logo text

Bab 57 Paket Permintaan Maaf

Kemudian mereka berdua masuk ke mobil, Flower menyalakan musik dan gps.
"Silahkan Oppa sendiri yang simpan lokasinya di gps, kita mau ke mana?"
"Kamu rumahnya, di mana?"
"Masih Jakarta Utara di Sunter,"
"Oh i know (saya tahu), kalau gitu kita buka kamar yang dekat dengan rumah kamu saja," ia mengetik nama hotelnya.
"Kenapa gak buka dekat kantor, atau tempat tinggal Oppa saja? Jadi nanti dekat pulangnya," Flower melirik ke gps.
"Nanti saya naek taksi saja pulangnya, kasihan kamu pulangnya kalau buka hotelnya dekat tempat saya, jauh. Kamu kan nyetir sendiri," ia menoleh ke arahnya, mengusap pelan tangan atas kanannya.
"Oh gitu, jadi mau buka di hotel Sunlake?" Oppa anggukkan kepalanya.
"Iya, deket gak sama Sunlake?" Flower angguk-angguk.
"Deket banget, ayo kita berangkat." Oppa mengedipkan sebelah matanya.
Flower pakai sabuk pengamannya, begitu pun dengannya. Oppa melaju dengan santai sambil menceritakan suka duka, kesan-kesannya tinggal di Indonesia selama delapan tahun, mereka berdua menikmati obrolannya hingga tidak terasa mobil telah berada di area parkir hotel Sunlake Sunter.
Di Hotel Sunlake Sunter...
"Flower laper, gak? Saya laper, kalau mau sekalian pesan sarapan," Oppa telepon resepsionis, Flower angguk-angguk.
"Mau sarapan apa, tahu gak di sini sarapan yang enak apa?"
"Kata teman aku, di sini nasi goreng seafoodnya enak Oppa,"
"Oke, we must try (kita harus coba)." Oppa memesan sarapan.
Flower memandangi badannya yang sudah tidak memakai bajunya tapi masih pakai celana boxernya, ia terpesona.
"Dadanya berbulu sexy beud, badannya bulunya banyak banget. Aku botak gak ada bulunya, cuma bulu sawan." batinnya, Flower suka lihat badan Oppa yang berbulu lebat dari ujung rambut sampe ujung kaki, matanya tak berkedip.
Setelah sarapan Flower mulai beraksi menunaikan tugas negaranya lalu tertidur pulas.
Di sisi lain...
"Kemaren-kemaren aku mau omongin soal lamaran sama Si Okem, terus aku mau tanya apa istriku ijinin kalau aku nikahin Si Okem? kenapa tahu aku jalan sama Si Okem, dia ngamuk pake acara ngancam? Sampe labrak Si Okem, tapi kalau inget omongannya waktu labrak Si Okem jadi takut sendiri. Selama ini dia bebasin aku mau ngapain juga, aku spa gonti-ganti cewek saja dibolehin, aneh!" batinnya, Andra menghisap maryuana di ruang kantor rumahnya. Dia pecinta maryuana.
"Pala aku sakit, semalam aku terlalu banyak nih minumnya harus minum obat. Kalau kata Si Beb minumin paramex cepet ilang pusingnya, kok dia belum kabarin lagi? Sudah bangun, belum ya dia?" Martin memijat-mijat pelipisnya, lalu meraih ponsel di nakas samping ranjang.
Martin buka layar poselnya, "Jam setengah dua, belas." ia membuka aplikasi hijaunya. "Selamat pagi menjelang siang beb, sudah bangun belum? Miss you (kangen kamu)." pesan terkirim, Martin beranjak ke kamar mandi.
Beberapa jam kemudian...
Flower ngelilir, "Aih ketiduran." ia melirik ke sampingnya. "Ah, oppa ganteng." ia tersenyum lalu bergegas ke kamar mandi.
"Sudah mau, pulang ya?" Oppa terbangun, Flower yang sedang memakai baju sontak kaget.
Flower melirik ke arahnya, "Eh iya, berisik ya Oppa? Maaf," ia tersenyum lebar.
"Kamu ke kamar mandi, saya bangun. Tolong simpan, nomer telepon kamu di hp saya," ia memberikan ponselnya, Flower langsung meraih dan menyimpan nomer teleponnya.
"Ini uangnya dihitung dulu," ia meletakkannya di meja.
"Gak perlu saya hitung Oppa," Flower langsung menyimpan di dompetnya.
"Gak mungkinlah aku hitung di depannya tuh duit, gak sopan banget. Kan aku lihat tadi dia hitungnya dua lima lembar kertas yang merah, jadi ngapain aku harus hitung lagi. Alhamdulillah dapet tamu Korea yang, baik." batinnya, ia mengerlingkan matanya.
"Itu nomer saya, nanti saya hubungi kalau saya mau ketemu kamu lagi," ia misscall ke nomer teleponnya, Flower angguk-angguk.
"Oke Oppa thank you (terima kasih),"
"Saya yang terima kasih sama kamu," mereka berdua saling melempar senyum.
Oppa memeluk Flower, pelukan hangat seperti papa bear (beruang).
"Ini bener gak pp saya tinggal, Oppa? Mau saya anter, gak?" ia memakai jaket bombernya.
"Iya tidak apa-apa Flower, saya masih mau istirahat, kamu hati-hati ya," ia memakan buah-buahan.
"Ya sudah, saya pulang ya Oppa. See you (sampai jumpa), Oppa handsome (ganteng)." Flower cipika-cipiki, mengambil beberapa buah potongnya. Ia berbalik, tersenyum simpul dan melambaikan tangan ke arahnya lalu berlalu meninggalkan kamar hotelnya.
"Dia wanita yang cantik, dan baik." ia tersenyum simpul sambil membalas lambaian tangannya, memandanginya sampai ia hilang di balik pintu.
Flower melajukan mobilnya dengan cepat, siang itu jalan nampak lengang tidak sampai lima belas menit sampai apartemennya.
"Dia baru bangun lagi kumpulin nyawanya dulu katanya, lucu sekali dia. Gemesin ih." Martin hanya balas chat linenya dengan stiker peluk, ia nyengir kuda.
"Bu bos, ada paket lagi tadi security antar. Saya taro di meja sofa," bi Minah menutup pintu utama.
"Paket, siapa yang kirim bi? Saya belum belanja online. Anak-anak lagi apa, bi?" ia membuka sendal high heelsnya.
"Kata security dari orang yang sering dateng ke sini yang botak, pak Andra. Anak-anak tidur siang pada kecapekan, tadi olah raga di sekolahnya," bi Minah merapihkan sendalnya ke lemari sepatu.
"Oh, Si Botak kirim apa lagi dia? Gede amat paketnya, tolong bikinin kopi bi," ia melirik ke meja sofa sambil berjalan ke kamar tidurnya.
"Kurang tahu saya, bu bos." bi Minah langsung membuatkan kopi majikannya.
Flower menyimpan tas dan charger ponselnya lalu ia ke kamar mandi mencuci wajahnya yang masih bermake up.
Flower mendudukkan badannya di sofa lalu membuka paketnya, "Coklat lagi, ada suratnya." ia buka sampul suratnya yang wangi. "Aku tahu pasti coklatnya sudah habis, aku tahu kamu sama anak-anak pasti suka coklatnya makanya aku kirim lagi. Maafin aku ya Okem sayang, anggap saja ini permintaan maaf aku." bacanya dalam hati.
Dia menyeringai, "Kalau minta maaf tuh kirim emas atau berlian gitu, ini kirim coklat yang ada gemuk aku makanin coklat mulu, Hadeh! Banyak lagi sepuluh kotak, tapi makasih botak sudah mau bikin aku ndut, dasar!" ia geleng-geleng, ia buka kotak coklat yang untuknya dan memakannya dua.
"Tapi emang enak sih ini coklat alcohol, bikin gila Si Botak." ia cengar-cengir sambil mengunyahnya.
"Eh kenapa aku ketawa, apa aku senang? Ah menggilakan, au ah!" ia menutup kotak coklatnya lalu menyimpannya ke lemari es.
Seperti biasa coklat untuknya ia simpan di bawah untuk anak-anaknya ia simpan di atas.
"Bi ... Sini ..." serunya lantang, pembantunya menghampirinya.
"Saya, ada apa bu bos?" ia melirik ke lemari es.
"Ini coklat seperti kemaren yang di kirim pak Andra, untuk anak-anak yang atas lagi ya bi. Awas jangan sampe salah ambil, coklat yang di bawah ada alcoholnya. Kopi saya, mana?" ia merapihkan coklatnya lalu mengambil kentang lays, bi Minah angguk-angguk.
"Iya, itu udah di meja sofa kopinya bu bos." ia menutup lemari esnya.

Komentar Buku (42)

  • avatar
    Herlina Lase

    sangat menarik

    12/09/2025

      0
  • avatar
    GEMBOL†Rijal

    sangat baik sekali

    26/08/2025

      0
  • avatar
    SeptiSeptii

    saya suka

    21/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru