"Kita makan berdua beb anak-anak sudah pada makan, tadi." "Ho'oh, beb." mereka makan dengan lahapnya. "Itu satu buat bibi baso Afung nya dua lagi simpan saja di, kulkas. Jadi kalau anak-anak mau baru dipanasin baso, nya." bi Minah merapihkan ke lemari es. "Mau ajak jalan anak-anak ke mana ya enak nya, beb? Sudah sore gini bingung jalan ke ,mana." Martin melirik ke arah kedua putri nya. "Kurang tahu juga aku beb kalau mau ajak jalan mereka dari, pagi. Aku nya baru bangun siang tadi semalem kerja soal, nya. Maaf ya, beb." ia tersenyum lebar. "Nyantai beb aku ngerti kok tenang masih ada hari, esok." Martin mengedipkan sebelah mata nya, Flower anggukkan kepala nya. "Paling ajak mereka nonton kalau ada film kartun coba aku cek dulu ada film, apa. Perasaan ada film kartun deh kita tanya mbah google dulu, beb." canda Martin, ia utak-atik ponsel nya. "Bisa ea, beb." Flower tertawa kecil begitu pun Martin. "Ada nih beb The Smurf sama Baby Bos mau, gak?" ia menunjukkan ponsel nya, Flower angguk-angguk. "Coba kamu yang ajak, anak-anak?" Flower melirik ke arah kedua putri nya. "Oke, wait!" Martin menghampiri kedua putri nya. "Hai ... Princess-princess beautifull can we go watching (putri-putri cantik bisakah kita pergi menonton), movie (film)?" Martin duduk samping Alena, mereka berdua menoleh ke arah nya. "Movie at, theatre (nonton di, bioskop)?" Alana mengerutkan dahi nya, Martin anggukkan kepala nya. "Come on, om (ayo, om)!" Alena dengan semangat nya, mereka berdua lompat-lompat kegirangan. "Mih, come on go watching with om Andra eh om Martin (ayo nonton bareng om Andra eh om Martin)." Alena nyengir kuda. "Waduh, dia salah sebut nama keceplosan dasar bocah! Gimana dia gak salah sebut mereka sudah dekat sama Si, Botak." batin nya, Flower tepok jidat. "Andra? Siapa Andra? Mungkin cowok yang dekat sama dia atau jangan-jangan pacar, nya? Ah, i don't care about that (saya tidak peduli tentang itu)." Martin mengerlingkan mata nya. Huft! Hela nafas Martin berat. "Iya sayang, ayo! Bi tolong siapin, anak-anak." bi Minah langsung memandikan dan mendandani kedua putri majikan nya secantik mungkin. Mereka semua pergi nonton ke Mall Kelapa Gading. Di Mall Kelapa Gading... "Aku saja yang antri, beb! Kaka sama dede mau nonton, apa? The Smurf atau Baby, Bos?" Martin menunjukkan telunjuk kanan nya ke mading gambar The Smurf dan Baby Bos. "Ini saja om yang biru-biru The, Smurf! I like, that (aku suka, itu)!" Alena berdiri di depan mading nya, Martin mengacungkan jempol kanan ke arah nya. "Ya sudah om antri, dulu. Waiting ya my, princess (tunggu ya, putriku)." Martin berjalan ke loket karcis, Alena dan Alana angguk-angguk. "The Smurf nya lima ya, mbak." "Maaf untuk The Smurf nya baru saja sold out, pak! Mau film yang, lain?" Martin kaget. "Yah, Baby Bos nya deh lima!" "Mau kursi yang sebelah mana, pak?" ia menunjukkan posisi kursi yang masih kosong. "Pintu keluar yang mana, mbak?" "Yang kiri dari, bapak." "Kursi F lima ya, mbak." "Semua jadi tujuh ratus lima puluh, ribu." "Bisa gesek kan, mbak?" "Bisa, pak." Martin memberikan kartu debit nya. "Nih beb karcis, nya." Martin menyodorkan nya, Flower sontak kaget. "Kenapa yang premier, beb? Kan, mahal! Room biasa saja sama saja cuma beda kursi, nya! Buang-buang, duit!" Flower sewot. "Gak pp beb masa untuk princess-princess (putri-putri) cantik yang biasa, saja. Lagian kamu cewek aneh dikasih yang mahal, sewot! Baru nemuin aku interesting (menarik), lady(wanita)!" Martin mencolek hidung mancung nya. "Bukan gitu maksud aku, tuh ... Baik lah! Terserah kamu, saja." Flower tersenyum lebar. "Iya ngerti aku gak perlu kamu, jelasin. Tapi aku senang kok bisa kasih yang terbaik untuk kamu dan kedua, putrimu." Martin tersenyum simpul. Deg! "Aih, so sweet (sangat romantis) banget Si Martin. Kata-kata nya membuat jantungku, berdebar-debar. mati, aku!" batin nya, pipi nya merona. "Ayo ikut om kita beli popcorn, nya. Siapa yang mau, cung ..." ia mengacungkan telunjuk nya ke atas. "kaka, mau!" "Dede, mau!" Alana dan Alena ikut mengacungkan telunjuk nya sambil lompat-lompat kegirangan. Mereka bertiga berjalan cepat ke outlet popcorn. "Lucu nya mereka, bertiga." Flower tersenyum lebar melihat kedekatan kedua putrinya dengan Martin. "Kaka, dede, mau popcorn yang manis apa asin?" "Manis om biar kaya, dede." Alana diam membiarkan adik nya yang memilih. "Comel, nya! Terus minum nya mau yang, mana? Cappuccino pake jelly mau, gak? Atau mau, juice? Saran om sih juice saja, ya? Yang pake jelly itu kopi nanti susah tidur nya, loh." ia mencubit pelan hidung mancung nya yang mungil. "Ya sudah juice saja, om!" "Juice alpukat, strawberry, jeruk atau mangga?" "Jeruk saja, om! Kaka mau apa mangga, ya?" Alana anggukkan kepalanya. "Kaka kok diam saja dari tadi, kenapa?" Martin bingung. "Gak pp om biar dede saja yang, pilih." Alana tersenyum lebar sambil merangkul pundak Alena. "Oh, begitu ya. kaka yang, baik." Martin membelai rambut nya. "Banyak banget pesen nya kenapa satu-satu itu popcorn, nya? Mana yang gede, lagi! Satu saja berdua popcorn nya buat kaka sama dede cukup, kok." Flower tambah sewot. "Biar saja beb kalau gak habis bisa dibawa, pulang. Jangan marahin mereka aku yang, pesenin. Kedua putrimu itu sangat menggemaskan gregetan aku sama mereka, berdua. Pengen aku bawa pulang saja ke, rumah!" Martin tersenyum lebar. "Aku gak marahin mereka cuma jangan dibiasain berlebihan, saja. Kalau kurang bisa nambah, lagi! Ya sudah nanti habisin popcorn, nya." kedua putri nya angguk-angguk. "Kalau gak habis nanti biar om yang habisin tenang saja, oke!" Martin mengedipkan sebelah mata nya ke arah Alana dan Alena, mereka berdua tersenyum lebar. "Jangan terlalu dimanjain kedua putriku beb nanti aku yang, repot! Inget beb aku single, parent!" ia melipat kedua tangan di dada nya. "Maaf beb tapi tenang saja ada, aku." Martin elus-elus punggung nya. "Istri nya mau dia ke mana, in? Digosok, dilipet terus ditaro gitu ke lemari tuh bini nya? Kadang-kadang bikin gila juga kaum, adam. Terus ngapain juga aku pusingin, ya? Au ah ra urus, aku!" ucap nya dalam hati, ia mengerucutkan bibir nya. Alana dan Alena menikmati nonton dan kebersamaan nya dengan Martin walau pun mereka baru berkenalan, Martin pandai mengambil hati kedua putri nya. Baru kenal tapi sudah seperti kenal puluhan tahun, entah sihir apa yang Martin gunakan hingga membuat kedua putri nya nempel terus sama dia kaya prangko. Miracle (keajaiban)! "Mih, enak ya kursi nya empuk dede bisa selonjoran ada selimut nya juga. Waktu nonton sama om Andra kok gak begitu mih kursi, nya?" Alena senang nya bukan main begitu juga Alana. "Waduh, dia ngomongin Si Botak lagi. Tapi ya sudah lah nama nya juga anak, kecil." ia nyengir kuda. "Enak ya, de? Kaka juga jadi ngantuk nonton, nya. So, comfortable (sangat nyaman)!" ia sudah menguap berulang kali.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat menarik
12/09/2025
0sangat baik sekali
26/08/2025
0saya suka
21/07/2025
0Lihat Semua