logo text

Bab 42 Kurang Satu

"Oke, tolong ditanda tangani dulu ya bu." kurir memberikan nota dan pulpen, bi Minah menandatanganinya.
"Dari siapa ya kalau saya boleh, tahu?" bi Minah bolak-balik kadonya.
"Pak Andra makasih ya, bu." ia membalikkan badannya berlalu pergi.
"Iya." bi Minah menutup pintunya, membawa masuk bucket bunga mawar putih dan kotak yang dihiasi pita pink.
"Romantis kali pak, bos." ia meletakkannya di meja sofa.
"Dari siapa nih, bi? Wangi sekali!" Alana menciumi bunga mawarnya.
"Dari Pak bos Andra non eh om, Andra." bi Minah tersenyum lebar.
"Oh." ia meletakkan bucketnya dan menggoyang-goyangkan kotak kadonya.
"Ini apa isinya, ya?" ia penasaran, bi Minah geleng-geleng dan mengangkat kedua bahunya.
"Iya wangi banget bunga mawarnya kak terus itu apa isinya, kak? Terus yang satu lagi ini buat mimi juga ,kadonya? Emang mimi ulang tahun ya kak kok om Andra kasih, kado?" Alena pun menciuminya, Alana nyengir kuda.
"Kalau kaka tahu gak nanya juga, kaka. Sudah jangan dibuka kadonya dari om Andra buat, mimi." ia merapihkannya di meja, Alena anggukkan kepalanya.
"Seinget bibi masih lama ulang tahunnya mimi bulan, tujuh. Ini baru bulan dua tinggal lima bulan, lagi." bi Minah tersenyum tipis.
"Bulan tujuh itu bulan apa, bi?" Alana mengerlingkan matanya, Alena lirik kanan kiri.
"Bulan Juli non sekarang bulan, Februari." ia membawa kalender menunjukkannya, kedua putri majikannya angguk-angguk.
"Nanti kalau sudah deket ulang tahun mimi ingetin ya, bi." Alana melingkari bulan Juli.
"Iya bi jangan lupa ya kasih tahu dede, juga." ia tersenyum lebar, bi Minah anggukkan kepalanya.
Mereka berdua melanjutkan nonton tv nya sampai ketiduran di sofa.
"Waduh pada ketiduran seperti, biasa." bi Minah memindahkan mereka berdua ke kamar tidurnya.
"Bos, sudah diterima ya paketnya sama pembantunya." kurirnya menyisipkan photo nota yang sudah ditandatangani.
"Makasih, bro!" Andra menyisipkan stiker mengacungkan jempol.
"Semoga Si Okem dan anak-anak suka, kadonya." batinnya, Andra tersenyum tipis.
"Apa itu di, meja? Bucket bunga, mawar? Gak salah lihat, aku?" ia mengucek matanya saat keluar dari kamar mandi.
"Bener bunga mawar dari siapa, ini?" ia meraihnya, tercium harum hingga ia memejamkan matanya.
"Wanginya enak banget ini ada, kartunya." ia membuka dan membaca kartunya.
"Maafin aku ya Okem sayang love you(cinta kamu), muah! With love (dengan cinta), Andra." ia menaikkan alisnya sebelah.
"Aih, so sweet (sangat romantis) amat ini Si Botak! Terus apa ini isi, kadonya?" ia membukanya dan tersenyum tipis.
"Coklat, ini coklat luar negeri yang ada alcohol di dalemnya. Valantine masih lama kenapa dia kirim bunga sama, coklat? Dasar! Terus yang satu lagi apa, ini?" ia buka kado yang satu lagi.
"Coklat juga ini ada, suratnya. Ini buat anak-anak coklatnya yang tidak ada alcoholnya ya Okem, sayang." ia geleng-geleng.
"Kelakuan ada-ada saja Si, Botak." ia memakan satu coklat yang untuknya lalu menyimpan semuanya di lemari es.
"Sudah dia buka dan makan belum itu coklatnya, ya? Dia pasti suka coklat sama bucket, bunganya! Dia kan suka coklat sama mawar, putih! Kurang satu, wine! Besok deh kirim white, winenya!" Andra harap-harap cemas dibuatnya.
"Taro di mana ini bagusnya bucket mawar, putihnya? Meja rias, meja sudut atau meja sofa? Sepertinya lebih cocok taro di meja, sudut." ia mengambil lalu meletakkannya di vas kecil, menatanya di meja sudut samping singgasana peraduannya.
"Nah, cakep!" ia memandangi mawar putihnya dari luar pintu kamar tidurnya.
"Andra telepon angkat jangan, ya? Nanti saja aku chat aku masih kesal sama, dia. Mending aku mandi, kerja." ia menghisap habis rokoknya yang tinggal setengah batang.
"Bi itu nanti coklat untuk anak-anak yang di atas, ya! Jangan makan yang di bawah bilang dari om, Andra. Coklat yang di bawah gak boleh dimakan anak kecil ada, alcoholnya! Ngerti ya, bi?" ia membuka lemari es menunjukkan kemasan coklatnya.
"Ngerti bu, bos." ia angguk-angguk.
"Mau nyobain coklat yang ada alcoholnya,bi? Kalau mau makan, saja! Ya sudah tolong siapin makan, bi." ia menutup lemari esnya, bi Minah geleng-geleng.
"Takut, mabok!" bi Minah langsung melakukan perintah majikannya. Selesai makan dan mandi Flower langsung berangkat kerja.
Line!
Andra tersenyum lebar ada chat darinya, "Terima kasih untuk bunga dan coklatnya ya, Andra." ia menyisipkan stiker mengedipkan sebelah mata.
"Dia sebut namaku gak pake sayang cuma, Andra! Artinya dia masih marah ini, sih!" senyuman itu raib dari raut wajahnya, Andra hanya membalas dengan stiker wajah memelas.
"Apa sih dia ini kirim stiker yang, memelas? Suka gak tega saja, au ah." ia tidak gubris lagi chatnya Andra, ia menutup ponselnya.
Huft! Hela nafasnya berat.
"Catoknya sudah kelar Flower yang, cantik." Atta membuka roll poni dan menatanya, Flower tersenyum lebar.
"Maaci, Ta!" ia merapihkan tasnya.
Di tempat kerja...
"Ini tuh malam minggu, ya? Besok Si Martin mau maen ke apart, lupa!" ia tepok jidat.
"Kenapa, Flo?" Ani mengerutkan dahinya.
"Lupa kalau besok ada janji ini malam minggu, kan?" ia mengerlingkan matanya, Ani anggukkan kepalanya.
"Ada janji sama, siapa? Ayank botak, ya?" Ani menggodanya, Flower geleng-geleng.
"Terus kalau bukan Si Botak siapa, dong?" Ani penasaran.
"Ayo, tebak!" Flower menaik turunkan alisnya.
"Ayank baru, ya? Hem ... Paling ayank, Martin." Ani tertawa terbahak-bahak.
"Ya begitu, deh." Flower pun tertawa terbahak-bahak.
"Emang pacaran sama Si, Martin? Terus sama Si Botak, gimana?" Ani bingung, Flower mengangkat kedua bahunya.
"Ntah lah, jangan tanya, dosa. Dirimu saja bingung apalagi, aku." ia tertawa terbahak-bahak, Ani geleng-geleng.
"Dasar, Flower gilo." Ani menoyor pipi kanannya, Flower nyengir kuda.
"Anak-anak ke mana, nih? Pada gak masuk kerja, ya?" Flower membuka ponselnya, chat di grup linenya.
"Coba tanya di grup pada masuk kerja gak, mereka? Jangan-jangan kita doang yang masuk, Flo? Soalnya sudah lewat ini jam absen, nya." Ani pun membuka ponselnya, cek grupnya.
"Tuh sudah aku tanya di grup belum pada balesin, anak-anak. Sepertinya begitu cuma kita yang kerja malam ini, Ni." Flower geleng-geleng dan berdecak.
"Emberan, cyin." Ani angguk-angguk, Flower mengerucutkan bibirnya.
"Aku gak kerja biasa lagi ada acara, keluarga. Semangat ya, kerjanya." Murti menyemangati.
"Aku juga lagi ada acara sama keluarga suami nih ke luar, kota. Yang lagi kerja semangat, ya." Dewi menyemangati juga.
"Kalau aku lagi kurang sehat nih lagi, meriang. Kalau Ani dan Flower meriangnya beda merindukan kasih, sayang. Konon!" Leny menggoda mereka berdua.
"Gak enak banget yang terakhir kan monyong Si, Leny." Flower sebel tapi tertawa terbahak-bahak.
"Njleb! Ngena banget Si Lenong kalau ngomong dasar kutu, beras!" Ani bete bacanya tapi tertawa terbahak-bahak.
"Nasib jadi, single parent." Flower nyengir kuda.
"Sama aku juga punya laki ditinggal berlayar, nasib-nasib." Ani pun nyengir kuda.
Ani dan Flower tertawa terbahak-bahak begitu juga dengan sahabat-sahabatnya yang lain di grup.
Malam itu mereka berdua duduk satu room dan tidak sadarkan diri, tepar.
"Ini hari minggu aku ada janji sama Flower mau main ke, rumahnya. Sekarang baru jam sebelas siang nanti saja sorean kalau sudah dibalas chat, aku." telunjuk kanan Martin ketuk-ketuk pelan meja kantornya.

Komentar Buku (42)

  • avatar
    Herlina Lase

    sangat menarik

    12/09/2025

      0
  • avatar
    GEMBOL†Rijal

    sangat baik sekali

    26/08/2025

      0
  • avatar
    SeptiSeptii

    saya suka

    21/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru