logo text

File 55 : Bencooland City

Irana masih menikmati teh roselanya. Ia sangat senang sekali menikmati jenis teh apapun. Aku sedikit menyeruput cappucino sambil melanjutkan kembali pembicaraanku dengan Alamsyah. Sampai terdengar suara aduan dari Atla.
"Paman, Leona ternyata tidak suka soda."
"Minuman apa ini? Hidungku rasanya jadi aneh!"
"Eh, jangan ditutup hidungmu! Biarkan saja nanti supaya kau bisa...."
Bersendawa, yaah itu baru saja terjadi pada anak perempuan Farhein. Bukan masalah soda itu bau baginya, tapi terasa seperti ada yang mendorong di dalam hidungnya. Menurut pengakuan Leona sih begitu. Kalau menurutku biasa saja!
"Nah, apa kan Paman Dova bilang tadi?"
"Kurasa cukup sekali itu saja! Kalian biasa dengan minuman aneh yang bisa menusuk hidung itu?"
"Bagi kami yang terbiasa tinggal di kota, minuman seperti itu tidak aneh. Kau saja yang tidak pernah, Leona."
"Tapi perutmu tidak apa kan, Leona?"
"Tidak apa-apa, Paman Alam!"
Alamsyah bernapas lega, bagaimanapun juga ia merasa bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada anak sahabatnya itu. Sama sepertiku dengan Atla dan Eleanor. Akhirnya pembicaraan tadi kami lanjutkan.
"Maksud ayahku tadi adalah Bencooland City. Itu cuma kota kecil tapi suasananya aah sejuk sekali! Kau pasti betah ada disana, Dova!"
"Jadi, EARTHSEED pemilik batu Topaz ini ada disana. Tapi, bagaimana kita bisa mencarinya?"
Laki-laki bertubuh tambun ini sedikitnya berpikir. Sesekali tangannya mencomot kue kering yang disajikan robot pelannya. Baru dia akhirnya mendapatkan ide.
"Ah, aku kenal dengan pemimpinnya. Namanya Ben Bawara. Aku bisa bawa kau padanya. Kalau kata ayah, anak itu punya kekuatan es."
"Bisa jadi perbedaan pada dirinya nampak jelas. Lalu apa kita mau cari diseluruh wilayah Bencooland City? Astaga! Itu terlalu luas, Alamsyah!"
"Tenang, Dova! Kalau anak itu punya ciri yang menonjol, kurasa akan lebih mudah. Semoga saja temanku Ben Bawara itu mau membantumu."
***
"Hei, anak-anak bersiaplah! Kita mau pergi lagi."
"Kita mau kemana, paman?"
"Ke Bencooland City sama Paman Alamsyah. Kau ikut kan Leona?"
"Tentu saja aku ikut, paman! Siapa tahu bertemu musuh dan aku bisa ikut bertarung bersama kalian."
"Baiklah, tapi kalian harus mandi dulu ya!"
Atla dan Eleanor sudah berebut mau mandi. Sementara Leona dia melipir pergi entah kemana. Harimau kecil itu sepertinya tak mau mandi. Apa ayah dan ibunya tak membiasakan hal itu?
"Hei, jangan coba-coba kabur!"
"Aku sudah mandi, Paman Dova!"
Leona kutangkap sambil menjilati pergelangan tangannya. Mungkin wajar kalau dia berwujud harimau. Masalahnya saat ini dia berwujud manusia.
"Itu menjilati tubuhmu saja, bukan mandi! Ikutlah bersama Bibi Irana."
"Ayo, Leona! Bibi sudah siapkan handuknya."
"Eh, jangan! Airnya pasti dingin! Iih...lepaskan aku!"
"Leona, kalau kau tidak mau mandi Paman Alam laporkan ke ayahmu."
Kata-kata Alamsyah sangat manjur untuk anak harimau perempuan yang satu ini. Dia akhirnya mau menurut juga, meski memberi syarat hanya mau air hangat. Alam sampai menepok wajahnya sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Haah...anak itu! Ayahnya saja sangat suka bermain air bersamaku dulu."
"Eh, iya sampai sekarang kau belum menikah juga?"
"Iya, bukannya aku tak mau tapi susah sekali mencari. Entahlah...lalu kau juga sudah, Dova?"
"Haah...perempuan bernama Irana itu bukan istriku. Tapi partner kerjaku. Aku rasa menikah itu terlalu dikekang!"
"Jadi, kau sudah berkomitmen untuk tidak menikah?"
Aku mengangguk pasti pada Alamsyah. Dia tak merasa keberatan dengan keputusanku itu. Bahkan tak mau bertanya lebih jauh tentang alasanku. Alamsyah hanya menepuk pundakku pelan saja.
"Ayo, paman! Kita semua sudah mandi."
"Iya, habis ini ya!"
***
Kalau menggunakan pesawat begini rasanya semua begitu cepat ya! Tak terasa sudah sampai di Bencooland City. Alamsyah yang mengantarkan kami ke pusat kota, tempat dimana temannya berada saat ini. Memang benar hawa disini terasa berbeda. Irana sampai memakai hoodie batiknya. Padahal selama ini cukup diikat dipinggangnya saja.
"Dingiiiin...padahal hoodie ini sudah tebal bahannya."
"Tenang saja, nona Irana! Sebentar lagi mataharinya bersinar lebih terang."
"Iya, aku juga sebenarnya terasa dingin. Tahanlah sebentar, anak-anak saja tak merasakan itu."
Irana menengok sedikit ke arah anak-anak yang berlarian sedari tadi. Mata siberkinetikku juga ikut mengawasi mereka. Takut jika terjadi sesuatu semisal mereka pergi kemana dan berbuat onar.
"Selamat pagi, Tuanku Alamsyah. Tuan Ben Bawara sudah menunggu anda."
"Selamat pagi, juga. Kemana kami harus mengarah?"
"Lewat sini, tuan."
Salah satu penjaga mengarahkan kami ke lift. Didalam liftnya sudah ada operator khusus yang menyambut kami. Bisa kutebak, Alamsyah pasti sudah membuat janji terlebih dahulu dengan orang bernama Ben Bawara itu.
"Ting!"
"Sudah sampai, tuan. Mohon perhatikan langkah kaki anda."
"Ah, ternyata hanya sampai lantai tiga!"
"Iya, Dova! Khusus gedung pemerintahan di Bencooland City tak boleh lebih dari tiga lantai."
Entah apa sebabnya, bahkan Alamsyah pun tak tahu. Setiap area di Nuuswantaara ini memiliki peraturan tiap area masing-masing. Meski ada juga aturan dari pusat. Ini berlaku supaya setiap area bisa mengatur wilayahnya sendiri.
"Alamsyah temankuu...! Selamat datang di Bencooland City. Ee...siapa mereka?"
"Mereka kenalanku, Ben! Perkenalkan, ini Dova Docovanesh!"
"Mungkin anda tak mengenal nama asliku. Tapi kalau kusebut Cyborg One Eye kurasa anda tahu."
Orang bernama Ben Bawara itu terus mengamati mata siberkinetikku ini. Barulah kedua alisnya terangkat dan paham siapa aku sebenarnya.
"Anda salah satu penemu yang terdaftar resmi di persatuan penemu dan ilmuwan seluruh Nuuswantaara. Cyborg One Eye, ah ya reputasi anda sangat bagus!"
Tangannya tak henti menjabat tanganku. Kurasa dia terlalu berlebihan. Alamsyah yang meminta untuk duduk lalu membicarakan apa maksud kedatangannya. Kok rasanya aneh sekali! Seharusnya orang bernama Ben inilah yang melakukan hal itu.
"Kami butuh bantuanmu, Ben! Dova sedang mencari seorang anak cukup aneh. Dia memiliki kondisi khusus. Kata ayahku, anak itu ada disini!"
Sedikitnya aku bercerita tentang perjalanan yang kulakukan. Termasuk alasanku mencari anak itu. Ben hanya mengangguk sambil memejamkan kedua matanya. Jenggotnya tak henti dia elus.
"Ah, ada laporan tentang anak aneh seperti yang anda maksud itu Tuan Dova. Untuk saat ini dia berada di salah satu panti asuhan. Ibunya menghilang saat sedang menggali situs kuno bersama satu tim Arkeolog yang beliau pimpin."
"Kau tahu tentang anak itu, Ben!"
"Ya, sejujurnya aku kasihan juga. Tak banyak yang mau mendekat padanya. Anak itu dijauhi karena setiap yang dekat selalu merasa kedinginan. Jadi, kondisi anak itu disebut EARTHSEED."
"Begitulah, Tuan Ben! Nona Irana juga sama, hanya saja dia EARTHSEED berelemen petir atau listrik."
"Oh, benarkah itu nona Irana?"
Irana hanya mengangguk saja. Pandangannya sendu, apalagi setelah mendengar cerita tentang anak yang hendak kami cari itu. Mungkin ia teringat akan masa lalunya yang juga dijauhi oleh anak seusianya.
"Aku jadi teringat soal listrik. Tuan Dova, aku akan menunjukkan dimana anak itu. Tapi aku butuh bantuanmu juga!"
Huh! Seperti biasanya harus menolong orang lagi. Baiklah, semoga kali ini tidak terlalu sulit. Aku harus segera bertemu dengan anak EARTHSEED Stone itu dan ikut membawanya dalam perjalanan kali ini.

Komentar Buku (234)

  • avatar
    BaniSar

    kerenn

    01/03

      0
  • avatar
    Indra1234

    mantap

    18/11

      0
  • avatar
    Ratih

    good

    14/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru