Beranda/Yes, We Are EARTHSEED!/
File 71 : Jalan-jalan ke Mall
"Baiklah, sesuai janji aku akan ajak kalian ke mall."
"Horeee...! Paman Azka baik deh!"
Anak-anak sudah tidak sabar lagi. Mereka berhamburan keluar, menunggu SPC datang menjemput. Sekaligus membawa barang-barang kami. Setelah ini, aku memutuskan mau berangkat lagi dengan SKYLAR II.
"Tapi kita belum tahu mau kemana kan, Dova?"
"Haah...iya! Aku tahu itu! Lebih baik kita panggil Kakek Zayn di dalam SKYLAR II saja."
Azka orang yang mudah terkejut ketika melihat sesuatu tak biasa. Padahal dia lebih mengakui kalau hal-hal aneh di Nuuswantaara ini adalah wajar terjadi. Itulah pertimbanganku memanggil kakek itu di pesawat.
"Kita bisa apa saja di mall?"
"Beli sesuatu, ya kalau kalian punya uang. Sekedar jalan-jalan saja tak masalah."
"Aku dulu suka dibelikan es krim sama ibuku tiap kali ke mall."
"Wah, disana ada es krim ya? Paman Dova, kami mau juga dong beli es krim."
"Aah! Kita sampai dulu, itu yang penting!"
Untung saja Crystala hanya bercerita sebatas dibelikan es krim. Apa jadinya kalau dia cerita pernah dibelikan robot pribadi? Jelas harganya sangat mahal! Meski bisa saja aku meminta Dexta untuk membuatkan. Tapi, aku merasa tidak enak saja kalau minta gratisan terus.
"Kita sudah sampai! Eleanor...Crystala...ayo cepatlah!"
"Hei, pelan saja turunnya!"
"Bibi, ayo kita beli es krim!"
"Eh, kalian tidak mau jalan-jalan dulu?"
Haah...beginilah kalau jalan-jalan tapi bawa bocil tiga orang. Semoga saja EARTHSEED terakhir nanti bukan anak kecil lagi. Pusing kepala ini mendengar rengekan mereka. Padahal saat bertarung, mereka semua nampak berbeda.
"Hm...kita bisa naik ini."
Atla menunjuk pada satu alat yang disediakan oleh mall. Memang tidak gratis, tapi setidaknya ini cukup membantu. Bentuknya kursi khusus yang bisa melayang dan digerakkan sesuai keinginan. Biasanya sih ini digunakan untuk yang sudah tua dan tidak sanggup berjalan jauh.
"Iya, tapi lihatlah! Tidak ada anak-anak yang memakainya. Kecuali kau sudah tua, Atla!"
"Ih, kakak mau naik itu? Kayak kakek-kakek saja!"
"Ah, aku bukan kakek-kakek! Ya, sudah jalan biasa saja."
Anak laki-laki Artemis itu berjalan sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana pendeknya. Dia masih kesal disebut seperti kakek-kakek oleh adiknya sendiri. Crystala hanya tertawa kecil sambil sedikit menutup mulutnya.
"Paman, aku mau itu!"
"Hei, jangan semua yang ada disini kau tunjuk! Paman bisa bangkrut nanti."
"Itu sepatu anak-anak yang sedang trend, Dova! Kalau dipakai untuk melompat bisa sangat tinggi. Tanpa harus takut jatuh! Karena otomatis bisa membuat kaki mendarat dengan sempurna."
"Nah, bagus kan paman! Ayo, belikan satu untukku!"
"Aku juga mau, boleh tidak ya?"
"Paman Dova baik lho! Dia pasti mau belikan untuk kita, Crystala!"
Aduh, sekarang promosinya aku orang baik. Nanti kalau tidak kubelikan, pasti dibilang pelit. Hanya Eleanor yang tidak tertarik. Tentu saja tanpa sepatu itu, dia sudah biasa melompat dari pohon ke pohon. Azka juga, kenapa dia harus menjelaskan fungsi sepatu itu.
"Kita lihat dulu harganya ya!"
"Horeee...! Benar kan Paman Dova baik, Crystala!"
"Enak ya! kalian bisa punya paman sebaik ini."
Iya, sih! Tapi di kepalaku sudah muncul tulisan "awas pemborosan" dengan sangat jelas. Awas saja kalau setelah ini mereka minta barang aneh lagi. Kulihat harganya masih wajar, baiklah beli saja untuk dua anak ini.
"Selamat datang, silahkan bisa dilihat dulu."
Robot pelayan menyambut kami bertiga. Iya, Irana dan lainnya memilih untuk ke bagian Cafetaria. Eleanor malah minta dibelikan es krim. Anak itu lebih tertarik dengan makanan dan minuman daripada yang lain.
"Silahkan cek ukuran kaki anda!"
Atla cukup melepas sepatunya, lalu menempelkan pada papan khusus dengan bentuk tapak kaki. Seketika mesin itu memindai ukuran yang tepat untuk kakinya. Saat prosesnya sudah selesai, sepasang sepatu keluar dari sebuah lorong di depan mesin pemindai ukuran kaki tadi.
"Wah, keren! Warnanya sesuai keinginanku!"
"Aku coba, Atla! Aku cobaaa...!"
Crystala langsung mendorong tubuh Atla hingga nyaris saja terjatuh. Anak laki-laki Artemis itu tidak marah. Dia sibuk dengan sepatu barunya sampai robot pelayan mengambil dari tangannya.
"Maaf, bisa dilakukan pembayaran dulu."
"Aku bayar jadi satu dengan sepatu anak perempuan ini."
"Baik, tuan."
Selesai aku membayar, kedua anak itu langsung mengganti sepatunya dengan yang baru. Mereka memasukkan sepatu lama ke dalam kardus tempat sepatu baru tadi. Ternyata mereka berdua sangat suka.
"Eh, kenapa tadi kita tidak boleh mencobanya di dalam toko ya?"
"Mesin pemindai ukuran kaki tidak pernah salah, Atla! Itu juga membuat barang disana tetap nampak baru. Tidak bekas kaki orang, apalagi kalau kakinya bau."
"Ih, kakiku tidak bau!"
"Bukan begitu maksud Paman Dova, Atla! Kalau dicoba langsung sama banyak orang pasti bekas kaki orang juga. Akhirnya jadi tidak baru lagi."
"Ooh...begitu ya!"
Polos sekali anak Artemis yang satu ini! Crystala harus menjelaskannya dulu baru dia paham. Entah kenapa terkadang aku berpikir pikiran polos nan konyolnya itu masih turunan dari ayahnya.
"Aku coba disini ya!"
"Eeh, jangan Atla! Nanti paman yang repot kalau kau tiba-tiba melompat tinggi lalu menabrak sesuatu disini."
"Huh! Aku coba nanti deh kalau sudah di luar."
"Paman, Bibi Irana dan yang lainnya mana?"
"Tadi katanya ke Cafetaria ah itu mereka!"
Irana melambaikan tangannya pada kami. Segera aku menghampirinya. Eleanor sudah sibuk menjilati es krim sebesar apa.
"Kau makan es krim apa, Eleanor?"
"Aku pesan rasa strawberry. Paman Azka yang belikan untuk kami."
"Paman Azkaaa! Belikan untuk kami berdua dong!"
"Iya, boleh! Nah, pilihlah yang mana disana."
Anak dua tadi sudah berlari kecil ke tempat penjualan es krim. Kulihat Inazuma duduk sambil menghadapi segelas minuman dingin. Hah? apa dia pesan minuman ini?
"Aku hanya menjaga punya Irana."
"Hei, aku tadi kan bilang kalau kau mau boleh saja meminumnya."
"Apa rasa minuman ini?"
Aku menepok jidat mendengar pertanyaan Cyborg berambut kuning itu. Kira-kira es lemon tea itu rasanya apa coba menurut kalian? Irana wajahnya nampak aneh mendengar pertanyaan itu.
"Kau tidak bisa lagi merasakan apa minuman ini?"
"Aku sudah lama tidak merasakan makanan dan minuman."
"Eh, baiklah kau coba saja dulu!"
Kedua anak tadi sudah selesai memilih, Azka tinggal selesaikan urusan pembayarannya. Sementara Inazuma mencoba meminum sedikit es lemon tea lewat sedotan. Baru sesudahnya ia berikan gelas itu pada Irana.
"Apa rasanya menurutmu?"
"Ini teh, tapi rasanya sedikit asam. Baiklah, terima kasih! Aku sekarang sudah tahu rasanya."
Kalau boleh ingin kubawa dia kembali ke Purnama. Mungkin bisa dibantu pemprogaman ulang supaya bisa sedikit lebih menyesuaikan dengan manusia biasa. Lalu bagaimana caranya dia bisa menyamar diantara banyak manusia?
"Hei, kau bisa program ulang Inazuma?"
"Uh, aku waktu itu bisa karena dibantu Purnama. Ada masalah dengannya?"
"Ya, dia lebih nampak robot daripada manusia. Rasanya tidak imbang dengan penampilannya."
"Itu bagus! Setidaknya dia tidak cerewet seperti dirimu, Dova!"
Aah! Kenapa jadi aku yang dibahas? Dasar Irana menyebalkan! Kami akhirnya berjalan kembali dan berhenti di satu toko pakaian khusus perempuan.
"Wah, bagus modelnya! Aku mau belanja baju baru ya. Pakai uangmu dulu, Dova! Hehehe...."
"Sejak dulu kau selalu pakai uangku kok! Hei, Inazuma! Kau tidak mau mengganti pakaianmu?"
"Kenapa dengan bajuku yang sekarang?"
"Tidak apa, nampak sedikit kuno saja! Ayo, belanjalah! Kalau kau bingung, ikut saja dengan Irana."Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (234)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
kerenn
01/03
0mantap
18/11
0good
14/07/2025
0Lihat Semua