Beranda/Yes, We Are EARTHSEED!/
File 60 : Sedingin Es
"Hei, semua orang pernah ada di posisimu seperti itu."
Anak bernama Crystala itu awalnya tak berani memandangku. Aku ikut duduk bersamanya disini. Irana sebenarnya ingin ikut, tapi kuminta dia mengawasi SKYLAR II saja. Sudah kuatur tempat pemberhentian selanjutnya di B-Neo City Center Hall.
"Tapi paman tidak tahu bagaimana rasanya kesepian itu."
Lantai tempat dimana anak itu duduk sekelilingnya menjadi es tipis. Ia kembali menatap ke depan. Selayaknya manusia, tak bisa ia selalu sendiri. Apalagi ini masih terhitung anak-anak.
"Berapa umurmu sekarang?"
"Dua belas tahun, paman."
"Oh, kau lebih tua dari Atla. Ya, anak itu juga mengalami nasib sama sepertimu."
"Orang tuanya hilang juga seperti ibuku?"
"Bukan, hanya ayahnya saja! Sepertinya mereka satu tim arkeolog. Kau lihat tabung besar disana?"
"Ah, aku tak terlalu memperhatikan! Tapi, kenapa ada perempuan didalamnya?"
Crystala menatapku penuh keheranan. Aku hanya tersenyum singkat padanya. Lalu mata ini kembali menatap Serenada yang tengah tertidur di dalam tabung Kriogenik itu.
"Itu ibunya Atla dan Eleanor, dia terkena racun aneh yang membuatnya berada dalam kondisi koma. Tubuhnya dibekukan agar tetap bisa hidup, sambil kita mencari penawarnya."
"Siapa yang melakukannya, paman?"
"Orang bernama Ryuzen dan Vhina. Mereka ingin membuat dunia tunduk pada mereka dengan mengincar batu GEMSTONE milik para EARTHSEED Stone seperti dirimu."
"Aku seorang EARTHSEED? Ibu tak pernah bercerita tentang itu padaku sebelumnya. Hanya selalu bilang aku ini anak yang spesial."
Ku keluarkan batu Topaz dari saku jas laboratorium. Batu berwarna biru dan sebening kristal itu kuberikan padanya. Crystala masih juga tak paham. Namun saat menyentuhnya, batu itu sedikit bercahaya hingga anak tadi melemparnya. Untung saja cepat kutangkap.
"Paman, batunya bercahaya sendiri!"
"Tidak apa, itu tandanya memang batu tadi adalah milikmu."
Kembali kuberikan padanya, memang batu Topaz itu bercahaya lagi saat disentuh oleh Crystala. Namun anak ini sudah berani memegangnya.
"Ah, rasanya aneh! Aku merasa mulai bisa mengendalikan diriku sendiri."
Kini ia mulai berdiri, lantai dimana tempatnya berpijak tak lagi menjadi es. Dia sendiri nampak senang sekarang.
"Lalu perjalanan ini kita lakukan untuk apa, paman?"
"Salah satunya untuk membawa ibumu kembali kemari."
"Benarkah ibu bisa kembali? Baiklah, kalau begitu mari kita berjuang bersama!"
***
"Kau belum tidur, Irana?"
"Sleep Capsule-nya penuh! Bagaimana aku bisa tidur?"
Aku memeriksa keempat Sleep Capsule disini. Huh! Pantas saja, Inazuma memakainya juga! Tapi kulihat sebentar lagi pengisian daya batreinya penuh. Irana biaa bergantian memakai benda itu untuk tidur. Matanya kulihat sudah mulai mengantuk, dia hanya butuh tempat untuk tidurnya saja.
"Ada yang mau gantian?"
"Nah, tidurlah dulu! Aku nanti saja seperti biasanya."
"Eh, tapi nanti parkirnya pesawat ini bagaimana Dova?"
"Aah! B-Neo City Center Hall tempatnya luas. Kau tidak perlu takut menabrak dinding, turunkan saja biasa!"
"Ya, baiklah! Selamat malam, Dova."
Inazuma memperhatikanku lekat, apa ada yang aneh dengan kami berdua? Kuberi dia kode untuk duduk di kursi Irana.
"Kalian berdua selalu kompak ya!"
"Aah! Tidak juga, justru sering ribut iya. Aku mau ambil minum sebentar."
Tidak lama kan mengambil minum di dapur, tapi tiba-tiba kulihat Inazuma sudah berdiri di depan tabung Kriogenik. Melihat Serenada yang melayang dalam cairan pendingin didalamnya.
"Siapa dia? Berarti kau selama ini membawanya."
"Itu istri temanku, ibu dari dua anak yang bernama Atla dan Eleanor."
"Oh, apa salah dia?"
"Tidak ada! Hanya diracun oleh dua orang dari Dome V-Corporation saat dia mencoba mempertahankan batu Katilayu milik suaminya. Sekarang batu itu dipegang oleh anak laki-lakinya."
"Anak laki-laki yang berambut agak ikal itu?"
Aku hanya mengangguk sambil sesekali meminum segelas air putih dingin yang kuambil tadi. Inazuma sangat memperhatikan Serenada.
"Aah...banyak manusia yang sedang berjuang dengan nasibnya."
"Tentu saja! Karena kita hidup di dunia ini."
"Aku, apakah masih makhluk hidup?"
"Kau masih mempertanyakan eksistensimu sebagai manusia, Inazuma?"
"Ya, karena aku sadar isi badan ini nyaris sepenuhnya adalah sistem robotik dan mesin."
Aku hanya tersenyum kecil sambil menghabiskan air minum. Inazuma menatapku penuh keheranan. Huh! Baru kali ini wajahnya bisa lebih ekspresif sedikit.
"Apa bedanya, Cyborg seperti dirimu dengan sebanyak apa Cyborg yang dibuat di seluruh muka Bumi ini?"
"Apa bedanya, Dova?"
"Hei, aku bertanya! Bukan memberikan pernyataan."
"Aku tidak tahu."
"Haah...karena kau masih punya apa yang disebut sebagai perasaan."
"Oh, dimana itu letaknya?"
"Disini!"
Kutunjuk tepat diantara buah d*da-nya dan itu sedikit membuat dia berjalan mundur. Aku berjalan kembali ke ruang kendali. Meninggalkan Inazuma yang masih terdiam disana.
"Dova, kau sendiri juga punya apa yang disebut perasaan itu kan?"
"Tentu, Inazuma! Tubuhku hanya dua puluh persennya saja yang memakai sistem robotik. Kenapa kau bertanya begitu?"
"Apa kau tak ada perasaan apapun pada gadis bernama Irana itu?"
Deg! Satu pertanyaan berat yang tak mungkin kujawab. Soal perasaan dengan lawan jenis, aku selalu menepisnya. Aku tak mau lagi jatuh dalam kesedihan yang terlalu mendalam. Cukup Nanako saja yang lakukan itu, sampai mengubah pandanganku terhadap perempuan hingga di titik ini.
"Apa urusanmu menanyakan hal itu?"
"Maaf, kalau itu buatmu tak nyaman."
Inazuma sedikitnya membungkukkan badan saat meminta maaf. Cara itu persis seperti Nanako dan Akira di Ichi Hana dulu. Siapa dia sebenarnya?
***
"Paman, ada restoran cepat saji! Ayo kita makan disana saja."
"Lalu masakan bibi tidak ada yang makan dong!"
Irana berkacak pinggang dengan spatula di tangan kanannya. Aku hanya tertawa kecil melihat Atla sedikit ketakutan, meski dia tak akan tersetrum andai bibinya marah dan mengeluarkan listrik.
"Makanlah yang ada saja, Atla. Itu juga yang diajarkan sama ibuku."
"Nah, benar apa kata Crystala! Makanlah dulu untuk sarapan. Toh, nanti juga bisa beli kalau sudah turun dan bertemu kenalan paman."
Azka sudah membalas pesanku melalui jam tangan pintar ini. Dia bilang, ada satu rumah khusus yang disewakan untuk kami semua. Rumahnya yang sangat sederhana itu tak mungkin menampung sebanyak apa orang di SKYLAR II ini.
Pintu SKYLAR II akhirnya terbuka, anak-anak segera berhamburan keluar. Mereka takjub dengan suasana di B-Neo City Hall Center. Aku turun terakhir dan melihat Azka tersenyum sambil menggendong bayinya. Huh! Kemana istrinya si Priska itu?
"Hahaha...! Kau sekarang menjadi bapak rumah tangga, Azka?"
"Aku dapat jatah gantian mengurus baby Na ini. Istriku sedang sibuk di rumah. Kalau aku kerja tentu saja in urusan dia. Masalahnya ini adalah hari Sabtu."
"Dan kantormu sedang libur!"
"Iya, nasib memang! Aku tak pernah mengira akan jadi begini."
SPC alias Single Person Car meluncur dan berhenti tepat di hadapan kami. Sayang, hanya ada enam kursi. Aku yang mengalah naik Hexacynite saja. Meski was-was juga kalau robot polisi menangkapku karena ini kendaraan modifikasi. Bukan kendaraan resmi.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (234)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
kerenn
01/03
0mantap
18/11
0good
14/07/2025
0Lihat Semua