cengir. ****** Flower geleng-gelengkan kepala dan cengangas-cengenges mengingat pengalaman lucu harus kejar Andra gara-gara uang tips tiga ratus ribu, membuat mereka semakin dekat sampai menjalin hubungan asmara. "Sudah lewat jangan diingat lagi, apakah harus kasih dia kesempatan? Kalau ingat dia sudah dekat sama anak-anak, rasanya berat juga." Flower menarik nafas dalam-dalam. Huft! Hela nafasnya berat berulang kali. Hari ketujuh Martin di luar kota sudah waktunya ia kembali ke Jakarta. Pergi bawa satu koper pulang empat koper. "Langsung mampir ke apartemen sudah rindu berat aku, Kasih surprise (kejutan). Jam dua belasan mendarat di Soekarno Hatta, lumayan bisa tidur dua jam masih ngantuk banget." batinnya, Martin memakai sabuk pengamannya dan memejamkan matanya. "Si Bebeb semalam telepon hari ini bilangnya pulang tapi kok belum ngabarin ya, penerbangan jam berapa dia atau masih di alam mimpi, kok nomernya gak aktif? Jangan berpikir macam-macam Flo, mau lagi ngapain kek dia yang penting hari ini dia pulang dan semoga dia baik-baik saja dan selamat sampai Jakarta. Bentar lagi anak-anak pulang sekolah, bikin apa ya enaknya nanti buat makan siang?" Flower menyeruput kopi sambil menghisap rokoknya. Flower buka lemari es mengambil daging sapi, bumbu-bumbu dan mie spagetthi. "Yang gampang plus gak ribet saja masaknya, spagetthi bolognese sama rendang. Anak-anak sampe rendang sudah mateng." ia mulai membuat bumbu rendangnya, masak sambil mendengarkan musik slow rock dan sesekali ia bernyanyi.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat menarik
12/09/2025
0sangat baik sekali
26/08/2025
0saya suka
21/07/2025
0Lihat Semua