logo text

Bab 47 Penyelamatan Alisha yang berakhir bahagia.

"Kita bagi menjadi tiga tim. Mas Reza dengan para pengawal menyerang dari arah depan. Parjo menyerang dari arah utara dan aku akan menyerang terakhir dari arah barat." Rey menatap mereka satu persatu seraya menunjuk arah pada peta yang terletak di atas meja.
"Itu bertujuan agar Erlangga berpikir jika hanya kalian yang menyerang. Dia tidak tahu kalau aku sudah bisa berjalan. Oleh karena itu, aku akan menyerang setelah kalian mulai bergerak. Orang-orang Erlangga pasti akan fokus pada kalian."
Rey yang masih berdiri meletakkan kedua tangannya di atas meja sambil menatap ke arah Reza.
"Mas juga harus menyiapkan penembak jitu. Perintahkan mereka untuk mengelilingi villa dari atas pohon. Karena informasi yang baru saja aku dapatkan Erlangga dibantu oleh Ayahnya yang juga salah satu gembong mafia."
Rey mengalihkan pandangannya ke Parjo. "Siapkan juga drone untuk melihat keadaan sekitar villa. Kita harus berhasil membawa Alisha jangan sampai ia tergores sedikit pun."
"Baik, Tuan," jawab Parjo seraya sedikit menganggukkan kepala.
"Gunakan earpiece ini untuk berkomunikasi. Kalian bisa memberi tahu ku jika ada musuh yang mendekat." Rey meletakkan beberapa earpiece di atas meja. Reza dan yang lain mengambil masing-masing.
"Baiklah, aku akan mempersiapkan orang-orang terbaik ku." ujar Reza seraya berdiri lalu meninggalkan ruang rapat yang diikuti oleh yang lain kecuali Rey.
Rey kembali duduk dan menyandarkan tubuhnya pada kursinya. Pria itu memijat pelipisnya. Mata panda Rey terlihat jelas menghiasi kedua kantung matanya. Pasalnya semenjak hilangnya Alisha Rey sama sekali belum bisa memejamkan matanya.
Tubuh dan pikirannya hampir diam bang batas. Ia harus bisa bertahan sebentar lagi agar bisa tidur dengan nyenyak setelah Alisha pulang dengan selamat.
Tepat pukul sembilan Rey, Reza dan seluruh anak buahnya meluncur ke lokasi di mana Alisha di sekap. Rencana sudah disusun dengan matang. Rey dan Reza berada di satu mobil terdepan. Sedangkan Parjo tepat di belakang mobil mereka.
Beberapa jam kemudian mereka telah sampai di tempat yang dituju. Waktu menunjukkan pukul satu dini hari, lebih cepat dari perhitungan. Karena mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Mendekati villa iring-iringan mobil Rey berpencar sesuai yang telah mereka rencanakan. Drone diturunkan terlebih dahulu untuk memantau keadaan sekitar villa.
Dan benar saja, penjagaan Erlangga sangat ketat. Di setiap sudut, bahkan di atas pohon jati juga ada beberapa penembak jitu.
Rey memerintahkan Parjo untuk menerbangkan sebuah drone lagi yang dilengkapi senjata yang bisa menembak dari jarak jauh dengan peredam suara. Bagai dihujani mayat dari atas. Semua penembak jitu satu persatu tumbang dengan luka tembak di pelipis mereka.
Rey mengganti mereka dengan orang-orang penembak jitu pilihan Reza. Setelah dirasa cukup aman, Reza dan Parjo bergerak ke posisi masing-masing.
Merasa ada pergerakan dari musuh anak buah Erlangga melawan dengan membabi buta. Tak kalah dengan mereka anak buah Reza pun demikian. Mereka semua orang-orang terlatih. Bukan hanya terlatih menggunakan pistol namun, juga menggunakan pedang.
Bak di medan perang semua menyerang musuh yang di hadapan mereka. Reza menggunakan senjata laras panjang.
"Ayo, kita bergerak." Rey mengisyaratkan pada anak buahnya untuk mulai bergerak ke sisi barat. Erlangga yang mengetahui pergerakan Rey dari CCTV mengangkat sudut kanan bibirnya.
"Majulah, Rey, aku punya kejutan untukmu." Erlangga tersenyum menyeringai.
"Lepaskan mereka." perintah Erlangga pada pria berbaju hitam yang sedari berdiri di sudut ruangan.
"Baik, Tuan." pria itu menganggukkan kepala dan melangkah ke luar ruangan.
Rey melepaskan tembakan dengan tepat menjatuhkan semua musuh-musuhnya. Sampai di taman belakang Rey melihat sebuah bangunan yang terpisah dari bangunan utama.
Rey perlahan mendekat, ia merasa aneh karena tempat itu sama sekali tidak dijaga seperti yang lain. Semakin mendekati, bulu kuduk mulai meremang.
"Suara apa itu? Seperti suara auman!" batin Rey mulai cemas dengan apa yang akan terjadi.
Rey memberi syarat pada anak buahnya untuk tidak mendekat. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari belakang. Sontak Rey menolah ke belakang. Mata Rey membulat melihat pemandangan di hadapannya.
Dua ekor harimau jantan sedang menerkam anak buahnya.
"Selamat datang, Rey," ucap Erlangga lantang dari lantai dua dengan menatap Rey tajam.
"Brengs*k, di mana kau sembunyikan anakku?"
"Tenanglah, Rey ... Kita akan bersenang-senang terlebih dulu dengan anak asuhku." ujar Erlangga beralih menatap kedua harimau jantan itu.
Alisha yang mendengar suara gaduh dari luar gudang turun dari meja. Gadis kecil itu mendekatkan telinganya ke pintu agar bisa lebih mendengar lebih jelas.
"Itu seperti suara Ayah," gumam Alisha.
"Bu, itu Ayah. Ayah menjemput kita, Bu." Alisha menatap ruang kosong di sudut ruangan.
"Ayaaah ... Ayaaah ... Alisha di sini ...." Alisha menggedor-gedor pintu dengan semua tenaganya.
Berharap sang Ayah bisa mendengarnya.
Rey yang mendengar suara anaknya berlari ke gudang. Namun, langkahnya dihentikan oleh anak asuh Erlangga.
Rey bersama semua anak buahnya melawan kedua harimau secara bersamaan. Mereka melepaskan tembakan berkali-kali ke arah kedua harimau itu.
Reza dan parjo yang mendengar ada dua ekor harimau menyerang Rey mengutus beberapa orang ahli pedang untuk membantu Rey.
Membutuhkan waktu untuk melumpuhkan kedua harimau itu. Perlahan namun pasti akhirnya keduanya tumbang. Erlangga yang melihat itu menjadi murka dan menyerang Rey dengan tangannya sendiri.
Sebelum Erlangga sampai di lantai satu Erlangga jatuh dari tangga dengan luka tembak di kepala. Reza yang melepaskan tembakan itu. Bergegas Rey berlari ke gudang dan membuka gembok dengan dua kali tembakan.
Alisha keluar setelah pintu terbuka dengan sempurna. Gadis kecil itu berlari ke pelukan sang Ayah.
"Ayah, ayah kenapa lama sekali menjemput Alisha ...?"
"Maafkan Ayah, Alisha, maafkan Ayah."
"Alisha ingin bertemu mama Riana, Yah."
"Baiklah, ayo kita pulang." ajak Rey seraya menggendong Alisha ke luar gudang.
"Tunggu, Yah." Alisha turun dari gendongan dan lari ke sudut ruangan.
"Bu, ayo kita pulang! Ayah sudah menjemput kita." Rey menaikkan sebelah alisnya. Ia menatap Reza dan Parjo bergantian.
"Alisha, ayo kita pulang." kini Reza yang menggendong Alisha.
Dalam perjalanan pulang Alisha selalu di pangkuan sang ayah. Seolah ia takut berpisah lagi dengannya.
"Alisha, maafkan Ayah. Pasti kamu sangat ketakutan dan kesepian di sana. Maafkan ayah, ya!"
"Tidak, Yah. Alisha tidak kesepian di sana ada Ibu yang selalu menemani Alisha. Ibu bilang Ayah pasti datang menjemput Alisha dan bilang kalau Alisha anak yang pemberani."
"Iya, anak Ayah memang pemberani."
Sepanjang perjalanan gadis cilik itu berceloteh tentang ibunya Claudya. Ada yang menusuk hati Rey saat anaknya merasa gembira karena bertemu ibunya. Karena lelah akhirnya Alisha tertidur di pangkuan sang Ayah.
Sedangkan di tempat lain di mansion yang mewah.
Alunan sebuah lagu jazz mengalun merdu menusuk relung hati Erick. Pemuda itu termenung menatap langit biru yang terhampar luas hingga sebatas mata memandang.
Sambil menghisap sebatang rokok dan menghembuskannya ke udara. Menyesap perlahan segelas wine ditangan kanannya. Erick menghembuskan napas dengan kasar. Menyugar rambutnya frustasi.
"Huh, apa aku memang ditakdirkan kalah! Semua telah aku lakukan demi mendapatkan semua keinginanku. Tapi, kini Claudya telah pergi selamanya meninggalkanku. Rey menikahi Riana adik Claudya." Erick tersenyum sinis.
"Dia pikir aku pria bodoh yang dengan mudahnya tertipu dengan tipuan murahan." Erick kembali menuangkan botol wine ke dalam gelas dan menenggak minuman itu hingga habis.
"Dan sekarang orang yang sudah membunuh Claudya juga sudah mati. Ya, kini aku percaya kejahatan tidak akan pernah menang!"
Erick pun pergi dengan langkah gontai, rantai kejahatan telah ia tinggalkan. Pemuda itu bagaikan raga rak bernyawa.
Walaupun Rey tidak akan pernah bisa menghapus cintanya pada Claudya namun, pria itu sudah mau menerima cinta Riana. Mereka hidup berdampingan, menjalani hari-hari seperti keluarga pada umumnya hidup dengan tenang dan bahagia.
TAMAT

Komentar Buku (114)

  • avatar
    Uteajulian

    semoga bagus

    24/06/2025

      0
  • avatar
    Gajah

    mantap

    08/06/2025

      0
  • avatar
    akun backup zpt

    bagusss bangettt

    01/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Selesai

Rekomendasi untuk Anda