logo text

File 24 : Cerita Pengantar Tidur

"Kau belum mengantuk, Atla?"
"Aku belum mengantuk! Ayo paman, ceritakan padaku kenapa ayah begitu benci dengan kakekku?"
Padahal ini sudah jam sepuluh malam, tapi tetap saja Atla masih terjaga matanya. Adiknya sedari tadi sudah tertidur. Aku hanya tersenyum singkat sebelum menjawab pertanyaan anak laki-laki ini.
"Yaah... karena ayahmu tak pernah tahu ia seorang EARTHSEED. Merasa gara-gara kakekmu itu lah, ia jadi punya kekuatan sama sepertimu."
"Sebenarnya aku sendiri juga tidak suka, paman! Tapi ya mau bagaimana lagi? Kata Guru Wanara, kekuatan ini tidak bisa dihilangkan. Jadi, jalani saja seperti biasanya. Eh, kakekku seorang EARTHSEED juga?"
"Dan seorang penjelajah, Atla! Sudah banyak tempat didatangi oleh kakekmu."
"Termasuk Nuuswantaara ini ya, paman? Tapi, kakekku katanya sudah meninggal. Ibu yang bercerita begitu."
"Paman pernah dengar kalau kakekmu meninggal akibat melindungi ayahmu dari musuh saat masih bayi."
"Kalau begitu, kenapa ayah masih membencinya paman?"
Aku hanya menaikkan pundakku sambil menggelengkan kepala. Entah, padahal pengorbanan Alexander pada Artemis sudah begitu besar. Namun sahabatku yang satu itu memang mengakui rasa benci pada ayahnya masih ada. Dia juga pernah mengatakanku seperti ini :
"Dova, ada hal yang mengganjal dalam diriku hingga saat ini tentang ayahku. Aku membencinya karena dia meninggalkanku lebih dulu. Hingga membuatku tak menyadari bahwa aku adalah manusia yang murni terlahir dari rahim seorang ibu. Bukan manusia buatan."
Tapi rupanya dia sendiri pun meninggalkan kedua anaknya sejak kecil. Andai dia nanti bisa kembali, kurasa apa yang menjadi ganjalan dalam dirinya itu bisa terjawab. Haah...benar kata Kakek Zayn! Dalam dunia ini ada hal yang tak mampu dilogika. Siapa yang pernah mengira kalau Artemis pada akhirnya tak juga kembali.
"Paman...paman... jangan menangis!"
"Aah! Paman tidak menangis. Ini cuma kemasukan debu saja!"
"Paman jangan bohong! Aku tahu paman menangis, meski cuma satu mata saja."
Aku mencoba menahan air mata, namun tetap saja menetes. Atla, bukan hanya kau saja yang merasa kehilangan. Tapi kita semua!
"Aku kan hanya minta paman bercerita. Kenapa malah menangis?"
"Kau tahu, hanya ayahmu lah yang mau menerima paman apa adanya. Ia tak pernah membedakan paman manusia buatan apalagi Cyborg. Baginya, paman ini tetaplah manusia biasa sama seperti yang lainnya."
Atla menunduk usai mendengar perkataanku itu. Memang hanya Artemis yang mau menerimaku selayaknya manusia biasa. Kebaikannya padaku tak pernah ada nilainya. Meski tetap saja namanya manusia ia pun juga memiliki kekurangan.
"Sudahlah paman, kita semua berusaha menjemput ayah kembali kemari."
"Ya, kau benar Atla! Terima kasih...."
"Jadi, bagaimana ceritanya paman, ibu dan ayah bisa kemari?"
Sedikitnya aku menyeka air mata dengan jas laboratorium. Baru kulanjutkan cerita perjalananku dulu bersama Artemis dan Serenada. Mulai dari keluar Dome V-Corporation hingga akhirnya menjelajah Bumi ini dengan pesawat milik kakeknya Atla yang bernama SKYLAR.
"Kakekku keren juga! Ternyata beliau sudah punya pesawat sendiri buat menjelajah banyak tempat. Lalu Bumi diluar Nuuswantaara ini bagaimana paman?"
Sebenarnya waktu itu masih dalam kondisi memulihkan trauma dari bencana suhu ekstrim. Beberapa tempat ada yang hilang atau bahkan manusianya semakin sedikit. Nuuswantaara adalah tempat yang terhitung aman, meski mengalami fenomena aneh berupa awan tebal dan kabut yang membuatnya seolah menghilang dari Bumi ini.
"Eh, Atla! Nah, anak ini tertidur juga."
Pantas saja sudah tak lagi terdengar suaranya. Kugendong anak ini lalu menidurkannya di Sleep Capsule. Semoga kau tak lagi bermimpi buruk tentang ayahmu, Atla!
***
Sepertinya aku akan melewatkan sarapan. Baru tertidur saat pukul lima pagi. Sebab aku harus menunggu Irana terbangun untuk menggantikan posisiku di ruang kendali. Mata siberkinetik ini butuh diisi daya batreinya, juga tubuhku butuh istirahat meski sebentar saja.
"Dova, kau sudah bangun?"
"Eh, ada apa Irana?"
Ah, rasanya baru saja memejamkan mata. Tapi baterai mata siberkinetikku sudah terisi penuh. Badan ini juga terasa lebih segar. Ia menunjukkan padaku bahwa ada kabar dari Dexta. Internet di SKYLAR II baru saja terhubung.
"Paman Dexta menunggu kita untuk datang ke Dwatta Island."
"Katakan saja padanya kita sedang sibuk. Setelah urusan ini selesai, baru kita kesana."
"Baiklah, aku balas dulu sebelum jaringannya menghilang lagi."
Mata siberkinetik ini butuh diperbaharui lagi. Jelas pasti aku akan kesana. Aah! Tapi mengejar SwanSo lebih penting sekarang. Irana sudah mendapatkan peta khusus Madoorae Island. Pulau ini penghuninya dulu banyak menyebar tempat tinggalnya. Namun sekarang mereka lebih banyak merapat ke area pusat.
"Ada parkir khusus pesawat sekaligus Charge Stationnya."
"Ya, tapi mahal!"
"Eh, tidak juga! Disini biaya parkirnya lebih murah meski sudah sepaket dengan pengisian daya di Charge Station."
"Paman, pesawat ini tidak bisa mengisi daya lewat sinar matahari saja ya?"
"Aah! Aku tidak menambahkan panel surya khusus di pesawat ini, Atla. Lagipula sinar mataharinya tak terlalu banyak masuk karena terhalang awan tebal."
Selain itu aku tak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti SKYLAR versi Alexander La Yori. Laju pesawat tidak bisa lebih cepat. Sistem Warp juga tidak aku tambahkan disini, itu buat boros energi.
"Menurut perkiraan, kita bisa sampai sore atau malam hari disana."
"Kurasa kita perlambat saja, Irana. Supaya besok baru sampai disana."
"Hei, kita butuh cepat!"
"Memarkirkan pesawat lebih ribet daripada OutaCar. Apalagi saat malam hari. Lagipula petunjuk dari Nenek Mereditha hanya pulau itu. Kau tidak berpikir dimana lokasi persisnya Tuan SwanSo mendarat bukan?"
Irana mulai berpikir serius hingga akhirnya menyadari perkataanku benar. Aku sudah bisa memahami maksud Nenek Mereditha tadi. Kemungkinannya karena terburu, dia sendiri asal pakai sistem Warp lalu terdampar ke Madoorae Island.
"Sistem Warp tidak bisa digunakan secara terburu-buru. Kita harus tentukan titik koordinat satu tempat ataupun jarak yang kita tempuh kalau ditarik garis lurus dari peta digital yang sudah tersistem."
"Kita tidak mungkin mencari disetiap sisi pulau itu, Dova! Lalu harus bagaimana?"
"Tenang, Irana! Hal pertama yang harus kita lakukan adalah tetap ke area pusat. Bertanya pada orang-orang disana. Kau ingat dengan kata-katamu tentang orang kaya yang memiliki hunian jauh dari...."
"Ah, ya! Kau benar! Siapa tahu dia sebenarnya memang punya tempat khusus miliknya disana."
"Bisa jadi dugaanku tadi salah, Irana. Terkadang penduduk lokal tahu tentang tempat semacam itu. Meski tidak tahu siapa pemiliknya."
Ini hal yang paling tidak kusukai dari Irana. Kalau dia merasa ideku tadi brilliant, maka pipiku yang jadi sasarannya. Entah kenapa untuk yang kali ini tak terhindarkan lagi. Dia berhasil mencubit pipiku dengan gemasnya. Lagipula, bagaimana bisa menghindar di tempat yang sempit seperti ruang kendali ini?
"Sudah, hentikan! Memangnya aku boneka? Aah! Dasar perempuan, semuanya sama saja!"
"Huh! Tidak semua perempuan sama, Dova! Itu pemikiranmu saja karena kau benci dengan makhluk bernama perempuan."
"Jadi, kalau kau sendiri adalah perempuan yang berbeda begitu?"
"Aku ini lebih tepatnya disebut edisi terbatas."
Hah! Macam majalah elektronik saja ada edisi terbatas. Dasar, Irana! Ada-ada saja!

Komentar Buku (234)

  • avatar
    BaniSar

    kerenn

    01/03

      0
  • avatar
    Indra1234

    mantap

    18/11

      0
  • avatar
    Ratih

    good

    14/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru