logo text

File 74 : Soul A-Weist

Kami akhirnya berpisah dengan keluarga Van Deer. Asnee juga tak ikut lagi dengan kami. Ia kembali ke Dwatta Island. Perjalanan kami sudah jelas mau kemana. Perkiraan malam hari kami sampai pulau Soul A-Weist.
"Tapi itu hanya sampai di Tomaa City saja, Irana."
"Hutan disana namanya Eara. Mungkin tempat itu yang dimaksud oleh Faeynita."
"Kita jangan ke hutannya dulu, tidak pernah tahu ada makhluk macam apa lagi disana."
Benar apa kata Inazuma. Berhenti di Tomaa City saja kurasa sudah cukup. Tinggal kita perlu cari informasi lagi bagaimana bisa menuju ke sana. Masalahnya aku tak terlalu yakin SKYLAR II bisa mendarat di Hutan Eara itu.
"Ah, biasanya kau main tabrak juga!"
"Hei, kalau pesawat ini rusak parah lalu kita mau naik apa menuju ke Tanah Surga Papawa?"
Aah! Irana memang menyebalkan. Dia tidak berpikir lebih jauh tentang apa yang akan terjadi nanti. Merakit pesawat ini juga tidak mudah! Meski aku sendiri yang mendesain bagian luar serta dalamnya. Butuh waktu, serta lisensi dari pemerintah.
"Anak-anak sudah tidur lagi?"
"Ya, mereka banyak aktifitas sebelum kita berangkat lagi kemari."
Asal jangan tengah malam nanti mereka terbangun lagi. Aku dan Irana mulai fokus mencari tempat parkir pesawat. Inazuma sudah pergi entah kemana, kulihat dia tidak ada di Sleep Capsule. Kenapa aku jadi penasaran dengan Cyborg yang satu ini ya?
"Hei, apa yang kau lakukan!"
Dia mengendap ke dapur seperti seorang pencuri saja. Rupanya buah Kuula yang dibawanya tadi coba untuk dimakannya. Dia sudah nyaris menghabiskannya, sisa sedikit saat aku memergokinya tadi.
"Memakan buah Kuula."
"Oh, baiklah! Makan saja seperti biasa, tidak perlu mengendap seperti tadi."
"Dova...."
Apa ini sebuah keajaiban? Dia akhirnya mau memanggil namaku. Tapi tunggu sebentar, kenapa dia berjalan terus mendekatiku? Sampai aku terus berjalan mundur dan tak terasa menabrak tabung Kriogenik Serenada.
"Hei, hei, hei... ada apa denganmu? Jangan terlalu dekat seperti ini!"
Aku jelas saja risih! Dia pikir semua manusia bisa diperlakukan sama. Bagaimana kalau Irana melihatku seperti ini? Aku tidak mau disetrum oleh Irana lagi. To-looong...!
"Kau menarik sekali, Dova! Aku suka itu...."
"Me-menarik bagaimana sih? Hentikan sikapmu ini!"
"Dova! A-apa yang terjadi?"
"Irana, tarik badan Inazuma dulu! Aku takut kalau dia menyetrum saat kusentuh."
"Hanya bagian tanganku yang menyetrum kalau disentuh saat aku tak memakai sarung tangan."
Irana untungnya tidak marah, dia cepat menyingkirkan badan Inazuma. Cyborg berambut kuning ini sulit sekali ditebak pikirannya. Irana akhirnya menyuruhnya untuk mengisi daya batreinya dulu di Sleep Capsule.
"Daya batreiku masih bagus."
"Ada sesuatu yang tidak normal denganmu, pergilah dulu. Aku bisa cek saja sistemmu."
Sedikitnya Inazuma dipaksa oleh Irana, ternyata berhasil juga! Aku akhirnya bisa menghela napas. Kini gantian aku ditanya apa yang sebenarnya terjadi?
"Dia memakan buah Kuula, berkata kau menarik baginya, lalu tiba-tiba bersikap seperti itu. Tapi, kau tidak ada apapun dengannya kan?"
"Huh! Bagaimana bisa kau mencurigaiku menyukai separuh mesin seperti dirinya."
"Dia tetap saja perempuan, Dova!"
Tatapan Irana seolah menyetrumku. Ayolah, percaya saja denganku kali ini!
"Ya, sejujurnya aku menangkap sesuatu yang berbeda dari Inazuma tadi padamu."
"Apa yang kau maksud, Irana?"
Senyuman Irana nampak tajam sekali padaku. Aku hanya mampu menelan saliva sambil tetap menatap matanya.
"Dia menyukaimu, Dova! Ayolah, hei hei jadi laki-laki itu peka sedikit!"
"Huh! Cek sistemnya dulu, Irana! Kau bisa kan sekedar mengeceknya saja? Siapa tahu dia terkena virus."
"Ya, bisa juga! Baiklah, aku akan coba cek dulu dengan Quortex milikku."
Gadget canggih milik Irana itu segera dikeluarkan dari pouchnya. Ia sambungkan dengan kabel khusus ke Sleep Capsule tempat Inazuma mengisi daya batreinya. Huh! Katanya dia tidak bisa kalau tanpa bantuan Purnama. Nyatanya dia sekarang mampu melakukan pengecekan sistem pada tubuh Inazuma.
"Tidak ada yang salah! Semua sistemnya baik eh tapi parameter ini...."
"Apa yang berbeda dengan parameter itu?"
Setiap Cyborg pasti punya parameter yang menunjukkan kondisi organ tubuh aslinya. Biasanya sudah tidak terlalu aktif karena penyakit atau hal lainnya, sehingga dibantu dengan organ siberkinetik. Tetapi pada parameter tubuh Inazuma ini aneh, organ tubuh organiknya nampak selayaknya manusia normal.
"Tapi saat di laboratorium pribadi milik Purnama, apa yang nampak di parameternya?"
"Bagian jantung Inazuma sudah tak terlalu bagus! Lebih aktif jantung buatannya. Kalau kondisinya begini, biasanya organ siberkinetiknya akan melambat tidak terlalu bekerja keras."
"Hah! Ini aneh sekali! Tapi apa ini terjadi karena...."
"BUAH KUULA! Tadi dia memakannya kan?"
"Otakku rasanya tidak sampai, Irana! Ini sesuatu yang mustahil dia kan sudah terlalu banyak dimodifikasi tubuhnya."
"Aku kan sudah sering bilang padamu, Dova! Ini adalah Nuuswantaara. Sesuatu hal yang menurutmu mustahil bisa terjadi disini."
"Artinya sisi manusia Inazuma kini telah aktif kembali. Tapi kan sejak awal bertemu dia memang sudah memiliki perasaan itu."
Kuceritakan pada Irana tentang Cyborg itu yang sempat mengakui kalau dirinya menyukai Heindrik. Irana nampak serius sekali, kurasa ia mencoba berpikir.
"Ya, tapi yang kau ceritakan tadi itu masalah memori masa lalunya."
"Jadi, apa yang diungkapkan olehnya padaku itu hanya kilasan memori masa lalunya sebelum menjadi Cyborg begitu kah?"
"Tepat sekali, Dova! Nah, artinya dia sekarang bisa memiliki perasaan seperti manusia pada umumnya."
Iya, tapi masalahnya kenapa tatapan Irana tetap saja nampak curiga padaku? Mau dia separuh mesin atau manusia seutuhnya aku tetap tidak tertarik. Lebih baik hidup sendiri saja lebih bebas dan tidak ada yang sok mengatur.
***
Ada lahan parkir pesawat yang masih buka di jam sepuluh malam. Baiklah, disini dulu saja! Sebab tempat lainnya sudah tutup. Biayanya lebih mahal tapi pelayanannya bagus, tidak perlu capek menghampiri komputer khusus untuk melakukan pembayaran. Sudah ada robot petugas yang mendatangiku.
"Pembayaran telah diterima! Selamat menikmati fasilitas dari kami, Tuan Dova!"
"Kita tidur disini saja kan, Dova?"
"Ya, lagipula tidak tahu hotel mana yang dekat...."
"Aku sudah selesai, siapa yang mau pakai Sleep Capsule itu."
Kulihat Inazuma berjalan mendekatiku dan Irana. Kebetulan sekali mata siberkinetik ini sudah minta diisi daya batereinya.
"Eh, Dova!"
"Aah! Apalagi sih, Irana?"
"Aku melihat ada seseorang diujung sana."
"Ya, aku juga melihatnya! Dia terus mengamati kita."
Aku tidak jadi masuk ke Sleep Capsule. Mata siberkinetik ini mencoba menggunakan mode malam dan fokus melihat apa yang ditunjuk oleh Irana. Ya, benar itu orang! Meski sudah memakai mode malam, tapi hanya sebatas siluet saja yang nampak. Penerangan disini sangat minim sekali.
"Eh, ada sesuatu yang aneh!"
"Irana...Inazuma...minggir cepat! Pintunya harus aku tutup!"
Seketika pintu SKYLAR II kututup, terdengar suara benda keras menabrak pintu ini. Ah, aneh sekali! Orang tadi sepertinya berubah bentuk menjadi sesuatu yang lain. Lalu terbang ke arah kami.
"O-orang tadi bisa berubah menjadi kelelawar! Eh, mungkin itu jenis burung malam."
"Tidak, itu memang kelelawar."
"Hah? Tapi tidak mungkin ada vampir disini!"
"Aah! Itu hanya ada didalam dongeng, Irana! Aku mau mengisi daya mata siberkinetik ini saja."

Komentar Buku (234)

  • avatar
    BaniSar

    kerenn

    01/03

      0
  • avatar
    Indra1234

    mantap

    18/11

      0
  • avatar
    Ratih

    good

    14/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru