"Mau bangunin gak enak emaknya, habis tidurnya nyenyak banget." ia melanjutkan treatmentnya, Flower tergugu. "Tidur berapa jam saya, mak?" ia mengerlingkan matanya. "Ada sejam an, non." Flower angguk-angguk dan nyengir kuda. Si Emak kemudian maskerin susu badannya, siapin ratus, sauna lalu mandi susunya. Satu jam setengah kemudian semua rangkaian treatment spa nya selesai. "Kelar juga spa nya, seger! Alhamdulillah berapa semua, mak?" ia memakai bajunya. "Semua tiga ratus tujuh puluh, non." ia memberikan nota bill nya. Flower membuka dompetnya mengambil lima lembar kertas berwarna merah dan memberikannya pada emak. "Kembaliannya buat tips emak maaci ya, mak." ia mengedipkan sebelah matanya. "Maaci non, alhamdulillah. Hati-hati di jalannya nyetirnya jangan ngebut, non." ia mengusap pelan punggung nya. "Badan enteng rasanya kalau habis spa enak banget pokoknya, alhamdulillah." ia tersenyum simpul. "Mobil kemaren ditinggal di kerjaan ini naek taksi, mak." ia berjalan ke luar salon, emak melambaikan tangan nya ke arah nya. "Yang habis spa seger banget masih di spa, beb? " "Sudah kelar dari tadi ini lagi catok, nih!" ia tersenyum tipis chat dengannya begitu pun dengan Martin. "Mau langsung kerja, beb? Hati-hati ya kerja nya, miss u (kangen kamu)!" "ho'oh beb, miss u too ( kangen kamu juga)!" "Apakah salah kalau aku tertarik dengan pria lain di saat hubunganku dengannya sedang tidak baik? Bagaimana kalau nanti Martin membuatku nyaman? Aku juga butuh seorang pria sebagai pendamping hidupku dan sosok seorang ayah untuk kedua putriku, entah lah! Ikuti saja alur cerita yang Allah SWT berikan untukku seperti air yang mengalir. Aku gak tahu dan gak ngerti lagi harus berbuat apa, just wait and see (tunggu dan lihat saja)." batinnya, ia pasrah. Huft! Hela nafasnya berat. Kembali beraktifitas seperti biasa di tempat kerjanya pasang senyum manis semanis-manisnya menutupi kegelisahan dan kegalauan yang berkecamuk di dalam hati, Fake smile (senyum palsu)! "Wah, tambah kinclong saja kak dapet tamu yang jacuzi habis spa kan tadi siang kak? Anna seneng kalau satu room sama kakak, seru." Anna merapihkan lokernya. "Ho'oh, tadi siang habis spa eh dapet tamunya yang jacuzi. Apa pun itu harus disyukuri, alhamdulillah." ia tersenyum tipis. "Besok-besok kalau spa ajak-ajak sih kak, Anna juga mau spa." ia menggandeng tangannya sebelah. Flower anggukkan kepalanya. "Iya nanti kakak mau ajak anak kaka spa juga, insya Allah kaka kabarin ya. Yuk, ah pulang sudah menjelang pagi." ia merapihkan rambut dan bajunya. "Asik, ditunggu kak. Yuk, bareng turunnya kak." ia tersenyum lebar. Mereka berdua berjalan santai keluar tempat kerja. Hubungan Flower dan Andra seperti kapal yang kena hantaman ombak sekaligus diterjang badai besar hampir membuat kapal karam dan tenggelam. Bukan karena istri pertamanya apalagi kehadiran orang ketiga justru karena ulah nya sendiri. "Sudah beberapa hari chat gak dibales, telepon gak diangkat, mau mampir ke apartemennya juga gak enak kalau dia lagi diemin aku gini. Mungkin dia butuh waktu untuk sendiri dulu, jadi lebih baik aku gak ganggu dia dulu untuk sementara. Gimana ya ini, enaknya? " pikirnya, Andra serba salah. Huft! Hela nafasnya berat berulang kali. "Kenapa perasaan jadi gak enak, ya? Gak terjadi apa-apa kan, di rumah? Semoga gak terjadi apa-apa sama anak-anak dan semua baik-baik saja." batin Flower,, ia melajukan mobilnya santai. "Gimana, ini? Masa mau tinggalin nona kecil sendiri di rumah anterin nona besar, sekolah? Bu Bos belum pulang lagi gimana, ya?" bi Minah bingung, kebingungan yang hakiki. "Bibi, anter kaka saja ke sekolah nanti sudah pulang sekolah baru jemput. Gak usah tungguin kaka kasihan dede di rumah sendiri, Mimi belum pulang." ia khawatir. "Iya nona besar, bentar bibi urus nona kecil dulu." ia meminumkan bodrexin, pasang fever di dahinya, memakaikan jaket, kaos kaki dan menyelimutinya, ac di kamar dimatikan. Alena terbaring lemas. Alana dan bi Minah berangkat ke sekolah. "Kok sepatu Alena ada emang tuh anak gak, sekolah?" ia meletakkan sendalnya di rak sepatu. Flower melirik ke pintu kamar kedua putrinya yang terbuka, dia menghampiri putri kecilnya yang sedang terbaring. "Dede kok masih, bobo? Kenapa gak sekolah, sayang?" ia sontak kaget ketika melihat dahinya yang terpasang fever, ia meraba dahi, pipi dan lehernya. "Panas banget badannya sudah diminumin obat, belum? Gak harus dibawa ke rumah sakit, kan?" ia watir, ia membuka selimutnya memeriksa, "Sudah dipakein jaket sama kaos kaki sama bibi, mungkin sudah diminumin obat juga kali." ia langsung menelepon pembantu nya. "Halo, bi kenapa gak kabarin saya kalau dede badannya panas? Sudah diminumin obat, kan?" ia membelai rambut putri kecilnya. "Saya sudah kirim sms tadi, sudah saya minumin bodrexin juga tadi. Jadi ini saya pulang atau tungguin nona besar sekolah, bu bos?" ia mengerutkan dahi. "Oh, ya sudah tungguin saja kaka sekolah. Hati-hati nanti bawa motornya bi." ia menutup teleponnya. "Belum sempet utak-atik hp dari selesai kerja, pantes saja tiba-tiba perasaan gak enak ternyata ada yang sakit anakku. Moga cepet sembuh dan gak harus dibawa ke rumah sakit." ia menepuk-nepuk pelan pundak putrinya. Beberapa jam kemudian... "Panas banget, keringet banyak banget sampe basah bantal sama baju." ia menoleh ke samping kirinya, "Mimi sampe ketiduran nungguin aku, kasihan mimi." ia membuka selimut dan jaketnya, merapihkan rambutnya dan membuang fever di dahinya. "Hemm." Flower ngelilir, ia langsung membuka lebar matanya. "Kok, dibuka jaketnya? Emang sudah reda demamnya, sayang?" ia mengerutkan dahinya, Alena anggukkan kepalanya. "Coba, mimi periksa." ia menempelkan punggung tangan kanan ke dahinya, "Alhamdulillah sudah gak panas lagi, sudah reda demamnya." ia tersenyum simpul. "Thank you (terima kasih) mimi, sudah tungguin dede." ia memeluknya dan tersenyum tipis, Flower anggukkan kepala dan mengecup keningnya. "Syukurlah cuma demam biasa, jadi gak harus dibawa ke rumah sakit." ia belai-belai rambutnya. "Mimi kalau masih ngantuk tidur saja pasti mimi baru pulang kerja tadi pagi, dede sudah sembuh kok, bentar lagi juga kaka pulang." ia menarik lengan Flower ke kamar tidurnya. "Nanti saja mimi bobonya kalau kaka sudah pulang, jadi sekarang mimi temenin dede dulu. Ayo mamam dulu, mimi suapin." ia menarik balik tangannya ke meja makan. Flower menyuapi Alena, ia makan dengan lahapnya. Tidak lama kemudian Alana sampai di rumah. "Dede, sudah sembuh demamnya? Gak ada dede di sekolah gak seru, kaka laper juga makan ah." ia menyalami miminya dan langsung makan dengan lahapnya disuapi juga, Alena anggukkan kepalanya. "Kaka ada tugas rumah, gak? Nanti dedenya dikasih lihat kalau ada." "Gak ada, mih." "Ya sudah nanti tidur siang ya, mimi mau istirahat dulu." ia berjalan ke kamar tidurnya, kedua putrinya anggukkan kepalanya. "Ngantuk banget, lumayan tidur tiga empat jam." ia merebahkan badannya di singgasana peraduannya dan terlelap tidur. Ting Nong! Ceklek... "Permisi, ini dengan ibu Flower?" kurir melirik ke arahnya, bi Minah anggukkan kepala nya. "Bu bosnya lagi istirahat ada apa, ya?" "Jadi ini dengan siapa, nya?" "Saya pembantu, nya." "Nama, nya?" "Minah!"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat menarik
12/09/2025
0sangat baik sekali
26/08/2025
0saya suka
21/07/2025
0Lihat Semua