Beranda/Yes, We Are EARTHSEED!/
File 81 : Satu Tempat Dua Dimensi
"Kakek Zayn mau mengerjai kita, Irana!"
"Kau ini, selalu saja marahnya dulu yang diutamakan!"
"Aah! Buktinya lihatlah, tempat ini tak lebih dari sebuah hutan!"
Aku mengatakan apa yang kulihat. Namun Irana berkata sebaliknya. Ini sebenarnya masih sebuah kota kecil. Bagaimana bisa pandangan kami berdua berbeda? Kuaktifkan dulu penglihatan khusus pada mata siberkinetik ini.
"Kau benar, Irana! Tapi perbandingannya mata biasa tak melihat ini."
"Coba kau kedipkan dua kali seperti kata Kakek Zayn tadi."
Baru teringat kalau harus mengedipkan mata dua kali. Nah, sekarang apa yang kulihat jadi imbang. Aneh saja! Tadi nampak seperti hutan belantara sekarang seperti sebuah kota kecil. Terdapat tulisan "Selamat Datang di Kota Rawea".
"Kita coba turun di tempat ini saja!"
Aku menurunkan pesawat di satu tempat yang lapang. Menurut Irana, pesawat pribadi belum se-bebas sekarang. Bisa jadi kota ini terjebak di satu kurun waktu yang terus menerus sama yaitu tahun 2040. Sebab kulihat teknologinya, mobil dengan ban masih lazim digunakan.
"Paman, kita turun disini?"
"Ya! Tapi Atla, paman pesan jangan berbuat sesuatu yang biasa kalian lakukan. Tempat ini sangat berbeda sekali."
Pertama kali yang turun dari SKYLAR II adalah aku, baru disusul oleh yang lain. Kulihat orang banyak lalu-lalang dihadapan kami. Tapi, tunggu dulu! Kenapa mereka seolah tak melihatku?
"Ee...tuan maaf aku mau bertanya."
"Dova, mereka tidak melihat kita!"
"Astaga! Tapi mereka nampak dihadapan kita, Irana."
Aku mencobanya sekali lagi, kali ini ada yang melihatku. Tapi mereka sepertinya acuh. iya, sebenarnya apa yang terjadi disini?
"Apa kita ikutan jadi gaib disini, Irana?"
Irana hanya menggeleng keras. Raut wajahnya berubah menjadi khawatir. Inazuma langsung berjalan mendahuluiku, kulihat dia menembus orang yang sedang lalu lalang disini.
"Inazuma, tunggu!"
Cyborg berambut kuning itu hanya menoleh. Kupanggil namanya sekali lagi baru ia mau berbalik arah. Nah, kenapa dia santai sekali menembus orang-orang disini?
"Kau tidak lihat ada orang sebanyak apa disini?"
"Tidak."
"Aktifkan dulu penglihatan supermu itu, Inazuma!"
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Baiklah, aku bisa melihatnya sekarang."
Kepalaku rasanya mulai berasap, apa Cyborg satu ini harus menunggu perintah baru dia lakukan? Seharusnya dia punya kesadaran untuk melakukan itu sendiri.
"Paman, saat aku kedipkan mata dua kali semua yang ada disini nampak berbeda!"
"Iya, paman juga begitu Atla!"
"Eh, tapi ini asik paman!"
Astaga! Apa yang dilakukan Eleanor disana? Dia berlarian sampai ke tengah jalan raya. Menabrakkan diri ke mobil yang melintas. Tapi bukannya tertabrak dia malah tertawa saja. Karena mobilnya menembus tubuhnya.
"Kalau seperti ini, bagaimana kita bisa membantu mereka?"
Aku hanya mendengus kesal tanpa membalas perkataan Irana. Topan sedikit usil memainkan kekuatan anginnya. Aneh, kenapa justru angin miliknya berefek pada orang-orang disini? Mereka nampak sibuk memegang rapat pakaiannya agar tidak berterbangan.
"Topan, hentikan itu!"
"Eh, ini sungguh aneh Kak Dova! Anginku bisa menggerakkan pakaian mereka."
Kakek Zayn tak ada komunikasi lagi denganku melalui liontin kalung ini. Itu berarti, tidak ada petunjuk berikutnya untuk kasus ini. Anak-anak kuminta masuk lagi ke dalam SKYLAR II untuk mengambil persediaan makanan cepat saji.
"Atla, bawa yang bisa dimasak diluar. Kita tak mungkin kembali ke SKYLAR II terus menerus."
"Paman, biar tidak capek aku mau pakai alat ini ya!"
"Hexacynite? Terserah kau saja, Crystala!"
"Ih, kakak kita bawa Mini ScooterSky juga dong!"
"Boleh kan, paman?"
"Aah! Siapa juga yang melarangmu, Atla! Pakai saja, paman juga mau bawa Hexacynite ini."
Irana nampak cemberut karena dia tidak punya lagi kendaraan yang bisa dibawanya. Aku hanya tersenyum meledek padanya. Sejurus kemudian, dia melihatku! Segera pandangan mata ini kualihkan ke arah lainnya.
"Kau meledekku, Dova?"
"Tidak. Lebih tepatnya kau kesal kan karena tidak ada kendaraan lagi yang bisa dipakai?"
"Tidak apa, aku akan menemani Inazuma berjalan saja."
"Aku bisa berjalan sendiri, Irana."
"Irana berkata apa, kau balasnya berbeda. Aah! Dasar, Inazuma! Topan, kau sendiri bagaimana?"
Kulihat Topan dengan santainya memanfaatkan kekuatan anginnya. Nampak angin puting beliung berukuran sedang menyemuti bagian bawah tubuhnya. Kini ia bisa melayang dengan leluasa. Menurutku dia seperti jin yang baru saja keluar dari lampu ajaibnya, itu ada di cerita 1001 malam.
Irana masih nampak cemberut. Dia memanyunkan bibirnya saat berjalan. Sementara aku sudah berada diatas Hexacynite.
"Irana!"
"Apa? Kau mau pamer karena bisa naik alat buatanmu itu?"
"Huh! Untuk apa? Nah, kemarikan tanganmu!"
Satu alis Irana naik, tapi dia tetap menyodorkan tangannya padaku. Segera kutarik dan minta dia untuk naik Hexacynite bersamaku. Wajahnya nampak ketakutan.
"Nanti kita jatuh, Dova!"
"Tidak akan! Pegang tanganku yang satunya lagi, Irana!"
Kami berdua akhirnya saling bertatapan. Satu kaki ini mengendalikan laju Hexacynite. Irana nampak memerah malu wajahnya. Aku hanya tersenyum saja. Aku meminta yang lainnya juga untuk terus melaju sampai ke ujung sana. Inazuma sempat tertinggal, namun dia akhirnya berlari juga mengejar kami.
"Dova, ini bukan kau!"
"Hah! Kenapa, Irana?"
"Tidak, biasanya kau marah kalau seperti ini!"
"Kau sendiri yang bilang jangan terlalu sering marah, nanti cepat tua! Tapi toh aku mengakui memang sudah tua. Hei, jangan lepaskan tanganku! Nanti kau terjatuh!"
"Eh, i-iya deh!"
Tidak, Irana! Kau berbeda kali ini dihadapanku. Aku mulai fokus lagi sambil terus menjadi keseimbangan badanku dan Irana. Kami semua akhirnya sampai di perbatasan kota.
"Hei, kalian siapa?"
Suara ini, aku tak mengenalnya. Bukan salah satu dari kami. Ternyata semuanya sudah menoleh ke belakang, melihat ada seorang laki-laki sedang berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjangnya. Pakaian dia nampak ketinggalan jaman.
"Pakaian kalian aneh sekali! Bukan orang kota ini ya?"
"Aah! Memangnya kau sendiri siapa?"
Dia dengan berani berjalan melewati Atla, Topan dan juga Crystala. Bahkan Inazuma pun berhasil dia buat menyingkir. Kini laki-laki muda itu berdiri tepat dihadanku.
"Kalian bisa melihatku?"
***
Pertanyaan laki-laki muda itu terdengar aneh di telingaku. Irana sempat melihat ke arahku, tapi akhirnya dia melihat kembali kedepan.
"Kau nampak di mata kami. Lalu dimana salahnya?"
"Setelah lama ku nantikan, akhirnya ada orang baru yang bisa melihatku. Ikutlah bersamaku!"
"Tapi kenapa hanya kau saja yang bisa melihat kami?"
"Eh, benarkah? Ah, lebih baik kita bicara di rumahku saja!"
Kami diminta untuk mengikutinya, dia tidak menaiki kendaraan yang lazim digunakan disini. Malah justru berjalan kaki sampai akhirnya masuk ke satu kompleks perumahan. Astaga! Suasana disini benar-benar asing bagiku.
"Nah, ini rumahku! Sebentar, kemana ya kakakku?"
"Hei, kau sudah pulang! Eh, siapa mereka?"
"Ah, kakak! Ayolah duduk dulu semuanya! Kurasa ini kesempatan kita untuk keluar dari situasi ini."Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (234)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
kerenn
01/03
0mantap
18/11
0good
14/07/2025
0Lihat Semua